
"Aku bukan type orang yang pandai membunuh, tapi aku adalah orang yang pandai menyiksa hingga mereka terbunuh dengan sendirinya"
mengingat bagaimana mayat zoy di temukan, masi lengkap dengan pakaian sekolah, dan beberapa bagian tubuhnya juga telah hancur di hantam benda tumpul, 13 tusukan di dada kiri dan 6 tusukan di dada kanan, sangat tidak manusiawi, yang lebih parah mayat zoy di buang dekat aliran sungai yang meluap akibat deras nya curah hujan, layaknya bangkai tak berharga tubuh zoy hanyut kesana-kemari hingga salah seorang warga melihat si mayat tersangkut di tumpukan sampah yang tersumbat di sungai, dari fakta-fakta itu memungkinkan pelaku lebih dari satu orang tapi itu Masi belum cukup bagi Keans untuk tidak mencurigai Kamaru.
...****************...
Kamaru berjalan seorang diri untuk pulang ke rumah, ayahnya sedang lembur sehingga tidak bisa menjemput pria yang belum genap 17 tahun tersebut, langkah kaki nya sangat ringan melewati gang demi gang, suasana yang mendung juga menjadi faktor untuk pria itu tidak mudah kelelahan, awalnya tak ada yang aneh di sepanjang perjalanan, namun semua berubah setelah seseorang ketahuan membuntuti Kamaru, dari genangan air ia melihat jelas bagaimana bayangan orang itu sedang memata-matai dirinya, tak ingin celaka Kamaru memilih berpura-pura tidak tahu, ia hanya mempercepat langkah dan mulai memasuki lorong-lorong sempit dengan tujuan si penguntit menjadi bingung,
Benar saja, ia mengikuti irama kaki Kamaru yang Semakin melaju, dua orang mulai saling berkejaran untuk tuhan masing-masing,Dari balik tempat sampah pria 16 tahun duduk mengintip seorang pria yang tampak kebingungan, ia terengah-engah akibat kelelahan, matanya juga mencari ke sisi kiri dan kanan,
penguntit itu telah kehilangan jejak dan menjadi putus asa.
"Sialan...kenapa lari nya cepat sekali" gerutu nya seraya membalikkan badan untuk kembali, bersamaan dengan itu Kamaru datang dengan plastik sampah di tangan, tak ragu-ragu ia membekap kepala si pria dan mencekik. Tak berhenti di situ ia juga membanting tubuh pria yang berpakaian serba hitam tersebut ke tanah.
"Mati lah kau sialan" gumam nya, Namun pria itu terlalu besar untuk diriniya yang berpostur rata-rata, penguntit itu menggeliat untuk lepas dari cengkraman tangan Kamaru, menarik keras tubuh siswa kelas 10 itu hingga terbanting ke tanah.
"burghh" dada pria itu menyentuh tanah yang di genan air hujan, posisi telah berbalik Kamaru menjadi pihak Yang terancam sekarang, tubuh nya telah di kunci oleh Legan yang kekar.
"Siapa kau!!!!" teriak nya seraya menggeliat untuk lolos,
"Diamlah jika kau tak ingin mati bre****k" Suara yang begitu khas, berat dan memiliki ketukan lambat, ya! itu suara keans.
__ADS_1
"Keans, apa itu kau?" ucap Kamaru memastikan," aku yakin itu kau, mengapa kamu lakukan ini pada ku?" Tak ada balasan dari selain tangan yang terus saja mengunci posisi tengkurap Kamaru.
"Tidak usah mengelak lagi, aku bisa melihat wajah mu dari genangan air" tegas nya sekali lagi. Akhirnya kalimat itu berhasil membuat cengkraman pria itu melonggar.
"Sialan, aku sudah berusaha tidak k Tahuan tapi tetap saja gagal" jawab pria itu seraya melepas kan pegangan, dengan kaki yang sedikit pincang Kamaru berdiri dan berbalik melihat wajah seseorang yang telah mengikutinya,
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Tentu saja membunuh mu! setelah aku memastikan bahwa kau pelaku di balik kematian zoy"
"Terserah kau saja, kumpulkan bukti sebanyak yang kau bisa lalu bunuh aku"
...****************...
Tapi entah mengapa keans begitu yakin Kamaru lah pelaku yang sebenarnya, walaupun begitu ia tak memberi tahu kan kecurigaan kepada Kalvin dan Deena.
Di club' milik Radex,
2 orang mulai mengendap-endap menuju private room dimana Radex dan bandar ganja lainnya berkumpul,
"Apa Kak Keans sudah datang?" bisik Deena kepada Kalvin yang saat itu berada di sebelahnya. Kalvin menggeleng pelan mengartikan pria yang bergelar suhu itu belum tiba di sana,
__ADS_1
"Sepertinya dia mengalami kendala, apa kita bergerak dulu saja?"
"Apa kau sudah gila? Radex memiliki banyak pasukan jika kita mendahului Keans sudah di pastikan kita akan mati di sini"
"Tapi aku sudah tak sabar ingin memecahkan hidung pria bre****k itu"
"bersabarlah sebentar lagi, bang Keans pasti akan segera datang"
"Tidak bisa!!!!" Deena segera keluar dari persembunyian dan membuat keributan, dengan sebatang kayu ia mengobrak-abrik seisi ruangan, sontak saja Radex dan anggota lainnya betindak, mereka berbondong-bondong menghentikan tindakan Deena, sementara Kalvin yang merasa keadaan mulai kacau segera ikut serta.
"Woy anj***g kesini kalian semua" pancing Kalvin mengalihkan perhatian setiap orang, tak ragu-ragu pria 21 tahun itu menghayunkan kayu ke wajah setiap orang yang mendekat, ini adalah pertarungan yang tak sepadan, dimana Deena dan Kalvin harus melawan 12 pria mafia. Tentu saja aksi mereka tak bertahan lama, dua orang begitu mudahnya di tangkap dan di tawan. sementara Radex yang menyadari 2 orang itu tak lain anggota dari Keans menjadi naik pitam.
"Bocah sialan ini lagi!!!!!! kalian belum jera juga ternyata" bentak Radex, seraya melabuhkan botol minuman kaca di kepala Kalvin, menyebabkan darah segar mengalir deras dari kepala nya.
Menyadari hal itu Deena segera berteriak histeris, meminta bantuan, ia bahkan sempat memohon agar melepaskan Kalvin, namun seorang Radex yang beringas bukanlah type orang yang mudah memberi ampun, semakin parah wanita itu memohon, semakin parah pula ia menyiksa Kalvin.
...----------------...
Bersambung.....
⏩15
__ADS_1