Hidup Adalah Perjuangan

Hidup Adalah Perjuangan
Ketika Ramadhan Tiba


__ADS_3

Syafira sungguh menjadi kebanggaan untuk Umi dan Abizar, sang kakak. Prestasinya tak menurun meski hatinya sedang terluka.


"Seandainya Abi tau bagaimana hebatnya putri cantik ini," kata Umi sambil menciumi kening Syafira dan Syakilla bergantian dalam pelukannya.


"Umi ... udah deh nggak usah sebut-sebut Abi lagi," kata Syakilla menatap Uminya.


"Nak, bagaimanapun beliau adalah orang tua kalian. Abi-nya Mas dan Adik," jelas Umi begitu lembut.


"Umi masih cinta sama Abi?" tanya Syafira yang sejak tadi hanya diam mendengar Umi dan adiknya berdebat.


"Cinta? Anak Umi udah besar ya, udah bicara soal cinta," ledek Umi sambil tertawa.


"Umi ..." Syafira menatap tajam Uminya.


"Eh Fira, kok bentak Umi," kata Izar yang baru keluar dari kamar mandi.


"Enggak kok Mas, Fira cuma bercanda sama Umi," kata Umi lembut pada anak laki-lakinya.


"Oh, kirain Fira bentak Umi. Nggak boleh ya Dek," pinta Izar.


"Nggak mungkin Mas Izar-ku, kita kan sayang banget sama Umi,"


Suasana hening, Fira dan Killa kembali jatuh dalam pelukan Umi sedangkan Izar menjatuhkan kepalanya di pangkuan Syakilla.


"Mas," panggil Umi tiba-tiba.


"Dalem Umi,"


"Besok pagi sudah masuk bulan ramadhan ya Mas, Dek," kata Umi kini sudah berubah ekspresi.


"Lo Umi kok sedih begitu," Izar langsung bangun dan menatap Uminya.


"Biasanya kalo bulan puasa begini, Umi selalu masak apapun yang kalian minta, tapi ..." katanya menggantungkan ucapannya.


"Sudah ya Mi, tahun ini kita cuma minta Umi nggak sedih lagi," kata Izar meraih tangan Uminya.


"Umi nggak sedih kok nak, Umi bahagia punya kalian,"


"Kita juga beruntung punya Umi," kata Fira.


"Dan memasuki bulan suci ini, alangkah lebih baiknya jika kalian bersihkan hati sucikan diri dengan membuang semua rasa benci di hati kalian. Maafkan Abi ya Nak, meski Umi tau itu berat, Umi pun merasakan apa yang kalian rasakan," katanya sambil mengusap kepala ketiga putra putrinya.


"Hati Umi terbuat dari apa sih? Masa Killa anaknya Umi nggak bisa supeeer baik seperti Umi," kata Killa.


"Nggak. Dek Killa, Mas Izar sama Mbak Fira semua baik,"


"Doakan kita bisa ihklas seperti Umi ya," Izar kembali mencium tangan Uminya.


"Pasti Nak, doa Umi yang terbaik untuk anak-anak Umi." kata Umi mengakhiri perbincangan mereka sebelum tidur.


***


"Mas, bangun yuk sahur dulu," kata Umi lembut sambil membelai kepala putranya itu.


Syafira masih nyenyak di samping sang kakak sedangkan Syakilla sudah lebih dulu bangun dan membantu Umi menyiapkan sahur pertama hari ini.


"Mbak Fira sayang, bangun sahur Nak," Umi terus membangunkan putra putrinya yang tak kunjung bangun juga.


"Jam berapa Mi," kata Izar sambil mengusap matanya.

__ADS_1


"Jam 3, ayo bangun dulu Mas,"


Izar segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk wudhu kemudian ia melaksanakan solat sunah dua rakaat sambil menunggu Umi dan Syakilla selesai menyiapkan hidangan sahur, Syafira pun mengikuti apa yang dilakukan sang kakak.


"Masak apa Umiku sayang," Izar mendekati Umi yang sedang membuat teh hangat.


"Maaf ya Nak, sahurnya cuma sama mie instan sama tempe goreng aja," kata Umi pelan sambil menatap ketiga anak yang sudah duduk berjejer di lantai rumah kontrakannya.


"Nggak papa Mi, seadanya," jawab Syafira.


Izar hanya tersenyum, namun jauh dilubuk hatinya begitu tersayat melihat kedua adiknya. Ingin rasanya ia memberikan yang terbaik untuk Umi dan adik-adiknya namun apa daya, gajinya hanya cukup untuk membeli bahan makanan seadanya setelah dipotong untuk membayar kontrakan, sekolah dan lain-lain.


"Mi, uangnya yang kemaren Fira kasih dari lomba itu di pakai aja kalo memang Umi butuh," kata Fira kini sambil mengambil nasi bergantian dengan sang adik.


"Jangan Mi, itu untuk pendidikan adik-adik. Umi kalo butuh apa-apa lagi bilang Izar ya?" jawabnya terlihat begitu tegas.


"Nggak papa Mas," kata Fira.


"Nak, sudah sayang di bahas nanti. Sekarang kita makan dulu, nggak baik berdebat saat makan begini," pinta Umi.


Mereka pun diam mengikuti perintah Umi kemudian melanjutkan makan.


Pagi pun menjelang, Usai solat subuh Umi dan ketiga anaknya bergantian membaca al-qur'an. Sungguh suasana yang menyejukan, mereka tau bagaimana menghibur luka dihati diri sendiri.


"Umi, Fira mandi dulu ya mau siap-siap sekolah," katanya Usai tadarus bersama.


"Lo sekolahnya masuk to awal puasa begini? Dek Killa juga masuk?" tanya Umi.


"Masuk Mi, soalnya minggu depan sudah PAS," kata Fira sambil masuk kamar mandi.


"PAS? Apa itu Mbak? Pernah baca di spanduk deket warung sayur kayaknya," kata Umi sambil mengingat-ingat.


"Ikutan apa Nak, Umi jadi bingung,"


"Apa sih Dek kamu nih bikin Umi pusing," Izar ikut komentar sambil melipat sarung.


Terdengar suara air dari kran dan guyuran air. Fira sudah tak menjawab lagi, mungkin tak mendengar.


Killa yang sibuk dengan tugasnya pun akhirnya angkat bicara.


"Umi, Mas Izar ... jadi PAS itu artinya Penilaian Akhir Semester, itu istilah baru dalam dunia pendidikan. Istilah yang dulu namanya UAS atau Ulangan Akhir Semester. Kalo waktu Mas Izar dulu namanya UTS-UAS sekarang diganti singkatannya jadi PTS-PAS," kata Killa sambil tersenyum.


"Oalah, Umi pikir yang di spanduk itu," kata Umi masih sambil tersenyum mengusap pipi Syakilla.


"Kalo yang di spanduk itu bekas kampanye kemaren Mi," kata Izar.


"Sekarang juga masih heboh kok Mas, masing-masing timses paslon pada klaim kemenangan. Gitu kemaren yang Killa baca di koran pas di sekolahan."


"Kan memang begitu Dek, namanya juga tim kemenangan pasti mengunggulkan yang didukung." Umi tertarik juga dengan obrolan ringan kedua anaknya.


"Halah, Siapapun presidennya kalo kita nggak menjalankan perintah Allah dan menjahui larangannNYA nggak akan masuk Surga," celoteh Izar sambil memainkan ponselnya.


"Yaiyalah Mas, itu presiden kerjaannya ngurus negara bukan jagain pintu surga," jawab Fira sambil keluar kamar mandi.


Umi nampak bahagia, lambat laun pelan tapi pasti ketiga anaknya sudah mulai menerima keadaannya saat ini. Bahkan pagi ini mereka sudah bercanda tawa membahas politik yang masih ramai di bicarakan di dunia nyata maupun dunia maya.


Kegiatan pagi berjalan seperti biasa hingga Izar dan kedua adiknya beraktivitas di luar rumah.


Izar nampak gelisah, tubuhnya disandarkan pada batang pohon rindang di samping sekolah. Pandangannya kosong, disela-sela waktu istirahat kerja ia kembali memikirkan masalah keluarganya. Ramadhan ini kebutuhan semakin banyak sedangkan gajinya hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari.

__ADS_1


Izar menatap ponselnya, ia membuka akun whatsapp dengan pemberitahuan hingga 500-an sebab tak pernah di buka olehnya selama ini. Kali ini ia rindu dengan kegiatan di kampusnya. Abizar begitu merindukan dirinya sebagai mahasiswa. Tangannya menyentuh layar ponsel hingga grup kelas itu kini terbuka juga.


Ia mulai membaca satu persatu pesan yang di tulis oleh teman-teman sekelasnya.


"Pak Han masuk jam 2,"


"Tugas deadline hari kamis ya gaes,"


"Woiii masuk udah di tunggu dosen,"


Kalimat-kalimat seperti itu yang ia temukan di grup kelasnya, hatinya semakin rindu dengan suasana perkuliahan namun apalah daya keadaan tak memungkinkan ia kembali ke kampus itu. Ia tak kuasa membaca candaan teman-temannya di grup, tak terasa air matanya menetes. Kerinduan itu benar-benar menyayat perasaannya.


"Abizar menyimak," celoteh salah satu teman kuliahnya.


"Izar apa kabar? Kemana aja nggak pernah ngampus?"


"Assalamualaikum Abizar,"


"Izar, sibuk apa kau disana?"


Sederet pesan masuk hampir bersamaan di grup kelas itu menyambut Abizar yang tak sengaja membuka grup whatsapp kelasnya itu. Ternyata teman-teman pun masih menyambut baik dirinya.


Ia menarik nafas panjang sebelum menyusun kata untuk membalas sapaan teman-temannya di grup. Sesaat tangannya mulai menyentuh tombol-tombol keyboard di ponselnya.


"Waalaikumsalam, teman-temanku semua. Alhamdulilah kabar baik, semoga lancar kuliahnya ya maaf Izar belum bisa gabung lagi bareng kalian. Salam rindu buat kalian ," balasnya membuat sederet pertanyaan di lontarkan oleh teman-temannya namun ia memilih bungkam dan tidak menjelaskan pada mereka apa yang sebenarnya terjadi.


"Ah ..." desahnya sambil mematikan paket data internetnya.


Izar segera berdiri sebelum larut dalam suasana hatinya. Ia kembali meraih sapu yang di letakkan di dekat kakinya. Sambil menyapu halaman ia kembali memikirkan biaya tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Sebentar lagi Idul Fitri, baginya pakaian baru bukan sebuah prioritas tapi untuk kedua adiknya sangat penting. Tak mungkin Izar tidak mengusahakannya untuk Syafira dan Syakilla terlebih jika ia bisa membelikannya untuk Umi, tapi dengan cara apa ia bisa mendapatkannya?


"Zar, kok ngelamun sih," protes rekan kerjanya.


"Hhh ... nggak kok,"


"Ada apa? Cerita sih," pinta temannya itu.


"Ada lowongan kerja tambahan nggak buat persiapan Lebaran," jawabnya serius.


"Emang kamu nggak capek mau cari kerja lagi, aku aja kalau udah pulang dari sini badannya pegel-pegel semua," celoteh teman kerjanya itu.


"Nggak papa yang penting kebutuhan terpenuhi," jawab Izar pada temannya.


"Subhanallah, calon suami idaman wanita ini," godanya lagi.


"Husss ... suami suami apaan, masih jauh. Gimana ada nggak?"


"Ntar aku kabari kalo ada, biasanya ditempat kerja adikku butuh tenaga packing menjelang lebaran gini karena orderan terlalu banyak. Kontrak kerja cuma sebulan aja sampai libur lebaran,"


"Wah boleh tu, tapi yang nggak ninggalin kerjaan ini lo ya,"


"Yaiyalah, kalo kamu keluar dari sini apakabar badanku ini kerja sendirian du sekolah sebesar ini,"


"Lebay deh, padahal masih ada 4 karyawan lain disini,"


"Masing-masing kan sudah punya area sendiri," kata temannya sambil berlalu menjauh dari Izar dengan membawa pembersih kaca.


Dari percakapan dengan teman kerjanya, ada setitik harapan di benak Izar, meski tubuhnya akan terasa begitu lelah namun ia sangat butuh pekerjaan tambahan ini.


Kini, ia bekerja sambil memikirkan bagaimana caranya bicara dan meminta ijin pada sang ibu.

__ADS_1


"Umi pasti melarang," batinnya sambil terus menyapu halaman dibawah terik matahari siang ini.


__ADS_2