Hidup Adalah Perjuangan

Hidup Adalah Perjuangan
Setelah Kepergian Abi


__ADS_3

Malam semakin larut, Izar masih terdiam dengan air mata yang sesekali kembali menetes tanpa bisa ditahannya lagi. Dilihatnya Syafira sudah terlelap dalam pelukannya. Gadis 16 tahun itu terlelap dalam kesedihan yang luar biasa. Tak jauh beda keadaan si bungsu dalam dekapan Umi, Syakilla pun terlelap masih dengan isakan yang sesekali masih terdengar.


Izar tak berani menatap Umi, sudah bisa ditebak bagaimana keadaan Umi saat ini. Hatinya hancur melihat anak-anaknya tertidur tanpa alas di serambi mushola begitu.


"Umi," panggil Izar sambil memegang tangan Uminya.


"Tidur nak, Mas Izar dan adek-adek adalah kekuatan untuk Umi," kata Umi sambil meraih kepala putra sulung itu agar berada dalam dekapannya.


Izar menjatuhkan kepalanya di pundak Umi, wanita itu sungguh tegar hatinya. Meski rapuh ia tetap menahan air matanya meski sesekali butiran air mata itu menetes juga.


"Umi cari apa?" Tanya Izar melihat tangan sang ibu meraih tas di samping tempat duduknya.


"Mau ambil al-qur'an Mas," jawab Umi sambil mengangkat al qur'an kecil dari dalam tasnya.


"Mas tidur ya, sudah larut malam," kata Umi dengan lembut.


"Iya Mi," jawabnya tak ingin berdebat dengan Umi.


Izar memejamkan mata, namun ia tidak tidur. Terdengar suara merdu Umi melantunkan ayat-ayat al-qur'an. Sesekali terdengar pula isakan disela-sela lantunan ayat yang dibacanya.


Hatinya begitu perih mendengar isak tangis wanita yang selama ini selalu memanjakannya. Ingin rasanya ia menghujat laki-laki yang telah membuat Uminya menangis, ia tak pantas dipanggilnya Abi. Seorang ayah tidak mungkin menyakiti istri dan anak-anaknya. Terlebih menelantarkannya demi orang lain yang belum lama ia kenal. Namun semua sudah terjadi, selain bangkit dari kenyataan perih itu tidak ada cara lain. Ia harus menyembuhkan luka hatinya sendiri karena seorang laki-laki yang disebutnya Abi itu.


Azan subuh berkumandang, terlihat Umi terlelap sambil memeluk al-qur'an di dadanya. Entah pukul berapa tadi Umi memejamkan mata.


"Umi bangun," kata Izar lembut di telinga Uminya.


Wanita itu segera membuka mata.


"Sudah azan ya Mas?" jawabnya segera membenahkan posisi duduknya.


"Ayo Mi segera pindah sebelum jamaah datang," kata Izar setelah membangunkam kedua adeknya.


Mereka segera meletakan tas di pojok dekat pintu kemudian mengambil air wudhu dan ikut solat berjamaah.


Usai solat, Izar menggendong tas punggungnya sambil menggenggam tangan Uminya mereka keluar dari mushola.


"Kita mau kemana Mas?" Tanya Fira pada kakaknya.


"Cari kost dek," jawabnya terus berjalan.


Syafira dan Syakilla hanya diam mengikuti langkah kaki kakaknya. Entah mereka akan membawanya kemana.


"Mi, kalo kita cari tempat tinggal di belakang kampus gimana biar deket juga sama sekolah Fira dan Killa," kata Izar meminta pertimbangan Uminya.


"Tapi disitu jalan utama Mas, nggak papa kalo nantinya kalian sering-sering lihat Abi lewat?" tanya Umi.


"Gimana lagi Mi, kalo kita cari yangvjauh gimana sekolah adek-adek? Izar kan sudah nggak ada motor kalo mau antar sekolah" jawab Izar sambil terus berjalan.


"Kalo mas Izar nggak kuliah, Fira juga nggak usah sekolah. Lagian Fira nggak mau satu kelas dengan Bella," kara Syafira.

__ADS_1


"Kalian harus tetep sekolah dek" katanya lembut.


"Tapi Fira nggak mau kalo satu kelas dengan Bella," katanya sambil menangis.


"Anak Umi sayang, sabar ya. Sudah jangan menangis begitu," kata Umi sambil mengusap air mata putrinya.


Tak terasa mereka pun sudah sampai di tempat tujuan. Izar segera masuk kerumah pemilik kontrakan sedangkan Umi dan adek-adeknya hanya menunggu di teras rumah pemilik kontrakan.


Lama sekali Izar bernegosiasi dengan pemilik rumah, hingga akhirnya mereka sepakat dengan sebuah kamar kost kecil dengan kamar mandi dalam seharga 400 ribu per bulan dengan perjanjian tanpa fasilitas apapun selain listrik dan tikar saja.


Izar dan pemilik kost keluar untuk menunjukan tempat yang disetujui. Sambil menunggu pemilik rumah mengambil kunci, Izar mendekati Umi yang sejak tadi terdiam diatas kursi di teras rumah pemilik kost.


"Umi, tempatnya kecil nggak papa ya. Insyaallah hanya sementara," katanta sambil menatap mata Umi yang begitu sembab sebab menangis semalaman.


"Nggak papa Mas, Umi sudah berterimakasih banyak sama Mas Izar sudah berkorban demi Umi dan adek-adek,"


"Izar akan menjaga Umi dan adek-adek semampu Izar," jawabnya sambil berjalan mengikuti pemilik kamar kost.


"Ini Mas kamarnya, itu ada kompor dipake saja punya anak saya yang pindah tapi tidak ada tabung gasnya" kata pemilik kost tak tega juga setelah melihat Izar datang bersama sang ibu dan adek-adeknya.


Tadinya sang pemilik kos hanya beranggapan Izar seorang diri tanpa keluarganya.


"Terima kasih, Bu" kata Izar dengan senyuman tipis.


Setelah sang pemilik kost meninggalkan kamar kecil yang disewa oleh Izar, mereka pun segera masuk. Nampak raut wajah kedua adeknya heran melihat ruangan kecil yang masih ada sekatan untuk kamar mandi dan dapur.


"Maaf ya dek, cuma ini yang bisa Mas sewa untuk tempat tinggal kita. Mas janji suatu saat kita pindah ke tempat yang lebih layak lagi," kata Izar menatap Fira dan Killa bergantian.


"Iya Mas, nggak papa" jawab Killa gadis 14 tahun tahun yang masih duduk di bangku MTs itu.


"Semua gara-gara Bella dan ibunya yang nggak tau malu itu," umpat Fira kesal.


"Sayang, yang sabar ya nak... Allah sedang menguji kita. Semoga Allah limpahkan rahmat dibalik cobaan ini," kata Umi lembut sambil memeluk Syafira.


"Allah nggak adil, kenapa harus Abi? Kenapa bukan orang lain Mi?" Katanya terus terisak dalam dekapan Uminya.


"Fira sudah ya, jangan menghakimi takdir Allah. Mungkin ini berat untuk kita tapi ini takdir Allah yang pasti terbaik untuk kita," kata Izar sambil mengeluarkan beberapa isi dalam tasnya.


Umi mulai berbenah. Menata tas yang berisi baju di bawah meja kramik yang diatasnya bisa digunakan untuk memasak. Sedangkan Izar membersihkan kamar mandi yang terlihat kotor, mungkin karena lama tidak ditempati.


"Dek Fira sama Dek Killa mau makan apa biar mas Izar belikan," tanya Izar setelah membersihkan kamar mandi.


"Apa aja lah mas, Killa mau."


"Syafira mau apa sayang?" tanya Izar sambil mendekati adeknya.


"Fira nggak laper mas," jawabnya singkat.


"Sayang," kata Izar sambil mengusap kepala adeknya.

__ADS_1


"Terserah Mas aja, Fira mau," jawab adeknya itu.


"Umi mau apa?" tanya Izar lagi pada Uminya.


"Mas Izar masih ada uang nak?" tanya sang ibu.


"Insyaallah masih, Mi. Cukup untuk seminggu kedepan," kata Izar sambil membenahkan rambutnya.


"Ya Allah anakku, terima kasih banyak ya Mas," kata Umi sambil mencium pipi anak laki-lakinya itu.


"Izar berangkat dulu Mi."


"Beli dimana mas?" tanya Umi bingung sebab tak ada motor seperti biasanya.


"Udah Umj tunggu saja dirumah, biar Izar yang cari," jawabnya segerabkeluar rumah setelah mengucap salam.


Kembali Umi terduduk lemas di sudut tikar dekat kamar mandi. Ia tak tega melihat anak laki-lakinya pontang panting sendiri memenuhi kebutuhan sang ibu dan adek-adeknya.


Lama sekali waktu berlalu, Izar tak kunjung kembali. Setelah hampir 2 jam ia kembali bersama salah satu teman yang tak asing bagi Umi.


"Assalamualaikum, maaf ya Mi agak lama," katanya sambil memberikan bungkusan nasi.


"Waalaikumsalam, Umam kan ya temannya mas Izar waktu MTs dulu," kata Umi setelah mengingat-ingat.


"Iya Mi," jawabnya sambil bersalaman pada Umi.


"Bawa apa nak, kok repot begitu," kata Umi melihat alat-alat memasak di motor Umam.


"Nggak repot kok Mi, lagian ibu kan jarang dirumah jadi nggak pernah dipakai juga," jawab Umam sambil membawa masuk.


"Izar sengaja pinjam beberapa barang dari Umam biar Umi bisa masak sendiri daripada beli begini," kata Izar setelah Umam berpamitan.


Setelah menata beberapa barang untuk memasak, Umi, Izar dan adek-adeknya menikmati nasi bungkus yang dibelikan oleh Izar sebelum datang kerumah Umam.


"Enak juga Mas kalo lagi laper begini," kata Killa sambil menyendok makanan.


"Di habisin sayang, ini punya Mas masih kalo mau nambah,"


"Punya Mas dihabiskan saja, dek Killa kalo mau lagi punya Umi aja," kata Umi pada putrinya.


"Killa udah cukup kok satu aja," jawabnya sambil menatap Izar.


"Fira sayang, disuapin Umi mau nak?" tanya Umi melihat Fira tidak nafsu makan.


"Mau Mi," katanya sambil mengangguk.


Umi segera bergeser, mendekat pada putrinya yang terlihat sangat terpukul dengan kejadian yang baru saja menimpanya.


Inilah awal perjuangan dari seorang Nadhif Abizar untuk Umi dan kedua adeknya. Apa yang akan ia lakukan untuk orang-orang kesayangannya itu?

__ADS_1


__ADS_2