Hidup Adalah Perjuangan

Hidup Adalah Perjuangan
Martabak Hasil Perjuangan


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Izar bekerja, beruntung mandor memberikan gaji terakhir 3 kali lipat dari biasanya yang hanya Rp.60.000 per hari. Namun ia terus menutar otak, hanya Rp. 200.000 cukup untuk tiga sampai empat hari saja. Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya.


Kepala Izar terasa berat, tak pernah sebelumnya ia memikirkan hal seberat ini dalam hidupnya.


"Dek Killa kenapa sayang?" tanya Izar melihat adik bungsunya terdiam di depan pintu.


"Nggak papa Mas," katanya tersenyum.


"Hayoo anak Umi kenapa, sejak pulang sekolah tadi kok diem aja begitu." Umi mendekati putrinya.


"Nggak papa Umi," katanya kembali tersenyum.


Izar berjalan mendekati sang adik kemudian menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya.


"Syakilla kenapa, Sayang?" kata Izar lembut.


Ia hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaan sang kakak. Izar mengeratkan lagi pelukannya. Ia menempelkan kepala sang adik di dadanya.


"Kalau ada apa-apa di ceritakan sama Umi, Mas atau Mbak Fira. Jangan di simpan sendiri di dalam hati nanti jadi penyakit hati lo," kata Izar sambil mengusap kepala adiknya itu.


Killa menatap wajah Izar dan Umi bergantian, kemudian menempelkan kembali kepalanya di dada sang kakak.


"Killa ada kegiatan outing class Mas ke Jogja," katanya pelan.


"Terus, kok jadi sedih begitu," kata Izar lembut.


"Harus ikut semua, nggak boleh nggak ikut kecuali sakit," katanya lagi sambil menangis.


"Eh ... sayang, sayang. Kok jadi menangis begitu Dek?"


"Killa nggak mau nyusahin Umi sama Mas Izar," jawabnya sambil berurai air mata membuat Syafira yang sedang terlelap pun terbangun.


"Killa kenapa Mi kok nangis," kata Fira sambil mengusap matanya.


Umi hanya tersenyum pada putrinya itu.


"Outing Classnya kapan, terus bayarnya berapa?" tanya Izar lagi.


"Rp. 300.000 Mas, berangkatnya akhir bulan tapi terakhir bayar besok Selasa," katanya kini menempelkan wajahnya di dada sang kakak.


"Isyaallah nanti Mas usahakan, jangan menangis lagi ya, Dek"


"Killa baru ngomong, tau gitu kan uang dari Mbak Fira kemaren di pakai dulu, sekarang udah Umi kasih buat pemilik kontrakan," kata Umi sambil mendekati Syakilla.


"Nggak papa Mi, itukan juga penting. Sudah Killa nggak nangis lagi, Insyaallah besok selasa uangnya ada," kata Izar meyakinkan sang adik meskipun dia sendiri tak tau bagaimana cara mendapatkan uang tersebut mengingat sekarang pun dia tidak bekerja.


Umi menghapus air mata putri bungsunya itu. Beliau meminta ia segera mandi dan berangkat mengaji di rumah salah satu ustad tak jauh dari kontrakannya. Biasanya anak-anak dan remaja di daerah tempat tinggalnya usai solat magrib berduyun-duyun datang ke rumah tahfidz itu untuk belajar membaca iqro sampai al qur'an dibimbing oleh Ustad Furqon dan istrinya.


"Fira nggak siap-siap Dek?" tanya Izar melihat Fira masih tiduran.


"Fira lagi halangan Mas," jawabnya singkat.


"Oh yasudah kalau begitu,"


Umi dan Izar pun solat berjamaah, Usai solat ia kembali memikirkan keuangan keluarganya itu. Di usianya yang belum genap 20 tahun, ia harus menanggung beban yang begitu berat. Menjadi kakak sekaligus ayah untuk kedua adiknya.


Fira pun melihat kecemasan Izar. Disisi lain ia tak ingin Izar kerja di sekolahnya bukan tanpa alasan. Ia tak tega melihat sang kakak bekerja keras di hadapannya. Bagaimana mungkin ia berada di kelas yang nyaman sedangkan sang kakak harus bekerja sebagai tenaga kebersihan di sekolahnya. Sesekali ia melihat beberapa tenaga kebersihan di sekolahnya harus berulang kali mengepel lantai dan kembali mengulang karena beberapa siswa yang sengaja mengotori, membersihkan sampah-sampah di selokan. Sungguh ia tak mungkin tega sang kakak melakukan hal itu dihadapannya.


"Mas Izar, ngelamun aja Nak," tanya Umi melihat putranya diam saja.


"Enggak kok Mi,"


"Izar pusing ya mikirin kebutuhan kita," tanya Umi kini menggenggam tangan putranya.


Ia hanya tersenyum seolah membenarkan tebakan Uminya.

__ADS_1


"Umi bisa bantu apa Nak?"


"Umi berdoa saja semoga Izar cepet dapet kerjaan lagi," jawabnya sambil menciumi tangan Uminya.


Sesaat, Umi melirik Syafira seolah meminta sang putri untuk menyetujui tawaran pekerjaan untuk Izar, namun ia tetap pada pendiriannya. Fira memilih diam untuk tidak mengungkapkan alasannya kepada Umi ataupun Izar.


Malam itu berlalu tanpa banyak canda tawa. Mereka terdiam dengan fikirannya masing-masing. Menjelang pagi kegiatan pun di mulai, seperti hari-hari sebelumnya Umi sibuk dengan urusan dapur sedangkan kedua putrinya bersiap untuk berangkat sekolah. Setelah kedua gadis itu berangkat, Umi melihat Izar pun sudah bersiap.


"Mas Izar mau kemana?" tanya Umi heran sebab ia sudah tidak bekerja lagi.


"Menjemput rejeki Mi," jawabnya sambil mencium pipi Umi.


"Hati-hati ya Nak, semoga Allah mudahkan jalannya," kata Umi dengan mengusap kepala putranya.


Izar pun keluar rumah. Berjalan tanpa arah, ia tak tau akan kemana. Langkah kakinya tanpa tujuan. Ia hanya memikirkan bagaimana cara ia mendapatkan uang Rp. 300.000 dalam waktu dua hari untuk membayar kegiatan sekolah sang adik.


Setengah hari sudah berlalu. Ia pun berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan solat Dzuhur. Usai solat ia merebahkan tubuhnya sesaat di serambi masjid. Matanya terpejam namun fikirannya melayang jauh. Ia mengingat masa lalunya yang bahagia bersama kedua orang tuanya. Tak pernah sekalipun ia merasa kekurangan. Semua kebutuhannya selalu terpenuhi, sebab itulah ia merasa berdosa jika Syafira dan Syakilla di usianya yang sama seperti dirinya dulu tidak terpenuhi kebutuhannya.


Izar menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan sambil membuka mata.


"Ya Allah harus bagaimana ini," katanya berdesah pelan.


Ia pun bangun dan kembali berjalan tanpa tujuan. Tepat di depan sebuah counter, ia melihat tulisan "Jual Beli HP". Izar merogoh saku celananya, tak ada pilihan lain. Ia pun mendatangi counter tersebut, bernegosiasi pada sang penjaga counter untuk menukar ponselnya dengan ponsel ala kadarnya sehingga ia masih bisa mendapatkan hp dan juga beberapa uang untuk kebutuhannya.


"Alhamdulilah," katanya sambil menyimpan uang dan ponsel dalam sakunya.


Kini ia berhenti di sebuah kedai martabak langganannya dulu. Tidak untuk membeli makanan sebab baru bersiap-siap untuk buka ia hanya menyapa hangat pemilik sekaligus penjual martabak itu.


"Wah, Mas Izar lama nggak kelihatan. Apa kabar ini?" Sapa penjual itu dengan ramah.


"Alhamdulilah, kabar baik," jawabnya dengan senyuman.


"Tumben jam segini sudah sampai sini, dari mana mau kemana ini kok jalan kaki, motornya masuk bengkel ya?" katanya sambil menggoda.


"Mas Izar cari kerja? Buat apa?" tanyanya lagi sebab yang penjual martabak itu tau Izar adalah pelanggannya dari kalangan menengah keatas.


"Ceritanya panjang Mas, kalo di ceritakan bisa jadi novel," kata Izar bercanda.


"Bisa aja Mas Izar ini,"


"Bener kok Mas, kalo ada lowongan ya Mas bisa kabar-kabar," kata Izar pada penjual itu yang sedang mengiris daun bawang.


"Mas Izar mau kerja apa?" tanyanya kini dengan wajah serius.


"Apa aja mau Mas, yang penting halal,"


"Hah, beneran to ini,?


"Iya bener lah Mas, muka Izar kelihatan bohong ya. Lagi butuh kerjaan banget ini Mas,"


"Terus kuliahnya gimana?" tanya pedagang martabak itu bernama Faris.


"Udah lama nggak kuliah kok Mas, kemaren kerja di proyek tapi sudah selesai makanya ini cari kerjaan lagi," jawab Izar seolah menyiratkan keadaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Faris pun menyimpulkan sendiri pembicaraannya dengan Izar. Sebetulnya ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi namun ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya.


"Sambil nunggu lowongan kerja, kalo mau bantu-bantu disini boleh lo, tapi ya nggak bisa kasih banyak Mas, ala kadarnya saja." Faris berkata begitu sebab melihat Izar benar-benar sedang membutuhkan uang.


"Mas Faris serius?" tanyanya terlihat sumringah.


"Ya kalau berkenan silahkan,"


"Iya Mas, Izar mau. Boleh mulai kapan?" jawabnya begitu semangat.


"Sekarang juga boleh, kebetulan patner lagi sakit di kost,"

__ADS_1


"Alhamdulilah Ya Allah atas rejeki-MU hari ini," gumamnya lirih.


Izar segera menelepon sang adik untuk memberi kabar Umi agar tidak khawatir padanya.


Seperti tanpa lelah ia membantu Faris berjualan martabak hingga larut malam. Tepat pukul 01.00 dini hari mereka menutup kedai martabak. Izar di berikan satu kotak martabak oleh Faris beserta upahnya sebesar Rp. 50.000. Rasa syukur berkali-kali di ucapkan olehnya. Setelah selesai membereskan kedai tempatnya berdagang, Faris mengantarkan Izar sampai depan kontrakannya.


Ia membuka pintu dengan pelan berharap tidak membangunkan Umi dan adik-adiknya.


"Mas Izar baru pulang, Nak," kata Umi segera bangun mendengar dorongan pintu.


"Umi kok belum tidur sih, udah pagi ini," kata Izar sambil mencium tangannya.


"Umi nggak bisa tidur nungguin Mas Izar pulang,"


"Yasudah, sekarang istirahat ya Mi, Izar sudah pulang sekarang," katanya segera merebahkan tubuh di samping Uminya.


Rasanya baru saja ia memejamkan mata, terdengar suara Umi membangunkan anak laki-lakinya itu. Syafira dan Syakilla pun segera mengambil air wudhu dan melaksanakan solat berjamaah. Usai solat terlihat Killa sangat murung hingga melipat mukena pun tak jiga selesai.


"Killa nggak usah sedih lagi, ini uangnya ... hari ini terakhir kan?" kata Izar sambil memberikan sejumlah uang yang dibutuhkan adiknya itu.


"Mas Izar dapet darimana?" tanya Killa heran.


"Sudah nggak usah di fikirkan, Insyaallah halal," jawabnya sambil tersenyum.


"Terima kasih, Mas."


Umi dan Fira pun heran, darimana Izar mendapatkan uang Rp. 300.000 dalam waktu semalam, namun mereka enggan bertanya.


"Oh ya Mas, tumben alarmnya nggak bunyi tadi pagi," tanya Umi sambil mengupas kentang.


"Eh iya Mi, Izar lupa pasang alarm," jawabnya sambil meraih ponsel dalam tasnya.


"Lo hpnya Mas Izar kok jelek," kata Fira melihat ponsel kakaknya.


"Yang penting fungsinya sama," kata Izar sambil memencet ponselnya.


"Jangan-jangan ..." kata Umi sambil mendekati putranya.


Izar pun paham pemikiran Uminya. Ia hanya tersenyum di hadapan Umi dan adik-adiknya.


"Jadi Mas Izar jual hp buat bayar kegiatan outing classnya Killa," tanya Killa mendekat pada Izar.


"Nggak di jual, cuma di tuker," jawabnya masih sambil tersenyum.


Killa langsung memeluk kakaknya itu. Sungguh pengorbanan Izar tak main-main demi keluarganya. Ia pun menyambut pelukan gadis mungil itu di selingi candaan agar tak ada kesedihan di pagi ini.


"Terus Mas semalem kemana?" tanya Fira karena tak melihat kakaknya pulang sebelum ia tidur.


"Sementara bantuin Mas Faris jualan martabak yang biasanya kita beli, sambil nunggu panggilan kerja. Tu di bawain martabak katanya buat cewek-ceweknya Mas Izar di rumah," katanya sambil menunjuk bungkusan yang baru saja dikeluarkan dari tas karena semalam lupa.


Umi pun terdiam sambil sedikit tersenyum bangga dengan perjuangan putra kesayangannya itu.


"Mas ..." kata Fira ikut memeluk kakaknya.


"Ah pada ngapain sih kalian, sini Mas di pijitin aja jangan nempel-nempel begitu ... berat tau," kata Izar sambil melepas pelukan Killa.


"Umi ... Fira dikatain gendut sama Mas Izar," katanya pada Umi.


"Bukan gendut tapi berat,"


"Ah, sama aja," katanya sambil memukul punggung kakaknya.


Gadis itu memang sangat sensitif jika disinggung perihal berat badan. Umi hanya tersenyum melihat polah tingkah ketiga anaknya yang saling mengejek itu.


"Sudah ... sudah, Mas capek itu jangan di pukulin Nak, kasian," kata Umi kembali berjalan menuju dapur meninggalkan ketiga anaknya yang masih bercanda tawa.

__ADS_1


__ADS_2