Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 85


__ADS_3

"Jangan berpikir yang macam-macam, tak akan jadi kenyataan." Sabrina berucap ketus dan kembali menemui Bi Eis yang sedang mengambil obat di kamar Sabrina.


Alex tersentak, serasa ditampar dalam khayalan. Pikiran penuh cinta itu seketika luntur berhambur bagai debu dan hilang tertiup angin.


Tak masalah, perjuangan Lex. Pengennya dielus-elus sambil dibilang sayang. Eh, hanya khayalan, sabar-sabar.


Sabrina melapor pada Bi Eis, sudah melaksanakan tugas yang diperintahkan. Namun, bibinya itu masih tetap acuh saja.


"Bibi, jangan marah lagi." Sabrina menangkupkan tangan, memasang ekspresi wajah memelas agar bibinya kasihan dan memberi pelukan.


Bi Eis menghela napas panjang, menepuk dipan agar Sabrina duduk disampingnya. Bi Eis mengobati pipi Sabrina yang sudah ditamparnya, rasa penyesalan menjalar dan kata maaf keluar dari bibir wanita itu.


Setelah saling meminta maaf. Bi Eis menyuruh Sabrina untuk mengobati luka Alex. Mau menolak, akan tetapi Sabrina tak ingin mengecewakan bibinya lagi. Dengan rasa terpaksa menyetujui walau hati dongkol.


"Kemarilah." Sabrina melambaikan tangan agar Alex mendekat. Malas jika Sabrina yang lebih dulu mendatangi.


Gerak cepat dong. Alex merasa girang Sabrina mau mengobati lukanya, wajah muram berubah jadi ceria. Hati Alex seketika berbunga-bunga.


Alex duduk di tepi dipan. Sabrina kini sedang memoleskan obat sesudah membersihkan darah di bahu Alex terlebih dulu. Hening, tak ada pembicaraan dari keduanya. Namun tak apa, Alex merasa senang meskipun Sabrina terlihat terpaksa.


"Lain kali jika berkelahi. Sampai mati sekalian, biar tak menyusahkan orang," cibir Sabrina sembari memasangkan perban.


Sangat kasar ucapan Sabrina itu, seolah ingin Alex cepat mati saja. Namun, hati Alex sama sekali tak sakit hati. Justru merasa senang, Sabrina mengomel itu tanda dalam hati terdalam masih mengkhawatirkannya.


"Ini luka bekas tancapan pisau. Kenapa harus dibahu dan nggak di perut saja?" tanya Sabrina lagi. Lagi-lagi ucapan dan pertanyaan yang seharusnya menyinggung.


Namun, Alex makin girang. Semakin banyak bertanya tandanya Sabrina begitu khawatir. Andai posisinya bukan di kamar, Alex ingin sekali meloncat-loncat saking senangnya.


"Bukan bermaksud khawatir, hanya saja aku tidak mau terbawa oleh tindak kejahatan yang Tuan lakukan," ralat Sabrina lagi, usai melihat wajah Alex berbinar.


"Tak apa," jawab Alex singkat. "Apa-pun yang kamu katakan tak membuatku terluka, justru pertanda kamu sangat khawatir."


"Tapi aku sama sekali tak khawatir." Sabrina berdelik, turun dari tempat tidur menyimpan kotak obat ke laci.


Alex malah tersenyum, gadis yang dulu selalu pasrah kini punya keberanian untuk melawannya.

__ADS_1


"Kenapa mengikuti," tegur Sabrina. Alex mengekor dari belakang. "Minggir!" teriak Sabrina lagi. Alex menghalangi pintu kamar bahkan sampai menguncinya.


"Apa yang Tuan lakukan, jangan pernah berharap bisa menyentuhku lagi!" Sabrina menghindari Alex, berasumsi pria yang kini berusaha mendekapnya ingin melakukan sebuah percintaan lagi.


Rasa gugup dan takut menghampiri. Sabrina berteriak minta tolong memanggil nama Bi Eis, sayangnya sang bibi dibawa pergi jalan-jalan oleh Rey. Sengaja agar Alex dan Sabrina bisa bicara berdua menyelesaikan masalah.


Merasa tak ada respon. Sabrina mencoba membuka pintu. Namun, Alex sigap meraih tubuh Sabrina dan mendekapnya.


"Lepaskan, aku bukan wanita murahan yang bisa seenaknya Tuan sentuh dan setelah puas ditinggalkan. Aku cape hanya menjadi wanita pemuas napsu." Sabrina melakukan perlawanan, walau ia tahu sendiri, tangan kokoh yang kini mendekapnya terlalu kuat untuk disingkirkan.


"Bukankah aku hanya wanita cupu yang tak setara dengan level, Tuan. Tapi kenapa Tuan selalu mengganggu ketenanganku, pergilah pada wanita yang selalu Tuan puja itu dan ceraikan aku."


"Sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikanmu, membiarkanmu dekat dengan pria lain juga tak akan aku izinkan."


"Egois!" gertak Sabrina menggigit tangan Alex yang melingkar di dada.


"Meskipun kamu menggigit tanganku sampai berdarah sekalipun, tak akan pernah aku lepaskan kamu sebelum memaafkanku." Alex membalikkan tubuh Sabrina. Kini wajah marah gadis itu jelas dimatanya.


"Aku hanya ingin minta cerai!" gertak Sabrina penuh keseriusan.


Sabrina yang mendapatkan perlakuan seperti itu menggigit bibir Alex sampai berdarah dan kembali mengeluarkan kata umpatan mengatai Alex adalah pria brengsek yang tak punya malu. Mesum, banyak hal kata yang sangat kasar Sabrina keluarkan karena terlalu kesal, tak menyangka Alex akan tega melakukan hal seperti itu kepadanya mengecupnya paksa dan itu sangat menjijikkan bagi Sabrina.


Sabrina menginjak kaki Alex agar bisa melepaskan diri. Membuat sang empu meringis sakit, akan tetapi Alex tetap bertahan mendekap Sabrina.


"Tuan memang tak punya hati. Seharusnya aku mendengarkan apa kata Tuan Andra, dia pria baik yang menghargai wanita. Tidak seperti Tuan yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan."


"Eum ... Andra, senang sekali menjadi Andra yang penuh pujian baik."


"Memang dia baik dan lembut, juga sangat perhatian," jawab Sabrina lagi sembari mendorong tubuh Alex.


"Semakin kamu melawan, aku malah semakin gemas dan jangan sampai aku lepas kontrol." Alex mengedipkan sebelah matanya, tak peduli walau Sabrina memaki. Yang terpenting Alex kini bisa mendekap istri yang dirindukannya.


"Wangi, pakai parfum apa?" Alex menghirup aroma wangi dari leher Sabrina.


"Jangan macam-macam, atau aku akan berteriak minta tolong warga," ancam Sabrina dengan perlawanannya minta dikepaskan.

__ADS_1


"Silahkan saja, mereka pasti mengira kalau suamimu ini sangat kuat sampai bisa memberikan kenikmatan tiada tara. Kamu lupa aku ini si penjual jamu dan obat perkasa."


"Dasar gila!"


"Karenamu," lanjut Alex lagi.


"Aku tak butuh gombalanmu, pergi saja sana kepada Karlina. Wanita bohai pujaanmu."


"Dia sudah aku putuskan dan hanya kamu wanita paling saksi yang aku miliki."


"Jangan melihatku seperti itu Alexander Wijaya!" bentak Sabrina lagi, tatapan yang bikin merinding. Seolah minta hak yang sudah lama belum tersalurkan.


"Apa salahnya, kamu istriku."Alex menelusuri tubuh Sabrina dari atas sampai bawah.


"Aku bukan istrimu, aku hanya pembantumu." Sabrina menekankan kata pembantu seolah menyindir Alex akan setiap ucapannya di masa yang lalu.


Alex malah semakin suka melihat Sabrina mengoceh meluapkan kekesalannya. Lebih baik bicara dari pada diam tanpa suara. Hal itu lebih menyakitkan bagi Alex, dengan Sabrina mengoceh terus. Alex bisa mengetahui akan rasa keluh kesah yang selama ini dirasakan Sabrina. Memang benar Alex salah besar dari sejak awal menikah hanya selalu menyisakan luka.


"Bagaimana jika ungkapan cinta dan penyesalan ini tulus adanya."


"Aku tak peduli dan akan pernah mau peduli. Jika waktu bisa kembali berputar ke masa yang sudah lalu, aku akan memilih Tuan Andra."


Mendengar Andra terus dipuji, membuat gejolak rasa panas di dada Alex. Dan hal itu membuat Sabrina berteriak histeris dengan sikap yang Alex lakukan kepadanya.


🌹


Selamat membaca kembali, ini lebih panjang ya othor nulisnya.😁


Maaf baru up, baru sempat nulis lagi. Kemarin banyak banget kesibukan, ditambah Mama othor sakit dan othor juga sakit.


Bagaimana kesan membaca novel ini?


Apa ceritanya seru, masih nyambungkan?


Jawabya pertanyaan othor, biar makin semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2