Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 40


__ADS_3

Gengsinya terlalu tinggi. Alex sama sekali tak memedulikan titah sang mami untuk menjemput Sabrina di rumah Andra. Alex memilih pulang ke rumah, masalah kemarahan maminya tak peduli. Nantinya juga bakal baik lagi.


Isi otak si bule sepertinya harus dicuci biar nggak oleng.


Karlina menyambut hangat kedatangan Alex, wanita itu banyak bertanya. Apa Alex sudah lebih baik?


"Aku merasa baik," jawab Alex menjawil dagu Karlina.


"Sayang, aku menginginkannya." Karlina meminta dengan manja. Wanita itu merasa sudah menjadi nyonya besar yang menguasai segalanya.


"Jangan dulu. Aku masih merasa ngilu," balas Alex.


Ada desiran emosi, sering sekali Alex menolak keinginan Karlina untuk bercinta. Entah kenapa dengan pria itu, pandai sekali membuat alasan untuk menghindar.


Karlina tak mau kalah dengan penolakan, wanita itu tak henti menggoda agar bisa mendapatkan yang diinginkan. Menarik Alex dalam dekapan, terlanjur rindu akan kebersamaan diranjang.


Alex pasrah dengan apa yang sedang Karlina lakukan padanya, wanita didepannya ini terlalu agresif. Kadang Alex merasa heran, kenapa Karlina dan wanita yang lainnya sangat ingin akan sentuhannya. Akan tetapi ... Sabrina selalu menghindar dan menangis jika Alex lepas kendali. Namun, kerapuhan gadis itu membuat Alex selalu ingin merasai Sabrina, si gadis cupu berkepang dua.


Lagi dan lagi. Disaat keinginan Karlina mulai memuncak. Alex menghindarinya, dengan alasan letih dan ingin istirahat. Pria itu memilih duduk di sofa sambil menyalakan sebatang rokok.

__ADS_1


"Kenapa akhir-akhir ini kamu berubah! Tak lagi peduli dengan keinginanku, membiarkanku terbelenggu dalam rindu yang tak berkesudahan. Aku merasa tak dihargai sebagai kekasihmu, dulu kamu selalu semangat dengan kegiatan percintaan dan tak pernah ada penolakan." Karlina meremas selimut yang kini menutupi tubuhnya. "Apa kamu nggak normal?" lontaran kata itu membuat kepala Alex mendidih.


Alex meloncat dengan amarah ke ranjang. Dan tanpa basa-basi lagi menindih Karlina sampai percintaan terlarang itu terjadi.


***


"Kamu cantik banget memakai gaun itu, sangat pas di tubuh," puji Andra membuat pipi Sabrina merona.


"Terimakasih, Tuan." Sabrina merasa risih dengan tatapan Andra yang tak lepas memperhatikan.


Gaun warna hitam dengan taburan manik-manik itu melekat ditubuh Sabrina. Model gaun tanpa lengan dan panjang selutut itu telah mengekspos keindahan tubuh semampai sang gadis, kulit putih mulus tanpa cacat menyempurnakan penampilannya saat ini. Rambut yang disanggul dengan model signal ditambah aksesoris berlian di pinggir membuat penampilan Sabrina sangat sempurna, dia benar-benar cantik. Andra seakan terhipnotis sehingga tak mampu untuk mengedipkan mata gadis ini benar-benar menarik perhatiannya.


"Oh, ya, ada yang terlewat." Andra mendekati Sabrina yang masih mematung depan cermin. Pria berlesung pipi itu mengambil kotak perhiasan dari saku jas yang dipakai. Ia berniat memasangkan kalung berlian di leher jenjang Sabrina.


"Heum, sepertinya kamu lupa. Aku menyuruhmu untuk tidak memanggilku Tuan. Sebut saja namaku--Andra, itu lebih nyaman didengar."


"Tapi aku ...."


Andra membalikan tubuh Sabrina, gadis itu kini sangat dekat dengan sosok pria didepannya.

__ADS_1


"Bukankah kita teman," ucap Andra lagi mengangkat jari kelingkingnya.


Sabrina tersenyum canggung. Kembali teringat sudah sepakat menjalin persahabatan dengan Andra. Sabrina menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Andra.


"Pakailah kalungnya segera, jika memang kamu tak mau aku pakaikan."


"Kalung ini terlalu indah, aku merasa tak pantas memakainya," ucap Sabrina menunduk.


Andra mengangkat dagu Sabrina dengan jarinya telunjuk. "Siapa bilang tak pantas, kamu sangat pantas mendapatkan keindahan ini."


Sabrina memalingkan wajah, mengikis jarak. Terlalu dekat dengan Andra membuat jantung Sabrina berdetak cepat. Pria didepannya ini sangat manis dan lembut memperlakukannya, ucapan terimakasih Sabrina lontarkan dan segera memakai kalung yang di berikan Andra.


"Pakai juga cincinnya, ini akan semakin menambah keindahan yang ada pada dirimu."


Selesai bersiap, Andra menggandeng tangan Sabrina. Menyuruh gadis itu masuk ke mobil dan duduk di kursi depan, lagi-lagi Andra memperlakukan Sabrina manis. Serasa menjadi seorang putri yang sangat berharga, rasanya Sabrina ingin terbang ke angkasa dan berteriak kalau ia merasa bahagia.


Satu jam kemudian mobil Andra sudah terparkir di sebuah hotel mewah. Deretan mobil mewah berjajar rapih diparkiran. Tamu yang datang terlihat dari kalangan orang-orang pebisnis dan kaya. Sabrina merasa minder, kali pertama ia mendatangi pesta mewah seperti ini.


Meremas gaun Sabrina lakukan. Gadis itu nampak gugup, membuat Andra terkekeh saat melihat ekspresi canggung dari wajah Sabrina.

__ADS_1


"Ayo kita turun." Tanpa Sabrina sadari Andra sudah membukakan pintu mobil untuknya.


Menghela napas berat, Sabrina benar-benar gugup. Apalagi ia takut sampai bertemu dengan Alex. Akan seperti apa ekspresi wajahnya nanti, pastinya mentertawakan.


__ADS_2