
Malam ini Sabrina tidak bisa tidur, kejadian tadi siang masih terbayang. Malunya sampai ubun-ubun, kenapa bisa ia ceroboh seperti itu. Sampai handuknya melorot segala. Alex pasti berpikir Sabrina sedang menggodanya, padahal kenyataannya tak seperti itu.
Sabrina tiduran di kasur, memainkan ponsel membaca berita selebriti. Betapa terkejutnya ia saat melihat foto Alex bersama seorang wanita cantik dan seksi di pinggir pantai, mereka tampak serasi sekali sampai di jodohkan oleh para netizen.
Kapan bisa liburan ketempat indah kayak gini. Hanya bisa membayangkan saja, gini nasib kalau jadi orang susah. Sudah nikah pun tak dihargai, hanya jadi patner ranjang saja. Bagaimana reaksi Karlina melihat foto ini? Kalau aku sih nggak peduli.
Merasa bosan dan belum ngantuk juga. Sabrina memilih melihat-lihat majalah fashion yang diambil dari laci. Sambil memasang headset ke telinga mendengarkan musik.
Ternyata belum tidur. Langkah kaki itu semakin mendekat. Namun, Sabrina tak mendengar ada yang masuk ke kamarnya. Posisi gadis itu tengkurap dan terlalu fokus menikmati musik kesukaannya.
Kaki putih mulus itu terpampang jelas, Sabrina memakai baju tidur tipis warna hitam berenda. Sampai lekuk tubuhnya pun terlihat. Sentuhan lembut di kaki jenjangnya membuat Sabrina seketika kaget.
"T-tuan Alex." Jantung Sabrina serasa mau copot, mengucek mata memastikan yang dilihatnya itu nyata.
__ADS_1
Alex melonggarkan dasi yang membuatnya tak nyaman sepanjang malam ini, sehabis menemui klien. Alex dan Rey pulang dengan jet pribadi sehingga ia bisa sampai tepat waktu pulang kerumah. Tak sia-sia, keletihannya terobati saat melihat gadis cupu memakai baju seksi, memamerkan bagian atas tubuhnya. Kebetulan Sabrina tak memakai bra.
"Kenapa sudah pulang, Tuan?" Sabrina menunduk, menyilangkan kedua tangan menutupi bagian dadanya.
"Memangnya kenapa?" Alex balik bertanya, "yang aku tahu, tak boleh melewatkan sebuah kesempatan yang sudah terpampang nyata."
"Mandi dulu, Tuan," titah Sabrina gugup sekaligus takut.
Alex menyunggingkan senyum, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Sabrina berusaha lari keluar dari kamar. Namun, pintunya dikunci. Mencari kunci cadangan dari setiap laci tak ditemukannya juga. Sabrina terus berpikir cara melarikan diri. Menuju balkon berniat meloncat kebawah. Terlalu tinggi, Sabrina tidak mau mati secara mengenaskan.
"Mau lari." Alex sudah berada di belakang Sabrina. Aroma wangi menguar menusuk hidung, rambut yang masih sedikit basah dan handuk putih yang melingkar dipinggang.
"Iya, aku mau lari. Tuan nggak ada hak untuk menyentuhku lagi, Tuan sudah menyalahi janji."
__ADS_1
"Kamu sudah berani menggodaku, jangan salahkan aku jika aku memintanya lagi," bisik Alex membuat bulu kuduk Sabrina berdiri.
"Kumohon Tuan, jangan melakukan ini lagi kepadaku. Tuan bisa mencari wanita yang lebih sempurna diluar sana."
"Apa hakmu memerintahku, kita sudah menikah bukan. Jadi tak ada salahnya jika aku menyentuhmu sampai aku merasa puas."
"Apakah Tuan belum puas dengan wanita-wanita diluar sana yang selalu menemani. Bukankah Tuan yang mengatakan nggak level menyentuh gadis cupu sepertiku."
"Ya, memang benar kamu itu bukan tipeku. Tapi aku menginginkannya lagi dan lagi saat melihatmu. Aku nggak akan melewatkan kesempatan sebelum kita bercerai nanti, setidaknya aku sudah merasa puas denganmu."
"Tapi aku bukan barang yang disayang selagi butuh dan dibuang jika tak diperlukan."
"Aku nggak suka dengan wanita yang banyak bicara." Alex memaksa mengangkat tubuh Sabrina di pundaknya, menghempas gadis itu ke tempat tidur dan kembali merasainya. Meski Sabrina kembali menangis.
__ADS_1
Malam panjang itu pun menjadi saksi percintaan yang memabukkan untuk seorang Alex. Hasrat terpendamnya kini sudah tersalurkan, rasanya sangat memuaskan.