
Cekrekk.....
Suara pintu terbuka, Zidan memasuki ruang rawat Ames. Kini masih terlihat gadis imut itu terbaring lemah tak berdaya dengan muka pucat pasi, seperti mayat hidup. Dengan keadaan kacau, zidan berjalan mendekati ranjang tempat ames terbaring. Duduk disebelah Ames, memegang tangan ames lalu mencium tangan ames dengan lembut.
Zidan menahan air matanya sebisa mungkin, namun, ia tak kuasa menahan kekalutan hatinya kini. "kenapa,??,, kenapa,? kamu nyembunyiin semua ini dari aku sayang.,??,tidak berartikah aku dihidupmu?? "gumam zidan yang kini tak bisa membendung air matanya lagi. Luruh sudah air matanya,, mengingat betapa sakitt hatinya kini mengetahui keadaan sang pujaan hati.
"maafkan aku, aku punya alasan tersendiri, karena itu aku tidak mengatakan apa apa kepadamu" tiba tiba ames berucap.
sebenarnya tanpa Zidan sadari, Ames sesungguhnya sudah sadar dari sebelum zidan masuk, namun ia hanya pura2 blm sadar.
"Kamu udah sadar yangg???,alhamdulillah" zidan mendongakkan kepala seraya menghapus air matanya dan langsung mencium kening Ames.
Ames masih dengan tatapan kosongnya tanpa ada pergerakan sama sekali.
"kamu kenapa yang? " zidan menatap heran ke arah Ames.
"maafkan aku,, aku tak bermaksud membohongimu, "...masih dengan tatapan kosongnya. sebenarnya hatinya sakitt mendengar zidan menangis pilu seperti tadi, maka dari itu Ames merasa ia harus memberi tahu semua apa yang terjadi.
"Sebenarnya,, Aku sudah mengidap penyakit menjengkelkan ini sejak satu tahun yang lalu,, sebulan setelah kita resmi menjadi sepasang kekasih" ,
"tepat dimana orang tua dan adikku memutuskan untuk menetap di Jepang"lanjutnya dgn tatapan ames masih kosong.
flassback on
__ADS_1
drrttt... drttt.... drttt...
Handphone ames terus berbunyi. Dilayar hp tersebut tertera nama my Love. 😘...
Ames trus mengabaikan telpon tersebut karna ia sibuk sedang menghentikan darah yang terus mengalir dari hidungnya.
------
sedangkan di sebrang sana seorang pria tampan tengah gelisah karna tak dapat menghubungi kekasih.
"kamu kemana yang,, angkat telpon ku!! " begitulah pesan yang berkali kali ia kirim untuk sang kekasih.
-----
Amespun berteriak untuk memanggil pembantu di rumahnya...
"biikkk... bibikk.... tolong bikk"
Bik inah yang mendengarnya pun langsung berlari kekamar nona majikannya tersebut. Walau suara teriakan Ames tak keras namun masih bisa di dengar oleh wanita paruh baya itu, karna memang suasana rumah yang hanya di huni mereka berdua dan pak Tarno yang menjadi satpam rumah itu.
"Ya allah non... non knpa..?? " bi inah kaget langsung memapah ames naik keranjang.
"kita kerumah sakit non" bi inah kwatirr.
__ADS_1
"jangan bik,, aku gak mau "..
"tapi non, gmn kalau terjadi apa apa?? " panik bi inah.
"Kalau gitu biar saya hubungi tuan dan nyonya ya non? "..
Ames langsung memegang tangan bi inah dan menggeleng kepala seraya berkata "Jangan bik,, percuma saja mereka gak akan pernah balik kesini,, mereka gak sayang sama aku" Ames menitikan air mata.
"non, tak ada orang tua yang tak menyayangi anak nya," bi inah mengelus punggung Ames yang sedang menangis.
" yaa sudah sekarang bgini saja,, bibik gak akan menelpon nyonya dan tuan, tetapi non harus kerumah sakit sekarang" . tukas bi inah.
Ames mengangguk tanpa berbicara.
Bi inah tersenyum " mari non".
skip
setelah menjalani berbagai macam tes kini Ames telah dinyatakan mengidap penyakit Leukimia.
"kasihan sekali kamu non" bi inah dalam hati.
Bi inah mengelus Puncak kepala majikannya itu dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
flashback off.