Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 117


__ADS_3

Api berhasil dipadamkan oleh pemadam kebakaran yang dipanggil Zayran. Akan tetapi semuanya sudah berakhir, tak ada satu pun yang tersisa dari rumah yang sudah hangus itu.


Sabrina dan Arma mencari Alex dan keluarga yang lain, tetapi hanya menyisakan beberapa mayat yang sudah hangus. Seketika, Sabrina histeris.


"Andra! Kau hancurkan keluargaku, manusia serakah. Berhati batu!"


Arma menenangkan Sabrina, walau ia sendiri tak sanggup melihat mayat hangus itu. Apa diantara mereka adalah bapaknya? Jika benar, Andra tak boleh lolos dari cengkramannya.


"Suamiku, Arma. Mami, Rey." Sabrina hendak menyentuh mayat yang sudah tak berbentuk itu, tetapi Zayran segera menarik tangannya.


"Biarkan polisi yang menangani."


"Tapi...."


"Sabrina, percayalah. Semuanya akan baik-baik saja."


"Baik kata Anda." Sabrina berdiri dengan raut wajah murka pada Zayran. Kobaran amarah menyelimuti, disertai kepalan kuat dikedua tangan.


Pukulan hendak melayang ke wajah, sigap Zayran menahan tangan Sabrina. Menangkis setiap pukulan.

__ADS_1


Tendangan meleset membuat Sabrina lepas kendali. Terus berusaha memberi pukulan pada Zayran walau Arma menghalangi.


"Dia Ibuku, suamiku, saudaraku! Anda tak perlu ikut campur!"


Pukulan demi pukukan tidak mengenai Zayran. Sepertinya pria itu juga pandai bela diri, membuat Sabrina letih. Pusing, membuat pandangannya kabur. Kemudian gelap dan akhirnya tak sadarkan diri.


Zayran menyuruh anak buahnya membawa Sabrina masuk kedalam mobil juga Arma. Gadis yang terlihat garang itu pun menurut pada Zayran, tak lagi banyak komentar.


Mayat berhasil dievakuasi. Seluruh warga yang menyaksikan diinterogasi oleh Zayran, kenapa tidak ada yang berani menolong dan lapor polisi. Hanya jawaban takut, balasan dari para warga diancam oleh senjata.


Zayran sampai geleng kepala. Kenapa masih ada manusia berhati iblis? Dimana rasa kemanusianya.


"Menangislah, agar hatimu tenang." Arma mengelus kepala Sabrina, isak yang terdengar semakin keras itu kini dalam dekapan. Sembari menggerutu meluapkan sesal.


"Kamu merasa kehilangan, aku pun sama Sabrina. Kita hadapi semua ini bersama-sama."


**


Zayran membawa Sabrina ke rumah sakit untuk melihat hasil otopsi, mencocokkan DNA ke empat mayat tersebut.

__ADS_1


"Ciri-ciri tersebut tidak sama, Mami tidak punya tahi lalat didagu. Bibian juga bertubuh agak gempal tidak kerempeng. Rey tidak berjakun lebat juga tinggi. Tetapi yang ini...."


Sabrina menutup mulut, tubuhnya bergetar hebat. Hasil otopsi yang terakhir memiliki ciri-ciri yang sama dengan Alex.


"Ini tidak mungkin." Kepala Sabrina pusing dan hampir pingsan lagi.


"Minumlah dulu Sabrina." Zayran memberikan segelas air putih yang dibawakan perawat.


"Kamu harus tenang," ucapnya menyemangati, walau ia sendiri masih bingung dengan jati diri Alex. Apa sama dengan yang selama ini dicarinya?


"Dokter, tolong periksa lebih derai lagi. Besok pagi kami akan kembali kesini," pinta Zayran dan membawa Sabrina pulang.


Bukan apartemen yang kini ditempati. Melainkan sebuah rumah mewah yang jauh dari perkotaan, pemandangannya pun sangat indah. Bisa menenangkan hati yang memandang.


Sepulang dari rumah sakit tadi, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Sabrina. Bahkan makanan yang sejak siang di suguhkan tak disentuhnya sama sekali. Begitu juga Arma, gadis itu lebih banyak melamun dibalkon.


Zayran merasakan sakitnya kehilangan. Ditinggalkan istri dan dua orang anak akibat kecelakaan beruntun. Membuat Zayran hidup dalam kesendirian dimasa tuanya.


Mungkin kehadiran Arma dan Sabrina menjadi petunjuk agar ia tak lagi kesepian dan menganggap keduanya sebagai anak, juga membantu menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


__ADS_2