
"Siapa kamu?" tanya Arshen dengan rasa was-was.
Pria yang usianya sudah tidak lagi muda, tetapi raut wajahnya tidak berubah hanya tersenyum tipis kepada Arshen. Pria yang terkesan menakutkan menurut Arshen. Siapa lagi jika bukan Excel, Grandpa-nya.
"Aku—" bibir Excel terasa kelu untuk mengungkapkan jati dirinya. Merasa tidak pantas untuk disebut seorang kakek karena keegoisannya.
Selama ini ingin sekali rasanya Excel memeluk cucunya, tetapi karena rasa gengsi dan keegoisannya yang terjunjung tinggi, ia hanya bisa menahannya dalam hati. Namun, saat mendengar jika Arshen sedang dalam bahaya, rasanya dada Excel berdenyut. Ia merasa tidak rela jika Arshen terluka.
Belum sempat Excel mengatakan siapa jati dirinya, tiba-tiba sebuah pintu ruangan telah terbuka.dengan langkah cepat kedua orang yang baru saja masuk langsung menghampiri ke ranjang Arshen.
"Sayang, kamu gak papa, kan? Apanya yang luka?" tanya Shereena yang terlihat sangat khawatir.
"Boy, are you oke?" tanya Arga.
Kepala kecil itu menggeleng dengan pelan. "Arshen enggak apa-apa, Momm."
Namun, saat Shereena menoleh kesamping dirinya sangat terkejut akan sosok berdiri disampingnya. Dada Shereena berdegup dengan kencang. Lidahnya sangat kelu saat ingin menyebutkan kata Daddy, mengingat dia sudah tidak diakui sebagai anaknya lagi. Sebisa mungkin Shereena menahan matanya yang terasa perih ingin menjatuhkan air matanya. Namun, Shereena tidak bisa melakukannya dihadapan Daddy-nya.
Begitu juga dengan Arga yang gak kalah terkejut dengan kehadiran ayah mertuanya yang telah berada di kamar rawat Arshen.
__ADS_1
"Anda!"
Excel hanya memilih diam tanpa ekspresi. Bahkan sama sekali tak melihat kearah Arga yang menyapanya.
"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Arga lagi.
"Apakah dia seorang penjahat, Uncle? Jika dia seorang penjahat, aku akan memanggil kedua Daddy-ku untuk menangkapnya," ucap Kenza tiba-tiba.
Kali ini Shereena dan juga Arga baru menyadari jika ada seorang bocah yang di dalam ruangan Arshen.
"Tidak. Dia bukan orang jahat. Ngomong-ngomong, kamu siapa mengapa kamu ada disini? Dimana orang tuamu?"
"Ah, syukurlah jika Arshen tidak apa-apa," ujar Arga.
'Oh, jadi anak ini bernama Arshen? ' batin Kenza sambil melirik kearah Arhsen.
Sesaat suasana menjadi canggung. Tidak ada kata yang terucap lagi dari semua orang, hingga membuat Arshen mengerutkan dahinya. Rasa penasaran yang masih memuncak pun terus mengalir di kepalanya. Bahkan matanya tak lepas untuk menatap Excel yang masih berdiri disamping Mommy-nya.
"Kalian kenapa terdiam semua? Apakah ada yang salah?" tanya Arshen seketika.
__ADS_1
"Kamu kok ngomong seperti ini sih, Shen Oh iya, kamu punya teman baru, tapi kenapa kamu tak memperkenalkannya kepada Mommy?"
Mata Arshen langsung melirik ke arah Kenza yang duduk di sampingnya. "Maksud Mommy dia? Dia bukan temen Arshen dan Arshen juga tidak mengenal siapa dia."
'Masih kecil, belagu amat sih nih anak.' batin Kenza dengan rasa dongkol.
"Hus, gak boleh ngomong seperti itu. Dia dan Daddy-nya yang sudah membawamu kesini dan keluar dari para penjahat itu. Harusnya kamu berterima kasih padanya." Shereena memberikan nasehat pada putranya. "Oh iya, nama kamu siapa, Nak? Cantik banget sih kamu?"
"Aku Kenza, Aunty," ucap Kenza memperkenalkan dirinya.
Merasa tidak dianggap, Excel hanya mendengus dengan kasar. Ia pun akhirnya memilih untuk meninggalkan ruangan Arshen.
"Berhubung kalian sudah datang, aku akan pergi. Dan ... selamat atas pernikahan kalian. Meskipun aku tidak menjadi wali untuk perempuan yang kamu nikahi, aku ikhlas dan ridho memberikan restuku pada kalian berdua. Semoga kalian bahagia. Tapi aku minta, tolong jangan sakit anak dan istrimu. Kelak jika ada sebuah masalah selesaikan dengan kepala. Aku tidak mau mendengar jika kamu menyakiti anak dan istrimu di kemudian hari," pesan Excel sebelum pergi.
Air mata Shereena tak terbendung lagi. Kini butiran bening itu membasahi pipinya. Tak peduli lagi bagaimana reaksi Excel, Shereena mencoba untuk menahan langkah Daddy-nya dan bersimpuh di hadapan pria yang ia sebut Daddy.
"Dadd, maafkan Reena yang tidak bisa menjadi anak berbakti kepada orang tua. Maafkan atas kesalahan Reena hingga membuat air di dalam keluarga. Sungguh Reena menyesal Dadd. Tolong sudah hukuman ini. Reena juga sudah lulus dengan nilai yang baik. Bahkan Reena juga sudah mendapatkan gelar sarjana sesuai dengan yang diinginkan Daddy."
Dada Excel terasa nyeri. Ia pun langsung mengangkat tubuh Shereena untuk bangkit. Dengan pelan, tangan Excel menyapu jejak air mata yang membanjir pipi Shereena. Tanpa kata, ia pun langsung membawa Shereena kedalam pelukannya. "Maafkan Daddy yang selama ini menjunjung tinggi keegoisan dan adat keluarga besar. Maafkan Daddy yang bodoh ini, Reen."
__ADS_1