
Alex membelokkan motornya menuju semak. Tak salah dengan jalan pintas yang diambilnya, sedangkan motornya sengaja Alex jatuhkan kejurang bebatuan sampai menciptakan sebuah ledakan. Kini ia bisa bersembunyi dari kejaran orang suruhan Andra.
Tuhan. Aku belum siap mati sebelum bisa membahagiakan Sabrina dan mendapat maafnya.
Suara tawa penuh keangkuhan bisa Alex dengar, mereka bersorak dengan ledakan yang terjadi.
"Pria itu sudah mati, motornya masuk kejurang, Tuan."
Salah seorang dari mereka melaporkan dari telepon, senang dengan semua kejadian yang dipikir sudah berhasil dilaksanakan.
Namun, kewaspadaan mereka juga sangat kuat. Mungkin Andra belum percaya Alex mati, sampai keempat pria itu mencari Alex kesemak-semak dan ke bawah jurang bebatuan.
"Sudahlah, tubuhnya pasti hangus. Sebaiknya kita pergi dari tempat ini sebelum kecelakaan ini tercium pihak berwajib."
Mendengar saran dari salah satu temannya, mereka pun pergi dari tempat kejadian.
Alex yang sedari tadi menahan napas dan rasa sakit ditubuhnya pun bisa bernapas lega. Tuhan mengabulkan doanya dan memberi pesan kepada Sabrina sebelum ponselnya mati.
[Sabrina, jika aku mati. Tolong maafkan aku]
Alex tersenyum lega sudah mengirim pesan tersebut. Kesadarannya hampir hilang, penglihatannya mulai kabur.
"Tuan!"
__ADS_1
Suara itu. "Rey." Alex tersenyum, pertolongan datang tepat waktu.
Rey mengikuti Alex karena khawatir akan terjadi sesuatu kepada majikannya itu, ternyata benar. Pirasat yang dirasakan menjadi kenyataan, menyaksikan sendiri Alex keluar dari apartemen Karlina dengan beberapa luka di tubuhnya dan ia pun mengikuti dengan sembunyi-sembunyi sampai ketempat terakhir kejadian itu.
**
Rey sangat khawatir melihat kondisi Alex terbaring lemas di ranjang pesakitan. Ia merasa gagal menjaga Alex sampai majikannya itu terluka parah.
"Kenapa bengong?" tanya Alex. Pria itu berusaha duduk, menyadarkan kepala kesadaran ranjang.
"Tuan, maafkan aku yang terlambat datang," ucap Rey penuh penyesalan.
"Justru kamu tepat waktu, Rey. Jika kamu tak segera datang mungkin aku sudah tiada."
Alex mencabut jarum infus dari tangannya, setelah itu ia meraih jaket milik Rey yang berada di sandaran kursi dan bergegas memakainya.
"Menemui, Sabrina."
"Tidak, Tuan. Jangan sekarang, keadaanmu belum pulih benar. Lebam di wajah Tuan masih bengkak dan lagi luka dipunggung Tuan baru selesai dijahit."
"Aku malah akan semakin tersiksa jika disini, Rey." Alex menatap sayu, agar Rey mau membawanya kembali ke rumah dimana Sabrina tinggal."
Rey meminta Alex untuk mendengarkan ucapannya demi keselamatan. Karena musuh pasti masih mengincar diluar sana, dengan keadaan Alex yang masih lemah. Musuh akan dengan mudah memanfaatkan situasi.
__ADS_1
"Aku rindu kepada Sabrina, Rey," ujar Alex yang kini kembali duduk di ranjang pesakitan.
"Non Sabrina baik-baik saja, Tuan. Tenanglah." Rey berusaha menenangkan Alex dan memanggil suster untuk memasangkan kembali jarum infus yang sudah Alex lepas.
"Jangan biarkan Andra mendekati Sabrina, Rey." Raut wajah Alex berubah kesal.
Rey malah berasumsi kalau Alex itu sedang dalam mode cemburu. Karena ia tahu kalau Andra dan Sabrina itu lebih akur.
""Tuan cemburu?" tanya Rey santai. Dan memberikan potongan apel yang sudah dikupas kepada Alex.
"Dia dan Karlina bersekongkol menghancurkan hidupku, ternyata Andra dendam karena kalah tender setahun yang lalu yang menyebabkan perusahaan Ayahnya bangkrut total."
Rey tersentak merasa tak percaya kalau Andra bisa berbuat demikian. Ternyata dia sangat pandai menyembunyikan sebuah kebusukan, seolah menjadi seorang pria baik. Kenyataannya menyimpan sebuah racun yang sangat mematikan.
"Ini benar-benar tak dapat dipercaya. Andra!" Rey mengepalkan kedua tangan, tak terima dengan sebuah penghianatan yang mengatasnamakan persahabatan.
"Maka dari itu, jangan sampai Sabrina bertemu kembali dengan penghianat itu. Karena Andra mencintai Sabrina dan sudah mengetahui pernikahanku dengannya."
"Ini pasti gara-gara ulat bulu itu." Rey kembali mengatai Karlina, sudah gemas ingin sekali melempar wanita murahan itu ke kutub utara.
"Jangan sebut namanya lagi. Aku jadi merasa malu dengan kelakuanku selama ini, apalagi jika Mami sampai tahu. Bisa disunat lagi di otong, Rey."
"Bukan disunat lagi, tapi dibabat abis sampai keakarnya." Rey terkekeh. Setelah itu ia bergidik ngeri mengingat nasibnya sendiri yang sudah berani menghianati Mami Tiwi. Memberitahukan alamat persembunyian Sabrina kepada Alex.
__ADS_1
Namun, bagaimana lagi. Rey benar-benar tak tahan melihat sikap Alex yang sangat plin-plan dan masih saja percaya pada wanita yang sudah jelas-jelas menghianatinya. Syukurlah Alex kali ini terlihat sangat menyesal dengan setiap perbuatannya dan tusukan di bahunya itu akan menjadi saksi betapa cinta butanya itu membuatnya hampir kehilangan nyawa.