
Mungkin saja ada darah Excel yang mengalir di dalam tubuh Arshen sehingga bocah itu tak memiliki sedikitpun rasa takut, meskipun dalam keadaan genting. Bahkan bocah itu masih bisa santai meskipun sedang menjadi seorang tawanan.
"Semoga saja kepala Daddy bisa berpikir dengan baik dan tidak mengikuti permainan orang-orang jahat ini," ucap Arshen yang kini sudah berhasil melepaskan tali yang mengikat tangannya.
Setelah berhasil melepaskan ikatan tangannya, Arshen berusaha untuk mencari cara agar bisa keluar dari ruangan kosong itu. Namun, ternyata pintu dikunci dari luar. Arshen pun harus memutar kepalanya untuk mencari jalan keluar.
Makanya terus menyapu ke segala penjuru arah, berharap bisa menemukan sesuatu yang bermanfaat. "Nah, sepertinya aku harus naik kesana," ujar Arhsen saat melihat sebuah jendela yang sama tinggi.
Dengan langkah pelan, Arshen mendekat ke bawah jendela. Namun, karena jaraknya terlalu tinggi, bocah itu harus memutar kembali kepalanya untuk mendapatkan cara naik keatas.
"Ayo, cari alat untuk bisa naik, Shen!" ucap Arshen ntuk menyemangati dirinya sendiri. Namun, sepertinya tidak ada tanda-tanda alat yang bisa digunakan untuk menggapai jendela.
"Itu terlalu tinggi. Bisa jadi setelah lompat tulangku akan remuk. Tapi aku tidak bisa berdiam disini. Apalagi hari ini adalah hari pernikahannya Mommy. Aku tahu Mommy pasti akan senang sedih jika aku tidak bisa menyaksikan pernikahan." Arshen bermonolog sambil mencari cara agar bisa keluar tanpa diketahui oleh orang-orang yang menjaganya.
__ADS_1
...
Suasana gedung acara pernikahan sudah terlihat sepi karena sebuah pengumuman jika acara pernikahan diundur karena calon mempelai prianya hilang. Arga yang baru saja meninggalkan gedung beberapa menit yang lalu sangat merasa heran dengan suasana sepi. Karena merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi, Arga langsung menuju kamar di mana dirinya memesan untuk merias.
Saat Arga baru saja masuk, anggota keluarganya menatap Arga dengan tatapan tajam. Bahkan Shereena langsung berlari untuk menghampiri Arga.
"Kak ... Kak Arga gak apa-apa kan? Sekarang dimana keberadaan Arshen?" tanya Shereena dengan panik.
"Apa?!" pekik kedua orang tuanya dengan terkejut.
"Terus bagaimana keadaannya sekarang? Kenapa kamu malah pulang tanpa Arshen, Ga?" tanya Dirga.
"Ayah tenang saja. Tidak akan terjadi sesuatu kepada Arshen. Semua ini hanya jebakan agar pernikahan ini tidak terjadi. Yah, dimana pak penghulu? Arga harus menikah dengan Reena sekarang juga!"
__ADS_1
"Pak penghulunya baru aja pergi. Bagaimana ini?" timpal Vie dengan suara bergemetar.
Karena pak Penghulu baru saja meninggalkan gedung tempat acara, Dirga langsung menelepon anak buahnya yang berjaga dibawah untuk mencegah pak penghulu pergi dan membawanya ke tempat acara.
"Kak, kita harus selamatkan Arshen dulu. Biarlah pernikahan ini kita undur, yang penting Arshen bisa terselamatkan," ujar Shereena yang tak kalah panik.
"Kamu tenang saja, anak kita bisa menghadapi semuanya dengan baik. Meskipun kecil, tetapi pemikiran dia sudah dewasa. Kamu tenang saja, aku aku dan juga ayah sudah mengerahkan anak buah untuk menuju ke gedung tua itu," jelas Arga untuk tetap menenangkan hati Shereena.
Beruntung saja pak penghulu belum meninggalkan hotel sepenuhnya dan masih bisa ditemukan oleh anak buah Dirga, sehingga ijab tetap terlaksana, meskipun tidak ada tamu undangan yang menyaksikan. Hanya keluarga Arga dan beberapa anak buah yang menjadi saksi atas ikrar pernikahan Arga dan Shereena.
Air mata Shereena tak hentinya mengetes, terlebih saat telinganya mendengar kata Sah dari beberapa orang yang ada dibelakangnya. Rasanya seperti mimpi bisa menikah dengan Arga.
"Alhamdulillah," seru oak penghulu ketika pernikahan dua mempelai sudah sah. Begitu juga dengan kedua orang tua Arga yang terharu saat anak sulungnya benar-benar sudah meskipun sangat sederhana. Vie sebagai seorang ibu hanya bisa menitihkan air mata bahagia menyaksikan Pernikahan sederhana tanpa satu orang tamu pun yang datang.
__ADS_1