
Pagi ini usai solat subuh Izar kembali merebahkan tubuhnya di tikar. Tak lama ia terlihat sudah tertidur pulas.
"Mi, Mas Izar kok tidur lagi sih?" tanya Fira pagi ini saat ia sarapan.
"Biarin Nak, Mas Izar masih ngantuk, pasti capek juga tadi jam 2 baru pulang," jawab Umi sambil menunggu putrinya itu sarapan.
"Kasian Mas Izar ya Mi, temen-temennya suka nongkrong di deket sekolah Killa tapi Mas Izar sibuk kerja," celoteh Killa yang sedang memakai jilbab.
"Iya Sayang, makanya Mbak Fira sama Dek Killa belajar yang rajin ya Nak, biar suatu saat nanti bisa membalas perjuangan Mas Izar untuk kita," kata Umi pada kedua putrinya.
Fira terdiam, ternyata keputusannya untuk tidak mengijinkan Izar bekerja di sekolahnya kurang tepat. Sebab itu, sang kakak sekarang bekerja sejak sore hingga dini hari baru pulang dan itu jelas tidak baik untuk kesehatan Izar.
"Fira kenapa diem, Nak?" tanya Umi heran.
"Fira salah ya Mi, melarang Mas Izar kerja di sekolah Fira," katanya sambil memeluk Umi.
Umi segera meraih tubuh putrinya, sambil sesekali mencium kening gadis itu.
"Harusnya Fira nggak boleh malu, justru Fira bangga punya kakak seperti Mas Izar." Umi memberi nasehat pada Fira.
"Fira nggak malu kok Mi, demi Allah Fira nggak begitu," katanya sambil menatap Umi.
"Lalu?"
"Fira nggak mengijinkan bukan karena Fira malu Mi, justru karena Fira nggak tega lihat Mas Izar kerja keras sedangkan Fira ada di kelas yang nyaman, Fira nggak sanggup lihatnya Mi," jelas Fira pada Umi sambil meneteskan air mata.
"Yasudah Nak, semua sudah berlalu. Doakan Mas Izar cepet dapet kerjaan biar nggak begadang tiap malem begitu ya,"
"Iya, Umi." Fira mengangguk sambil mengusap air matanya.
Usai sarapan dan bersiap dua gadis cantik itu pun berpamitan untuk berangkat sekolah. Setelah mengantar putrinya keluar rumah, Umi kembali mendekati putranya yang masih terlelap. Wajahnya begitu teduh, nampak sangat lelah di raut wajah tampan itu. Sesekali Umi mengusap rambutnya sambil mencium kening putra kesayangannya itu.
"Umi," kata Izar terbangun setelah beberapa kali Umi mengecup keningnya.
"Maaf ya Mas, Umi gangguin Mas Izar istirahat," jawab Umi sambil tersenyum.
"Nggak papa Mi,"
"Tidur lagi Nak, sambil Umi pijit ya," kata Umi masih menempelkan bibirnya di kening Izar.
"Adik-adik udah berangkat Mi," tanyanya lagi.
"Sudah Mas, ini sudah setengah tujuh."
Izar kembali terlelap setelah di pijat oleh Uminya. Ketulusan dan kasih sayang Umi adalah alasan terbesar dirinya untuk berjuang demi keluarga kecilnya itu.
Betul kata nasehat bijak, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Begitupun dengan Izar saat ini, sebab ia bekerja di sore hari waktunya lebih banyak di habiskan bersama Umi. Sejak ia membuka mata ia sudah melihat Umi dan itu kebahagiaan tersendiri untuk dirinya.
Azan asar berkumandang, Izar segera mandi kemudian mengambil wudhu setelah seharian hanya di habiskan untuk bercanda tawa bersama Uminya.
Usai solat, ia segera bersiap untuk berangkat ke kedai martabak tempat kerjanya sementara. Seberapapun hasil yang ia dapatkan selalu ia syukuri, begitupun Umi yang tak pernah menuntut atas rejeki yang di berikan oleh putranya, meski sebenarnya mereka sudah terbiasa dengan hidup mewah sebelum ini.
Sesampainya di kedai, ia begitu sibuk membantu Faris yang sedang menyiapkan bahan bahan untuk dagangannya. Mengiris daun bawang, membuat adonan martabak hingga membersihkan tempat jualan ia lakukan dengan senang hati. Faris begitu takjub melihat kerja keras Izar yang notabene adalah dari kalangan menengah keatas. Hal itu membuat Faris sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Izar, namun waktunya belum tepat untuk menanyakan.
Tepat pukul 17.00 wib, beberapa pelanggan mulai datang, semakin lama semakin ramai pengunjung bahkan lebih banyak pengunjung dari hari sebelumnya, hingga mereka terpaksa melaksanakan solat magrib bergantian. Semakin malam kedai martabak itu semakin ramai. Beberapa kali Izar memijat sendiri punggungnya yang terasa pegal. Baru saja ia beristirahat sejenak, matanya dikagetkan oleh kedatangan tiga orang pelanggan yang ia kenal.
Semakin dekat, pandangan Izar semakin jelas siapa yang datang. Faris pun menatap Izar seolah ingin menjelaskan sesuatu. Pelanggan yang datang itu adalah Abi beserta istri dan anaknya.
"Mas Faris, minta tolong yang kedepan ya," katanya memohon.
"Bukankah itu ..." jawabnya menggantung.
"Tolong ya Mas," pintanya sekali lagi dengan memohon.
Faris segera menemui pelanggan yang ia kenal itu, namun Faris heran laki-laki itu datang bersama wanita yang tak biasanya. Ia yakin jika yang datang adalah ayah Izar namun menurut ingatannya itu bukan ibunya. Setelah mencatat pesanan, Faris pun kembali dengan sejuta pertanyaan di benaknya.
"Mas sekarang tau kan mengapa Izar begini?" tanyanya sambil membuat martabak bersama Faris.
"Jadi betul kan itu ayahmu, tapi wanita itu bukan ibu dan adikmu?" tebak Faris sambil menatap mata Izar yang terlihat menahan air matanya.
"Iya Mas,"
"Kalau mau nangis nggak papa nggak usah di tahan," kata Faris tak tega melihat pandangan Izar begitu kosong. Berkali-kali matanya mencuri pandang ke arah ayahnya.
Berkali-kali ia beristigfar, hatinya tak karuan melihat canda tawa mereka. Di saat ia harus banting tulang untuk Umi dan adik-adiknya justru ayahnya sedang berbahagia dengan kehidupan barunya.
__ADS_1
"Ya Allah ... tak pernah kurasa sesakit ini," batin Izar sambil menyeka air mata yang tiba-tiba menetes.
Di saat yang bersamaan, ada beberapa pelanggan yang juga datang membuat Faris kebingungan dan akhirnya Izar pun keluar dari balik kedai tempatnya berjualan.
Hatinya berdebar saat sang ayah menatap dirinya. Sambil menikmati martabak bersama istri dan anaknya sang ayah pun menyaksikan Izar yang sedang mencatat pesanan pengunjung.
Izar mencoba tersenyum saat di hadapan sang ayah.
"Abi," panggilnya pelan.
"Kamu ngapain disini," kata sang ayah sambil terus menikmati martabak favoritnya. Terlihat Bella dan Ibunya hanya diam seolah tak peduli dengan kehadiran anak suaminya itu.
"Izar kerja Bi disini," jawabnya sopan namun menahan semua rasa di hatinya.
"Kerja? Dimana Umi mu nggak tanggung jawab anaknya di suruh kerja begini," kata istrinya angkuh.
"Maaf Bu, jangan bawa-bawa Umi saya. Masalah tanggung jawab diri saya dan adik-adik saya, Abi pasti lebih paham. Permisi saya mau kerja lagi," kata Izar berlari.
Ia tak bisa lagi membendung air matanya. Ia berlari menjauh dari kedai martabak. Ia duduk sambil terisak di bawah pohon agak jauh dari kedainya itu. Faris pun membiarkan, ia berusaha menghendel sendiri semua pelanggan yang datang. Sekitar 15 menit Izar menangis terisak di bawah pohon, ia pun mencoba bangkit, menghapus air matanya dan kembali mendekati Faris yang terlihat sibuk mengolah martabak.
"Izar pulang dulu gak papa kok," kata Faris melihat mata Izar sembab.
"Enggak Mas, maaf ya Izar tinggal sebentar tadi. Ada yang bisa Izar bantu?" tanyanya sambil menutup matanya sesaat.
Ayahnya masih berada di tempat itu namun ia yakin bisa tegar menghadapi kenyataan itu.
"Tolong antar ini untuk mbak yang jilbab biru itu bisa? Totalnya Rp. 45.000," kata Faris memberikan martabak dalam kardus.
Ia pun berjalan mendekati pelanggan yang di maksud oleh Faris, beberapa kali ia berjalan di hadapan orang tuanya. Izar selalu berjalan cepat saat melewati sang ayah yang sedang bercanda tawa dengan keluarga barunya.
Faris sungguh terharu melihat ketabahan hati Izar, ia pun sampai meneteskan air mata melihat apa yang terjadi pada patner kerjanya itu.
"Yang kuat ya buat Umi dan adik-adik di rumah," kata Faris pada Izar setelah melihat ayahnya meninggalkan kedai itu.
"Iya Mas, Insyaallah semoga perih di hati ini segera berlalu saat melihat Umi nanti di rumah," jawab Izar sambil terus beristigfar dan mengusap-usap dadanya yang terasa begitu sesak.
Izar pun pulang dengan membawa kepedihan yang teramat dalam menyaksikan kebahagian Abinya bersama wanita lain di hadapan mata. Kesedihan itu rupanya terbawa hingga berganti hari.
"Mas," panggil Umi pelan saat melihat putranya terdiam di lantai yang beralaskan tikar.
Izar hanya diam. Ia tak menjawab, atau mungkin karena tak mendengar. Umi mengulang kembali sapaannya.
Kembali ia tak mendengar panggilan dari Umi, membuatnya khawatir dan segera berjalan mendekati putranya itu.
"Muhammad Nadhif Abizar, kesayangan Umi," katanya kini sambil menyentuh pundaknya.
"Umi bikin Izar kaget," jawabnya sambil menoleh.
"Anak Umi kenapa melamun? Nggak boleh bilang nggak papa," kata Umi lembut sambil terus mengusap kening putranya itu.
"Waduh, Izar harus jawab apa dong Mi, emang gak papa kok," katanya tersenyum.
"Coba lihat." Umi memegang dagu putranya untuk mengangkat wajah yang sedari tadi nampak tertunduk namun secepat kilat ia menyingkirkan tangan lembut Uminya.
"Nak," panggil Umi berusaha menatap mata Izar namun gagal.
Umi pun meraih tubuh putranya itu kemudian menyandarkan kepala Izar di pundaknya.
"Coba lihat mata Umi, Nak." Umi kembali meminta putranya namun tetap tak mau.
Matanya sembab, tak mungkin ia tunjukan kesedian itu pada Umi kesayangannya.
"Izar habis menangis?" tanya Umi menebak.
"Enggak kok Mi," jawabnya sambil memainkan jari tangan Uminya.
"Coba lihat Umi," pintanya lagi.
Izar kembali terdiam, memang ia tak bakat untuk berbohong terlebih pada Uminya.
Izar langsung mengubah posisinya, ia memeluk Umi begitu erat. Tak terasa air matanya kembali menetes, lagi dan lagi setelah kejadian malam tadi.
"Anak Umi kenapa menangis?" tanya Umi sambil mengusap air mata di pipi putranya.
"Maaf Mi, Izar cengeng. Nggak seharusnya laki-laki lemah begini," katanya kini menatap mata Umi sambil berlinang air mata.
__ADS_1
"Nak, dengarkan Umi ... menangis bukan tanda lemah. Kadang, jika mulut sudah tak lagi mampu ungkapkan maunya hati maka air matalah yang akan menunjukan bagaimana perasaan kita saat ini," katanya sambil terus mengusap air mata Izar.
Izar kembali memeluk Uminya begitu erat, ada ketenangan disana saat berada dalam dekapan sang ibu.
"Izar sudah capek ya Nak?" tanya Umi sambil mengusap rambutnya.
Ia menggeleng. Membuat Umi semakin bingung sebenarnya apa yang terjadi pada Izar.
"Kalo Izar capek, sudah ya Nak jangan di paksa. Biar Umi saja yang kerja," kata Umi menyimpulkan sendiri sebab sejak orang tuanya berpisah putranya itu yang menjadi tulang punggung keluarga.
"Enggak Mi, Izar akan terus bekerja untuk Umi dan keluarga kita."
"Tapi kenapa Mas Izar menangis, cerita sama Umi, Nak."
"Maaf ya Mi, Izar sudah membuat Umi khawatir," katanya kini sudah tidak meneteskan air mata lagi.
"Umi boleh tau, Mas Izar kesayangan Umi ini kenapa?" tanyanya lembut.
"Fira, Mi."
"Ada apa sama Fira? Kenapa Mas Izar menangis begitu?" tanya Umi kini berubah ekspresi.
"Maaf ya Mi, kalo cerita Izar bikin Umi sedih,"
"Cerita Nak, sekarang," kata Umi tak sabar lagi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Izar nggak bisa bayangin bagaimana perasaan Fira yang setiap hari harus ketemu Abi," jelas izar pada Umi.
"Kenapa tiba-tiba Mas Izar bahas tentang Abi?" tanya Umi heran.
Izar menarik nafas panjang sebelum bercerita pada Uminya, ia memastikan jika air matanya tak sampai jatuh lagi saat menceritakan pada Umi.
"Semalam Abi beli martabak di tempat Izar,"
"Terus?" Umi semakin penasaran.
"Istrinya malah nyalahin Umi kenapa Izar di biarkan kerja, dia nyinggung tentang tanggung jawab Umi tapi Abi cuma diem aja lihat istrinya begitu pada Izar. Seharusnya Abi tersinggung kan Mi, harusnya Izar dan adik-adik tetap tanggung jawab Abi kan, Mi. Sekalipun orang tua sudah berpisah, Anak tetap menjadi tanggung jawab orang tuanya sampai nanti menikah, Abi yang mengajarkan tentang ketaatan beragama pada kita, tapi Abi sendiri yang mengingkari." kata Izar sambil menatap Umi yang sudah berkaca-kaca.
Sebelum menjawab, Umi menyeka butiran air mata yang hampir saja menetes di wajahnya. Ia harus menjadi wanita tegar di hadapan anak-anak walau tak di pungkiri hatinya begitu perih mendengar cerita sang anak.
"Sudahlah Nak, yang ihklas ya. Semoga suatu saat Allah sadarkan Abi, maafkan Abi, Nak." kata Umi sambil mengusap dada putranya.
Izar mencium pipi Uminya, sungguh mulia sekali hatinya. Meski sudah di sakiti, Umi tetap memaafkan. Meski di tinggalkan begitu saja Umi tetap setegar ini melewati setiap harinya.
"Tapi betul juga Nak, nggak seharusnya Izar bekerja keras begitu. Harusnya Umi yang bekerja untuk kalian bukan Izar yang harus bekerja untuk Umi," katanya lagi.
"Enggak. Pokoknya Umi nggak boleh kerja. Umi nggak bisa membetulkan begitu saja, kalau dia wanita baik-baik harusnya dia paham apa yang di lakukannya salah. Masa wanita baik-baik menggoda suami orang," katanya penuh amarah.
"Sudah Nak, sudah ya ... semakin kita membahas tentang itu nanti semakin menyakiti hati Izar. Seperti kata Mas Izar, kalau Abi bisa bahagia tanpa kita, kita pun harus bahagia tanpa Abi. Kita mulai dari awal ya Nak ... sudah ihklaskan semuanya. Allah menguji kita karena Allah yakin kita mampu melewatinya." Umi berkali-kali mencium kening putranya.
"Iya Mi, terimakasih Umi sudah mengajarkan ilmu keihklasan yang nyata untuk Izar. Ilmu yang tak pernah Izar dapatkan selama Izar menempuh pendidikan."
"Kita saling menguatkan ya Nak. Tak perlu mencari siapa yang benar siapa yang salah, nikmati saja alur yang sudah ditetapkan Allah untuk kita, jangan banyak mengeluh."
"Iya Umiku sayang," katanya kini sudah tersenyum dalam pelukan Umi.
"Nggak nangis lagi kan?" goda Umi di selingi tawa.
"Enggak Mi,"
Izar masih memeluk erat Uminya itu. Ia terlihat sangat manja dalam dekapan Umi.
"Mas Izar tau nggak, apa yang paling Umi takutkan waktu Mas Izar kecil dulu?" tanya Umi sambil sesekali mencium putranya.
"Apa Mi?"
"Saat Mas Izar nangis," katanya sambil tersenyum.
"Umi, ngeledekin Izar ya," jawabnya cemberut.
"Enggak Sayang, Umi beneran paling takut kalo Mas Izar nangis,"
"Kenapa begitu Mi?" tanyanya kini penasaran tentang masa kecilnya.
"Soalnya kalo nangis, pasti minta di beliin pizza sama es krim, baru bisa diem. Makanya tadi Umi takut jangan-jangan habis ini Mas Izar juga begitu. Kan Umi nggak punya uang," jawabnya sambil tertawa.
__ADS_1
"Umiiii ... beneran ngeledekin Izar," katanya manja sambil menatap Umi.
Mereka pun tertawa bersama, meski terasa perih di lubuk hatinya yang terdalam.