Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 90


__ADS_3

"Tuh 'kan, dah habis." Wajah Sabrina berubah kesal, makanan yang diinginkannya tak bisa didapatkan. Padahal ia begitu antusias melahap bakso favorit, sesudah bekerja di Jakarta bersama Bi Eis. Kalau ikut ke pasar tak pernah lupa makan bakso di sana.


Alex menjadi gusar, tak tega melihat wajah Sabrina berubah lesu.


"Mimi, besok kita beli lagi. Atau, Mas nya kita suruh buat lagi aja untuk nanti malam. Bisakan, Mas?" tanya Alex penuh harap keinginannya bisa dipenuhi.


"Berapa porsi, Pak?"


"Lima puluh porsi," jawab Alex.


Sabrina menepuk tangan Alex. "Terlalu banyak."


"Kita bagikan pada anak yatim piatu, bukannya kamu bilang ingin berkunjung ke panti asuhan."


"Ya, ampun. Aku lupa." Sabrina refleks memeluk Alex saking senangnya.


Hal kecil saja bisa membuatnya bahagia, apa ini yang dinamakan bahagia tanpa syarat. Aku punya segalanya, tapi baru kali ini aku sangat merasa bahagia bersama Sabrina.


"Nanti kita sama-sama makan bakso disana," ujar Alex lagi membuat Sabrina semakin bahagia.


Malam hari yang ditunggu Sabrina telah tiba. Bersama anak yatim piatu makan bakso kesukaannya, dibarengi canda dan tawa. Perhatian Sabrina pada anak panti itu membuat Alex kagum, keramahan dan penuh kasih sayang. Lembut dalam bertutur kata, membuat Alex ingin segera memiliki anak dari Sabrina.


Bukan hanya itu saja, jatah mingguan yang selalu Alex berikan. Sabrina menyisakan untuk menyantuni anak yatim, hal yang tak pernah Alex lakukan sebelumnya. Memberi pada orang yang lebih membutuhkan, hanya memanjakan para wanita yang kini menurutnya tak jelas dan membawa keburukan.


Bersama Sabrina Alex merasa senang. Banyak hal yang tak pernah dilakukannya dulu kini dilakukannya dan ternyata itu sangat menyenangkan.


Waktu berjalan begitu cepat mengakhiri kebersamaan bersama anak panti. Sabrina melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan sesudah saling berpelukan dan berjabat tangan. Bahkan salah seorang anak panti yang berusia lima tahun menangis. Tak mau cepat berpisah dengan Sabrina. Alex yang melihat keharuan itu berjanji akan berkunjung kembali, sehingga tangisan anak itu berhenti berganti dengan binar kegembiraan.


Sepanjang perjalanan pulang. Sabrina hanya menatap kearah samping, sesekali ia mengehela napas panjang. Seolah sedang menenangkan kegundahan yang dirasa dalam dada.

__ADS_1


"Mimi, Kamu kenapa? Apa belum mau pulang, masih ingin pergi jalan-jalan?" tanya Alex heran dengan diamnya Sabrina.


"Kita pulang saja, ini sudah malam," jawabnya masih dalam posisi yang sama.


Alex menepikan mobil kesebelah kiri. Mengamati mata Sabrina yang mulai berkaca-kaca.


"Sayang, apa aku berbuat salah?" Alex menggenggam jemari Sabrina.


Membuat gadis itu mengukir senyuman getir. "Aku hanya teringat Ibu dan Bapak, anak kecil di panti asuhan tadi mengingatkanku akan diriku sendiri. Sepi tanpa kasih sayang orang tua dan hal itu sangat menyakitkan. Aku ...."


Air mata tertahan itu kini tumpah juga. Sabrina menangis sembari menutupi wajah dengan kedua tangannya. Alex memberi pelukan, mengelus kepala Sabrina penuh cinta.


"Aku akan membahagiakanmu, tak akan pernah aku sia-siakan lagi wanita sebaik dirimu. Percayalah Sabrina."


Sabrina membalas pelukan Alex, menangis dalam dekapan hangat sang suami. Sabrina percaya, kini Alex sungguh peduli padanya dan ia juga merasakan hal yang sama, mencintai dan menyayangi Alex.


Alex menghapus sisa air mata yang masih menetes di pipi Sabrina. "Jika Mami tahu kamu menangis, bisa di jewer nanti telingaku."


"Mami nggak akan tahu," balas Sabrina mengukir senyum.


"Nah, gitu dong. Kan cantik," puji Alex gemas.


**


"Pipi bangun, ini sudah pagi." Sabrina menggoyang tubuh Alex, sudah jam enam pagi suaminya itu masih terlelap.


"Sayang, masih ngantuk," jawab Alex memeluk guling kembali.


"Ini sudah jam sepuluh loh," ujar Sabrina lagi. Seketika Alex terperanjat bangun, meloncat dari tempat tidur. Setengah berlari menuju kamar mandi. Ia bisa kena marah maminya. Karena di hari ini, Alex disuruh menjadi juri fashion show di hotel Xander city milik papinya sendiri. Sabrina pun ikut serta dalam penjurian tersebut.

__ADS_1


Suara tawa renyah keluar dari bibir Sabrina. Rasanya ingin terbahak, berhasil mengerjai suaminya itu. Alex melirik jam ternyata baru jam enam pagi dan baru menyadari kalau dirinya sudah dikerjai.


"Sayang!" Alex mengejar Sabrina yang berlari sembari minta maaf. Namun, maaf itu tak berguna. Alex menangkap tubuh Sabrina dan memanggul di pundak.


Sabrina berucap tak sengaja. Namun, Alex pura-pura tak mendengar dan membawa Sabrina masuk kamar mandi untuk mandi bersama.


"Bagaimana, Sayang," Alex mengedipkan mata di depan cermin rias. Tangannya tak lepas memeluk pinggang ramping Sabrina.


"Lain kali nggak mau bercanda lagi, ujungnya jadi anu." Sabrina kesal, Alex menyentuhnya lagi dengan alasan biar Sabrina cepat hamil.


Alex tergelak, rasa istrinya itu begitu nikmat. Sampai ketagihan, ingin lagi dan lagi. Apalagi kalau kulit mulusnya terpampang nyata didepan mata. Membuat Alex menjadi hilang kendali.


"Tapi suka 'kan." Alex memberi sapuan lembut dileher Sabrina.


"Mulai ... ayo pakai baju. Nanti Mami keburu nelepon."


"Ini tuh masih pagi, Mimi Sayang. Masih banyak waktu untuk berduaan. Kalau sudah sah kayak gini mau berapa kali pun dilakukan nggak takut digerebek orang dan lagi membuat hati dan pikiran jadi tenang."


"Kalau sudah nikah jatuhnya ibadah, kalau belum sah jadi zina."


"Tersinggung aku." Alex merajuk, memang dirinya sangat bandel. "Dulukan hilap," lanjutnya lagi.


"Sekarang ...."


"Tobat."


Sabrina tergelak, mengusap rambut Alex. "Iya, jangan permainkan harga diri wanita lagi. Jika sampai terjadi lagi aku akan pergi untuk selamanya."


"Tidak akan, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Aku tak sanggup."

__ADS_1


__ADS_2