
Di negara Amerika serikat, tepatnya di daerah San Francisco tinggallah seorang pria yang sangat terkenal dingin, angkuh, galak dan sombong. Dia bernama Jack Peterson. Jack adalah putra satu-satunya dari pasangan John Peterson dan Elizabeth Michele, John Peterson adalah seorang pebisnis yang sudah sangat amat melegenda di dunia bisnis. John membangun Peterson Grup yang bergerak di banyak bidang, dari bidang jasa, properti elit, fashion, tas, perhiasan, perfume, makanan dan bahkan Peterson Grup juga masuk di bidang entertainment. Istri dari John yaitu Elizabeth juga seorang desainer terkenal baju dan perhiasan kelas atas, yang sangat di pandang dan di hormati di Paris, Prancis. Elizabeth juga mempunyai brand tersendiri untuk rancangan gaun dan perhiasannya.
karna John sudah cukup berumur, maka John mewariskan seluruh harta kekayaannya dan juga perusahaan bisnis raksasa Peterson Grup, kepada Jack Peterson anak semata wayangnya itu. Waktu itu Jack baru saja menginjak usia 18 tahun, dia masih sangat muda, akan tetapi dia sudah sangat amat berbakat dan mahir di dalam dunia bisnis. Itu semua karna John sudah memberikan pelajaran bisnis untuk Jack dari Jack berumur 6 tahun.
Setelah Jack menyetujui untuk menerima warisan dari ayahnya, mulai dari hari itu juga, Jack merombak seluruh sistem yang di gunakan ayahnya dalam menjalankan perusahaan raksasa Peterson Grup. Agar Peterson Grup bisa lebih kuat dan lebih bisa berkembang pesat dengan cepat di era yang baru.
__ADS_1
Jack menjadi CEO dari perusahaan raksasa tersebut, dan dia tinggal di sebuah perumahan elit yang sangat mewah, dan sangat amat ketat penjagaan nya.
Sedari muda Jack memang mempunyai kemampuan yang di atas rata-rata, dari anak seusianya. Jack selalu menjadi siswa No.1 di sekolahnya baik di bidang akademik dan yang lainnya. Jack selalu bisa mengungguli dan mengalahkan semua orang jenius yang bersekolah di satu sekolah dengan nya. Karna Jack selalu menjadi No.1 di segala bidang di sekolahnya, maka teman-teman se-usia Jack memberinya gelar The Cold King. Jack lulus kuliah di usia yang masih sangat muda, karna EQ dan IQ Jack sangat tinggi. Jadi ketika berusia 17 tahun, Jack Peterson sudah lulus kuliah dengan sangat mudah di sebuah universitas.
Karena ayah Jack tau Jack tidak pandai bersosialisasi dengan masyarakat dikarenakan watak Jack yang dingin, angkuh, galak dan sombong jadi ayah Jack sudah memperkenalkan Jack kepada Jay Coulson sedari Jack sekolah. Jay adalah seorang pria yang selalu menjadi teman Jack sedari Jack sekolah, karna Jay adalah anak dari bawahan terpercaya John. John memang sengaja menyekolahkan lalu menguliahkan Jack dan Jay di tempat yang sama, agar mereka terbiasa bersama-sama sedari mereka muda. Karena John berencana membuat kesepakatan dengan ayah Jay beberapa bulan sebelum Jack menerima warisannya.
__ADS_1
"Mengapa harus anakku tuan besar??? Bukankah tuan besar bisa mencarikan seseorang yang lebih baik untuk menjadi kawan dan sekertaris tuan muda di masa depan." Balas Paul dengan nada sedikit takut. Karna sesungguhnya Paul tidak ingin anaknya menjalani kehidupan seperti dirinya.
"Paul... Aku memilih Jay anakmu untuk menjadi kawan Setia dan sekertaris Jack, karna aku yakin hanya Jay yang bisa menjaga Jack di masa depan. " Balas John meyakinkan. "Ayolah Paul, ini adalah keinginan dan harapan ku kepada mu untuk yang terakhir kalinya. Karna dalam beberapa bulan kedepan, aku berencana untuk pensiun dan mewariskan seluruh harta ku juga perusahaan ku kepada Jack anak semata wayangku."
Setelah Paul berfikir dan mengingat kebaikan keluarga Peterson kepada keluarganya, akhirnya Paul meng-iyakan permintaan John untuk yang terakhir kalinya. Setelah mereka sama-sama menyutujui kesepakatan tersebut, John mengistirahatkan Paul dan meminta Jay untuk menggantikan posisinya dalam beberapa bulan kedepan agar John bisa mendidik Jay.
__ADS_1
"Paul... Pengabdian mu kepada keluarga ku cukup sampai di sini saja, biarkan Jay yang mengambil posisi mu di sisiku dalam beberapa waktu kedepan. Sampai aku menyerahkan segalanya dengan sah untuk Jack." Ucap John sembari memegang bahu sekertarisnya yang sudah sama-sama berumur dengan dirinya.
"Baik tuan besar, saya akan mempersiapkan Jay untuk keinginan dan harapan tuan besok." Balas Paul sembari menganggukkan kepalanya dengan rasa hormat.