
"Tak perlu berpura-pura manis seperti itu, aku tak akan bersimpati. Dan jangan pernah mencoba menipuku lagi dengan luka buatan yang Tuan ciptakan sendiri."
"Bagaimana jika luka ini sungguhan." Alex menatap Sabrina penuh harap agar istrinya itu mau bersimpati kepadanya.
Sabrina memalingkan wajah. "Aku tak peduli," jawab Sabrina berlari masuk ke rumah dengan baju basahnya.
Alex tak merubah posisinya masih berlutut dibawah hujan deras. Enggan untuk bangkit dari sana, membiarkan hujan membanjiri tubuh berharap semua kesalahannya bisa memudar dan termaafkan.
Sayangnya semua itu hanyalah pemikirannya sendiri, kesalahan yang tak akan bisa ditebus dengan derasnya hujan yang membasahi tubuh, akan tetapi dengan perubahan perilaku baiknya di masa kini terutama kepada Sabrina dan juga kepada kedua orang tua yang sudah banyak dibuatnya kecewa.
Rey memayungi Alex, sembari membawa handuk. "Harus sabar, Tuan. Biarkan Non Sabrina tenang dulu."
Alex menghela napas berat. Setelah itu menganggukkan kepala pasrah. Bibirnya terasa kaku untuk menjawab ucapan Rey.
Bi Eis yang sedari tadi memperhatikan Alex dari dalam rumah merasa kasihan pada pria itu dan membantu Rey memayang tubuh Alex masuk rumah.
"Sabrina buka pintunya, Bibi mau ngambil kotak P3K yang berada di laci lemari bajumu." Bi Eis mengetuk pintu. Belum juga ada jawaban, tak menyerah dan mengancam akan mendobrak pintu kamar jika Sabrina tak mau membukanya juga.
"Ini." Sabrina menyodorkan yang diminta bibinya. "Kenapa menyusahkan sekali, mati saja sekalian!"
__ADS_1
"Sabrina!" teriak Bi Eis menampar pipi Sabrina sangat keras. "Bibi nggak pernah mengajarkanmu kurang ajar pada suamimu itu, setiap orang pasti punya kesalahan. Yang terlihat baik pun belum tentu orang baik, yang terpenting mau berubah dari kesalahannya."
"Bibi." Sabrina berderai air mata sembari memegangi pipinya.
"Apa? Minta Bibi tampar lagi, hah! Minta maaf sama suamimu," titah Bi Eis dengan wajah penuh amarah.
"Aku nggak mau, pria itu sering memperlakukanku sangat buruk. Bibi nggak tahu betapa menderitanya aku seatap dengan pria yang sama sekali tak pernah menghargai kehadiranku."
"Tapi setidaknya suamimu sudah tulus meminta maaf."
"Itu hanya tipuan saja, pria itu pandai berakting dan cari muka. Percaya sama aku, Bi." Sabrina meyakinkan kalau Alex tak seperti yang bibinya pikirkan.
Alex yang sedari tadi menyaksikan tak kuasa ingin ikut campur, permasalahan yang terjadi karena kehadirannya. Namun, Rey menahan Alex tetap diam agar permasalahan tidak semakin berkepanjangan.
"Minta maaf pada suamimu," titah Bi Eis untuk kesekian kalinya tanpa menoleh pada Sabrina.
Diacuhkan oleh orang yang paling Sabrina sayang jauh lebih menyakitkan, mengalah dengan egonya yang kini Sabrina lakukan. Melangkah menuju tempat pria yang kini sangat dibencinya.
Sabrina mengulurkan tangan. "Maaf," ucapnya tanpa melihat wajah Alex.
__ADS_1
"Aku yang seharusnya minta maaf ...."
"Tak perlu banyak basa-basi, jawab saja permintaan maafku," ucap Sabrina dengan ekspresi jutek.
Alex tersenyum, dalam hati bersorak gembira. Sabrina mau bicara padanya walau jutek pun tak masalah. Yang terpenting bisa berjabat tangan bersentuhan dengan orang tersayang.
Alex menjabat tangan Sabrina. "Aku maafin," jawab Alex, tak mau melepaskan tangan wanita yang dirindunya.
"Apa aku boleh mengecup keningmu?" tanya Alex berbinar.
"Tentu saja, kamu berhak atas diriku," jawab Sabrina malu-malu.
Sayangnya, dialog tersebut hanya ada dalam lamunan Alex saja. Sangat menyebalkan, pengennya bisa jadi kenyataan. Namun, Sabrina sudah lebih dulu menarik tangannya dari genggaman Alex.
😍
Cie ... Alex ngarep bermesraan sama Sabrina. Kasian baru bisa dalam khayalan.
Maaf baru bisa up, othor kemarin sakit. Dan kini Ibu othor juga sakit, jadi belum bisa up banyak. Pengennya bisa panjang kayak kereta. Double up, tapi ya gimana lagi, semoga masih mau mendukung novel ini memberi like, vote dan komentarnya juga.
__ADS_1