Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 106


__ADS_3

"Ya, Maaf." Rey menggaruk tengkungnya, jadi salah tingkah.


Ouh, pantesan saja kenyal-kenyal empuk. Ternyata yang aku pegang gunung kembar.


Rey cekikikan dalam hati. Perasaan campur aduk, antara rasa bersalah dan ingin mengulangnya lagi.


"Turun lo mesum! Sialan lo, beraninya-beraninya pegang aset paling berharga gue. Mau gue cekik lo sampai mati." Mata Arma melotot sempurna, tak terima dengan perlakuan Rey walau tak sengaja.


"Sorry, aku nggak sengaja. Soalnya kayak bakpau, empuk-empuk enak. Eh...."


Rey menutup mulutnya. Sedangkan Arma memberi tinjuan sembari melemparkan sendal yang dipakainya sampai mengenai kepala Rey.


"Gue nggak terima! Balikin kehormatan gue yang sudah lo rampas, dasar pria edan!" Arma ngamuk, teriak-teriak nggak jelas. Suara lantangnya mungkin sampai kedengeran ke kampung sebelah.


"Aku nggak sengaja, lagian kenapa juga tuh bakpau kembar bisa berada disana," balas Rey tanpa dosa membuat Arma semakin ngamuk dibuatnya.


"Heran, kenapa juga gue harus ketemu cowok bego kayak lo." Arma menggertakkan gigi disertai kepalan kuat. "Sini lo cowok lembek, kita bertarung." Arma sudah sangat geram dibuatnya.


Bibi An dan beberapa warga yang berada disana melerai kemarahan Arma. Dan meminta mereka untuk baikan.


"Ada apa Rey, kamu bikin heboh terus?" tanya Mami Tiwi bersama Sabrina. Mereka yang berada di dapur sangat penasaran dengan kericuhan yang terjadi.


"Itu, Mi. Aku salah pegang. Ni cewek sampai ngamuk segala, lagian nggak sengaja juga."

__ADS_1


"Memangnya apa yang kamu pegang, Rey?" tanya Mami Tiwi menyelidik.


"Dia pegang tete aku, Bu!" sambar Arma lantang meminta pembelaan.


"Apa?!"


Mata sang mami terlihat seperti macan yang siap mencambik tubuh Rey. Wajar saja Arma marah, hal itu sama saja Rey sudah melecehkan. Sampai Mami Tiwi pun menumpuk bokong Rey.


Tak lama Alex pun keluar, membuat amarah Arma mereda. Wajah garangnya berubah manis.


"Ada apa sih? Ribut terus, heran aku lihatnya. Kalian berdua jodoh kali," celetuk Alex sembari merangkul pinggang Sabrina.


Mata Arma membulat sempurna. Alex begitu romantis sampai merangkul dan mengecup pundak Sabrina.


Apa benar kabar yang selama ini beredar, kalau mereka itu pasangan suami istri. Bukan adik kakak. Padahal selama ini Arma tetap kekeh menganggap Alex dan Sabrina hanya adik kakak.


"Kalian suami istri?" tanya Arma memastikan. Ingin mendengar langsung dari mulut sang pujaan.


Harap-harap cemas. Ia ingin kalau mereka hanya pasangan adik kakak yang akur dan penuh kasih sayang.


"Iya, Sabrina istri yang paling aku cintai," balas Alex lantang tampa keraguan.


Sesak, sulit bernapas. Kenyataan ini menusuk lerung hati terdalam. Rasanya Arma ingin guling-guling di tanah, belum juga merasakan cinta sudah kena karma.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Alex pada Arma, senyum mengintimidasi itu seketika membuat si gadis tomboy malu.


Mana mungkin ia jujur dengan isi hatinya. Aku cinta padamu Mas Alex tampan. Tidak, sama saja Arma menyalakan api peperangan dengan warga sekitar yang benci plakor.


Menghela napas panjang yang Arma lakukan. Gadis itu melirik Rey sekilas, pria itu juga tak kalah tampan, tapi lembek.


Sedangkan Arma mau pria maco seperti Alex yang jago bela diri itu. Tubuhnya begitu atletis, bikin ngiler saja.


"Tidak apa-apa," jawab Arma terburu-buru sembari tertunduk malu.


Arma berjalan menggeser langkahnya kesamping bagai kepiting. Mendekati Rey yang kini sedang mengusap kedua telinga. Panas, akibat dijewer Mami Tiwi.


"Ayo lanjut kewarung," ucapnya pelan. Menarik tangan Rey sembari mengucapkan damai.


"Hah! Aku sudah disiksa Mami baru damai, dasar gadis gendeng."


Mata Arma melirik tajam, membuat Rey salah tingkah. Lebih mirip pria takut istri deh jadinya, miris!


Arma menjulurkan tangan walau malas. Rey menerima tanda mereka baikan.


"Kamu yang bawa motor," titah Arma pada Rey.


"Tumben ngalah, takut salah pegang lagi ya." Senyum penuh arti itu membuat Arma kesal.

__ADS_1


"Awwh!"


Rey memekik sakit, jemari kakinya sengaja diinjak Arma.


__ADS_2