
Azan subuh terdengar samar-samar, Umi dan ketiga anaknya sudah bangun sejak 10 menit sebelumnya karena bunyi alarm dari ponsel Abizar. Mereka segera solat berjamaah.
"Mbak Fira habis ini masak sama Adik ya, kan sekolahnya libur," kata Umi sesaat setelah selesai solat.
"Umi mau kemana?" tanya Syakilla.
"Nggak kemana-mana Sayang, biar gadis-gadisnya Umi ini pada pinter masak kalau sudah menikah nanti," kata Umi sambil mengusap kepala putrinya.
"Mi, Izar tidur lagi ya, nanti bangunkan jam 7," pinta anak lelakinya.
"Lo emang Mas Izar kerja? Kan udah liburan sekolah," kata Fira memprotes.
"Kan Fira yang libur, di sekolahan ada kegiatan pendaftaran." Izar menjawab sambil menjatuhkan tubuhnya di dekat Umi.
"Oh iya deng," jawaban Fira dengan tersenyum.
"Geser sini Mas, Umi pijitin," kata Umi meminta Izar mendekat.
"Punggungnya Mi, pegel banget." jawab Izar sambil memegangi punggungnya.
Umi segera memijat punggung putra kesayangannya. Hanya dengan cara begitu Umi bisa meringankan beban berat anak lelakinya itu.
"Ayo Mbak segera masak, nanti Mas Izar gak bisa bawa bekal kalo kesiangan."
"Siap Umiku," jawab Fira sambil berjalan mendekati tempat memasak.
Fira dan Killa sibuk mengolah bahan masakan, sesekali mereka bercanda tawa sedangkan Umi terus memijat anak lelakinya meski ia sudah tertidur pulas.
"Sayang jangan keras-keras, Mas Izar nanti kebangun," Umi mengingatkan.
Fira dan Killa pun menurut, mereka menghentikan canda tawanya.
Setelah sarapan sudah siap, Umi segera membangunkan Abizar untuk sarapan kemudian ia segera mandi dan bersiap untuk berangkat kerja.
Hari pertama di bukanya penerimaan peserta didik baru, membuat Izar lebih sibuk dengan kerjaannya di banding hari biasa.
Ratusan pendaftar beserta pendampingnya memenuhi aula sekolah.
Hanya satu yang Izar bayangkan sambil mengelap kaca jendela di depan pintu utama sekolah, setelah pendaftaran di tutup dzuhur nanti, pastilah aula menjadi lebih kotor dari biasanya melihat banyak anak kecil lalu lalang membawa aneka macam makanan dan minuman memasuki aula mendampingi calon peserta didik baru.
"Belum mulai kerja udah pegel-pegel duluan rasanya," celoteh salah satu rekan kerjanya melihat ice cream yang terjatuh di lantai kemudian terinjak oleh orang yang lalu lalang.
"Begitulah cara kita tetap mendapatkan uang Mas," jawabnya sambil tertawa meledek.
Izar kembali dengan pekerjaannya sedangkan rekannya tadi membersihkan bekas tumpahan ice cream di lantai depan aula.
Sesaat berlalu, Abizar terkejut dengan suara seseorang.
"Maaf Mas, mau tanya," kata wanita di belakang Izar.
Seketika ia menoleh, betapa terkejutnya Izar melihat siapa yang menyapanya.
"I ... Ibu ... " kata Izar terbata.
Beliau yang berada di hadapannya adalah Bu Halimah, salah satu dosen favoritnya di kampus.
"Lo Abizar kan? Kamu kerja disini?" tanyanya dengan raut wajah heran.
"Iya Bu,"
"Pantesan nggak pernah masuk kuliah Ibu," jawabnya dengan menatap mahasiswanya itu.
"Ada apa Nak? Kenapa tiba-tiba Abizar berhenti kuliah? Bukanya .... " Bu Halimah menggantung ucapannya namun sepertinya ia tau arah pembicaraan dosen cantik itu.
"Ceritanya panjang, Bu. Oh iya Ibu tadi mau tanya apa?" tanya Izar mengalihkan pembicaraan.
"Saya mau tanya ruang pemeriksaan kesehatan dimana ya?"
"Ibu lurus aja, sampai ujung jalan ini nanti belok kiri, tes kesehatan ada di ruang 9 tapi sebelumnya ambil antrian dulu di aula," jawab Izar mengarahkan dosennya yang terlihat menggandeng anak lelakinya.
"Terima kasih Mas, oh iya saya tunggu Mas Izar di kampus untuk kejelasan kuliahnya bagimana," kata beliau tegas.
Tanpa jawaban pasti, Izar hanya tersenyum. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia masih ingin melanjutkan pendidikan namun sepertinya ia harus mengubur harapannya itu demi kelangsungan hidup ketiga wanita yang begitu ia cintai di rumah.
Waktu berlalu, kegalauan Izar semakin menjadi setelah pertemuannya dengan salah satu dosen di kampusnya. Terlebih hari ini Izar sengaja menghindari beberapa mahasiswa yang ia kenal sedang mengantar kerabatnya mendaftar di sekolah tempat Izar bekerja.
"Betapa beruntungnya kalian yang masih bisa merasakan nikmatnya pendidikan," batin Izar menatap beberapa pemuda mengenakan almamater sebuah Universitas yang bercanda tawa di caffe dekat jalan raya saat ia berjalan pulang dari tempat kerjanya sore ini.
Menjelang malam Izar merebahkan tubuhnya di dekat Syafira dan Syakilla yang sedang membaca al qur'an setelah solat Isya tadi. Bayangannya menerawang jauh tentang kerinduan dengan dunia pendidikan. Entah apa yang membuat ia rindu untuk kembali menjadi mahasiswa.
"Mas," panggil Umi pelan.
"Iya Mi," jawabnya menatap mata teduh Uminya.
"Kenapa?" tanya Umi berbisik di telinga putranya sebab Syafira dan Syakilla sedang mengaji.
Izar hanya menggeleng sambil menggenggam tangan Uminya sesekali ia menciumi tangan wanita kesayangannya itu.
__ADS_1
Baru saja kedua gadis cantik itu selesai membaca al qur'an terdengar seorang mengetuk pintu rumahnya.
Syafira segera berdiri sebab Abizar sedang bersandar manja di pangkuan Uminya.
Ia terkejut melihat siapa yang datang kerumahnya malam ini.
"Ada apa?" kata Syafira ketus di depan pintu.
"Fira ... Sayang, siapa yang datang Nak? Suruh masuk," kata Umi melihat putrinya menyapa di depan pintu.
"Nggak perlu Mi," jawabnya ketus membuat Umi penasaran.
Umi segera beranjak mendekati putrinya dan beliau pun tak kalah kaget dengan seorang yang bertamu di rumahnya.
"Abizar ada?" katanya menanyakan pada Umi dan Syafira.
"Ada, silahkan masuk," kata Umi sambil mengalihkan pandangan.
"Jangan, di teras aja. kamarnya sempit nanti gerah," jawab Syafira masih ketus.
"Nak,"
"Sudah nggak papa, panggilkan Abizar saja."
"Mas Izar sini Nak," panggil Umi pelan.
Izar pun berdiri menuju pintu bersama dengan Syakilla karena penasaran siapa yang datang.
"Abi ... " kata Izar dan Killa bersamaan.
"Abi mau bicara Nak," kata Umi menatap putranya.
"Silahkan masuk Bi,"
"Jangan," cegah Fira lagi.
"Fira! Nggak boleh begitu, nggak sopan," kata Izar tak sengaja membentak adiknya.
Fira terdiam, butiran bening di matanya mengalir tanpa bisa dicegah lagi. Selama ini gadis itu tak pernah sekalipun di bentak oleh Abizar.
Fira langsung memeluk Umi dengan suara isakan yang tak tertahan lagi. Umi menyambut pelukan putrinya dan membawa masuk bersama Syakilla sedangkan Izar bercakap dengan Abi di teras rumah.
"Fira Sayang, maafkan Mas Izar ya Nak. Mas nggak sengaja membentak Syafira," kata Umi sambil menempelkan bibirnya di pipi Syafira yang basah oleh air mata.
Fira tak menjawab ia tetap dengan isakannya. Umi kembali memeluk gadis cantik itu. Hatinya berdebar, apa yang sedang di bicarakan oleh anak lelaki dan mantan suaminya itu.
"Dek Killa keluar Sayang, temani Mas Izar ya," pinta Umi.
"Syakilla Sayang ... cantiknya Umi," pinta Umi memohon.
Kila pun beranjak mendekati Abizar.
Terdengar Abi sedang berbicara dengan Izar.
"Sayang," kata Izar menyambut adik bungsunya.
Tanpa di minta, ia mencium tangan Abinya meski dalam hati sebenarnya ia tak ingin melakukan kemudian ia duduk di samping Abizar.
Abi pun melanjutkan percakapannya.
"Tadi Abi ketemu Dosen Izar di bank tempat kerja Abi, di depan teman-teman Abi Dosen tanya kenapa Izar nggak pernah masuk kuliah? Jangan bikin Abi malu, apalagi sekarang malah kerja di sekolah Fira, apa maksudnya?" kata Abinya tegas.
Izar menarik nafas panjang, Syakilla hampir saja menjawab namun di tahan oleh sang kakak.
"Maaf Bi, kalau Izar bikin malu Abi. Jauh di lubuk hati yang terdalam Izar pun ingin kembali melanjutkan pendidikan namun bagi Izar, Umi dan adik-adik Izar lebih penting dari sekedar pendidikan Izar."
"Apa maksudmu?" kata Abi berubah ekspresi.
"Kalau Izar tetap kuliah, Izar nggak bisa kerja terus bagaimana dengan Umi dan adik-adik bisa makan dan tetap sekolah?" Izar membantah dengan sopan.
"Apa uang yang Abi kirim tidak cukup? Jangan bikin malu kamu," katanya keras membuat Umi dan Fira keluar dari dalam.
"Abi kirim uang kemana? Umi, Fira dan Killa bisa makan sama sekolah sampai sekarang karena hasil kerja keras Mas Izar, tidak ada hubungannya dengan uang Abi," jawab Fira kini sudah tidak menangis lagi.
"Setiap bulan Abi kirim uang ke rekening Abizar dan cukup buat biaya sekolah kalian bertiga," katanya masih mempertahankan keyakinannya.
Dengan lembut Umi menjawab,
"Coba Mas tanyakan pada istrinya, semua ATM kami sudah kami tinggal di rumah Mas saat kami meninggalkan rumah. Istri Mas yang meminta demikian," jawabnya lembut sambil memeluk Syafira.
Abi terdiam, ia tak pernah tau tentang itu.
"Sudahlah Bi, biarkan kami bahagia dengan cara kami sendiri. Kehadiran Abi hanya akan membuka kembali goresan luka di hati kami. Killa sudah ihklas dengan takdir ini," kata Killa mengagetkan Umi.
"Izar menikmati kegiatan ini Bi, kalau memang istri Abi tidak berkenan untuk Abi menafkahi kami sudah nggak papa, insyaallah Izar masih sehat dan kuat bekerja untuk Umi dan adik-adik," kata Izar kembali mengagetkan Uminya.
Sungguh, hati Umi bergetar mendengar jawaban putra-putrinya. Air matanya hampir saja menetes namun Umi mampu menahan di hadapan mantan suaminya.
__ADS_1
Usai berbincang, Abi meninggalkan rumah kontrakan anak-anaknya. Lagi-lagi ia meninggalkan goresan luka di hati ketiga anaknya.
Malam semakin larut, Umi dan ketiga anaknya masih terjaga. Mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Sayang, maafin Mas Izar ya tadi nggak sengaja bentak Fira," katanya sambil memeluk adiknya dari belakang.
Fira hanya terdiam meski ia membiarkan sang kakak memeluknya.
"Dek," panggil Izar kini menciumi rambut Fira.
Fira tak juga menjawab, namun air matanya kembali menetes. Terlihat Umi sedang memeluk Syakilla.
"Fira Sayang, jangan menangis lagi Nak," kata Umi mengusap air mata putrinya.
Izar segera bangun, ia merasa bersalah telah membentak gadis cantik itu.
"Mas Izar minta maaf Dek," katanya lagi masih membelai kepala Syafira.
"Fira nggak marah kok sama Mas Izar," katanya setelah bangun dan duduk di samping sang kakak.
"Fira kenapa menangis, Sayang?" tanyanya lagi.
"Fira nggak habis fikir kenapa Abi sama sekali tidak merasa bersalah seperti tadi," katanya sambil memainkan tangan sang kakak.
"Sudahlah Mbak, nggak usah di bahas lagi Sayang," pinta Umi dengan lembut.
"Seperti yang Mas Izar bilang, Mas akan bekerja untuk kalian. Meski tanpa Abi, Mas akan membuat Umi dan kalian berdua bahagia," kata Izar menatap mata Syafira.
Fira tersentuh hatinya, meski sejujurnya ia tadi sempat marah pada kakak yang tak sengaja membentaknya namun ucapan Izar sesaat lalu sungguh meluluhkan kemarahannya.
"Umi ...."
"Ada apa cantik?" jawab Umi sambil mendekati putrinya.
"Kenapa Umi bisa begitu baik sama Abi, padahal Abi sudah menyakiti hati Umi," tanya Fira.
Killa pun ikut penasaran dengan pertanyaan kakaknya, ia yang hampir terlelap pun kembali duduk mendengarkan jawaban Uminya.
"Lalu Umi harus bagaimana Nak? Kalau Umi membalas sikap buruk Abi berarti apa bedanya Umi dengan Abi?" jawabnya lembut.
"Umiku ...." kata Killa langsung memeluk Uminya.
Suasana kembali hening, Umi mampu menyulap kesedihan di hati putra-putrinya menjadi sebuah senyum meski tak di pungkiri hanya senyum palsu yang mereka tunjukkan.
"Yang kuat ya Nak, sabar dan ihklas dengan takdir Allah ini, semoga akan ada kebahagiaan setelah ini,"
"Amin," jawab ketiga anaknya kompak.
"Kalian belum ngantuk? Sudah malam ini," kata Umi.
"Belum Mi," jawab Syafira.
"Mas Izar pasti capek kan seharian kerja, sini Mas Umi pijitin," katanya meminta sang putra mendekat.
Izar segera mendekat kemudian merebahkan tubuhnya di depan Umi. Seperti biasanya tangan lembut wanita kesayangannya itu menjadi penghantar tidurnya. Sentuhan pada tubuhnya benar-benar terasa nikmat.
"Mas, denger-denger tenaga kebersihan sekarang sistemnya kontrak ya," tanya Fira saat sang kakak sedang menikmati pijatan Uminya.
"Iya Dek," jawabnya tak menoleh.
"Berapa bulan?" tanyanya lagi, ada rasa khawatir dalam hatinya.
"6 bulan Sayang,"
Sejenak Fira terdiam, ia menghitung-hitung masa kerja kakaknya.
"Berarti Oktober nanti Mas selesai dong kerja di sekolah Fira, terus gimana Mas?"
"Iya nggak gimana-gimana. Kalo di perpanjang ya syukur alhamdulilah kalo enggak ya cari kerjaan baru," jawabnya santai seolah tak ada beban padahal sebenarnya sejak sekarang pun ia sudah memikirkan tentang itu.
"Cari kerjaan kan susah Mas," Killa ikut berkomentar sambil ikut memijat tangan kakaknya.
"Pasti ada rezeki untuk hambaNYA yang benar-benar berusaha Sayang, iyakan Mi," Izar menenangkan kekhawatiran adik-adiknya.
"Insyaallah Mas,"
"Apa Killa pindah sekolah saja Mas, sekolahan Killa kan terkenal mahal," jawab Killa mulai bernegosiasi.
"Kualitasnya pun tidak di ragukan," Izar menjawab dengan senyuman.
"Tapi kan Killa sudah tidak seperti dulu lagi, gak papa kok Mas kalo Killa pindah sekolah."
"Insyaallah akan ada rezeki untuk orang yang menuntut ilmu kata dosennya Mas Izar dulu, biaya sekolahnya sudah lunas semua kan Dek untuk sekarang?" tanya Izar.
"Udah, tapi kan Mas kemaren sampai kerja di dua tempat. Maksudnya mumpung tahun ajaran baru kan bisa di urus dulu," Killa tetap mempertahankan keinginannya.
Umi tak berkomentar, benar juga yang di katakan Killa. Ia memang sekolah di sekolah swasta yang terkenal mahal di daerahnya. Kualitasnya pun jauh lebih baik namun mengingat ekonominya sekarang, sekolah disitu bukan pilihan yang tepat.
__ADS_1
"Sudah ya, Killa sayang ... Mas udah fikirkan semuanya. Tugas kalian hanya belajar dan doakan Mas Izar agar diberi kesehatan biar lancar kerjanya. Insyaallah ada jalan," jawabnya menenangkan tiga perempuan yang mengelilinginya.
Killa tersenyum di hadapan Uminya sedang Fira langsung mengecup kening kakaknya itu.