Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 51


__ADS_3

Sabrina mendapat telepon dari Mami Tiwi, menyuruh gadis itu bersiap. Pagi ini jadwal Sabrina mengecek butik yang sudah satu minggu ini ia abaikan.


Selesai bicara dengan Mami Tiwi, Sabrina segera bersiap. Satu jam kemudian Mami Tiwi sudah sampai di rumah Alex.


"Mami gimana kabarnya?" Sabrina menyapa ramah dan memberi pelukan.


"Baik, Sabrina. Alex sudah berangkat kerja ya?" Tanya Mami Tiwi melepas pelukannya dan duduk di sofa.


"Sudah, Mi," balas Sabrina.


"Mami, ini teh nya," ucap Bibi An menyodorkan teh tersebut.


"Terimakasih ya, Bi." Mami Tiwi tersenyum, menyeruput tehnya.


Mami Tiwi bertanya. Bagaimana perubahan sikap Alex? Apalagi setelah mengetahui kalau Karlina tidak lagi berada di rumahnya. Sabrina menjawab, baik-baik saja. Namun, terasa aneh bagi Sabrina. Sikap Alex mendadak berubah menjadi lembut, ya walaupun terkadang masih menyebalkan.


Mendengar hal itu Mami Tiwi merasa senang. Semoga saja putranya benar-benar berubah dan melupakan wanita yang bernama Karlina itu. Mami Tiwi tidak setuju Alex menjalin hubungan dengan wanita itu sampai kapanpun. Karlina membawa dampak buruk bagi Alex.

__ADS_1


"Pertahankan rumah tanggamu dengan Alex, apa pun yang terjadi. Buat si bule arab itu mengakui betapa pentingnya kehadiranmu dalam hidupnya." Mami Tiwi menggenggam tangan Sabrina, penuh harap. Ingin sekali melihat Alex benar-benar berubah dari keburukannya selama ini.


"Semoga Sabrina bisa melakukannya, Mi. Membina rumah tangga yang harmonis ingin Sabrina rasakan, dicintai dan disayangi sepenuh hati oleh pasangan."


Mami Tiwi menyemangati Sabrina dengan memberinya pelukan.


***


Di kantor.


Alex berdiri dekat jendela kaca diruangannya, pandangannya lurus menatap keluar dan terlihat gamang. Sangat resah, tergambar jelas dari raut wajahnya.


Ya, Alex resah mendapat kabar dari Rey. Karlina bermalam dengan seorang pria di hotel. Hal itu yang membuat pikiran Alex tak tenang, wanita itu ternyata masih istimewa. Sehingga tak rela jika bersama pria lain. Sungguh sial! Sangat kesal dan menyebalkan.


Alex mengepalkan kedua tangan, memukul dinding dengan tangan kanannya. Marah yang teramat dalam dada merasa dihianati.


"Tuan, apa yang membuatmu marah?" tanya Rey, pria itu sedari tadi memperhatikan Tuannya yang sedang uring-uringan.

__ADS_1


"Kamu pasti lebih tahu jawabannya, Rey." Alex membalikkan tubuhnya, menatap Rey tajam.


"Itu sebuah kenyataan, bukan tipuan. Bukankah Tuan kini sedang menikmati mahligai rumah tangga dengan Nona Sabrina, dan aku lihat Tuan begitu menikmatinya." Rey berdiri mendekati Alex dan menyentuh pundaknya.


"Entahlah, aku bingung dengan perasaanku ini Rey. Aku mencoba menerima pernikahan ini, akan tetapi aku masih tak terima dengan sikap Mami yang mengusir Karlina dari rumah."


Buka matamu, Tuan. Wanita itu hanya memanfaatkan, tapi kenapa Tuan begitu buta menerima kenyataan. Karlina bukan wanita yang tepat untuk menjadi pendampingmu.


Ingin sekali Rey menyuarakan itu, namun situasinya tak tepat. Bisa-bisa Rey kena bogem mentah di wajah.


Alex duduk di kursi kebesarannya sambil menyandarkan kepala. Sudah beberapa kali ia memijat pelipis, kebimbangan itu menari di kepalanya.


"Langkah apa yang harus aku ambil, Rey?" Alex mulai bertanya lagi. Membutuhkan solusi dari keresahannya.


Rey bergegas duduk di kursi berhadapan dengan Alex. "Bukalah hati Tuan, untuk Nona Sabrina. Apa kurangnya Nona Sabrina, cantik, manis imut, menggemaskan pula," ucap Rey panjang lebar.


"Terus apa lagi yang mau kamu puji dari si cupu, hah." Alex memancing Rey ikut penasaran.

__ADS_1


"Nona itu seksi dan kulitnya halus," jawab Rey sejujurnya.


Plak.


__ADS_2