
Plak.
"Tuan, kenapa pipiku di tampar," protes Rey memegangi pipi kirinya.
"Ada nyamuk di pipimu, jadi aku usir saja. Biar tak menyebabkan demam berdarah, kasian kamu kalau sampai sakit tak ada yang membantu pekerjaanku nanti," ujar Alex dan kembali menyuruh Rey bercerita tentang Sabrina.
"Tuan baik banget," balas Rey dengan polosnya.
"Ayo lanjutkan seperti apa lagi Sabrina di matamu!" Kali ini nada suara Alex mulai meninggi.
Membuat Rey jadi salah tingkah, sepertinya tamparan tadi bukan karena nyamuk. Tapi karena ada rasa cemburu.
"Sepertinya sudah segitu saja, Tuan. Tapi kalau Tuan nggak mau sama Non Sabrina, buat aku saja. Akan aku sayang-sayang, aku belai, aku manjakan dan ...."
Brak.
__ADS_1
Alex berdiri sembari menggebrak meja. "Dan apa, hah?" Sorot matanya tajam seolah ingin menerkam.
"Itu ... anu, Tuan. Anu." Tiba-tiba saja Rey jadi gagap, susah untuk bicara. Keringat dingin mulai membasahi kening.
"Anu-anu apa, hah! Ayo ucapkan lagi," gertak Alex, napasnya mulai memburu, sepertinya rasa cemburu mulai menyelusup kadalam hati.
Rey menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal, sepertinya Rey mulai membangunkan macan tidur dari mimpi indahnya.
Dasar bule arab, bilang saja cemburu. Nggak usah pakai ngeles segala. Tinggal bilang suka apa susahnya sih.
Sepertinya si bos punya jurus menembus batin lagi. Rey malah bergidik ngeri, jika sampai terjadi. Matilah dia kali ini.
"Aku tidak sedang menggerutu, Tuan. Hanya saja jangan suka melewatkan kesempatan baik ini, jangan sampai suatu hari nanti Tuan menyesali perbuatan yang Tuan lakukan pada Non Sabrina. Mami sangat menyayangi Non Sabrina, Tuan juga tahu kalau Mami sudah menyayangi sesuatu tak akan pernah bisa memisahkan. Dan lagi Non Sabrina sosok istri yang baik untuk Tuan, jagalah harta berharga itu sebelum Tuan kehilangan."
"Akan aku pikirkan saran darimu itu," jawab Alex sinis.
__ADS_1
"Nah, bagus. Kalau Tuan tidak mau, biar aku saja yang membahagiakan Nona Sabrina." Rey tergelak bergegas keluar dari ruangan Alex sebelum bosnya itu memberikan pukulan keras kepadanya.
"Dasar sekretaris kurang ajar, akan aku potong gajimu itu Rey!" teriak Alex dalam ruangan.
Sedangkan Rey mengelus dada. Bagaimana bisa dia punya bos berkepribadian aneh seperti itu, gengsinya terlalu tinggi. Sudah tahu mulai cinta sama Sabrina, tetap saja tak mau mengakui.
Baru saja Rey duduk di meja kerjanya, tiba-tiba saja ada suara wanita yang menyapa. Suara itu sungguh tak asing dan ternyata Karlina menanyakan keberadaan Alex, dasar ulat bulu tak tahu malu.
Rey mengatakan kepada Karlina kalau Alex sedang bermesraan dengan Sabrina di ruang kerjanya dan tak bisa diganggu. Ia pun beralasan kena omel Alex karena sudah berani mengganggu kebersamaannya. Karlina tak terima, wanita itu tak percaya. Namun, Rey segera menyuruh wanita itu pergi kalau tidak. Ia akan memanggil satpam untuk mengusirnya dan hal itu akan membuat Karlina dipermalukan, seorang model terkenal diperlakukan tidak baik.
"Awas saja kamu, Rey. Tunggu pembalasanku!" ancam Karlina penuh emosi.
"Akan aku tunggu ancaman itu," balas Rey melambaikan tangan pada Karlina.
Tanpa Rey sadari ternyata Alex berdiri tepat dibelakangnya. "Apa yang kamu lakukan?" Alex menyilangkan kedua tangan, menyimpan di dada.
__ADS_1
Rey membalas dengan tersenyum canggung. Alex bergegas pergi.