
Disebuah gudang tua yang telah terbengkalai, seorang bocah terlihat pasrah saat tangannya diikat dan didudukkan di sebuah kursi. Tak ada guratan rasa takut saat melihat pria dewasa bertubuh kekar mengelilinginya.
"Cepat katakan pada ayahmu untuk menghentikan acara pernikahan dan menikah dengan Nona Alexa, jika tidak kami akan membuangmu ke tengah laut agar dimakan ikan paus!" ujar salah seorang yang berada di depan Arshen. Namun, nyatanya ancaman itu tak menggetarkan hati Arshen. Bahkan bocah itu malah terlihat santai saat dihadapkan dengan layar ponsel yang memperlihatkan Daddy-nya.
"Ayo, katakan!" sentaknya lagi.
"Itu urusan orang dewasa, bukan urusan anak kecil. Kenapa tidak kalian saja yang mengatakan kepada Daddy-ku untuk menghentikan pernikahan. Apakah kalian tidak mempunyai nyali? Percuma saja jika badan kekar tapi beraninya hanya kepada anak kecil. Cih, sangat memalukan!" cibir Arshen dengan santai.
"Kamu!" Tunjuk salah seorang diantara pria yang bertubuh kekar.
"Tenang dulu, Bro! Kita tidak boleh gegabah. Ingat kata bos, kita tidak boleh menyentuh anak ini ataupun menyakitinya. Tugas kita hanya untuk mengancamnya saja. Mengerti!" lirih salah satu diantara mereka lagi.
Karena mengingat pesan dari bos mereka, maka tak satupun yang berani untuk menyentuh Arhsen, meskipun sebenarnya bocah itu telah membuat darah mereka hampir mendidih. Bagaimana tidak, bocah yang masih berusia 5 tahun itu, sama sekali tidak takut akan ancaman yang telah diberikan. Bahkan bocah itu malah terus menjawab ancaman yang diberikan.
"Shen, kamu gak papa kan?" Suara Arga dari layar ponsel.
"Daddy tidak usah mengkhawatirkan ku. Saat ini fokus saja pada pernikahan Daddy dengan Mommy. Aku baik-baik saja." Lagi-lagi Arshen berbicara sok dewasa.
__ADS_1
"Mana bisa Daddy menikah sedangkan kamu dalam bahaya seperti ini. Sekarang katakan kamu ada di mana? Daddy sudah di jalan"
Belum sempat Arshen memberikan jawaban kepada Daddy-nya, ponsel telah direbut oleh pria bertubuh kekar di depannya.
"Jika kamu ingin datang, silakan datang ke jalan Hang Tuan seorang diri. Aku tidak akan tinggal diam untuk menyakiti anakmu jika kamu ternyata membawa pasukan!"
"Siapa takut! Aku bukan pengecut seperti kalian yang beraninya hanya main keroyokan. Lihat saja, aku pasti akan datang."
"Dadd, jangan ke sini! Ini hanya jebakan untuk Daddy!" teriak Arshen. Namun, entah Arga dengar atau tidak, karena saat itu juga panggilan langsung diputuskan.
"Cepat hubungi, Bos. Katakan jika target sudah masuk perangkap!"
Karena saat ini target utama telah bersedia untuk datang ke tempat tujuan, maka satu persatu pria yang bertubuh kekar itu meninggalkan ruangan.
"Ternyata tidak susah juga pekerjaan ini. Hanya menculik dan menggertak saja, uang sudah masuk," celetuk salah satu diantara mereka.
"Jangan senang dahulu. Kita harus memastikan lebih lanjut lagi apakah pria itu benar-benar datang sendiri atau mau pasukan. Untuk berjaga-jaga sebaiknya kita berbagi tugas. Ada yang menjaga budaya itu di sini dan ada juga yang menuju ke tempat Bos, bagaimana?"
__ADS_1
"Ide bagus itu!"
Setelah para pria bertubuh kekar telah tenggelam dibalik pintu, Arshen berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat tangannya. Matanya terus menyapu seluruh ruangan, berharap bisa menemukan sesuatu yang berguna untuk melepaskan ikatannya.
"Apakah terlalu kejam kehidupan orang dewasa itu, sehingga harus menyiksa anak kecil seperti ini untuk mendapatkan apa yang diinginkannya," gerutu Arshen yang berjalan kearah papan yang tergeletak dibelakangnya.
"Percuma saja tubuh kekar tetapi tidak ada otaknya. Masa cuma tangan aja yang diikat. Atau mungkin mereka lupa tidak mengikat kakiku juga tadi. Ah, sudahlah. Intinya mereka semua adalah orang-orang bodoh."
Jika Arshen tetap tenang, tetapi tidak dengan Arga yang sudah merasa sangat panik luar biasa. Sebenarnya Arga tidak sengaja melihat Arshen masuk ke dalam sebuah mobil. Namun, karena posisi sulit untuk mengeluarkan mobil, Arga harus kehilangan jejak kemana mobil yang dinaiki oleh Arshen, hingga akhirnya Arga mendapat sebuah telepon dari nomor yang tidak dikenal dan menunjukkan wajah Arshen sedang diikat.
"Aku tidak yakin jika ini adalah ulah Tuan Excel. Jikapun iya, mengapa menggunakan Arshen untuk menggagalkan pernikahan ini. Jika dia mau, tinggal kerahkan pasukan untuk membawa Reena dan Arshen." Arga masih memikirkan dalang dibalik penculikan Arshen yang bertepatan dengan hari pernikahan.
"Atau jangan-jangan ini adalah ulah Lexa?" batin Arga dengan kuat. "Jika benar ini adalah ulah manusia tembok itu, aku tidak akan memaafkannya. Cih, mereka pikir dengan cara seperti ini aku bersedia untuk menikah dengannya. Kamu salah besar, Lexa!"
Karena Arga mempunyai sebuah feeling jika ini adalah ulah Lexa, ia pun segera menghubungi Janu untuk menanganinya. Mungkin apa yang dikatakan oleh Arshen ada benarnya, ini adalah jebakan.
"Makan saja jebakan kalian!" ucap Arga yang memilih putar arah menuju ke hotel lagi.
__ADS_1
πΈπΈπΈ
Waoow, kalian luar biasa membuat othor semangat untuk nambah bab lagi ππ sering-sering komen yang banyak biar othornya kagak males updatenya π