
Sepasang mata hanya bisa memperhatikan Arga dan Shereena yang telah berlalu. Sorot matanya menatap mobil Arga setajam silet. Bahkan giginya menggertak saat melihat Arga jalan begitu mesra dengan wanita lain. Sementara dengan dirinya Arga bersikap sangat acuh, meskipun telah bertunangan selama 6 tahun. Tentu saja dadanya terasa berdenyut saat Arga menggandeng tangan wanita lain.
"Jadi dia adalah wanita yang telah menutup pintu hari Arga selama ini? Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya agar dia tahu jika Arga adalah milikku!" geram Alexa dengan tangan mengepal.
Detik kemudian Alexa mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. Dengan nada ketus ia meminta bertemu malam ini juga.
"Lihat saja, siapa yang pantas untuk Arga. Kamu atau aku."
🌸🌸
Hari-hari yang dilalui oleh Shereena telah berbeda dari sebelumnya. Saat ini peran Shereena sudah seperti seorang istri untuk Arga. Hidup Satu atap dengan ayah dari anaknya meskipun belum memiliki ikatan yang sah, bukan berarti mereka berdua bisa bebas untuk melakukan hal-hal yang terlarang. Cukup satu kali saja Shereena melakukan kekhilafan bersama dengan Arga.
"Momm, mana handuk Arshen?" teriak Arshen dari kamar mandi.
"Reen, dimana kamumeletakkan sangkar burungku?" Kini giliran Arga memanggil Shereena.
Shereena yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan hanya bisa mende.sah dengan pelan. Baru saja satu minggu tinggal bersama dengan Arga, setiap pagi dirinya harus dibuat sakit kepala. Dua pria beda usia itu memiliki satu kesamaan dimana harus selalu dilayani layaknya seorang raja.
"Baru saja satu Minggu tinggal bersama sudah membuatku sakit kepala," gerutu Shereena yang langsung masuk kedalam kamar.
Dilihatnya Arga sedang kebingungan untuk mencari sangkar penutup burungnya, dan Arshen yang masih terus-menerus memanggilnya.
"Reen, dimana kamu meletakkannya? Biasanya aku meletakkan di sini. Kamu pindahin, ya?" proses Arga yang sudah mengajak-ngajak isi lemarinya.
"Duh, Kak Arga! Bukankah saat ini tempat itu untuk baju Arshen. Tempat baju ke Arga tuh di sebelahnya!" kata Shereena dengan menahan rasa kesalnya.
"Oh iya, aku lupa." Harga langsung menertawakan dirinya sendiri yang sempat lupa dengan tempat penyimpanan penutup sangkar burungnya.
Baru saja berjalan untuk mendekat ke arah Arga, suara dari kamar mandi sudah mau langgeng kembali, di mana Arshe telah memanggilnya.
"Mommy, handuk Arshen, Momm!" teriaknya.
"Astaga ... seperti inikah rasanya menjadi seorang ibu sekaligus seorang istri? Mengapa kalian berdua begitu manja?" gerutu Shereena yang langsung menyebar handuk Arshen.
"Lain kali kalau mandi jangan lupa hidupnya dibawa!" ketus Shereena setelah membungkus tubuh Arshen dengan handuknya.
"Sorry Momm. Im forget," ujar Arshen.
__ADS_1
Karena pagi ini Arga ada meeting penting, ia tak sempat untuk sarapan di rumah, tetapi ia tak ingin mengecewakan Shereena yang sudah berusaha payah untuk menyiapkan sarapannya. Arga pun menyuruh Shereena untuk menyiapkan bekal agar bisa bisa sarapan di kantor. Dengan senang hati Shereena langsung menata bekal untuk Arga.
"Reen, ingat pesanku ya! Sebelum kamu membuka pintu lihat dulu siapa tamunya. Jika itu adalah orang yang mencurigakan, jangan kamu buka, mengerti?"
"Iya, Kak. Aku mengerti."
"Bagus. Kalau begitu aku dan Arshen pergi dulu ya." Satu kecu.pan mendarat di kepala Shereena.
"Hati-hati ya."
Namun, ada yang aneh saat Arga mengajak putranya untuk keluar. Bocah itu masih diam di tempatnya dengan tangan yang sudah dilipat di depan dada. Dengan alis yang menaut Arga langsung bertanya kepada Arshen.
"Hai my boy, what are you doing there? Let's go!"
"No! I hate you, Dadd!" kata Arga sambil mengerucutkan bibirnya.
"Why?"
Mata Arshen menatap tajam ke arah Daddy. "Gara-gara Daddy, Mommy sudah tidak sayang lagi kepada Arshen! Dulu sebelum Mommy bertemu dengan Daddy, setiap pagi Mommy akan mencium Arshen, tetapi setelah bertemu dengan Daddy, Mommy lupa dengan Arshen karena ciuman yang Daddy berikan kepada Mommy!" protes Arshen dengan kesal.
Menyadari kesalahan yang telah dilakukan, Shereena hanya bisa menarik bibirnya tipis. "Astaga ... Maafkan Mommy, Sayang. Baiklah sini Mommy cium dulu." bujuk Shereena.
"Astaga ... my boy. Ternyata kamu ini posesif sekali, ya. Sudahlah kalau memang tidak mau ayo kita berangkat sekarang, nanti Daddy bisa terlambat."
Dengan perasaan kesal Arshen berjalan lebih awal tanpa ingin memperdulikan dua orang yang sedang menertawakan dirinya.
"Hai, my boy! Tunggu!" teriak Arga.
🌸🌸
Setelah mengantarkan Arshen ke sekolahannya, Arga segera menuju ke kantor. Sudah hampir satu Minggu ia melimpah pekerjaan itu kepada Janu. Namun, pagi ini ia harus turun tangan sendiri karena harus menghadiri rapat penting.
Selama satu minggu itu juga Arga selalu mengabaikan panggilan dari bunda-nya, sehingga pagi ini wanita yang disebut benda itu sudah menunggu kedatangan Arga di ruang kerjanya.
Saat melihat sang bunda sudah duduk di kursi kebesarannya, Arga hanya bisa mendelik dan menelan kasar salivanya.
"Bunda," lirih Arga sambil berjalan mendekat ke arah Vie—Bunda Arga.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga. Bunda pikir kamu masih di luar kota," ujar bundanya.
Ya, selama Arga tidak masuk ke kantor ia telah berpesan kepada Janu agar mengatakan jika Arga sedang berlibur ke luar kota. Tujuan hanya satu, agar sang bunda tidak mencarinya ke apartemen.
"Maafkan Arga, Bunda." Arga pun langsung memberikan sebuah pelukan hangat kepada Bundanya.
"Ada apa lagi? Apakah ada masalah? Cerita dong sama Bunda, kali aja Bunda bisa membatu," ujar Vie.
Satu kecu.pan pun langsung mendarat di pipi Vie. "Bunda maafkan Arga yang tak bisa menemani Bunda disini, karena Arga harus menghadiri rapat penting bagi ini. Jika Bunda ingin menunggu Arga, tunggu saja di sini, tetapi jika tidak mau ya sudah, Bunda pulang aja. Lusa lusa Arga akan pulang membawa sebuah kejutan untuk bunda," pesan Arga sebelum meninggalkan ruang kerjanya.
Karena Arga sudah pergi, Vie tak belum sempat untuk memberitahukan tentang kelanjutan pertunangannya dengan Alexa. Entah mengapa tiba-tiba pihak keluarga Alexa menginginkan agar Arga segera menikahi Alexa yang sudah digantung selama 6 tahun lamanya. Tentu saja semakin lama semakin digantung usia mereka semakin tua. Tidak mungkin Alexa akan digantung selamanya oleh Arga.
Karena Vie belum sempat mengatakan sesuatu kepada Arga, ia pun langsung menghubungi suaminya untuk memberitahu jika dirinya gagal memberitahu harga tentang kelanjutan pertemanan Arga.
"Semoga saja Arga tidak memberontak dan mau menikahi Alexa secepatnya," kata Vie sambil menimang ponselnya.
Di sisi lain Daisy yang sudah bisa berkomunikasi dengan Shereena, merasa tidak sabar untuk bertemu dengan putrinya. Siang ini Daisy telah membuat janji dengan Shereena untuk bertemu. Keduanya memutuskan untuk bertemu di salah satu taman bermain, di dekat sekolahan Arshen.
"Maaf Nyonya, Anda ingin pergi ke mana?" tanya salah seorang bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Daisy.
"Aku ingin ke kantor suamiku, tapi aku tidak mau dikawal. Bisakah kamu diam di rumah!"
"Maaf Nyonya, sekalipun Anda pergi ke depan hanya untuk membuang sampah saya akan tetap berada di belakang Anda, karena itu adalah tugas saya. Saya tidak mau diserahkan oleh Tuan Excel karena tidak mengawal Anda," ujar pria yang bertubuh kekar itu.
"Tapi aku hanya pergi ke kantor suamiku, Sam. Tolong mengertilah, aku tidak mau dikawal! Aku akan baik-baik saja!" tolak Daisy.
"Tidak bisa Nyonya. Kemanapun pergi saya akan tetap berada di belakang Anda."
Daisy hanya mende.sah dengan kasar. "Oh, astaga Tuhan. Mengapa hidupku terlalu rumit seperti ini?" keluh Daisy yang merasa masih terpenjara dalam cinta Excel.
...🌸🌸🌸...
...BERSAMBUNG...
Sambil nunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel baru teh ijo dengan judul PESONA SUGAR DADDY.
Yang udah mampir Makasih banyak ya ☺️ lope-lope sekebon cabe 🤭
__ADS_1