He'S The KINGS

He'S The KINGS
Permintaan Terakhir Papah


__ADS_3

Sore itu langit benar-benar tak bersahabat dengan alam, mendung memeluk langit sore itu dengan erat. Jack berdiri di balkon gedung Peterson Grup, dan Jack menengadahkan wajahnya ke langit. Lalu Jack merasakan rintik-rintik hujan jatuh mengenai kulit wajahnya. Jack hanya diam selama beberapa saat, menikmati tetesan air hujan yang mengenai wajahnya sambil menutup kedua matanya. Tak lama berselang sekertaris Jay datang ke tempat tuan mudanya berdiri.


"Maaf mengganggu tuan muda." Ucap sekertaris Jay. "Apa tuan muda sudah cukup lelah hari ini???" Tanya sekertaris Jay.


"Ya, aku sebenarnya sudah cukup lelah hari ini."


"Baik tuan muda." Jawab sekertaris Jay seakan-akan dia mengerti apa yang di inginkan tuan muda-nya.


Sekertaris Jay menyiapkan mobil agar tuan muda-nya bisa pulang dari pesta yang berlangsung di aula Peterson Grup. Setelah selesai menyiapkan mobil, sekertaris Jay menyiapkan keamanan untuk tuan muda-nya Jack. Ketika sekertaris Jay merasa semua sudah sempurna dan aman untuk Jack, sekertaris Jay kembali ke dalam aula utama mencari Jack.


"Tuan muda... Semuanya sudah siap tuan." Ucap sekertaris Jay sambil berdiri di hadapan Jack dan menundukkan kepalanya hormat kepada Jack, yang sedang duduk di salah satu meja pesta penyambutan presiden baru sore itu. Mendengar kabar dari sekertaris kepercayaan-nya Jack hanya memberikan isyarat tangan dan berdiri dari tempatnya, lalu berjalan keluar dari aula utama gedung Peterson Grup dengan diikuti oleh beberapa pengawal dan tentu saja sekertaris Jay.


Beberapa orang yang berada di dalam aula utama gedung Peterson Grup, melihat Jack berjalan menyeberangi aula utama yang mewah dan megah tersebut. Mereka berusaha keras menyapa Jack, tapi langkah kaki mereka tertahan karena melihat isyarat tangan sekertaris Jay. Di dalam hati mereka sangat kecewa karna tidak bisa mendekati Jack untuk menjilat presdir Peterson Grup yang baru. Sekertaris Jay berusaha sangat keras untuk menjauhkan Jack dari orang-orang yang di lihat sekertaris Jay sangat amat suka menjilat atasan mereka.


Alasan mengapa mereka tidak di pecat, itu karna kinerja mereka masih sangat Bagus dan membawa keuntungan yang besar untuk Peterson Grup. Hanya karna alasan itulah yang membuat mereka masih bisa bertahan untuk bekerja dan mengabdi di kerajaan perusahaan bisnis raksasa No.1 negri paman sam Peterson Grup.


Selama dalam perjalanan menuju mansion milik keluarga Peterson, Jack hanya terdiam mendengar laporan dari dokter spesialis yang melaporkan kondisi kesehatan John Peterson. Jack terdiam sangat lama sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ia sudah sampai di mansion milik orang tuanya. Sebenarnya mansion tersebut akan di wariskan kepada Jack saat Jack sudah menerima posisi sebagai seorang presdir dari Peterson Grup. Tetapi di tolak oleh Jack karena Jack bersikeras tidak akan tinggal di mansion tersebut selama Jack belum menikah dan orang tuanya masih hidup.


Sesampainya di mansion yang mewah nan megah dan juga indah milik keluarga Peterson, Jack hanya terdiam saat di sapa John.

__ADS_1


"Heyyy nak, kau sudah sampai." Kata tuan besar John sembari melihat ke arah anaknya yang berdiri di samping meja makan. "Ada apa Jack??? Mengapa kamu terdiam seperti itu." Tanya tuan besar John yang kebingungan melihat anaknya Jack hanya mematung di samping meja makan.


Ada apa dengan bocah ini!!! Kenapa dia mematung di samping meja makan. Batin John.


"Jack???" Panggil tuan besar John.


Aku gak mungkin ngomong sama papah kalau aku baru saja selesai menerima laporan kesehatan papah, pasti papah bakal marah besar sama aku. Ucap Jack dalam hati sambil melamun dan menatap lekat wajah sang ayah tuan besar John.


Tak lama Jack bangun dari lamunannya setelah mendengar suara sang ayah memanggilnya dengan sangat lembut.


"Tidak apa-apa pah, jika di lihat-lihat papah makin berwibawa saja." Jawab Jack sambil berusaha tersenyum.


"Baik pah!!!" Balas Jack cepat lalu langsung duduk di kursi yang berada tepat di sisi kanan sang ayah.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tuan besar John memanggil Jack yang sedang duduk menikmati kopinya di ruang keluarga untuk mengikutinya masuk ke dalam ruang pribadi milik tuan besar John.


Haduhhh... Pasti ada pembicaraan serius lagi nih kalau papah sudah ngajak bicara di dalam ruangan pribadinya. Fikir Jack yang masih mengikuti tuan besar John.


Setelah berjalan beberapa menit tuan besar John dan Jack sampai di dalam ruang milik John. Tuan besar John langsung duduk manis di sofa besar yang berada di dalam ruangan pribadi miliknya.

__ADS_1


"Jack papah minta kamu dengar kan semua kata-kata dan kalimat yang akan papah sampaikan sama kamu." Ucap tuan besar John membuka pembicaraan malam itu.


"Memangnya ada hal penting apa pah yang mau papah sampaikan kepada Jack???" Tanya Jack dengan nada serius.


"Waktu papah sudah tidak banyak lagi Jack, papah ingin kamu sudah menikah bulan depan. Papah tidak jadi menyetujui permintaan mu untuk mencari calon menantu papah selama dua tahun." Ucap tuan besar John dengan sangat serius. "Sepulang papah menyerahkan jabatan presdir Peterson Grup kepadamu, papah di telepon oleh dokter spesialis yang biasa merawat papah selama papah hidup. Sebenarnya papah mengidap penyakit tumor otak yang ganas sekali dan sudah stadium lanjut, makanya beberapa waktu terakhir ini papah sering merasakan sakit kepala yang luar biasa sakitnya." Jelas tuan besar John lembut.


"Besok aku akan mencarikan papah dokter terbaik di dunia untuk mengobati penyakit papah." Ucap Jack tegas.


"Tidak Jack... Itu tidak perlu, karna papah sudah menanyakan kepada dokter Brian bagaimana cara menyembuhkan penyakit papah ini." Jawab tuan besar John cepat.


"Tapi pah, kalau Jack tidak berusaha keras mencari dokter lain untuk papah itu berarti sama saja Jack tidak memberikan kesempatan kepada papah untuk melihat Jack sukses suatu hari nanti. Dan bagaimana dengan anak-anak Jack kelak, cucu papah. Apa papah tidak ingin membiarkan calon anak-anak Jack nanti melihat papah???" Ucap Jack berusaha merayu sang ayah.


"Jack... Bukan seperti itu maksud papah nak. Papah sudah cukup bangga sekali dengan apa yang kamu capai sampai saat ini." Jawab tuan besar John lembut.


"Tapi pah...."


"Sudahlah nak, jika kamu ingin papah beristirahat dengan tenang, tentram, aman, nyaman dan damai. Turuti permintaan papah untuk yang terakhir kalinya ini nak." Ucap John memutus perkataan Jack.


"Baiklah pah... Akan Jack usahakan secepatnya untuk menikah demi papah." Balas Jack sambil tertunduk lesu, lemas dan merasa tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2