
Apapun yang akan terjadi nanti, Arga tidak peduli karena saat ini sudah tidak ada waktu lagi untuk mengulur waktu lebih lama.
Pagi ini sesuai dengan rencananya, Arga membawa Arshen dan juga Shereena untuk menemui Excel—Daddy Shereena.
Untuk pertama kalinya Shereena menginjakkan kaki di rumahnya setelah 6 tahun ia diasingkan oleh Daddy-nya. Sebenarnya Shereena belum siap untuk menemui sang Daddy, tetapi Arga terus memaksanya, hingga akhirnya ia pun menurut, meskipun dalam hati ia tidak yakin jika Daddy mau menerimanya lagi.
Hampir 1 jam tubuh Shereena menegang karena menunggu kemunculan Daddy-nya. Namun, Arga terus meyakinkan kepada Shereena jika semua akan baik-baik saja.
"Dadd, sampai kapan kamu akan seperti ini? Mereka sudah menunggumu hampir 1 jam. Tidakkah kamu ingin menemui mereka?" tanya Daisy pada suaminya.
"Bukankah sudah aku katakan kepadamu untuk memberitahu mereka jika aku tidak ingin menemuinya. Lalu untuk apa mereka menungguku? Suruh mereka pulang! Karena aku tidak akan mereka," ucap Excel.
"Dadd, Shereena itu anak kamu. Darah daging kamu. Dia anak kita, Dadd! Tidakkah kamu punya sedikit hati saja untuk memaafkan Reena? Sudah cukup Daddy menghukum Reena selama enam tahun ini, Dadd. Aku tahu sebenernya Daddy juga sangat merindukan Reena kan? Lihatlah, Dadd Reena yang manja kini sudah hisa hidup mandiri dan membesarkan anak seorang diri. Apakah Daddy tidak pernah merasa kasihan kepadanya? Dia itu anak kita, Dadd! Terlepas kesalahan yang dia lakukan, dia tetap anak kita, Dadd!" Daisy menangis, mengeluarkan semua rasa yang tersimpan di dalam hatinya, berharap suaminya bisa membuka sedikit hati untuk memaafkan Shereena.
Excel membenarkan ucapan istrinya. Ia memang sangat merindukan Shereena, tetapi saat mengingat kembali jika Shereena lebih memilih Arga, seolah hatinya menggelap dan menepis rasa rindu yang sudah lama terhanan dalam hatinya. Terlebih saat melihat anak kecil yang mempunyai wajah hampir mirip dengan Arga, membuat dada Excel terasa semakin panas. Kenapa harus mirip dengan Arga, kenapa tidak mirip dengan Shereena?
"Apakah Daddy benar-benar tidak ingin menemui mereka? Mereka ke sini hanya ingin mengatakan kepada Daddy jika besok Arga akan menikahi Shereena, sekalipun tak ada restu dari Daddy," ucap Daisy lagi.
Saat itu juga Excel langsung mendongak dengan sorot mata tajamnya. "Apa?!"
Karena tak ada tanda-tanda Daddy-nya turun untuk menemuinya, Shereena langsung mengajak harga untuk pulang. Percuma saja meskipun mereka menunggu Daddy-nya untuk turun, sang Daddy tidak akan pernah turun, sekalipun menunggunya sampai satu hari.
"Momm, kenapa kita pulang? Mommy bilang kita akan bertemu Grandpa?" tanya Arshen penasaran.
"Mommy lupa, ternyata Grandpa tidak ada di rumah. Dia sudah pergi ke kantor. Next time kita ke sini lagi ya. Sekarang kita harus ke kantor Daddy. Bukankah mulai hari ini Arshen sudah mulai melakukan shooting untuk iklan?" Shereena mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya. Ayo, Momm. Mommy jangan bersedih ya. Bukankah selama ini kita selalu bahagia, meskipun hanya berdua?" celotehan Arshen.
__ADS_1
Mendengar penuturan anaknya, hati Arga semakin teriris. Ia pun langsung menggenggam erat tangan Shereena untuk menguatkan hatinya.
"Jangan bersedih. Apapun yang terjadi, kita akan melaluinya bersama. Ayo, pergi!"
Shereena mengangguk pelan dan mengikuti langkah Arga untuk meninggalkan rumah mewah milik Daddy-nya, meskipun dengan rasa sesak di dalam dadanya.
Inilah salah satu alasan mengapa Shereena belum siap untuk menemui Daddy-nya. Karena bagaimanapun ia berusaha, sang Daddy masih bersikukuh dengan pendiriannya.
Dari kamar atas, Excel melihat bagaimana Shereena meninggalkan rumahnya. Saat Shereena menatap kearah kamarnya, Excel segera menarik tubuhnya mundur agsr tak terlihat dari bawah. Daisy yang melihat hanya bisa mende,sah dengan pelan. Entah sampai kapan suaminya akan membuang egonya.
"Daddy, jika memang Daddy sudah tidak menginginkan Shereena untuk kembali, coret saja nama Shereena dari daftar kartu keluarga. Dengan begitu, diantara kalian tidak akan ada lagi hubungan keluarga, meskipun darah yang mengalir dalam tubuh Shereena adalah darahmu. Daripada kamu tidak mau memaafkan dia. Padahal apa salahnya tinggal menikahkannya dengan Arga. Toh dia pria yang bertanggung jawab," ujar Daisy yang sudah merasa geram dengan sikap suaminya.
Excel langsung menatap Daisy yang ada di hadapannya. "Ibu macam apa kamu sampai mempunyai pikiran untuk mencoret daftar anaknya dari kartu keluarga? Shereena itu anak kita, anak yang kita buat dengan berkucuran keringat. Apakah kamu tidak mengingat bagaimana perjuanganmu saat melahirkannya?"
Kini Daisy tersenyum tipis ke arah suaminya. Begitu bisakah ego sang suami sehingga tidak mau memaafkan kesalahan anaknya, padahal dalam hati ia masih peduli.
"Apakah tidak salah ucapan Daddy? Seharusnya aku yang bertanya Daddy macam apa Daddy ini yang tega mengasingkan anaknya sendiri selama 6 tahun tanpa diizinka berkomunikasi kepada keluarganya, bahkan saat anaknya datang sama sekali tidak mau menemuinya. Jika memang sudah tidak menginginkan dia sebagai anak, lebih baik langsung keluarkan dari daftar keluarga dan susunan keluarga besar kita. Beres bukan?"
"Dasar Daddy hanya membesarkan egonya saja. Padahal dalam hati juga merindukan anaknya!"ucap Daisy setelah suaminya berlalu.
🌸🌸🌸
Kedatangan Arga bersama dengan Arshen menjadi topik hangat di kantor. Siapa saja yang melihat pasti akan langsung berpikir jika Arshen adalah anak bos mereka.
"Kak, kok perasaanku nggak enak ya?" Shereena ragu saat hendak masuk kedalam lift.
Itu hanya perasaanmu saja, Reen. Perasaanku biasa saja. Kalau kamu bagaimana, Shen?" tanya Arga pada Arshen.
__ADS_1
Perasaan Arshen senang, Dadd. Karena hari ini Arshen akan shooting dan sebentar lagi akan masuk televisi," jawab Arshen dengan polos.
"Nah, Arshen aja perasaannya senang, masa kamu gak enak. Sudahlah, gak usah kamu pikirkan masalah Daddy kamu. Aku yakin besok dia pasti datang," hibur Arga.
Shereena pun hanya menganggukkan kepalanya. Berharap itu hanyalah perasaannya saja. "Semoga saja itu hanya perasaanku," lirih Shereena.
🌸🌸
Kali ini giliran Arga yang merasa dadanya kian bergerumuh saat hendak membuka pintu gerbang kerjanya. Dia berharap itu hanyalah rasa kekhawatirannya pada Shereena saja.
Kok perasaanku juga gak enak ya? Mudah-mudahan hanya efek kurang tidur saja, batin Arga.
Namun, saat Arga sudah berhasil membuka pintu ruang kerjanya, matanya terbelalak saat melihat orang yang ternyata sudah menunggunya.
"Ada apa ini?" tanya Arga dengan heran.
Begitu juga dengan Shereena yang langsung menarik tubuhnya kebelakang Arga saat melihat siapa yang sudah berada di ruang kerja Arga.
"Kalian ngapain disini?" tanya Arga yang langsung mendekat kearah kedua orang tuanya dan juga wanita tunangannya.
Kedua orang tua Arga tak kalah terkejut saat melihat Shereena bersama dengan Arga. Bahkan kedua mata keduanya hampir terlepas saat melihat bocah yang sedang digandeng oleh Arga.
"Om, Tante. Lihatlah kelakuan Arga. Selama ini dia tidak pernah memperhatikanku sama sekali, tetapi dengan perempuan ini dia sangat perhatian. Bahkan saat ini keduanya telah tinggal bersama. Aku tidak terima dengan perlakuan Arga, Ok!" seru Alexa dengan dada yang terasa terbakar.
Namun, kedua orang tua Arga masih sama-sama membeku saat mereka melihat Shereena yang telah menghilang selama 6 tahun akhirnya muncul kembali dan saat ini telah bersama dengan Arga.
Vie langsung menangkup bibirnya tak percaya. "Reena," lirihnya.
__ADS_1
...🌸🌸...
...BERSAMBUNG ...