Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 107


__ADS_3

"Gitu saja sakit, dasar lembek!" ledek Arma setengah berteriak.


Membuat emosi Rey naik, tak terima dengan sebutan lembek yang gadis jadi-jadian itu katakan.


"Lo yang bawa motor, gue ngikut dibelakang," titah Arma yang nggak mau kalau Rey salah pegang lagi.


"Oke!" balas Rey dengan suara tegas.


"Pelan-pelan bawa motornya, nanti motor gue rusak."


Nih cewek kayak bebek aja nyerocos mulu. Motor butut kayak gini saja dibanggain. Aku pun punya motor lebih bagus dari ini, sayangnya tak bisa dibawa pamer.


Selama perjalanan ke warung. Arma hanya melamun saja, masih kepikiran si abang tampan yang sudah punya istri.


"Hey!" Arma menepuk pundak Rey.


"Apa," balas Rey fokus kedepan, ternyata jalanan berbatu ini sulit Rey lewati. Terbiasa bawa kendaraan di jalan yang mulus.


"Apa benar Abang ganteng sudah nikah?" tanya Arma tanpa malu. Rey sodara Alex, pasti tahu betul tentang jati diri si tampan.


"Sudah," jawab Rey tanpa basa-basi.

__ADS_1


Seketika Arma meraung sembari memeluk Rey. Tangannya tak bisa diam pegang sana pegang sini.


Sebagai pria normal, tentu bagian tubuh Arma begitu mengganggu. Sesuatu yang menonjol empuk membuat benda yang tertidur pun bangun seketika.


'Gawat ini!' ucap Rey dalam hati.


"Aku patah hati!" teriak Arma meraung, membuat telinga Rey berdengung.


"Apaan nih?" Tangan Arma berhenti dibagian depan Rey yang berharga.


"Jangan sentuh!" teriak Rey menghentikan laju kuda besinya secara tiba-tiba, membuat kepala Arma membentur punggung Rey.


"Sialan! Main berhenti tiba-tiba." Arma mengelus keningnya.


Rey membatin dengan perlakuan Arma yang menyentuh pusaka antiknya. Pusaka tersegelnya kini sudah dinodai oleh tangan wanita sinting tak bermoral.


Ingin sekali Rey mengumpat kasar. Jika saja Arma pria, mungkin Rey sudah memukulinya membabi buta.


Namun, jika yang dihadapinya wanita. Rey tak bisa berbuat apa-apa, wanita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus dilindungi.


Akan tetapi sepertinya hal itu nggak berlaku untuk Arma, gadis ini pandai bela diri. Bisa menjaga dirinya sendiri dan tak membutuhkan bantuan dari pria, sayangnya. Rey nggak bisa memukuli singa betina yang kini berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Naik lagi, nanti Bibi An marah," titah Rey pada Arma. Mereka kebanyakan becanda, membuat waktu banyak terbuang.


"Iya, bawel! Cowok aneh dasar lu," cibir Arma memukul pundak Rey.


Baru saja Rey menyalakan motornya. Ada beberapa kendaraan yang menyoroti kearah mereka. Memakai setelah hitam dan kupluk di wajah, disertai tawa menghina.


"Sembunyi disini ternyata," ucap salah seorang geng motor tersebut.


Tak salah lagi. Mereka pasti anak buah Andra, siapa lagi yang akan bicara akrab jika bukan suruhan pria bedebah itu.


'Goblok si Andra, rupanya dia sudah tahu keberadaan Alex,' umpat Rey dalam hati.


Empat pria turun dari motor menuju kearah Rey. Tawa mereka terdengar puas, Rey dalam kepungan bersama seorang wanita. Mana jalan sepi lagi hanya pepohonan menjulang tinggi yang munghuni sisi jalan tersebut.


"Cewek lo." Pria berambut gondrong itu mencolek dagu Arma sembari tertawa.


Membuat si gadis mendengkus, tak terima dengan perlakuan melecehkan itu. Arma turun dari motor membuat Rey panik akan ulah wanita itu.


"Cantik, mau ikut gabung kita nggak untuk bersenang-senang." Tangan si gondrong tak sopan, mengelus bokong Arma. Membuat kawanan lainnya tertawa terpingkal.


"Setan!" Suara Arma melengking keras. Membuat amarahnya membara ingin menyingkirkan pria kurang ajar yang berani menyentuhnya.

__ADS_1


Pukulan keras mendarat di wajah si gondrong, pria itu hampir terjugkal karena masih lengah. Tendangan maut pun Arma layangkan, sungguh tepat sasaran mengenai area sensitif si pria.


"Wanita edan!" umpat pria itu sembari mengaduh, sakit sekali sampai tubuhnya limbung.


__ADS_2