Hidden Baby 2

Hidden Baby 2
Hidden Baby 2 | Bab 9


__ADS_3

"Saya minta maaf Bos," ucap Naomi dengan sesalnya yang tak bisa mengontrol emosinya.


Mata Arga dan Arshen sama-sama menatap Naomi tanpa berkedip.


"Kamu ada masalah apa?"


"Tidak ada, Pak. Saya hanya sedang membayangkan pacar saya selingkuh!" kilah Noami.


Pacar? Pacar dari alam mimpi? Aduh Nom-Nom, ngomong apa sih kamu! rutuk Naomi dalam hati.


"Tolong jangan bawa masalah pribadi saat sedang bekerja!"


"Iya, Pak. Saya benar-benar minta maaf."


Suasana menjadi canggung, terlebih Naomi seperti sebuah bayangan di belakang Arshen, karena sejak tadi Arga hanya berbincang dengan Arshen tanpa ingin melibatkan dirinya. Jika tahu akan seperti ini lebih baik Naomi menghabiskan jam istirahatnya untuk bersantai di kanto daripada menjadi bayangan yang tak kasat mata.


"Maaf Pak, sebenarnya Anda mengajak bertemu untuk membahas kontrak kerja atau ingin berbincang dengan Arshen? Jika memang hanya ingin berbincang dengan Arshen, lebih baik saya kembali ke kantor karena masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." Naomi memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.


Seketika Arga baru menyadari tujuan lunch siang ini untuk masalah kontrak.


"Tapi yang aku inginkan adalah bertemu dengan orang tua Arshen, karena aku tidak mau suatu saat mereka akan menuntutku," ujar Arga.


"Anda tidak perlu khawatir, Pak. Saat ini orang tua Arshen sudah mendukung jika Arshen ingin menjadi artis di Indonesia dan saat ini juga saya yang bertanggung jawab pada Arshen," ucap Naomi dengan tangan yang bergemetar, berharap Arga tidak membuka kartu lagi.


"Baiklah, mari kita bahas."


🌸🌸🌸


Hampir satu jam lamanya Naomi menghabiskan waktu istirahatnya untuk menangani masalah kontrak Arshen. Beruntung saja bocah itu tidak berbicara apa-apa lagi, karena Naomi sempat memberikan syarat agar Arshen diam.


Hembusan nafas terdengar kasar saat Arga sudah meninggalkan meja makan. Saat itu juga Arshen langsung menatap kearah Naomi.

__ADS_1


"Apa yang Aunty katakan pada Uncel tadi? Aunty sudah membohongi! Mengapa Aunty mengatakan jika orang tua Arshen berada diluar negeri?" protes Arshen dengan menatapnya dalam.


"Maafkan Aunty. Tapi itu keinginan Mommy kamu, Shen. Mommy belum siap untuk menunjukkan dirinya lagi di depan publik."


"Kenapa?"


Naomi hanya mendengus pelan. "Aunty juga tidak tahu. Mungkin Mommy tidak ingin keberadaan di Indonesia diketahui oleh orang banyak," jelas Naomi lagi.


"Kenapa seperti itu?"


"Aunty juga tidak tahu. Bukankah saat ini Arshen sedang ingin mencari Daddy? Kalau begitu tidak usah berpikir macam-macam. Fokus pada satu tujuan! Oke!"


Arshen mengangguk pelan. Namun, sebelum beranjak pergi ia sempat mengutarakan apa yang mengganjal dalam pikirannya sejak melihat Arga. Wajahnya hampir mirip dengannya. Apakah mereka mempunyai ikatan keluarga? Naomi yang mendengarkan celotehan Arshen malah tertawa.


"Di dunia ini banyak orang yang memiliki kemiripan, tetapi bukan berarti mereka juga memiliki ikatan keluarga. Mungkin hanya sebuah kebetulan saja wajahmu mirip dengan wajah Pak Arga. Semoga saja dengan wajahmu yang hampir mirip dengan Pak Arga mampu membawa keberuntungan dan cepat bisa menemukan Faddy-mu. Sudahlah ayo pulang, sebentar lagi waktu istirahat Aunty habis."


Arshen pun kemudian beranjak untuk mengikuti langkah Naomi meninggalkan meja restoran. Meskipun ia ditertawakan oleh Naomi, bukan berarti dia menyerah dengan pemikirannya.


Baiklah, sepertinya aku harus mencurigai Uncel Arga. Aku akan cari tahu, meskipun tanpa bantuan Mommy ataupun Aunty. Batin Ashen.


🌸🌸


"Reen, jika kita mempunyai anak apakah anak itu akan seperti bocah itu?" Arga tersenyum saat mengingat kembali wajah Arshen yang menggemaskan.


Baru saja menyadarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata, suara derap langkah seseorang menggema dipikirkan. Karena malas untuk melihat siapa yang sedang berdiri di sampingnya, Arga memilih untuk mengabaikannya.


"Arga!" Satu panggilan mengharuskan Arga membuka matanya.


"Bunda," ucap Arga terkejut. "Bunda ngapain kesini?"


Wanita yang dipanggil Bunda langsung duduk di samping Arga yang terlihat lesu. Sudah hampir dua Minggu anak sulungnya tak pernah pulang bke rumah. Bahkan tak mau untuk mengirimkqn pesan padanya.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah melupakan Bunda, sampai-sampai kamu gak pernah menghubungi Bunda," todongnya langsung.


Arga langsung menarik tubuh Bunda untuk dipeluk. Sebenarnya bukan melupakan, hanya saja Arga sedang malas untuk menghubungi Bundanya karena akan berakhir dirinya pulang ke rumah. Sementara Arga sangat malas untuk pulang karena harus bertemu dengan ayahnya. Karena saat melihat wajah ayahnya, Arga pasti akan membencinya bisa membantu untuk menemukan Shereena, bahkan selalu menyuruh untuk melupakan Shereena. Dan itu adalah alasan terbesar mengapa Arga sangat malas untuk pulang ke rumah.


"Maafkan Arga, Bund. Akhir-akhir ini pekerjaan Arga sangat padat sehingga tidak sempat untuk menghubungi Bunda," ucap Arga dengan berbohong.


"Tidak sempat kamu bilang? Dasar anak nakal!"


Sebenarnya kedatangan Vie, bundanya Arga mempunyai satu tujuan. Semenjak melihat sosok yang muncul di televisi tadi pagi, membuat dirinya harus beradu mulut dengan suaminya. Dimana sang suami menganggap jika bocah kecil yang mirip dengan Arga adalah anak Arga. Ayahnya menganggap jika Arga memiliki hubungan terlarang dengan seseorang sehingga menghasilkan seorang anak.


Semua keluh kesahnya langsung disampaikan kepada Arga. Meskipun ia tidak percaya dengan pemikiran suaminya, tetapi tidak ada salahnya jika mereka dipertemukan dengan bocah itu berserta orang tuanya, agar suaminya percaya jika bocah itu bukanlah anak Arga.


Mendengar aduan Bundanya, Arga tanya tertawa pelan, meskipun ia sempat memiliki pemikiran seperti itu. Namun, Arga segera menepisnya karena selama ini Arga tidak pernah melakukan hubungan terlarang dengan siapapun, kecuali kepada Shereena. Mungkin itu adalah anak Shereena?


Sejenak Arga mengingat malam panas yang pernah ia lalui sama dengan Shereena saat itu.


"Mungkinkah itu adalah anak Shereena?" Lirih Arga.


"Maksud kamu Shereena World, anaknya Tuan Excel?" Bundanya menimpali.


"Mungkin saja."


Saat itu juga mata Vie ikut terbelalak dengan ucapan Arga. Apakah mungkin Arga telah menanam pisang bersama dengan Shereena?


"Ga, jangan bilang kamu pernah menanam pisang bersama dengan Shereena? Tidak mungkin! Anak Bunda tidak mungkin melakukan hal seperti itu kan?"


Arga terdiam tanpa ingin menjawab pernyataan Bundanya. Dengan cepat Arga merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang. Saat panggilan itu telah tersambung Arga langsung bertanya, "Bagaimana, apakah sudah menemukan hasilnya?"


"Sudah, Tuan. Saya sudah menemukan identitas bocah itu dan keluarganya, tetapi saat ini saya sedang berada diluar kota. Lusa saya baru pulang."


"Baiklah, aku akan menunggu kedatanganmu."

__ADS_1


...🌸🌸...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2