
📢Perhatian..Novel ini mengandung unsur kekerasan dan beberapa kata kasar, tidak untuk di contoh atau di praktekkan. segala sesuatu yang di gambarkan adalah karakteristik dari protagonis tidak bertujuan memberi pengaruh Negatif~
"Dia berkata apa adanya, karena memang dia pelakunya" Keans membantah sekali lagi membuat Radex menoleh ke arah kamaru yang sekarat.
"Apa benar kau adalah pelakunya?" tanya Radex untuk menemukan jawaban.
***
Kamaru menyadari Radex sedang berusaha menyelamatkan nyawanya, dia bisa saja mengaku akan tetapi sebagai konsekuensi dia akan kehilangan hidupnya, dan jika ikuti permainan Radex ia mungkin saja selamat namun Kamaru tak bisa menampik bahwa hidupnya milik Radex mulai saat ini. silahkan buat keputusan.
"Memang nya jika aku katakan bukan, kalian akan percaya?"
Seketika keans meradang mengetahui Kamaru sedang berusaha berdalih di hadapan Kevin.
"Hey brengsek, kau tidak bisa mengatakan tidak disaat kau adalah pelakunya"
"Sudah ku duga, kalian tidak akan percaya!!, sejak awal kau sudah menekan ku untuk mengakui pembunuhan yang tidak aku lakukan, apa yang bisa aku katakan di saat aku tak di beri kesempatan untuk berkata yang sejujurnya"
Remaja 16 tahun itu mulai memainkan kata sehingga Keans menjadi yang terpojokkan disini, orang-orang menatapnya seolah dia yang memaksa Kamaru mengakui kesalahan yang tidak di lakukan. Sangat memuaskan rasanya melihat kesalahpahaman ini di depan kedua geng, Radex melipat tangan dan segera mengambil kesempatan berargumen.
"Mengapa kau begitu kejam?. jika tidak menyukai anak ini setidaknya jangan membuat dia dalam masalah besar"
Keans menarik kasar kemeja yang Radex gunakan, ia mengancam pria itu untuk berbicara apa adanya.
"Kau bajingan sejak dulu, di antara kita kau lah yang paling brengsek bahkan hingga sekarang, aku tau ini adalah rencana mu, jika punya masalah ayo selesai kan tanpa melibatkan bocah itu sebagai alasan"
Seketika Radex menepis cengkraman sahabat lamanya, wajah nya berubah kesal atas kalimat yang Keans katakan.
"Apa yang kau bicarakan, bukankah kau yang menjadikan bocah itu pelampiasan?. aku tahu kau menyukai Deena sehingga kau ingin membunuh lelaki yang wanita itu sukai!!"
Sontak saja raut wajah Kevin berubah, memang benar selama ini Kevin menitipkan adik nya untuk di jaga Keans, tapi bukan berarti untuk di sukai atau pacari, Kevin tak mau percaya dengan apa yang di katakan radex, tetapi fakta bahwa Keans ingin membunuh orang yang adik nya sukai adalah benar. semoga Keans bisa menjelaskan semua pemikiran ini.
__ADS_1
"Apa benar itu Keans?"
Kevin menatap asing wajah sahabat yang telah 6 tahun bersama,
"Ayolah Kevin, kita sudah 6 tahun bersama, mengapa kamu mempercayai omongan sampah seperti dia!!"
Kevin menghela nafas mencoba untuk percaya, akan tetapi Kamaru tak ingin tinggal diam, jika ia sudah masuk ke lubang yang salah, mengapa tak menggali lebih dalam?.
"Aku tahu, kau memperhatikan Deena lebih dari seorang adik. kau memotret nya saat dia sedang tertidur, bahkan melarang nya untuk dekat dengan ku!"
"Aku melarang nya karena kau adalah orang brengsek yang berada di pihak Radex"
"Lalu mengapa kau tidak melarang saat Deena menjadi pesuruh Radex di club malam!?. menurut mu bagaimana kevin?"
"Tutup mulut mu sialan!!!!!!!!!!!"
Keans yang pendiam Seketika berubah brutal, kecurigaan nya selama ini benar, Kamaru bukan bocah yang bisa di remeh kan, bahkan dia mampu menyalakan api pertempuran di masa lalu. Segera pria itu mendatangi tubuh sekarat yang telah Bermandi darah.
"Hey Keans!!!, dia bagian dari kami sekarang, jika tak ingin ada peperangan kendalikan diri mu" ucap salah seorang dari kelompok radex memperingati.
Seketika keans terhenti, nafas nya terengah-engah menahan emosi, bagaimana pun ia sangat menghindari perseteruan dengan radex, dari hatinya yang paling dalam ia masi berharap hubungan mereka akan kembali membaik seperti dahulu, akan tetapi jika sudah begini kemungkinan itu terasa sangat mustahil. perlahan pria itu mundur untuk mengakhiri kegaduhan dan membiarkan Kamaru,
Namun itu hanya berlaku untuk pemikiran Keans yang berhati tulus, karena Kevin memiliki peraturan tersendiri, jika sudah masuk ke markasnya maka harus ada yang kalah dan menang.
Dengan tenangnya Kevin meraih balok kayu dan berjalan perlahan memasuki kerumunan geng Radex,
"Bughhhhhh" Balok itu mendarat di kepala salah seorang disana, sontak saja keributan yang panas segera terjadi. Dua kelompok manusia yang jumlah nya ratusan saling menyerang, mereka seperti telah kehilangan akal sehat dan saling menyakiti.
Di lain sisi Kamaru tersandar lemah di pojok ruangan, mata nya menatap datar pemandangan brutal di hadapannya.
"Sialan, jika Masi di sini aku bisa mati" ucap nya berusaha berdiri, Kamaru yang berniat keluar meraba-raba kawat besi yang memagari markas tersebut, sial nya ia tak punya cukup tenaga untuk berdiri, sekali lagi ia coba meraih kawat besi untuk berdiri, akan tetapi pegangan itu mulai melemah, saat pegangan itu hampir terlepas sebuah tangan menahan tubuhnya untuk tetap berdiri.
__ADS_1
Ya dia adalah Deena yang sejujurnya Masi menaruh hati kepada lelaki 16 tahun tersebut. ia menyeret tubuh kamaru tanpa berkata sepatah kata pun.
"Kemana kita akan pergi?" Tanya Kamaru.
"Yang jelas aku tidak akan membunuh mu!" Jawab Deena singkat.
Saat keluar dari Markas Kamaru melihat sebuah taksi yang sepertinya telah di pesan terlebih dahulu, di taksi itulah Deena menitipkan tubuh sekaratnya.
"Rumah sakit ya pak!" katanya seraya menutup pintu mobil, wanita itu tak ikut masuk dan hanya mengantarkan sampai di pintu mobil.
"Kau tak pergi?" tanya Kamaru, matanya yang lebam menatap wajah wanita itu dari jendela taksi.
"Aku bukan penghianat, geng ku sedang bertarung dan kau bertanya apakah aku akan pergi?."
"Jangan terlibat, itu terlalu bahaya. ayo naik taksi bersama"
"Sudah ku katakan aku bukan penghianat"
"Kau sudah menjadi penghianat kerena menyelamatkan ku!!!"
Seketika Deena memalingkan wajahnya, ia menyadari bahwa menyelamatkan musuh dari kelompok nya juga sebuah penghianatan. perlahan ia mengarahkan tangan di kepala Kamaru.
Apakah itu sebuah sentuhan kasih sayang?. jika benar akan lebih baik Kamaru diam saja dan membiarkan nya.
"Plak" Deena menepuk pelan kening remaja itu.
"Dasar bodoh, jika musuh menyelamatkan nyawa mu, ucapkan terimakasih, bukan mengatakan sesuatu yang membuat dia ingin membunuh mu!"
kamaru hanya terdiam sambil menyentuh bagian yang terkena sentuhan. ia tak habis pikir wanita ini begitu perhatian, telah banyak pengorbanan yang Deena lakukan , sejak pertama masuk sekolah hingga saat ini, Deena Masi menjadi Dewi penyelamat bagi Kamaru.
Bersambung...
__ADS_1
⏩19