Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 68


__ADS_3

"Bibi kenapa tertawa seperti itu?" tanya Sabrina saat melihat Bi Eis yang baru pulang dari pasar.


Bi Eis duduk disamping Sabrina. "Tadi di pasar ada penjual obat, katanya bisa bikin pasangan melayang keangkasa dan ketagihan."


"Lantas, kenapa Bibi mentertawakan. Namanya juga orang lagi usaha, cara apa-pun pasti dilakukan untuk menarik pelanggan."


"Habisnya penampilan sama wajah beda jauh."


Sabrina menjadi sangat penasaran, gadis itu sampai bersila di sofa menunggu penjelasan Bi Eis.


Bi Eis mengatakan, kalau si penjual obat tersebut berambut gondrong, berjanggut lebat, berkacamata tebal dan ada tompel di pipi kirinya. Namun, postur tubuhnya itu yang bikin ema-ema berdaster melayang tinggi keangkasa. Sangat sempurna, aroma parfumnya bikin candu. Sampai dagangannya laris di serbu pembeli.


Sabrina yang mendengar penjelasan Bi Eis malah tertawa terpingkal, tak menyangka bibinya juga akan seantusias itu menceritakan postur seorang pria.


"Jangan-jangan Bibi naksir ya?" tebak Sabrina, sembari memutar-mutar jari telunjuk mencari kebenaran dari pancaran mata sang bibi.


"Ya engga, Bibi sudah tua. Sudah ah, Bibi mau masak saja." Bi Eis menuju dapur. Sabrina mengekorinya dari belakang.


Sabrina kembali menggoda sang bibi. Tak ada salahnya jika bibinya itu menyukai pria, lagian belum terlalu tua. Masih terlihat awet muda.


"Jangan mengganggu Bibi, sana mandi," titahnya sedikit jutek.

__ADS_1


"Cie ... Bibi marah, kalau marah gitu tambah cantik loh Bi."


"Sabrina!" teriak Bi Eis.


Sabrina segera lari ke kamar sambil tertawa, sudah lama sekali ia tak menggoda bibinya itu.


***


"Ini tidak mungkin!" Karlina berteriak di apartemennya, setelah melihat acara berita di televisi. Memberitakan pengusiran Alex sampai dikatai gembel jalanan.


"Pasti berita ini hanya gosip murahan yang disiasati oleh Mami Tiwi. Nggak semudah itu Tanto Wijaya mengusir Alex, dia itu putra satu-satunya pewaris tunggal penerus keluarga Wijaya."


"Tolong selidiki keberadaan pria di foto yang ku kirim tadi, cari sampai ketemu. Dan satu lagi, jika melihat wajah gadis berkepang itu. Singkirkan!" titah Karlina di telepon.


Karlina mendengkus sembari tersenyum kecut, sebelum semua rencananya berhasil. Ia tak akan pernah melepaskan Alex, apalagi sampai membiarkannya menjadi milik wanita lain.


Tepatnya jam satu siang. Karlina baru selesai melakukan sesi pemotretan, wanita itu menyempatkan pergi ke butik Mami Tiwi di jam istirahat.


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Mami Tiwi dengan wajah datar.


Karlina duduk di kursi, walau pun tak disuruh. Wanita berambur kriting pirang itu nampak santai mengahadapi keacuhan Mami Tiwi.

__ADS_1


"Aku ingin memakai baju rancangan Mami untuk acara pesta nanti malam, sebelumnya aku minta maaf kalau selama ini sudah sangat menyenalkan."


"Kamu menyadarinya, ada gerangan apa? Karena Alex sudah jatuh miskin."


"Tidak, Mami. Aku tulus mencintai Alex apa-pun keadaannya."


"Tulus." Mami Tiwi mengulang kata, namun terasa menyindir bagi Karlina. "Asal kamu tahu, kami tak akan peduli lagi pada anak pembangkang seperti Alex, biarkan dia merasakan hidup sengsara diluar sana."


"Mami, ijinkan aku menjadi pendamping Alex. Aku akan menjadi wanita yang setia. Tak akan pernah meninggalkan Alex seperti Sabrina."


"Heum ... sepertinya perlu dipertimbangkan."


Karlina berdiri, matanya berbinar. "Apakah Mami menerimaku?" Pertanyaan yang penuh akan harapan besar.


"Sayangnya, tidak," balas Mami Tiwi.


Sialan wanita tua ini, sangat mudah mematahkan hati!


"Kalau memang tak ada kepentingan lain, silahkan keluar dari ruangan ini. Jika ada keperluan, silahkan langsung hubungi asisten pribadi."


"Baik, aku pergi." Karlina benar-benar kecewa dengan jawaban Mami Tiwi, wanita itu masih belum bisa menerimanya. Kecuali jika wanita itu mati, maka rencana yang sudah disusun pasti akan berjalan lancar.

__ADS_1


__ADS_2