Hidup Adalah Perjuangan

Hidup Adalah Perjuangan
Tulang Punggung Keluarga


__ADS_3

Udara malam ini lumayan dingin, diluar terdengar hembusan angin sangat kencang sepertinya akan turun hujan.


"Alhamdulilah, Mas Izar sudah pulang. Umi khawatir kayanya mau hujan," kata Umi sambil mendekat pada Izar.


"Izar baik-baik saja, Umi nggak perlu khawatir," jawabnya sambil memegang tangan Uminya.


"Mas, katanya sebentar kok udah malam baru pulang," tanya Syakilla yang kini duduk di hadapannya.


"Iya, Mas tadi ketiduran di masjid habis solat magrib," jelasnya pada adek bungsunya.


"Ya Allah anak Umi sampai ketiduran di masjid begitu, capek ya Mas? Mau Umi pijitin?" tanya Umi sambil menyentuh pundak Izar.


"Enggak kok Mi, Izar nggak capek."


"Makan Mas, Umi goreng telur dadar. Adik-adik udah makan tadi bareng Umi," jelas Umi pada putranya.


"Iya Mi, nanti Izar ambil sendiri."


"Dek, besok pagi kalian sekolah ya sudah lama nggak masuk loh," pinta Izar pada kedua adiknya.


"Males ah Mas," kata Syafira sambil memeluk Uminya.


"Lo kok males sekolah sih, yang semangat dong. Syafira kan anaknya Umi yang paling sering jadi juara di sekolah, Mas Izar aja kalah jauh," kata Izar pada adeknya.


"Betul kata Mas Izar Nak," sambung Umi.


"Coba deh Mas sama Umi bayangin, Fira harus satu kelas sama Bella yang sekarang gantikan posisi Fira sebagai anaknya Abi, Sakit lo Mas rasanya," kata Fira dengan terus memeluk Umi.


Umi terdiam, mendengar ucapan putrinya itu membuat hati Umi kembali tersayat. Jika ia satu-satunya yang tersakiti oleh Abi maka ia akan terima namun ternyata hal itu berdampak pula pada ketiga anaknya, terutama Fira.


"Mi, Umi ... maaf Fira bikin Umi menangis," kata Fira sambil mengusap air mata Uminya.


"Bukan Fira yang salah Nak, Fira nggak salah. Maafkan Abi ya Nak," kata Umi sambil berkaca-kaca.


Syakilla yang sedari tadi tiduran di pangkuan Izar pun ikut berkaca-kaca namun gadis kecil itu terlihat sangat kuat. Ia langsung menghapus butiran air mata yang menetes di pipinya sebelum Umi dan kakaknya melihat.


"Justru karena itu Dek, Fira buktikan bahwa Fira mampu bertahan meski keadaan sudah tidak seperti dulu lagi. Fira bisa meski tanpa Abi, percayalah Dek. Fira anak yang kuat," kata Izar terus memberi semangat adiknya.


"Mas Izar juga besok berangkat kuliah?" tanya Syakilla.


"Iya besok Mas berangkat, tapi bukan ke kampus," jawabnya sambil tersenyum.


"Mas mau kemana?" timpal Fira.


"Kerja."


"Kerja apa Mas?" tanya Umi pada putranya.


"Sama Mas Huda, Mi," jawabnya pelan.


"Huda anaknya Pak Minto itu?" tanya Umi memastikan.


"Iya Mi, tadi pas jalan pulang Izar ketemu sama Mas Huda,"


"Setahu Umi, Huda kan kerja di proyek Mas. Apa Mas Izar kuat, itu pekerjaan berat Nak," kata Umi memelas.


"Dicoba dulu Mi, sambil masukin lamaran."


"Terus kuliahnya Mas gimana?" tanya Syakilla.


"Nanti gampang, yang penting kalian tetep bisa sekolah," kata Izar pada adiknya.


"Padahal Mas kan cita-citanya punya gelar sarjana," kata Umi sambil mengusap kepala Izar.


"Nah itu dia, Fira dan Killa harus janji bisa mewujudkan cita-citanya Mas sama Umi," kata Izar dengan semangat.


"Ya Mas, Fira besok pagi sekolah. Fira janji akan belajar lebih giat untuk mewujudkan cita-cita Umi dan Mas Izar" kata Fira.


"Syakilla juga."


"Subhanallah, anak-anak Umi. Terima kasih ya Nak, kalian memang obat dari segala sakit yang Umi rasakan."


"Kita mulai semua dari awal ya Mi, sudah jangan ada kebencian. Jangan lagi ada air mata, jangan lagi bersedih. Kalo Abi bisa bahagia tanpa kita maka kita pun harus demikian," kata Izar sambil memeluk Syakilla.


"Tapi ingat, bagaimanapun keadaannya itu tetap Abi kalian. Kalian nggak boleh membenci Abi,"


"Siap Mi," jawabnya kompak.


Entah bagaimana perasaan mereka sesungguhnya, yang pasti malam ini mereka mencoba saling menguatkan. Meski tak dipungkiri hanya senyum palsu yang mereka hadirkan di tengah-tengah suara rintik gerimis malam itu.


Pagi pun tiba, azan subuh berkumandang, Umi segera membangunkan ketiga anaknya yang tidur sangat nyenyak meski hanya beralaskan tikar saja. Dengan wajah yang terlihat masih mengantuk mereka mengambil air wudhu. Sayang kontrakannya jauh dari masjid atau mushola dan Izar tidak memiliki alat transportasi. Motor yang biasa ia gunakan dulu tidak boleh di bawa oleh Abi sehingga ia solat berjamaah dirumah bersama Umi dan adik-adiknya.


Usai solat, mereka melipat mukena masing-masing sedangkan Izar langsung berjalan mencari tas punggungnya untuk mengambil dompet.


"Umi, ini ada sedikit untuk beli beras dan lauk. Semoga cukup," kata Izar memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan.

__ADS_1


"Insyaallah cukup, Mas... Umi malu sama Mas Izar," katanya sambil menatap anak laki-lakinya itu.


"Kenapa Mi?"


"Harusnya Umi yang penuhi kebutuhan kalian bukan malah sebaliknya."


"Sudahlah Mi, nggak usah begitu. Izar nanti laper kalo Umi nggak segera masak," jawabnya sambil bercanda.


"Mas Izar bisa aja, mau dimasakin apa Mas?" tanya Umi.


"Apa aja yang penting pakai nasi."


"Ini anak bikin Uminya senyum pagi-pagi." kata Umi sambil mengecup pipi Izar.


Umi pun beranjak dari tempat duduknya, membuka pintu dan jalan keluar menuju warung belanjaan sedangkan kedua adiknya sibuk dengan segala aktivitasnya sebelum berangkat sekolah.


Sepulangnya Umi dari warung, ia langsung mengolah sayuran yang dibelinya tadi. Satu ruangan yang tak terlalu besar itu menjadi heboh ketika semua kegiatam dilakukan di tempat itu semua.


"Mas sama adik-adik makan ya ini udah mateng sayurnya," kata Umi melihat ketiga anaknya sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


"Iya Mi," jawabnya tak menoleh.


"Umi masak sayur sop sama tempe goreng, tapi piring sama sendoknya cuma 1 Nak," kata Umi sambil memegang sendok.


"Suapin," jawabnya kompak tanpa komando.


Umi tersenyum sambil mengambil nasi yang baru saja matang dan menuangkan sayur di piring kemudian bergantian menyendokkan makanan untuk anak-anaknya.


"Mas besok kalo udah punya uang nggak usah beli piring lagi ya," celoteh Fira sambil memakai kaos kaki.


"Kenapa begitu?" tanya Umi heran.


"Biar kita maemnya di suapin terus sama Umi," jawab Killa sambil tersenyum.


"Kalian ini ada-ada saja," kata Umi sambil menggelengkan kepala.


"Umi nggak mau suapin kita?" tanya Izar.


"Mau Mas, kalian itu segalanya buat Umi,"


Suasana pagi ini terasa hangat, ditemani canda tawa ketiga anaknya membuat semangat hidup Umi kembali lagi. Ia sedikit lupa akan kejadian menyakitkan yang dialaminya dengan sang suami.


"Umi kita berangkat ya," kata Fira kemudian mencium tangan Umi dan Iza bergantian.


"Sekolah yang rajin ya Dek," kata Izar sambil mengusap-usap kepala adik bungsunya yang tertutup jilbab berwarna putih.


"Mas berangkat jam berapa nanti?" tanya Umi pada Izar.


"Nanti Mi, jam 7.40 mau di jemput Mas Huda di gang depan," jawab Izar sambil membuka buku kuliah yang ia bawa.


"Harusnya hari ini Mas Izar berangkat kuliah," kata Umi sambil mendekati putranya.


"Sudahlah Mi, Izar ihklas melakukan semua ini, yang penting Umi bisa senyum lagi seperti dulu," kata Izar sambil menatap Uminya.


"Terima kasih Mas, Maafkan Umi dan Abi belum bisa jadi orang tua yang baik untuk kalian," jawab Umi sambil menyadarkan kepalanya di pundak Izar.


"Iya Mi, sudah ya Umi jangan sedih lagi. Izar berangkat sekarang aja biar Mas Huda nggak nungguin," katanya berpamitan.


Umi langsung berdiri dan mengantarkan putranya ke depan pintu.


Hatinya sungguh pilu melihat putra satu-satunya harus berjuang untuk keluarga. Tak banyak yang bisa Umi lakukan, terlebih Izar memang mewanti-wanti agar Umi tidak sampai mencari pekerjaan.


Setibanya di lokasi proyek pembangunan sebuah rumah, Izar terdiam sejenak. Ia tak yakin bisa melakukan pekerjaan yang hanya ia saksikan di siaran televisi kala itu.


"Izar beneran mau jadi kuli bangunan?" tanya Huda meyakinkan kembali mengingat ia tumbuh dan besar di kalangan keluarga berada.


"Insyaallah yakin, Mas."


"Yasudah kalo gitu pindahkan batu bata itu kedalam ya," perintah Huda sambil menunjuk tumpukan batu bata yang baru datang dari mobil pickup.


Disaat Izar sedang berjibaku dengan beratnya pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya untuk dilakukan, sang adik Syafira justru sedang menahan perih di hati melihat teman sekelasnya Bella. Ia masih terbayang bagaimana mungkin ia kini bisa menjadi anak dari orang yang telah meninggalkannya. Terlebih ia melihat Bella dengan segala kemewahan yang pernah ia miliki dulu sedangkan dirinya sekarang, untuk sekedar membeli snack pun harus berfikir dulu sebelum melakukannya.


"Ya Allah adilkah semua ini?" batin Fira dengan mengusap air mata yang tak sengaja menetes saat jam istirahat.


"Fira yang kuat ya, semoga Allah membalas ketabahan hati Fira dan keluarga," kata teman sebangku Fira yang sudah tau apa yang terjadi pada kawannya itu.


Sore pun tiba, Syafira dan kedua adiknya sudah pulang setelah azan asar tadi, sedangkan Izar baru sampai rumah tepat pukul lima sore.


"Assalamualaikum," kata Izar dari depan pintu.


"Waalaikumsalam," jawab Umi dan adiknya kompak.


"Izar mandi dulu ya Mi," katanya langsung menuju kamar mandi.


Umi segera menyiapkan baju ganti untuk putranya yang terlihat sangat kelelahan itu.

__ADS_1


"Mas bajunya udah Umi siapkan di depan kamar mandi ya," teriak Umi dari luar.


"Iya Mi, terima kasih."


Usai mandi Izar melihat kedua adiknya bergelayut manja di pangkuan Umi.


"Awas-awas gantian," kata Izar menjatuhkan tubuhnya di hadapan Umi.


Sontak kedua adiknya segera bergeser. Dengan lembut Umi membelai kepala Izar yang berada di pangkuannya.


"Umi ..." kata Syafira melihat Umi sedang membelai lembut kepala Izar.


"Iya sayang, sebentar ya gantian Mas Izar," kata Umi lembut pada putrinya.


"Mi, Fira sebel deh," katanya sambil memainkan jemari Uminya.


"Ada apa sayang?"


"Masa motornya Mas Izar di bawa sekolah sama Bella, terus cincinnya Fira juga di pakai sama dia," katanya mengadu pada Umi.


"Bukan punya kita, itu yang beli bapaknya Bella," celoteh Izar.


"Kan Abi,"


"Iya, Abi kan bapaknya Bella sekarang," kata Izar menatap adiknya.


Fira pun manyun di hadapan Izar, Umi tak kuasa menahan air mata yang akhirnya menetes tepat di wajah Izar yang berada di pangkuannya.


"Umi ... Izar kan udah bilang, Umi jangan nangis lagi," katanya langsung menghapus air mata di pipi Uminya.


"Iya Mi, nggak usah nangis lagi. Fira sudah ihklas kok, nanti Allah gantikan berlipat-lipat, insyaallah."


"Amiiin," jawab Syakilla yang sedari tadi duduk di samping Umi.


"Solat dulu Mi, sudah magrib," kata Izar bangun dari pangkuan Uminya.


Mereka pun solat berjamaah beralaskan tikar yang di pakainya juga untuk alas tidur. Usai solat, Izar langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tikar. Bayangannya menerawang jauh tentang kegiatannya hari ini.


Seharian penuh ia bekerja keras, mengangkat bahan-bahan bangunan sampai badannya terasa pegal semua dan hanya mendapat upah sebesar 60 ribu, padahal kala itu, sekali ia masuk cafe mungkin bisa mengeluarkan uang dua sampai tiga kali lipat meski tidak terlalu sering ia melakukan hal itu.


Tak terasa air matanya kembali menetes, baru hari ini ia merasakan beratnya perjuangan untuk mendapatkan sedikit uang untuk memenuhi kebutuhannya.


"Mas, makan dulu yuk," kata Umi membuyarkan lamunannya.


Izar segera menyeka air mata dan menutup wajahnya dengan tangan agar Umi tak sampai tau.


"Nanti Mi," katanya tak menoleh.


"Ayo Mas makan dulu," panggil Syakilla.


"Kalian makan dulu, Mas belum laper," jawabnya.


Mereka segera mengambil makan sedangkan Umi berjalan mendekati Izar.


"Mas capek banget ya,?" tanya Umi sambil menyentuh punggungnya.


"Iya Mi, badan Izar rasanya kaya habis di pukulin orang sekampung," jawabnya sambil menengok wajah Uminya.


"Kalo nggak kuat sudahan aja Mas, nanti biar Umi cari kerja apa aja. Mas Izar belajar saja," kata Umi kini sudah memijat punggung Izar.


"Nggak, pokoknya Umi nggak boleh kerja,"


"Umi nggak tega lihat Mas Izar begini, nih pundaknya merah semua begini habis angkat-angkat berat tadi kan?"


"Nggak papa Mi, besok juga terbiasa," jawabnya sambil menarik tas di hadapannya.


Umi terus memijat anak laki-lakinya itu sedangkan Izar merogoh tas untuk mengambil uang hasil kerjanya hari ini.


"Dek, ini uang jajan buat besok. Di bagi dua ya," kata Izar memberikan pecahan sepuluh ribuan dua dan satu lembar lima ribuan pada Syafira.


"Terima kasih, Mas"


"Ini untuk belanja besok Mi, semoga cukup!" kata Izar pada Uminya sambil memberikan uang dengan jumlah yang sama dengan adiknya.


"La Mas Izar gimana?" tanya Umi sebelum menerima uang dari putranya itu.


"Sudah Mi, kata Mas Huda upahnya harian. Tadi Izar di kasih 60 ribu." Katanya pada Uminya.


"Masa Mas yang kerja cuma ambil 10 ribu aja," celoteh Syakilla.


"Nggak papa Dek, Mas kan nggak ngapa-ngapain, udah di kasih makan siang juga kok disana. Nanti kalo ada sisa bisa di tabung kalian,"


"Terus bayar kontrakan bulan depan gimana Mas?" tanya Syafira polos.


"Udah kalian belajar aja, biar Mas yang pikirkan," jawab Izar cepat walaupun dalam hatinya pun bingung bagaimana cara mendapatkan uang tambahan sebanyak 400 ribu untuk bayar kontrakan bulan depan.

__ADS_1


"Insyaallah, nanti ada rezekinya sendiri ya Mi," kata Izar sambil memegang tangan Umi yang sedang memijat punggungnya.


"Terima kasih banyak Mas Izar, sudah bekerja keras untuk Umi dan adik-adik," kata Umi dengan memeluk putranya dari belakang.


__ADS_2