Hidup Adalah Perjuangan

Hidup Adalah Perjuangan
Koin Pun Sangat Berarti


__ADS_3

Pagi ini Syafira melihat sang kakak masih tertidur lelap. Nampak wajah tampan itu terlihat sangat lelah. Sore kemaren saat ia pulang dari kegiatan pramuka di sekolahnya, Syafira melihat sang kakak sibuk di kedai martabak tempatnya kerja. Begitu sibuknya Izar hingga ia tak melihat sang adik berjalan di depan kedai tempatnya kerja.


"Fira kenapa, Nak?" tanya Umi mendekati putrinya.


"Kasihan Mas Izar ya Mi, semalem pulang jam berapa?" tanya Fira pelan.


"Kurang tau Nak, Umi bangun jam 2 tapi Mas belum pulang, pas denger azan subuh Umi bangun Mas Izar sudah tidur di samping Umi," jelasnya pada Syafira.


"Mas jadi kurusan ya Mi sekarang," tanyanya lagi sambil terus menatap satu-satunya laki-laki yang ada di rumah itu.


"Iya Sayang. Mas tiap hari kerja pulang pagi terus," jawab Umi sambil mengusap rambut putrinya.


Fira kembali melamun, dua hari yang lalu saat ia meminjam ponsel sang kakak, ia tak sengaja membuka pesan dari seseorang yang memberi informasi tentang panggilan kerja ulang yang akan di tempatkan di sekolahnya. Dari pesan tersebut bisa di simpulkan jika berkenan, esok hari ia harus interview namun Izar tidak menceritakan tentang itu pada Umi ataupun adik-adiknya.


"Mbak Fira, ngelamun aja. Yuk berangkat," kata Syakilla membuyarkan lamunannya.


"Iya, iya ... ayo berangkat." Fira segera berdiri mengekor pada Killa.


Saat sang adik berangkat sekolah, Izar pun bangun kemudian mendekati Uminya.


"Mi, ini uang belanja buat besok," kata Izar memberikan sejumlah uang untuk Uminya.


"Alhamdulilah, Terimakasih ya Nak," jawab Umi sambil menatap putranya.


"Izar kenapa lagi?" tanya Umi melihat putranya lesu.


"Nggak papa Mi. Temennya Mas Faris udah sembuh, Izar semalem terakhir kerja disitu," jawabnya sambil memainkan ponselnya.


"Yasudah Nak, Insyaallah Allah sudah siapkan rejeki di tempat lain," kata Umi lembut menenangkan hati Izar.


"Amin, Umi selalu buat Izar tenang." Izar langsung memeluk Uminya dengan erat.


Seperti hari-hari sebelumnya, siang itu hanya di habiskan untuk bercanda tawa dengan Umi. Tak ada niat sedikitpun ia ingin keluar menghabiskan waktu bersama teman-temannya, meski Umi sudah memintanya.


"Lo, Mas Izar kok tumben masih di rumah?" tanya Syafira kaget saat melihat sang kakak sepulangnya sekolah.


"Iya, Mas Izar kok di rumah?" timpal Syakilla sambil mencium tangan Umi dan Izar bergantian.


"Kalian kok tumben pulang bareng?" tanya Umi heran.


"Nggak sengaja ketemu di pertigaan tadi," jawab Fira sambil meletakan tas.


"Mas Izar nggak di jawab pertanyaan Fira," protesnya pada sang kakak.


"Ganti baju dulu baru tiduran," pinta Izar menahan kepala sang adik yang akan bersandar di pangkuan Umi.


Mereka pun menurut perintah kakaknya. Usai ganti baju Fira segera menempel pada Uminya sedangkan Killa menjatuhkan kepalanya di pangkuan Izar. Sungguh pemandangan yang indah. Seperti janji Izar bahwa ia akan menjadi sosok Abi untuk kedua adiknya.


"Mas hari ini libur?" tanya Killa.


"Mas udah nggak kerja disitu lagi, pegawainya yang cuti sudah bisa kerja lagi," jawabnya sambil mengusap kepala Killa.


"Terus Mas mau kerja dimana?" tanya Fira menimpali.


"Ntar juga ada rejeki untuk kita katanya Umi. Kalian tenang ya nggak usah khawatir nanti Mas cari kerja lagi,"


Fira kembali terdiam, ia ingat sang kakak kerja bukan untuk dirinya sendiri namun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Baiknya jika Izar menerima saja tawaran kerjaan di sekolah Fira itu.


"Mi, tu anaknya ngelamun, " kata Izar pada Uminya.


"Heii anak Umi nggak boleh ngelamun." Umi menciumi pipi Syafira yang berada dalam dekapannya.


"Mas Izar kerja di sekolah Fira aja," jawabnya mendadak mengagetkan semua.


"Emangnya Fira nggak malu kalo Mas kerja di sekolah Fira?" tanya Izar pada sang adik.


"Fira nggak pernah malu kok Mas,"


"Yang bener?" goda Izar pada adiknya.


"Iya Mas, Fira tu nggak pernah malu apapun kerjaan Mas Izar, kan buat kita juga." Fira kembali tersenyum pada kakaknya.


"Kok kemaren nggak boleh Mbak?" tanya Killa yang masih berada di pangkuan Izar.


"Fira tu cuma nggak mau aja Mas Izar setiap pagi lihat Abi ke sekolah Fira nganterin anaknya. Nanti Mas Izar sedih," jawab Fira sambil menatap Umi.


"Fira nggak sedih emangnya?" Izar balik bertanya.


"Ya begitulah Mas, percuma," jawab Fira cuek.


"Fira sayang," kata Umi mengusap kepala Syafira.


"Gimana Mas? Mau diambil tawarannya?"

__ADS_1


"Kok Fira tau kalo ada tawaran lagi?" tanya Izar heran.


"He ... he ... he ... Fira nggak sengaja buka hpnya Mas Izar," katanya sambil tersenyum.


"Umi, Fira nakal tu, buka-buka hp Izar," protes Izar pada Uminya.


"Nggak sengaja kok Mas," kata Fira membela diri.


"Tetep aja,"


"Fira, besok lagi nggak boleh lancang begitu ya Nak. Saling menjaga privasi masing-masing. Fira nggak suka kan kalo punya Fira di buka Umi atau Mas Izar tanpa ijin?" kata Umi sambil terus mengusap kepala putrinya.


"Iya Mi, maaf ya."


"Kok minta maafnya sama Umi, bukan sama Mas Izar," kata Umi sambil tersenyum.


Fira segera melepaskan pelukan Uminya kemudian mendekat pada kakaknya.


"Maaf ya Mas," kata Fira di hadapan Izar.


"Maaf aja?" goda Izar.


"Terus Fira harus apa Mas?" tanyanya sambil terus menatap sang kakak.


Izar hanya diam tak mau menjawab, Fira pun semakin mendekat pada kakaknya.


"Maaf ya Mas Izar sayang," kata Fira sambil mengecup pipi Izar.


"Senengnya Umi lihat kalian begitu," kata Umi tersenyum.


"Biar Umi nggak sedih lagi, Mi," kata Syakilla memainkan tangan kakaknya.


"Kalian itu kebahagiaan buat Umi," jawab Umi.


"Jadinya Mas Izar mau kerja di sekolah Mbak Fira?" tanya Syakilla.


"Boleh di coba, demi kalian," jawab Izar sambil memeluk kedua adik cantiknya itu.


"Ya Allah, terimakasih engkau titipkan kebahagiaan lewat putra putri yang sholeh sholehah ini," kta Umi mengucap syukur.


Malam itu di lalui Izar dan keluarganya dengan canda tawa yang penuh kebahagiaan walau sebenarnya ada beban berat yang sengaja mereka lupakan untuk sesaat.


Pagi ini Abizar bersiap untuk interview di sekolah Fira. Ia berangkat bersama kedua adiknya setelah sarapan dan berpamitan pada Umi. Ketiga kakak beradik itu nampak bercanda tawa disepanjang perjalanan.


"Enggak lah Mas, kenapa harus malu? Fira bisa tetap sekolah gini pun karena kerja keras Mas Izar," jawab Fira sambil menatap sang kakak yang berjalan di sampingnya.


"Iya Mas, sekolah Killa sama Mbak Fira kan bayarnya mahal. Killa jadi kepikiran pindah sekolah yang nggak bayar aja Mas," celoteh Syakilla.


"Nggak usah Dek, biar Mas usahakan yang terbaik untuk pendidikan kalian,"


"Meskipun Mas jadi mengorbankan pendidikan Mas sendiri?" kata Fira menimpali.


"Nggak papa, pokoknya Mas akan lakukan apa saja untuk kebahagiaan Umi dan kalian," jawab Izar dengan senyuman.


Sungguh mulia sekali hati Izar, ia tak ingin kedua adiknya kehilangan apa yang seharusnya mereka dapatkan meski dengan begitu ia harus mengorbankan kepentingannya sendiri.


Tak terasa mereka sudah sampai di sekolah Fira setelah tadi di perempatan jalan berpisah dengan Syakilla sebab sekolahnya beda arah.


Usai melalui semua tahapan yang sudah di tentukan, Izar dan dua pelamar lainnya akhirnya diterima di sekolah itu. Ia pun bersyukur atas rejeki yang di berikan Allah untuk keluarga lewat kerja kerasnya.


Hari berganti, ia datang ke sekolah Fira lebih pagi dari sang adik dengan menggunakan seragam tenaga kebersihan. Di hari pertamanya ia sudah mendapat kejutan pemandangan menyayat hati. Saat ia sedang membersihkan kaca jendela sebuah ruangan ia melihat Ayahnya sedang mengantar anak dari istri barunya. Terlihat beliau begitu menyayangi gadis itu bahkan melebihi kasihnya pada anak-anak kandung yang telah di telantarkan olehnya.


"Astagfirullahalazim, kuatkan hamba Ya Allah. Sekuat hati Fira menghadapi kenyataan menyakitkan ini," batin Izar sambil terus membersihkan kaca jendela.


Hari ini di lalui dengan cukup baik. Ia melakukan pekerjaan sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 16.30 sore ini. Sesampainya di rumah ia langsung di sambut oleh Umi dan adik-adiknya. Sungguh mereka begitu memanjakan Izar.


"Capek ya Mas?" tanya Syafira sambil memegang pundak kakaknya.


"Lumayan pegel, tapi gak papa ... hanya butuh penyesuaian saja, naik turun tangga terus dari pagi," jawabnya sambil menikmati makanan yang di siapkan oleh Umi.


"Mbak Fira nggak malu kan Mas Izar kerja di sekolahnya?" tanya Umi khawatir.


"Enggak Mi, Fira justru berterima kasih sama Mas Izar yang sudah rela bekerja keras demi kita," jawab Fira sambil menempelkan wajahnya di punggung Izar.


Hari pun berlalu, mereka melaksanakan aktivitasnya seperti biasa. Hingga pada suatu hari setelah Fira mengikuti pelajaran olahraga, ia berdiri di depan kelasnya di lantai tiga bersama beberapa temannya. Fira melihat sang kakak sedang membersihkan selokan yang berada di sebelah gedung kelas Fira. Hatinya begitu tersayat melihat sang kakak melakukan hal itu. Matanya tertuju pada sang kakak yang terlihat fokus membersihkan sampah di selokan. Butiran bening dari matanya tak kuasa di bendung lagi. Disaat yang bersamaan, Bella dan beberapa temannya juga berdiri di dekat Fira dan tiba-tiba salah satu dari mereka tak sengaja menyenggol Fira hingga uang koin yang di pegangnya pun melayang bebas dari lantai tiga tempatnya berdiri.


"Astagfirullahalazim," kata Fira kaget.


Ia segera melihat dimana uang itu terjatuh, kemudian ia segera meninggalkan tempat itu.


"Fira mau kemana?" tanya temannya melihat Fira panik.


"Mau ambil uangnya Dev," katanya pada Devi teman sekelasnya.

__ADS_1


"Cuma uang koin seribuan kan?" celoteh temannya yang lain.


Fira tak peduli dengan ucapan teman-temannya, ia terus berlari menuruni anak tangga untuk mengambil uang koin seribu rupiah yang terjatuh tepat di samping pot bunga.


Setelah mendapatkan kembali uang tersebut, ia berjalan pelan menuju kelasnya di lantai tiga. Terlihat teman-temannya sedang memperhatikan dirinya.


"Fira ... Fira, kamu nggak capek lari-lari?" tanya Devi saat Fira baru saja sampai di depan kelasnya.


Ia tak menjawab, hanya senyuman yang ia perlihatkan pada teman-temannya.


"Cuma uang seribu doang sampai lari-lari begitu, biarin aja kali Fir," celoteh Bella santai seolah tak pernah terjadi apa-apa pada mereka.


Lagi-lagi Fira hanya tersenyum, kali ini senyumannya terlihat begitu bermakna.


Bella kembali dengan celotehan-celotehan yang menyindir Fira, terdengar begitu menyakitkan di telinga teman-teman baiknya.


"Mungkin uang ini nggak terlalu berharga untuk kalian tapi beda dengan Fira," katanya masih menahan air matanya.


"Tapi nggak gitu-gitu juga kali Fir," celoteh teman Bella yang lain.


"Karena kalian nggak tau bagaimana orang yang paling berarti dalam hidup Fira berjuang keras demi mendapatkan uang ini," kata Fira kini mulai meneteskan air mata.


Bella dan teman-temannya pun meninggalkan Fira dengan celotehan mengejek, sedang Fira masih bertahan di tempat itu bersama Devi.


"Sudah Fir, nggak usah nangis lagi. Kita kan tau Bella dan teman-temannya itu seperti apa," kata Devi menenangkan Fira.


"Dev, itu yang lagi di dalem selokan sana kamu tau siapa?" tanya Fira pada sahabatnya.


"Nah itu dia aku baru mau nanya, siapa ya Mas-Mas cleaning service baru itu. Sekilas wajahnya nggak asing tapi siapa gitu," kata Devi lupa-lupa ingat karena ia bertemu dengan Izar sudah beberapa tahun yang lalu dengan penampilan yang berbeda pula.


"Kamu inget Mas Izar?" kata Fira masih terus menatap sang kakak yang sedang bekerja dari depan kelasnya.


"Mas Izar? Kakak mu yang pernah anter aku pulang itu kan?" tebak Devi.


"Yah betul sekali,"


"Terus apa hubungannya dengan cleaning service itu?" tanya Devi heran.


"Itu Mas Izar, Dev ... kakakku," katanya kembali berlinang air mata.


"Ya Allah Fir, yang bener? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Devi sambil memeluk Fira.


Tanpa mereka sadari, di belakang mereka berdiri saat ini ada salah satu guru yang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Dialah laki-laki yang berjuang untuk hidupku saat ini Dev, makanya aku sampai rela ambil uang ini sampai lantai bawah. Karena uang ini adalah hasil perjuangan Mas Izar-ku," kata Fira masih berurai air mata.


"Apa yang terjadi Fir? Boleh aku tau?" tanya Devi pelan sambil memeluk Fira.


Devi pun membawa Fira ke sebuah tempat yang lebih sepi, di sudut ruangan tempat praktik kesenian dan tanpa mereka sadari sang guru tetap mengikutinya sebab penasaran pula dengan apa yang dikatakan Fira tadi.


"Abiku pergi ninggalin Umi dan kita,"


"Hm ... astagfirullahalazim,"


"Dan sekarang Abi menikah sama ibunya Bella," katanya terbata.


"Ya Allah ya robb ... Fira," kata Devi pun kini tak mampu menahan air matanya begitupun seorang guru yang tiba-tiba memeluk Fira.


"Bu Retno," kata Devi dan Fira kaget merasakan sentuhan dari sang guru itu.


"Fira maaf ya, Bu Retno tadi nggak sengaja denger cerita Fira," katanya masih memeluk Fira.


"Iya Bu, nggak papa," jawab Fira sedikit tersenyum sambil mengusap air matanya.


"Boleh Bu Retno tau, sekarang Fira tinggal dimana setelah Umi dan Abi pisah?" tanya beliau pelan sambil sesekali memeluk siswa berprestasi di sekolahnya itu.


Semua guru memang sudah mengenal Fira sebab kecerdasan Fira, ia selalu menonjol dalam setiap pelajaran sehingga terkenal di mata guru-guru.


"Fira tinggal di kost deket rumah yang Fira tempati dulu," jawabnya kini menggenggam tangan Devi.


"Abi tau?" tanya Bu Retno penasaran.


"Mungkin tidak mau tau Bu,"


"Berarti saat Fira ambil hadiah waktu itu, Abi ada di sekolahan?" tanya Bu Retno.


"Iya Bu," jawabnya pelan.


"Fira yang kuat ya, Sayang," kata Bu Retno kini ikut hanyut dalam suasana sedih dihati siswanya itu.


"Ibu jangan bilang apa-apa sama Bella ya Bu, Biarlah Fira belajar ihklas dari Mas Izar," jawabnya kini dengan senyuman.


"Subhanallah ... Ibu bangga sama Fira," jawabnya kini Bu Retno tersenyum bersama dengan Devi dan Fira.

__ADS_1


"Jadi anak dan adik kebanggaan Umi juga Mas ya Nak," kata Bu Retno kini berjalan keluar dari ruangan itu bersama Fira dan Devi.


__ADS_2