
Karena saat ini keduanya belum bisa tidur, akhirnya mereka memutuskan untuk menonton telivisi. Sudah lama sekali keduanya tidak menghabiskan waktu berdua, terlebih saat ini telah hadir Arshen sebagai orang ketiga dalam hubungan cinta mereka.
"Reen, jika suatu saat aku jatuh bangkrut dan tidak punya apa-apa, masih maukah kamu untuk tetap di sampingku?" tanya Arga secara tiba-tiba.
Shereena terkejut dengan ucapan Arga. "Kak Arga ngomong apa, sih?"
"Reen, aku serius!"
Kali ini suasana terasa lebih tegang karena Arga menatap mata Shereena dalam. "Jawab, Reen. Saat aku tak punya apa-apa nanti, apakah kamu masih akan tetap di sampingku atau mencari pria lain yang sepadan denganmu?"
Tangan Shereena langsung menempel di kening Arga untuk memastikan jika pria itu sedang tidak sakit.
"Reen, jawab!" Tangan Shereena ditahan oleh Arga.
"Kak, sekalipun ke Arga tidak memiliki apa-apa lagi, aku akan tetap di samping keluarga. Jangan pernah kak Arga berpikir jika aku mencintai Kak Arga karena harta. Aku cinta kak Arga tulus, sangat tulus. Bahkan sekalipun dunia tidak memihak pada hubungan kita, aku akan tetap mempertahankan cinta kita. Apakah Kak Arga meragukan cintaku?" tanya Shereena dengan mata yang berkaca-kaca.
Arga pun mengelus pipi Shereena. "Aku tidak meragukan cintamu, Reen. Aku hanya takut ketika aku bangkrut dan tidak memiliki apa-apa lagi, kamu akan meninggalkanku dan memilih untuk mencari pria lebih dariku, karena saat itu aku pasti akan menjadi sampah."
"Sstt! Kak Arga gak boleh ngomong seperti itu. Apapun yang terjadi nanti, kita akan lalui bersama-sama. Buang jauh-jauh pikiran Kak Arga yang buruk itu, karena selama kita akan tetap bersama." Shereena menutup mulut Arga dengan satu jari telunjuknya.
"Makasih, Reen."
Suasana semakin mencekam, terlebih saat wajah Arga kian mendekat ke wajah Shereena. Bahkan saat ini keduanya bisa saling mendengarkan detak jantung mereka yang sedang berdentuman didalam dada.
Shereena hanya bisa memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Begitu juga dengan Arga yang sudah memiringkan kepalanya untuk menyentuh daging tanpa tulang milik Shereena.
"Buka!" kata Arga setelah kedua bibir mereka telah menempel.
Dengan patuh Shereena membuka mulutnya dan membiarkan lidah Arga menari di rongga mulutnya. Tidak munafik, Shereena juga merindukan sentuhan bibir Arga yang sudah enam tahun tak ia rasakan. Shereena pun langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Arga. Suara decakan kini sudah memenuhi ruangan itu, karena Arga tak ingin suara itu terdengar oleh Arshen, ia pun menaikan volume televisinya.
__ADS_1
Saat ini posisi Shereena juga sudah berbaring di atas sofa dengan tubuh yang sudah ditindih oleh Arga. Keduanya saling memainkan lidah mereka di dalam rongga mulut, hingga akhirnya keduanya menyudahi aksinya, karena hampir kehabisan oksigen untuk bernapas.
Setelah ciuman itu terlepas, Shereena langsung mengambil pasokan udara sebanyak-banyaknya. Tubuh harga yang masih berada di atas tubuhnya, membuat Shereena langsung mendorongnya dengan pelan.
"Kak, aku gak mau mengulang kejadian malam itu. Aku belum siap untuk hamil lagi, terlebih dengan hubungan kita yang belum menikah," ucap Shereena dengan pelan.
Arga tersenyum menatap Shereena yang kini bisa dilihat jika pipi Shereena sudah mau merah.
"Sejak kapan ciuman hamil? Apakah kamu sudah tidak sabar untuk mengulangi malam panas itu?"
"Tidak! Bukan begitu, Kak. Aku hanya takut kita sama-sama khilaf lagi, kak. Siapa bilang ciuman tidak bisa membuat orang hamil, buktinya dari ciuman aku bisa hamil. Bukankah malam panas kita saat itu berawal dari ciuman?" tanya Shereena untuk mengingat malam panasnya bersama dengan Arga.
"Kamu benar, Reen. Dari ciuman buyung dalam sangkar bangun. Kamu tahu tidak, jika saat ini buyung dalam sangkar udah bangun," bisik Arga ditelinga Shereena.
Mendengar pengakuan Arga Shereena langsung mendorong tubuh Arga dengan kuat. "Kak Arga jangan macam-macam aku tendang nanti baru tahu rasa!"
"Jahat banget sih kamu, Reen! Masa iya buyung aku mau kamu tendang? Terus kalau dia nggak bisa bangun lagi, gimana coba? Gak bisa dong kita malam melakukan malam kedua."
"Dan mimpi itu akan terjadi lusa, Reen! Aku akan menikahimu lusa, setelah memberitahu orang tuamu."
Shereena langsung mendelik dengan keterkejutannya. "Gak usah udah bercanda, gak lucu, Kak!"
"Reen, aku serius. Aku sudah menyiapkan semuanya. Bahkan sekalipun tak mendapatkan restu dari kedua orang tua kita, aku akan tetap menikah denganmu. Sudah cukup kamu menanggung semua rasa sakit seorang diri. Saat ini biarlah aku juga merasakan rasa sakit itu bersamamu."
"Tapi Kak—"
Arga langsung menutup mulut Shereena dengan jari telunjuknya.
"Reen, apakah kamu mau menikah denganku?"
__ADS_1
Lagi-lagi Shereena hanya bisa membulatkan matanya dengan lebar. Bahkan seketika tubuhnya menjadi kaku.
"Reen, jawab! Apakah kamu mau menikah denganku?" ulang Arga.
"Apakah Kak Arga sedang melamarku?" tanya Shereena dengan bibir yang terasa bergemetar.
"Anggap saja seperti itu. Apakah kamu kecewa karena aku hanya melamarmu dengan seperti ini yang tidak ada kejutan yang sangat meriah?"
Shereena langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak. Bukan begitu maksud aku. Hanya saja aku sangat terkejut, terlebih Kak Arga yang sudah menyiapkan semuanya. Lalu bagaimana jika Daddy tidak terima, Kak? Mungkin bukan hanya diri saja yang tidak terima, keluarga Kak Arga pun juga pasti akan seperti itu, terlebih tunangan Kak Arga. Dia pasti akan sangat kecewa dan sakit hati dengan keputusan Kak Arga yang secara tiba-tiba. Apakah tidak ada sedikit waktu lagi?"
"Aku tidak peduli dengan semua itu Reen, dan aku sudah memikirkan semua ini dengan matang-matang. Aku tahu konsekuensi apa yang akan aku terima nanti, aku sudah siap. Saat ini kamu dan Arshen adalah prioritas utamaku. Aku tidak peduli dengan mereka yang menentangku. Sudah cukup 6 tahun kamu menanggung semua seorang diri. Kita yang menciptakan kesalahan itu, maka kita berdua yang harus menyelesaikannya. Bukan begitu?"
Sungguh Shereenaena merasa terharu dengan ungkapan Arga. "Tapi aku takut, Kak."
Arga langsung menarik tubuh Shereena agar duduk. Untuk menenangkan hati pujaan hatinya, Arga langsung memberikan sebuah pelukan untuk Shereena. "Selama ada aku, kamu nggak usah takut. Karena aku akan selalu ada untukmu. Jadi bagaimana kamu mau kan menikah denganku? Selain ingin menjagamu dan juga Arhsen, aku sudah tidak kuat dengan penyiksaan ini, Reen. Kamu tahu tidak sakitnya saat buyung ini bangun dan aku tidak bisa menyentuhmu. Kamu gak kasihan?"
Jika awalnya Shereena merasa sangat terharu, tetapi tidak dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Arga.
"Tuh kan ... mulai lagi mesumnya!" Shereena langsung mendorong tubuh Arga untuk melepaskan pelukannya. Sementara itu Arga hanya tertawa karena telah berhasil membuat wajah Shereena merona.
"Reen, bantuin bibikin lagi, dong!" rengek Arga dengan manja.
"Bobokin sendiri di kamar mandi! Aku mau bobo sendiri!" Saat itu juga Shereena langsung beranjak meninggalkan Arga.
"Reen!" teriak Arga. "Jahat kamu!"
Author : Ga, sini othor bantu bobokin 😁
...🌸🌸🌸...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...