
Sakit. Satu kata yang saat dirasakan oleh Daisy yang hanya bisa melihat pernikahan putrinya melalui sebuah video. Ia tidak diberi izin oleh suaminya untuk menghadiri acara pernikahan sang Putri. Padahal suaminya sendiri diam-diam memantau bagaimana proses ijabnya berjalan. Namun, dengan keegoisannya ia tetap tidak mau menunjukkan dirinya dihadapan sang putri serta keluarga Arga yang menerima putrinya dengan tulus.
Didalam rumah, Daisy sudah mencoba untuk keluar. Namun karena penjagaan untuknya terlalu kuat, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya air mata yang terus membasahi pipinya saat dia tidak bisa menyaksikan acara pernikahan putrinya.
Didalam kamar yang luas, Daisy yang bisa meratapi ketidakberdayaan sebagai seorang ibu yang selalu saja tidak bisa berbuat apa-apa untuk anaknya.
"Sungguh terlalu kejam suamiku pada putrinya sendiri. Mengapa sifat kejam yang dimilikinya tidak bisa menghilang? Kapan dia akan sadar? Bukankah dia sendiri juga sedang terluka? Sampai kapan dia akan tetap berpura-pura tidak peduli kepada Reena?" Daisy mengeluarkan seluruh unek-unek dalam hatinya.
Diseberang sana, Excel yang diam-diam tetap menyaksikan acara ijab antara Arga dengan Reena hanya bisa menahan rasa sesak dalam dadanya. Dengan penyamaran sebagai seorang pelayan hotel, Excel bisa mendengar dengan jelas kata sah yang menggema ditelingannya, pertanda saat ini sang putri telah sah menjadi seorang istri dari Arga Dinata. Tak terasa air matanya lolos begitu saja. Namun, rasa sesak dalam dada harus terganti dengan rasa panas ketika mengingat kondisi Arshen yang menjadi tawanan orang yang tidak menginginkan pernikahan ini terjadi.
"Bagaimana?" tanya Excel saat menerima telepon dari Rey.
"Saya sudah berhasil mendapatkan informasi di mana keberadaan Tuan cilik, Tuan. Saat ini Tuan cilik berada di rumah sakit karena mengalami shock," jelas Rey dari seberang teleponnya.
Tanpa ingin membuang waktunya lebih lama lagi, Excel segera menuju ke rumah sakit untuk segera melihat kondisi Arshen.
"Lihat saja. Aku akan memberi pelajaran pada orang yang sudah berani bermain-main dengan keluargaku," geram Excel dengan sorot mata tajamnya.
Sementara itu Arga juga baru saja mendapatkan pesan dari Janu yang mengatakan jika saat ini Arshen berada di rumah sakit karena hampir tertabrak oleh sebuah mobil. Tanpa pikir panjang lagi Arga menginjak pedal gasnya dengan tinggi hingga membuat Ane yang berada di sampingnya merasa ketakutan.
"Kak Arga, pelan! Aku takut," ujar Shereena.
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Kita harus segera sampai ke rumah sakit karena saat ini Arshen berada disana."
Mendengar ucapan Arga membaut dada Shereena langsung bergerumuh dengan kuat. Ingin sekali rasanya menodongkan berbagai pertanyaan kepada Arga, tetapi saat melihat wajah Arga yang menakutkan membuat Shereena memilih diam. Ia hanya bisa memanjatkan doa dalam diamnya.
Hanya sekitar sepuluh menit keduanya telah sampai di rumah sakit dimana Arshen berada. Dengan cepat Arga membawa Shereena yang masih menggunakan gaun pengantin untuk masuk kedalam rumah sakit.
Banyak pasang matanya yang menatap dengan aneh, tetapi keduanya tidak peduli karena saat ini yang dingin keduanya adalah segera bertemu dengan anaknya.
"Sus, di mana kamar anak yang baru saja mengalami kecelakaan beberapa menit yang lalu," tanya Arga pada salah seorang ia jumpai.
"Maaf, Pak. Tapi hari ini tidak ada pasien kecelakaan yang dirujuk rumah sakit ini. Mungkin bapak salah rumah sakit," ujar sang suster.
"Kami tidak salah rumah sakit, Sus. Karena anak anak buahku mengatakan jika Arshen memang dibawa ke rumah sakit ini."
"Namanya Arhsen. Usianya sekitar 5 tahun dan rambutnya sedikit ikal," jelas Arga yang sudah tidak sabar lagi.
"Jenis kelaminnya?"
Arga langsung memincingkan matanya. "Sudah jelas namanya Arshen, pasti berjenis kelamin laki-laki. Gimana sih, Sus!" gerutu Arga yang menahan rasa kesalnya.
"Baiklah, mohon tunggu sebentar. Saya kan mengecek data anak Anda." Suster pun langsung meninggalkan Arga dan Shereena.
__ADS_1
"Dasar, rumah sakit payah!" gerutu Arga setelah kepergian sang suster.
"Kak!" Shereena mencoba untuk menenangkan Arga.
Jika Arga masih menunggu kabar selanjutnya dari Suster untuk mengetahui Arshen dirawat di ruang mana, berbeda dengan Excel yang sudah lebih awal sampai di ruangan Arshen
Saat ini Excel hanya bisa menatap nanar bocah yang ada dihadapannya. Bahkan kedatangan Excel tidak disadari oleh Arshen karena bocah itu sedang terpaku melihat sosok yang duduk disampingnya.
Seorang anak perempuan yang mempunyai senyum manis dan rambut yang digerai, membuat Arshen terkesima. Selama ini ia sudah bertemu dengan banyak anak perempuan seusia, tetapi tak secantik anak perempuan yang ada didepan matanya saat ini.
"Hai ... are you oke?"
Arshen mengangguk dengan pelan. "Yes. I'm oke. Who are you?"
Kenza hanya tersenyum kecil pada Arshen yang menanyakan namanya. "Namaku Kenza. Tapi kamu bisa memanggilku Eza. Ngomong-ngomong, kamu gak papa kan? Maafkan Daddy-ku karena—"
"Tidak perlu meminta maaf. Harusnya aku berterima kasih berkat kamu dan Daddy-mu aku bisa bebas dari tangan penjahat itu," ujar Arshen yang memotong ucapan Kenza. "Tapi ngomong-ngomong, apakah kamu tidak mau bertanya siapa namaku?"
Kenza tersipu malu. Namun, saat ia mendongak kesamping Arshen, ia merasa sangat terkejut dengan kehadiran orang yang tak dikenalinnya.
Arshen yang merasa penasaran dengan tatapan mata Kenza juga langsung menoleh ke sampingnya. Ia juga sangat terkejut dengan hadirnya sosok yang tidak dikenali. Mungkinkah itu adalah sosok penjahat yang telah menemukan keberadaan Arshen?
__ADS_1
"Siapa kamu?" tanya Arshen dengan rasa was-was.