
"Mami, ini sangat menyenangkan." Sabrina menikmati suasana puncak sore hari. Gadis berambut lurus itu menghirup udara sore dengan santai. Tak ada polusi yang ada hanya keindahan saja dan kesegaran aroma bunga melati yang menghiasi sekeliling pagar vila.
"Kamu betah berada di vila, Sabrina?" Mami Tiwi berdiri samping gadis itu, netranya fokus melihat indahnya kebun teh yang luas.
"Aku betah dengan suasana seperti ini, Mi. Sangat tenang." Sabrina menghela napas berat, seolah membuang keresahan dalam dada yang sedang dirasa.
"Maafkan Mami." Mami Tiwi menggenggam tangan Sabrina, seolah tahu keresahan gadis muda itu karena ulah putranya yang plin-plan. "Seharusnya kamu tak menikah dengan si bule tak tahu diri itu," lanjut Mami Tiwi.
"Jangan bicara seperti itu, Mi. Ini sudah takdir yang harus aku jalani, aku pun minta maaf. Berjanji tapi belum bisa menepati." Sabrina menunduk sedih, ia berjanji akan merubah watak Alex. Namun, ternyata hal itu tak mudah. Sabrina tak sekuat batu karang yang tetap berdiri kokoh walau diterpa ombak. Dan nyatanya kini Sabrina hampir kalah dengan sikap Alex yang sering berubah-ubah.
Mami Tiwi menyodorkan ponselnya pada Sabrina. Gadis itu sama sekali tak terkejut, buat apa? Itu tak akan membuat hati Alex berubah untuk tidak bersama Karlina.
"Mami kecewa sama si bule arab." Mami Tiwi menangkup wajahnya, setelah itu menangis.
Aku lebih kecewa, Mi. Hampir setiap hari Alex menyentuhku, nyatanya semua itu. Karena dia sedang kecewa pada Karlina, wanita itu bagai magnet yang setiap saat bisa menarik hati Alex dengan sekali rayuan. Aku letih!
Sabrina membawa Mami Tiwi duduk di sofa. Memberikan segelas air agar mertuanya merasa tenang.
"Carilah kebahagianmu, Sabrina."
Sabrina tertegun, mencoba mencerna ucapan mertuanya itu.
__ADS_1
"Maksud Mami apa?" Sabrina menatap manik kecoklatan itu, menanti jawaban pasti.
"Tinggalkan Alex," jawab Mami Tiwi penuh keseriusan.
"Apa?" Tubuh Sabrina bergetar, merasa syok. Bagaimana bisa Mami mertuanya menyuruh Sabrina meninggalkan suaminya sendiri. Apa tandanya Mami Tiwi kecewa pada Sabrina yang belum bisa merubah Alex.
"Iya, coba kamu berpura meninggalkannya. Akan seperti apa dia nanti, merasa kehilangan atau sebaliknya."
"Ouh, hanya pura-pura." Sabrina manggut-manggut.
"Iya, hanya pura-pura saja sayang. Mami terlanjur sayang sama kamu, nggak mungkin Mami membiarkanmu pergi."
Mami Tiwi berbisik. Sabrina pun mengerti dengan apa yang harus dilakukan.
"Aku nggak yakin ide ini akan berhasil, Mi."
"Kamu benar, si bule malah akan menjadi jika rencana kita ketahuan palsu dan dia juga tak pernah takut dengan ancaman Mami dan Papi." Mami Tiwi jadi resah, tak ada ide bagus karena Alex cepat mengetahui seriap rencananya. Karena Alex diam-diam menyuruh penguntit untuk memata-matai setiap rencana Mami dan Papinya. Si bule cerdik yang menyebalkan.
"Apa kamu cemburu melihat Alex bersama Karlina?"
Pertanyaan itu membuat Sabrina galau tak bisa menjawab, dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Apakah sudah cinta, atau hanya sekedar rasa bakti pada suami. Sampai Sabrina tak bisa menolak dengan apa yang Alex minta.
__ADS_1
"Aku tak tahu, Mi."
"Tak apa jika masih ragu dengan perasaanmu." Mami Tiwi mengelus kepala Sabrina.
***
Rey kesal melihat kebersamaan Alex dengan Karlina. Bos nya itu benar-benar sudah gila, otaknya miring sampai tak mau menerima kenyataan kalau Karlina bukan wanita baik-baik. Letih Rey memberi peringatan yang masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.
Sungguh tak menyangka. Alex akan membawa Karlina ke Bali, mengajak si ulat bulu jalan-jalan. Sangat tak penting, seharusnya Sabrina yang berada di posisi itu.
"Hay jomlo! Kasian sekali nasibmu, tak ada pasangan." Karlina mulai mencibir Rey.
Sedangkan Rey membalas mengumpat dalam hati, jika sampai dikeluarkan kekesalannya itu. Matilah dia dengan tinjuan Alex.
Rey memilih keluar dari kamar hotel, meninggalkan pasangan kekasih yang sedang saling manja. Rasanya ingin muntah jika berlama-lama di dalam.
Karlina duduk di pangkuan Alex. "Sayang, sudah lama aku tak bermanja seperti ini. Aku rindu." Karlina mulai menggoda.
"Apakah seperti ini juga, kamu bermanja dengan dia?"
"Apa maksudmu, Sayang?" Karlina menangkup wajah Alex.
__ADS_1