
Rasa bersalah kembali datang. Mami Tiwi mengakui kesalahannya di masa lalu, kurang memberi perhatian dan waktu untuk Alex saat masih kecil. Terlalu sibuk bekerja mengurus perusahaan sampai tak ada waktu bermain sekedar melihat gambar putranya yang selalu ingin ditunjukkan.
Dari kecil Alex memang anak yang penurut, tak pernah membangkang. Namun, kecewa pada keadaan membuatnya terjerumus pada kesenangan dunia malam. Pergi ke klub, gonta-ganti pasangan, sampai akhirnya bertemu dengan Karlina dan menjalin kasih dengan wanita itu.
Semenjak pacaran dengan Karlina. Alex semakin liar, pulang malam mabuk-mabukan sampai membawa wanita tidur sekamar dengannya. Mami Tiwi dan Papi Tanto sangat kewalahan menghadapi putra satu-satunya. Lantas, apa arti pacaran menurut Alex, jika ia masih suka bersama wanita lain diluar sana. Apa sesungguhnya Karlina itu sebatas pelampiasan, cinta yang dimaksudnya sekedar pelarian?
"Mami jangan menangis, aku akan memberi warna pada kegelapan hidup Tuan. Meskipun sikapnya selalu memberi kepahitan, aku percaya dalam lubuk hati terdalam terdapat cinta dan kasih sayang. Aku akan menumbuhkan rasa itu sampai muncul kepermukaan."
"Ini memang salah Mami, Sabrina. Mami kurang memberikan Alex kasih sayang. Mami nggak mau jika putra Mami itu terjerumus semakin jauh dalam kesesatan."
"Itu nggak akan terjadi, Mami. Aku akan berusaha merubahnya."
"Papi percaya, kamu bisa merubah Alex menjadi pribadi yang baik."
Dengan cara apa aku merubahnya, kenapa juga aku harus mengatakan itu. Heum ... aku malah menjerumuskan diri sendiri ke dalam masalah.
Sabrina menganggukan kepala, seolah ia benar-benar bisa merubah Alex. Padahal hatinya merasa ragu, tak yakin kalau ia mampu, yang Sabrina rasa Alex hanya menginginkan kesenangan diranjang saja.
Akan tetapi, Sabrina sempat merasakan kesepian dari mata beringas Alex saat mengajaknya bercinta. Apa memang dari lubuk hati terdalam pria itu memang sangat kesepian? Ntah lah, kepala Sabrina malah terasa berdenyut jika memikirkan pribadi Alex yang aneh itu.
Sabrina sama sekali tak bisa menebak karakter Alex, dia itu sangat aneh. Terkadang manis, terkadang jutek, kasar, menyebalkan dan juga penuh tekanan yang membuat Sabrina merasakan sakit hati.
"Mami, aku pamit. Jaga kesehatan Mami, jangan terlalu memikirkan Tuan Alex. Aku akan berusaha untuk merubahnya dan memberikan cinta untuknya."
"Mami dan Papi percayakan Alex kepadamu."
__ADS_1
Sabrina bergegas pulang di antar oleh supir. Sesampainya di halaman rumah Alex. Sabrina dikejutkan oleh mobil milik Alex yang sudah berada di garasi. Pria itu ada di rumah, bilangnya mau menemui Karlina. Apa jangan-jangan ... Sabrina berlari ke dalam rumah, mencari keberadaan pria itu.
Kaki Sabrina gemetar saat ia sampai di lantai atas, sayup terdengar suara Alex dan seorang wanita sedang tertawa dari balik pintu. Sebelum memegang gagang pintu, Sabrina menghela !napas panjang.
"Sayang, apa kamu mencintai Sabrina?"
"Tidak sama sekali, gadis kecil itu hanya sekedar pelampiasan saja. Dia sama sekali bukan tipeku dan nggak akan pernah menganggapnya ada."
"Oh, Sayangku. Syukurlah, itu tandanya hanya aku ratu hatimu."
Sabrina seakan tersambar petir di sore hari saat ia mendengar penuturan Alex dengan wanitanya, hatinya sakit seakan tertancap beribu duri. Benar tebakannya selama ini, ia hanya dijadikan teman tidur saja. Setelah puas dihempaskan sejauh mungkin. Lantas, bagaimana cara Sabrina merubah pribadi pria itu, jika kehadirannya sama sekali tak pernah dianggap.
Akan tetapi, Sabrina sudah berjanji akan merubah sikap buruk Alex menjadi lebih baik. Janji itu adalah sebuah hutang yang harus ditepati, mempunyai hutang janji kepada kedua orang tua Alex. Membayarnya dengan cara membuat Alex berubah, tapi itu bukan hal yang mudah.
Sabrina tergesa membuka pintu kamar Alex, memberanikan diri untuk menghadapi pria yang kini sedang menatap tajam kearahnya. Seolah Sabrina adalah musuh yang mengganggu kesenangannya. Memang mengganggu, pasangan haus cinta itu sepertinya baru pemanasan saja. Sabrina tepat waktu menghentikan duel maut yang akan kedua sejoli itu lakukan.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Karlina geram.
"Siapa yang mengijinkanmu masuk?" Alex bertanya dengan sorot mata tajam seolah ingin menerkam.
Tenang Sabrina, kamu harus tenang menghadapi para singa lapar ini.
"Sorry, tidak ada maksud untuk mengganggu. Aku hanya ingin mengambil baju yang tertinggal di lemari Tuan Alex."
"Alasan! Sayang, kamu usir wanita itu, bukannya kamu sudah janji tak akan membiarkan wanita ini kembali lagi." Karlina merengek manja mengelus pundak Alex.
__ADS_1
Alex menyeret tangan Sabrina, agar gadis itu keluar dari kamar. Namun, kali ini Sabrina melawan dengan menggigit tangan Alex.
"Gadis bodoh!" Alex menghempas kasar tangan Sabrina.
"Aku tidak bermaksud mengganggu kesenanganmu, Tuan. Aku hanya ingin mengambil bajuku yang tertinggal, itu saja. Silahkan lanjutkan jika Tuan ingin kembali bercinta dengan kekasih Tuan itu," tegas Sabrina.
Gadis ini mulai berulah rupanya, dia berani melawan.
Alex menarik tangan Sabrina ke kamar tamu yang berada di lantai bawah. Menghempas kasar tubuh gadis itu ke tempat tidur.
"Kamu sepertinya mulai berani melawan. Jangan mentang-mentang mendapatkan pembelaan dari Mami kamu bisa seenaknya, dan kali ini aku akan menunjukkan seberapa beringasnya seorang Alexander Wijaya."
"Tidak, Tuan."
Alex menarik paksa baju Sabrina sampai robek, membuat gadis itu ketakutan dan kembali menangis, memohon ampun agar Alex mau melepaskannya. Namun, Alex malah semakin kehilangan kendali. Ia lebih mirip Singa yang akan menerkam seekor Kelinci kecil, tak ada belas kasihannya sama sekali. Tubuh Sabrina dihujam dengan kasar, gadis itu meringis, menangis, menjerit. Alex benar-benar menakutkan, pria itu tak ada puasnya sama sekali. Berkali-kali merasai tubuh gadis polos itu, sampai malam hari pun Sabrina masih menjadi santapan nafsu liarnya.
"Apakah masih mau melawanku?" tanya Alex dengan nafas tersengal-sengal.
"Aku akan melawanmu, aku sudah berjanji," jawab Sabrina lirih.
"Beraninya." Alex kembali menyapu leher jenjang Sabrina dengan bibirnya, sesekali menggigit kecil.
"Jangan seperti ini lagi, Tuan. Aku sudah tak sanggup. Bunuh saja aku sekalian, bunuh saja, Tuan. Jika itu akan lebih membuat Tuan bahagia." Mata sayu itu terlihat rapuh. Namun, masih menunjukan kalau ia masih bisa bertahan menghadapi keganasan Alex diatas ranjang.
Alex merasa kasihan melihat kerapuhan Sabrina. Ia pun mengalah dan menjauh dari tubuh lemas tak berdaya itu. Tanpa berucap apa-apa, Alex keluar dari kamar tersebut dengan suasana hati yang kacau.
__ADS_1