Harga Mati

Harga Mati
BAB 8 Hanya virus merah jambu


__ADS_3

Ada Deena yang kini terlihat menjauh dari Kamaru, wanita itu benar-benar telah menjaga jarak dengan nya.


Hal ini membuat Kamaru bertanya-tanya dan mulai menyesali satu hal, ia memberanikan diri melawan Deo semata-mata hanya untuk Deena, pria yang baru menduduki bangku kelas 10 itu berniat menjadi normal agar membawa pengaruh baik kepada Deena, ia tak ingin Deena terlibat Maslah hanya karena dirinya yang lemah.


Akan tetapi di saat dia telah berhasil mencapai semuanya, wanita itu justru menjauh, membuat Kamaru tak ingin berdiam diri lagi dan ingin menemui wanita itu segera.


Bukanlah sebuah masalah apabila deena telah berhenti menyukai Kamaru, setidak nya remaja itu tahu alasan ia di jauhi.


apa yang salah?. apakah ini ada hubungannya dengan perjanjian yang mereka buat?. jika hal itu benar maka Kamaru tak seharusnya berdiam diri saja,


Sebagai alasan dari perkara ini ia memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan.


...****************...


Di sekolah,


Deena berjalan melewati ruangan kelas milik Kamaru, ia seperti sedang terburu-buru ke suatu tempat, melihat hal tersebut Kamaru berinisiatif untuk mengikutinya secar diam-diam.


Langkah wanita itu semakin cepat, bahkan cuaca yang saat itu sedang turun hujan bukanlah hal yang penting lagi, dengan sepeda motor dia menerobos deras nya curah hujan.


Dengan rasa penasaran yang tak terbendung, Kamaru yang pendiam, Seketika telah menjadi orang yang cerewet.


"Pak, lebih cepat jangan sampai kehilangan jejak" gumam nya dari bangku belakang.


Ia bahkan memajukan beberapa cm kepala nya agar bisa berbicara lebih dekat dengan sopir taksi,


"Belok kiri pak, itu yang motor matic"


"Dimana dia? Apa kita kehilangan dia?


"Sialan mengapa aku payah dalam segala hal, mengikuti wanita saja tidak becus"


"Ahhhkkkk aku juga lupa plat motor nya, kita benar-benar kehilangan dia?"


"Astaga di depan pak, itu akan segera menjadi lampu merah, tambah kecepatan nya"


Sopir yang sudah tak tahan lagi mendengar ocehan Kamaru yang berjarak begitu dekat di telinga nya segera menekan rem secara paksa.


"srrrrrrrtttttttt" suara ban mobil mendenyit bergesekan dengan aspal,


"Kenapa berhenti?, terobos saja lampu merah itu, ayolah"

__ADS_1


"Heiiii anak sial*n ini, apa kau tidak lihat itu lampu merah?"


Kamaru terdiam, ia mengatup bibir nya yang sedari tadi mengoceh, ia tidak sadar pria di depannya adalah orang yang berusia jauh di atas diri nya, dengan wajah polos ia kembali duduk di posisi awal,


"Maaf pak aku terlalu bersemangat, Tapi pak ini sangat pent...."


"Kau masi mau berkicau seperti burung?. sebenernya siapa wanita yang ingin kau ikuti itu?"


"Dia orang yang sangat berpengaruh di perubahan ku, itu sebab nya aku"


"Maksudku apa wanita itu yang sedang kamu ikuti?" sopir taksi merujuk ke arah apotek yang berada di sebrang jalan. Tampak Deena keluar dengan sesuatu di tangan nya, sudah pasti itu benda yang ia beli dari apotek.


Pria itu segera membayar tagihan taksi dan turun dari mobil, ia terburu-buru menyebrangi jalan akan tetapi hari ini keberuntungan sedang tak berpihak kepadanya, lampu lalulintas telah berubah hijau sehingga semua kendaraan melaju menutupi jalan.


...****************...


Setelah beberapa saat akhirnya kamaru berhasil menuju sebrang jalan, sangat di sayangkan wanita yang ia ikuti sudah tidak terlihat.


Seketika pria itu jongkok seraya memukul pelan kepalanya, ia bahkan tidak bisa menghendel hal yang sederhana begini.


"Bodoh... bodoh... bodoh" gumamnya putus asa, berulang kali ia lakukan hal tersebut.


Setelah hampir 10 menit kebingungan, tiba-tiba kamaru mengingat sesuatu dan langsung memasuki apotek.


"siswi?? kasir apotik terlihat bingung karena setahu dirinya tidak pernah ada pelajar yang mengunjungi apotek tersebut.


"Iya, yang tadi pakai jaket merah, rambut nya juga basah terkena hujan!"


"OOOHHH, Dini maksud nya?"


"Dini?"


kini Kamaru yang terlihat bingung, mengapa wanita paruh baya ini memanggil Deena dengan nama dini.


"Iya Dini, yang keluar sekitar 10 menit yang lalu" timbal pemilik apotek lagi.


Kamaru terdiam sejenak, memang yang terakhir ke apotik itu adalah Deena, tidak mungkin dia salah orang, tapi kenapa wanita ini bersikeras memanggilnya dini?, dengan penuh pertimbangan akhir nya ia mengangguk ragu,


"I i iya... kalau boleh tau apa yang dia beli?"


"Bagaimana ya. aku tidak enak memberitahu mu, itu sangat pribadi"

__ADS_1


"Tidak apa-apa katakan saja, ibu boleh mengatakan nya padaku..Karena aku...aku.. aku pacar nya, iya pacar nya dini"


"Oh ya??" wanita itu menutup mulutnya dengan jari, wajah nya tersenyum dengan tatapan yang cukup menganggu.


Sementara Kamaru hanya tersenyum seraya memikirkan pengakuan bodoh yang baru saja ia katakan.


"Berarti dia sedang merencanakan sesuatu untuk mu, kalian akan segera menikah, hah anak muda sekarang memang sangat lihai dalam hal ini"


"Ha!!!!! me ...menikah??, hahah bahkan kami belum tamat SMA, menikah apa nya"


kamaru menjawab dengan wajah salah tingkah, terlihat jelas dia sedang tak baik-baik saja, wajah pria itu memerah bak udang rebus, sementara pemilik apotek menatap Kamaru dan terus menggodanya,


"Jika kalian masi anak SMA mengapa pacar mu membeli pengaman untuk berhu*b*Ngan disini, sudah jelas aku pasti melarang nya karena kalian masi SMA, mau coba-coba menipuku ya?"


Kamaru tertegun sejenak, mata nya terbuka lebar saat pemilik apotek mengatakan benda yang Deena beli, pemilik apotek juga memberi tahu wanita itu sudah membeli benda yang sama selama 3 hari berturut-turut.


Hal yang baru saja ia dengar telah membuat tulang-tulang nya menjadi lemah, di bawah tetesan hujan pria itu berjalan dengan kekecewaan, bagaimanapun bisa Deena yang tampak berkelas dan sangat luar biasa melakukan hal seperti itu, dia bukanlah seperti wanita yang Kamaru pikirkan, entah mengapa hati nya begitu sakit mengetahui kebenaran ini, padahal jelas-jelas dia tak memiliki hubungan yang spesial dengan wanita tersebut.


...****************...


Dua hari setelah kejadian Kamaru tak datang lagi ke sekolah, diam-diam Deena memperhatikan hal tersebut. Tak bisa di bohongi wanita itu sangat menyukai Kamaru sejak pandangan pertama, mungkin pria itu 3 tahun lebih muda dari nya, tetapi perasaan hadir tanpa bertanya tahun kelahiran orang yang akan di sukai.


Ia memberanikan diri bertanya ke salah satu teman sekelas Kamaru, dari sana ia mengetahui pria itu sedang demam setelah terkena hujan beberapa hari yang lalu.


sayang di buang:


"Arkkkhhh wanita si*lan, sudah aku bilang bukan aku yang melakukan nya"


Deena menarik rambut Deo dengan kasar,


"Jika bukan kamu pelaku nya siapa lagi, aku sudah memperingati mu jangan sentuh Kamaru brengs*k, kau benar-benar ingin mati?"


"Dasar wanita sial*an, psikopat, jika bukan karena Bang Radex sudah ku pecah kan kerangka kepala mu"


"Cepat katakan!! kamu apakan dia sampai tidak masuk hingga hari ini?" wanita itu menambah kekuatan, menarik rambut pria yang sekarang menjadi tawanan nya, salah seorang anggota yang tak tahan lagi akhirnya memberanikan berbicara,


"Deena hentikan, aku melihat Kamaru hujan-hujanan setelah mengikuti mu semalam, coba tanyakan teman sekelas kamaru mungkin saja dia terserang flu"


...----------------...


Bersambung....

__ADS_1


⏩9


__ADS_2