
"Kalian semuanya bodoh! Masa cari satu perempuan saja tak ketemu." Alex kesal, memaki semua bodyguardnya yang belum berhasil menemukan Sabrina.
"Kota Jakarta itu luas, Tuan." Seorang pria berambut gondrong itu protes.
"Cari lagi sampai ketemu, awas saja jika kalian semua tak menemukan Sabrina!" ancaman itu membuat para bodyguard merinding. Si pemilik sabuk hitam itu tak pernah main-main dengan ancamannya, mereka semua bisa bonyok jika melawan.
Satu minggu tanpa Sabrina membuat Alex kelimpungan. Marah-marah tak jelas yang sering pria itu lakukan pada siapa pun yang menurutnya tak patuh. Mungkin karena rindu yang membatin yang belum tersalurkan.
"Bikin laporan macam apa ini, bisa bangkrut perusahaan kalau karyawannya bodoh seperti kalian! Keluar dari ruanganku!" bentak Alex melempar sebuah map ke lantai.
Rey mengambil kembali map bewarna biru tua yang Alex lemparkan ke lantai, membaca dengan teliti laporan yang sudah dibuat oleh karyawannya. Setelah itu menatap Alex, memberitahu tak ada yang salah dengan laporan tersebut, semuanya benar.
Alex mendengkus kesal, menatap Rey dengan sinis. "Matamu pasti bermasalah, Rey!" cibir Alex dengan nada tinggi.
Rey menghela napas panjang, dalam keadaan marah Alex tak pernah mau mengalah.
"Periksa saja sekali lagi dengan mata terbuka."
"Kamu mengataiku buta, Rey?" Mata Alex melotot merasa dihina.
__ADS_1
Rey menepuk jidatnya sendiri, tak salah lagi kemarahan Alex karena ditinggal Sabrina.
Oh, Nona. Dimanakah kamu berada, Tuan mulai gila.
Rey bergidik ngeri, membayangkan Sabrina tak kunjung kembali. Alex pasti akan kehilangan kewarasannya.
Jam makan siang. Alex masih setia di ruangannya, tak ada semangat dalam dirinya. Seolah ada sesuatu yang hilang yang menyesakan dada.
Harapannya hanya satu, menemukan Sabrina. Alex sudah tak tahan jika tak menyentuh Sabrina yang kini sudah menjadi candunya. Kepalanya terasa pusing, dipenuhi rindu yang membelenggu. Ingin rasanya Alex berteriak menyebut nama Sabrina. Agar wanita itu cepat kembali. Akan tetapi ego dan gengsinya terlalu tinggi, malu jika sampai ketahuan menyukai mantan pembantunya sendiri.
"Bisa turun harga diriku nanti," gumam Alex sembari menggebrak meja di depannya.
"Sabrina!" Alex berteriak kencang, untungnya saja ruangannya kedap suara. Sehingga tak kedengaran oleh para karyawan lain.
Sore harinya tepatnya jam lima. Alex memilih pulang ke rumah maminya, betapa jengkelnya Alex saat melihat kedua orang tuanya sedang bermesraan saling menyuapi makanan di ruang tamu.
"Lebay," sindir Alex sembari duduk di sofa.
Mami dan Papinya tak peduli dengan sindiran seorang pria yang sedang kesepian. Keduanya malah sengaja menunjukan kemesraan yang lain, membuat Alex semakin jengkel dibuatnya.
__ADS_1
"Sudah tua juga, sok mesra!" Alex melemparkan bantal dan mengenai kepala papinya.
Mami Tiwi menatap tajam kearah Alex, seolah ingin menerkam meluapkan kekesalan yang tertahan.
"Apa masalahmu, hah? Mengganggu kemesraan Mami dan Papi saja. Sana pulang ke rumahmu!"
"Sama anak sendiri gitu banget sih, Mi."
"Anak pembangkang kayak kamu memang pantas ditinggalin istri," cibir Papi Tanto menatap sinis.
"Aku lapar, Mi." Alex merengek manja sembari bersila di sofa.
"Kalau lapar ya makan, apa susahnya sih," jawab Mami Tiwi sinis.
"Aku mau Sabrina, Mi."
"Jangan sebut Sabrina lagi, dia sudah bukan menantu Mami lagi." Mami Tiwi dan Papi Tanto berlalu pergi meninggalkan Alex yang tertegun di sofa.
"Kalau gitu, ganti saja sama Karlina. Dia akan menjadi mantu idaman Mami."
__ADS_1
Langkah Mami Tiwi terhenti, membalikan badan dan menatap Alex dengan penuh amarah. "Tak sudi!"