
Seberapapun Arshen berusaha untuk mencari jalan keluar, tetap saja masih gagal karena tak bisa menemukan alat yang bisa digunakan untuk memanjat. Namun, bocah itu tak lantas pasrah begitu saja.
"Baiklah, semoga ide kali ini berhasil," ucapnya dengan penuh harap.
Tak sedikitpun Arshen merasa gugup saat menggedor pintu dan memanggil orang yang ada di luar. Padahal dia tahu jika orang itu bukanlah orang baik.
"Paman, tolong Paman!" teriak Arshen sambil menggedor pintu.
Tentu saja teriakan Arshen dan juga ketukan pintu bisa didengar dengan jelas oleh dua orang yang sedang ditugaskan untuk menjaga pintu gudang.
Dua orang yang bertugas saling melirik sebelum membukakan pintu.
"Kenapa tuh, bocah?"
"Aku tidak tahu. Coba buka saja! Siapa tahu darurat!"
Tanpa pikir panjang kedua orang yang ditugaskan untuk menjaga Arshen pun langsung membuka pintu dan mendapati Arshen sudah berada di depan mereka.
"Ada apa?" tanya salah seorang yang bertubuh kekar.
__ADS_1
Sebenarnya melihat wajah dua orang kekar yang ada di hadapannya saat ini membuat Arshen ragu apakah idenya bisa berjalan dengan lancar atau tidak. Namun, Arshen pernah mendengar jika otot besar tidak menjamin mempunyai otak yang cemerlang. Dan kali ini bocah itu ingin menguji kebenarannya pada dua orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Paman, aduh ... perutku sakit sekali. Aku ingin buang air besar. Bisakah paman mengantarku ke kamar mandi? Aku sudah tidak sanggup untuk menahannya," ucap Arshen dengan wajah yang dibuat, seolah sedang menahan rasa sakit. Tak lama bocah itu mengeluarkan bom yang memang sudah ia tahan sejak tadi.
"Astaga ... kentut kamu bau sekali!"
"Kalau mau pup jangan disini! Sana ke kamar mandi! Dasar bocah!"
Karena tak ingin bocah yang dijaganya pup di tempat itu, akhirnya keduanya langsung membawa Arshen ke kamar mandi tanpa banyak berpikir bagaimana caranya Arshen bisa melepaskan ikatan tangannya.
"Paman, kenapa gudang ini terlihat sangat sepi? Aku takut," ujar Arshen.
"Apakah tempat ini jauh dari jalan raya? Mengapa hanya pohon besar yang terlihat?" tanya Arshen lagi.
"Didepan sana jalan raya. Sudahlah, jangan banyak berbicara. Cepat sana masuk ke kamar mandi. Nanti siram yang bersih Awas saja jika tidak bersih!"
"Siap, Paman!"
Setelah masuk ke kamar mandi, Arshen mulai berpikir bagaimana cara untuk keluar dari tempat itu. Jika di depan sana adalah jalan raya, pasti akan ada kendaraan yang melintasi. "Aku harus segera keluar dari tempat ini sebelum terlambat. Bisa saja bos mereka akan menyiksaku setelah mengetahui kabar jika Daddy tetap menikahi Mommy."
__ADS_1
Hampir setengah jam dua orang pria bertubuh kekar menunggu Arshen untuk keluar dari kamar mandi. Namun, sampai kaki mereka terasa kesemutan, Arshen tak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Itu anak pup apa sih? Lama sekali?"
"Coba lihat sana. Tidak mungkin bocah itu tidur di kamar mandi kan?"
Karena merasa penasaran dengan arsen yang tak kunjung keluar dari kamar mandi, membuat kedua orang pria bertubuh kekar itu langsung membuka pintu kamar mandi dan memeriksa keberadaan Arshen di dalamnya. Namun, mata mereka tak menemukan keberadaan bocah kecil itu.
"Sial! Kita dikadalin! Bocah itu lompat dari jendela ini!"
"Ayo segera kejar dia dan jangan biarkan bocah itu malas begitu saja. Bisa-bisa kita akan kena cincang Bos jika sampai bocah itu kabur."
Disatu sisi lain Arshen terus berusaha untuk keluar dari gedung tua. Berkat daya ingat yang dia miliki, akhirnya dia bisa keluar dari gedung terbengkalai tersebut. Namun, sayangnya bayangan Arshen bisa ditangkap oleh kedua orang yang menjaganya tadi.
"Itu dia!" seru salah satu yang melihat Arshen telah keluar dari pagar gedung.
"Woii, bocah! Berhenti!"
Arshen tak menghiraukan panggilan dua orang yang kini telah mengejar dirinya. Dengan kekuatan yang dimiliki Arshen berlari, berharap ada mobil yang melintas dan bisa membawanya untuk segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1