
"Jo, cari keberadaan anak Tuan Wilson, bagaimanapun aku harus membalas budi atas kebaikan beliau!" teriak seorang pria berkepala pelontos, bertato elang dibagian punggung. Juga terdapat codetan panjang di pipi kanan.
"Ba-baik, Tuan Zayran. Akan tetapi seperti apa rupa anaknya Tuan Wilson?"
Pria bernama Zayran itu memberi foto seorang anak lelaki umur lima belas tahun yang disimpannya di dalam dompet. Juga poto pria bernama Wilson.
"Kamu harus secepatnya menemukan anak Tuan Wilson."
Zayran menghela napas panjang, pencariannya harus membuahkan hasil. Mengingat semua kebaikan Wilson yang sudah menyelamatkan nyawanya dari komplotan perampok yang hampir menewaskannya.
Luka goresan di pipi kanan, hasil dari perampok yang menyiksanya dulu. Kehadiran Wilson bagai pahlawan baginya. Keahlian bela diri Wilson mampu menyelamatkan Zayran dari kematian.
Empat belas tahun Zayran mencari keberadaan Wilson. Sampai akhirnya ia pun memutuskan untuk ke Indonesia. Namun, pencariannya belum membuahkan hasil.
Pria bernama Wilson itu pernah tinggal di Amerika bersama anak dan istrinya. Namun, memutuskan untuk tinggal di Indonesia.
"Bagaimana, apa pencarianmu berhasil?" tanya Zayran ditelepon.
"Maaf Tuan, pria dengan ciri-ciri yang Anda sebut sudah meninggal karena kecelakaan tabrak lari."
"Apa? Dimana anak dan istrinya?"
"Kami belum menemukan jawaban dan lagi nama pria tersebut Tanto Wijaya, Tuan. Bukan Wilson.
__ADS_1
"Selidiki kematian pria itu, kenapa bisa memiliki ciri-ciri yang sama."
"Baik, Tuan."
Zayran mengepal kuat setelah panggilan terputus. Jika benar kejadiannya, kenapa harus kematian yang didapati. Gebrakan dimeja disertai erangan panjang, kecewa pada diri sendiri dengan kabar yang tak mengenakan itu.
Lima belas menit duduk ditempat yang sama. Enggan untuk bangkit, tak sabar ingin segera mendengar kabar pencarian Wilson.
Getaran ponsel dimeja segera disambarnya. Membuka pesan dari sang ajudan.
"Ah, sial! Wilson, kenapa kau bisa meninggal secara tragis?"
Teriak Zayran, isi otaknya dipenuhi banyak pertanyaan. Wajah yang sama dengan nama yang berbeda, apa mereka kembar?
"Ya, Tuan. Kami akan mencari."
"Dalam waktu satu hari ini kalian harus menemukan keluarga Wilson!" teriak Zayran ditelepon.
"Siap!" balasan tegas dari seberang.
**
Andra tertawa lebar melihat Alex dan Rey dipukuli anak buahnya. Pria itu murka mengetahui Alex masih mempunyai antek-antek kepercayaan yang menyelusup masuk menjadi anak buah Andra dan mencuri surat penting perusahaan juga bukti-bukti kejahatannya.
__ADS_1
Dengan kejamnya juga Andra menembak mati ajudan tersebut didepan mata Alex.
"Biadab kamu Andra!" teriak Mami Tiwi yang tak bisa berkutik, kedua tangan dan kaki diikat. Tetapi mulut tak diperban sehingga masih bisa mengoceh.
Sedangkan Bibi An pingsan dalam keadaan terikat, melawan Andra agar tak menyakiti Mami Tiwi.
"Dimana Sabrina?" tanya Andra pada Alex.
Sedangkan yang ditanya hanya memberi tatapan benci.
"Aku tanya dimana Sabrina?"
Andra mengulang pertanyaan. Mencengkram kemeja Alex disertasi senyum devil, kepalan tangan yang sejak tadi tertahan mendarat di wajah pria yang sudah tak berdaya. Darah segar mengalir dari sudut bibir, tinjuan tersebut terus berulang-ulang.
Sedangkan Alex tak mampu melawan, membuat tangis Mami Tiwi pecah. Bahkan memohon dengan sangat agar Alex dilepaskan.
Rey tak kuasa menahan air matanya. Melihat Alex terus disiksa.
"Lemah, payah dan tak berguna." Andra beralih meninju Rey.
"Bunuh aku dan lepaskan majikanku," ucap Rey penuh kesungguhan.
Tawa lepas keluar dari bibir Andra. Setelah itu menampar Rey sangat keras.
__ADS_1
"Nyawamu tak aku butuhkan, hanya Sabrina yang aku inginkan."