
Ketika Zidan sedang berusaha merayu Bela, sementara di tepi jalan terlihat seorang gadis yang berjalan gontai seolah tak terjadi apapun.
yaaaa... dialah Ames yang sedari tadi berusaha menyembunyikan kesedihannya, berusaha menahan Amarah, berusaha menahan Air matanya. Dia berusaha tidak menyesali kenyataan yang terjadi.
Namun satu yang menjadi penyesalannya, kenapa harus dia yang mengalami semua kesedihan ini? " Tuhan, begitu sayangnya kah Engkau kepadaku? ,,hingga Engkau selalu mempercayaiku untuk berbagai penderitaan??,,kurang pantaskah aku untuk hidup bhagia?? "rintih hatinya.
Ameess menhela nafas dengan panjang"huufft",,dia gelengkan kepalanya kemudian bergumam" gak,, aku gak boleh kaya gini, astaghfirullah".
ttiiinnnn,, tinnnn, tinnn,
Ames tersentak dengan bunyi klakson tersebut dan menoleh kearah sumber suara "sialan lu, ngagetin gw aja"! maki Ames.
Aura nyengir ala kuda,, "hehee,, maff ,,lagian lu ngapain kaya orang g*** aja jalan di pinggir jalan sambil bengong.
"Bisaa aja lu,, kebetulan lu ad di sini pulang yukk kerumah lu gw kangen am mami".saat ini ames sedang tidak ingin berdebat dengan sahabatnya itu.
Aura mengernyit,, heran dengan sahabatnya itu, gak biasanya Ames mengabaikan candaannya. "Yaudahh,, monggo naiikk nyonya".Dengan senyum yang di buat secentil mungkin.
"hmm,, ayoo jalan GPL, gw rindu berat ama mami.
"mami gw itu!!, tegas Aura.
"Tapi sayangnya ama gw". Aura mendengus kesal.,mendengar jawaban Ames.
Mami yang mereka maksud adalah ibu daripada Aura. mereka memang dekat dengan Maminya Aura bahkan terkesan lebih menyayangi Ames ketimbang Aura. Karna Mami Aura merasa iba dengan nasib sial yang menimpa gadis imut itu.
Walaupun begitu Aura tak pernah merasa cemburu dengan sikap Maminya. Karna dia memang telah memahami keadaan.
skiipp..
Sesampainya mereka dirumah Aura mereka bergegas mengetuk pintu.
"Assalammualaikum" seru kedua anak gadis itu seraya mengetuk pintu rumah Aura.
"wa'alaikum salam",,eehhh anak anak mami udah pulang.ayoo masuk sayang, diluar panas, nanti item lho", canda mami Sinta.
Begitu sampai di ruang tamu mereka merebahkan badan di sofa.
"haahh,, lelahnya",,,ucap Aura sambil melirik ke arah Ames yang tak berkomentar.
__ADS_1
Biasanya Ames akan seperti burung beo ketika berada di rumah Aura apa lagi kalau ada Mami dirumah.
"lu knpa mes? " aura heran.
Ames masih mode silent (hiihihi author bisa jhaa emangnya hp apa?😁)
Mendengar pertanyaan Aura, mami Sinta yang tadinya hendak berjalan ke dapur langkahnya terhenti memutar badan menghampiri kedua anak gadisnya.
Mami kini duduk disamping ames lalu memeluk gadis itu. Mendapat pelukan kasih sayang dari mami Sinta air mata Ames luruh begitu saja. Buliran bening itu jatuh tanpa ijin dari pemiliknya.
"Kamu kenapa,, hmm?, ada apa sayang", tanya mami dengan penuh kelembutan seraya mengusap rambut Ames.
Bukannya menjawab Ames malah makin menjadi isakannya. " Menangislah sayang, menangis sekencang mungkin jika itu bisa mengurangi bebanmu. Tetapi ingat setelah ini jgan pernah meneteskan air mata sedikitpun".
Mendengar ucapan mami Sinta Ames mengeratkan pelukannya dan meraung raung seperti orang kesetanan.
Melihat sahabatnya dalam keadaan kacau Aura mendekat ikut memeluk sahabat karibnya itu. Aura menitikan air mata ikut merasakan kesedihan yang mendalam walaupun dia tak tau apa yang menyebabkan Ames begitu terpukul. Tak terkecuali mami Sinta juga menitikan airmatanya.
"Ames merasa sesakkk di dadanya,, sakiitt yang begitu luarr biasa,, entah seperti apa itu dia sendiri tak bisa menggambarkan seperti apa yang dirasakannya saat ini. Sakit, sesak, pilu, marah ,kecewa semua menjadi satu.
hiikkk... hikkk.. hikkk... mamiii.... huwaaa...
Sakiit bangett mi... huaaaaa.....
kira kira begitulah racauan dari Ames. Mami dan Aura hanya menjadi pendengar yang baik.
Ames mengungkapkan rasa sesak yang di sembunyikannya.. dengan menangis sepuasnya. selama perjalanan tadi dia berusaha tegar namun kenyataannya dia hanyalah seorang manusia.
Setelah dua jam lamanya Ames menangis meraung raung. Kini tangis nya mulai reda hanya ada suara isakan isakan kecil saja.
Ames melepas pelukan mami Sinta dan Aura. Sejenak wajahnya kembali datar dan dia mengusap airmatanya kasar.
"maff,, mii,, maff raa,, gak seharusnya aku kaya gini, maff aku menyusahkan kalian. "
"gak papa sayang,, kalau kamu gak keberatan cerita sama kami,, sebenarnya kamu kenapa? ".
"Iyaa mes lu cerita sini kita, sapa tau kita bisa bantu lu. " aura memegang kedua pundak ames.
Dengan isakan kecil Ames menceritakan kejadian yang menimpanya hari ini. Tanpa ada yang ditutupi..
__ADS_1
"astaghfirullah nak, Malang sekali kamu,, sabarr sayang,, inilah bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya. Mami sinta memeluk Ames kembali, mami menahan isaknya dalam hati.
"kenapa Engkau memberikan cobaan yang begitu besar kepada anak ini Tuhan,, tolong kasihanilah dia semoga kelak penderitaannya akan terganti dengan kebahagiaan tiada tara Amin". mami menangis dalam diam.
Sementara itu Aura langsung berdiri dan membelalakkan matanya sereye berteriak.
"apaaa!!!
"sialan tu bocah,, beraninya dia bohongin gw!! dengan mngepalkan tangannya Aura menggertakan giginya.
"kamu kanapa sayang? " tanya mami sinta.
Aura juga menceritakan bagaimana dia bisa bertemu Ames di pinggir jalan. Dan memang kenyataannya itu adalah permintaan Zidan.
Lalu dimanakah Zidan??
kenapa dia tidak berusaha untuk mengejar Ames dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Apa mungkin Zidan mau memberi ruang untuk Ames. Apa Zidan memang bersalah dalam hal ini?? dan dia begitu pengecut untuk mengakuinya.???? Entahlah mana yang sebenarnya.
Inilah pemikiran mami Sinta dan Aura.
Sementara mereka menenangkan Ames tiba tiba ponsel Ames berbunyi.
.
.
.
.
drrtt... drrrrttt.... drrtt...
.
.
.
.
__ADS_1
hayoooo.....
siapa yaa kira kira yang nelpon Ames??