
Umi dan Syafira berjalan beriringan menuju ruang perawatan Syakilla. Hatinya tak tenang membayangkan putranya kini sedang bekerja, meski sudah larut malam begini.
"Mas Izar kemana Mi?" tanya Syakilla.
"Mas pulang, Sayang."
"Lo kenapa pulang Mi, Mas Izar kan biasanya tidur disini sama Mbak Fira," tanyanya penasaran.
"Sudah Killa istirahat saja, nggak usah banyak fikiran biar cepet sehat," kata Syafira menasehati.
"Mbak Fira sama Umi pasti bohong kan sama Killa?"
"Bohong gimana Sayang?" Umi mencoba menutupi, namun keadaan memang tak bisa di bohongi.
"Dimana Mas Izar sekarang!" Killa nampak sudah berkaca-kaca.
Umi segera memeluk putri bungsunya itu, sesekali beliau menjatuhkan kecupan di kening gadis cantik yang nampak lebih segar dari hari sebelumnya.
"Mas Izar pulang Nak, mau mandi, ganti baju terus ikut Mas Doni kirim barang," jelas Umi lembut.
"Mas Izar pasti cari uang buat biaya perawatan Killa kan Mi? Killa pulang aja Mi, kasian Mas Izar."
"Syakilla jangan begitu, nanti Mas Izar sedih. Adik makan yang banyak, minum obat sambil istirahat yang cukup biar cepet sehat, nanti cepet pulang."
"Tapi Mi, kasian Mas Izar," katanya kini berurai air mata.
"Iya Umi tau, doakan Mas Izar agar selalu di beri kesehatan," jawab Umi mengakhiri perdebatannya dengan Syakilla.
Gadis itu menurut saja, Umi kemudian menggelar tikar agar di gunakan oleh Syafira beristirahat.
Disaat yang bersamaan, Syakilla menyaksikan pasien di sampingnya sedang makan di temani oleh kedua orang tuanya.
Umi pun iba melihat pandangan nanar putri bunsunya itu.
"Killa rindu Abi?" tanya Umi pelan.
"Nggak Mi, nggak usah bahas Abi. Biarkan Abi bahagia bersama keluarga barunya," jawaban gadis itu membut Umi sedikit sesak.
"Syakilla, Syafira ... yang ihklas ya Nak. Umi disini bersama kalian," kata Umi mengusap dada kedua putrinya bergantian.
Umi tau, jauh di lubuk hati kedua putrinya begitu merindukan Abi. Sosok ayah yang selama ini telah hilang dari hidup kedua gadis itu.
Di tempat yang berbeda, Abizar bergulat dengan dinginnya malam. Berada dalam mobil box menyusuri jalanan malam yang begitu gelap. Udara dingin menembus tubuhnya yang terbalut jaket tebal. Rasa kantuknya berusaha ia usir dengan ikut bersenandung melantunkan sholawat yang ia putar dari ponselnya. Ia terus membawa mobil box menggantikan rekannya yang sekarang sedang tertidur di samping tempat duduknya.
Semua ia lakukan dengan ihklas demi Umi dan kedua adiknya. Pukul 02.00 wib dini hari, ia sudah sampai di lokasi penurunan barang. Sebuah pabrik mebel di perbatasan kota tempat tinggalnya.
Izar dan Doni segera membongkar muatan, di bantu oleh beberapa karyawan mebel yang masuk malam, mereka menurunkan kayu-kayu yang jumlahnya cukup banyak. Kurang lebih satu jam mereka barulah selesai menurunkan semua barang.
Beberapa saat beristirahat, Izar kembali membawa mobilnya pulang. Rasa kantuk benar-benar tak bisa ditahan hingga rekannya mengambil alih kemudi. Izar pun sejenak memejamkan mata.
Tepat azan subuh berkumandang, Izar sampai di depan gang kontrakannya. Ia segera turun dari mobil setelah menerima upah dari Doni. Syukurlah, malam nanti Izar masih di minta untuk menemaninya mengantar barang lagi.
"Loh, Umi kok di rumah?" tanya Abizar kaget melihat Umi bersiap untuk solat subuh.
"Iya Mas, Umi barusan pulang, mau siapin sarapan untuk Mas Izar," jawabnya lembut.
Umi tak kuasa menatap putranya yang terlihat begitu lelah.
"Izar bisa masak mie instan atau goreng telur sendiri Mi," jawabnya sambil meletakan ponselnya di meja.
"Sudah ndak papa, wudhu Mas, yuk jamaah sama Umi nanti baru istirahat setelah solat subuh," pinta Umi.
Izar hanya mengangguk sembari berjalan menuju kamar Mandi.
Usai melaksanakan solat jamaah, Izar langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai yang berbalut tikar. Tempat yang sama yang mereka gunakan solat jamaah tadi.
"Capek banget ya Mas," tanya Umi kini sudah duduk di samping Izar dengan memijat pundak putranya itu.
"Bawah Mi, punggungnya aja. Capek kelamaan duduk di mobil," jawabnya sambil menatap Umi.
Dengan sabar Umi memijat putranya itu hingga ia tertidur pulas. Jarum jam baru menunjuk pukul 05.30 wib, masih ada satu jam setengah untuk putranya istirahat sebelum nanti berangkat bekerja lagi sebagai cleaning service di sekolah Syafira.
"Andai Mas Izar mengijinkan Umi untuk bekerja membantu meringankan bebanmu Nak," gumam Umi sambil menatap putranya yang kini terlelap dalam tidurnya.
Tak terasa pagi pun menjelang, Umi segera membangunkan Abizar untuk bersiap berangkat kerja, usai bersiap Izar pun meninggalkan rumah bersama Umi, meski dengan tujuan yang berbeda. Umi akan menuju rumah sakit sedangkan dirinya akan bekerja di sekolah Syafira.
Di tempat kerja pun Abizar masih saja memikirkan biaya perawatan Syakilla. Siang tadi Syafira menelepon jika sisa uang di ATM sudah di pakai untuk menebus obat.
Sambil berjalan menyusuri jalanan yang ramai dengan hiruk pikuk suasana pulang kerja ia terus memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang lagi.
Meminjam pada temannya lagi rasanya sudah tidak mungkin. Uang yang kemaren saja ia tak tau bagaimana caranya mengembalikan.
"Abizar kan?" kata seorang tiba-tiba mengagetkan lamunannya.
Ia terdiam, sesaat memandangi sosok wanita yang memanggilnya.
"Anisa, bukan?" katanya ragu-ragu.
"Iya, Masyaallah ketemu disini! Sehat Zar?" tanyany lagi.
"Alhamdulilah, sehat. Kamu mau kemana kok jalan kaki?"
"Oh ini baru beli lauk, itu kontrakan aku, mampir yuk!" katanya mempersilahkan.
Setiap pagi dan sore Abizar berjalan melewati jalanan yang sama namun ia tak pernah melihat teman SMP-nya itu tinggal di dekat sekolahan Syafira.
__ADS_1
Abizar masih mematung, ia tak enak jika menolak namun ia sadar temannya itu seorang gadis. Tak patut ia main di kontrakan gadis seorang diri.
"Maaf Zar, kita ngobrol di depan saja itu banyak penghuni kontrakan lain pada duduk-duduk," katanya memahami apa yang di fikirkan Abizar.
Abizar pun mengekor temannya sejenak untuk bernostalgia masa SMP.
Ia duduk di teras kontrakan sambil menikmati segelas es sirup yang di hidangkan oleh Anisa.
"Kamu masih kuliah Nis?" tanyanya membuka pembicaran.
"Alhamdulilah, sudah lulus. Izar sendiri gimana? Tadi aku sempet ragu-ragu loh, masa Abizar jalan kaki?" celotehnya mengingat keadaan Abizar saat sekolah lalu yang berbanding terbalik dengan dirinya.
"Ah bisa aja Nis. Aku udah lama nggak kuliah," katanya mengawali cerita.
"Kok bisa?" jawabnya kaget.
Abizar pun menceritakan semua yang di alaminya pada Anisa. Entahlah gadis itu mampu membuat Abizar mengungkapkan semua yang selama ini di pendamnya dalam diam. Kepedihan hatinya tentang permasalahan hidup yang di simpannya rapat-rapat sudah terungkapkan semua kepada Anisa.
Terasa lega memang, hingga tak sadar Abizar sudah berlinang air mata.
"Yang sabar ya Zar, aku pun begitu," katanya iba.
Mereka memang tak terlalu dekat saat sekolah namun hari ini terlihat seperti teman dekat yang saling berbagi cerita pribadi.
Anisa menceritakan awal kisah hidupnya hingga menjadi seperti sekarang. Sejak sang ibu meninggal ketika Anis masih duduk di bangku SMP, kemudian sang ayah pun meninggalkannya pula ketika ia SMA dan konflik dengan keluarga besarnya yang di picu oleh masalah harta, hingga ia kini tinggal seorang diri di sebuah kontrakan.
Abizar merasa menemukan kekuatan kembali, ia bertemu dengan orang bernasib sama dengannya meski dengan kisah yang berbeda.
Sesaat mereka terdiam dalam fikirannya masing-masing.
"Sekarang Umi dan adik-adik di rumah?" tanya Anis memecahkan kesunyian.
"Adikku yang paling kecil sedang di rawat di RSUD, di rumah nggak ada orang," jelasnya pada Anisa.
"Loh, sakit apa? Aku juga kerja di RSUD sekarang," katanya kaget.
"Tipes katanya, kamu kerja bagian apa di sana?"
"Di ruangan apa?" tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyan Abizar yang lain.
"Ruang Flamboyan 3."
Anisa terdiam, ia mengingat-ingat pasien yang berada di ruang yang di sebutkan oleh teman masa kecilnya itu.
"Sakit tipes di ruang Flamboyan 3? Namanya Syakilla bukan?" tebaknya lagi.
"Kok kamu tau?"
"Iya, aku perawat disana. Kebetulan dari kemaren aku yang bolak-balik ke ruangan itu." jelasnya pada Abizar.
Anisa dan Abizar tersenyum tanpa saling memandang. Beberapa kali pula tetangga kontrakan yang ramai bercanda tawa di teras menyapa hangat kehadirannya.
Celotehan-celotehaan bernada candaan beberapa kali di lontarkan oleh mereka.
"Baru kali ini ad cowok bertamu di tempat Mbak Anis,"
Begitu salah satu yang di sebutkan oleh mereka. Anis ataupun Abizar menanggapinya hanya dengan senyuman.
"Eh, Izar nggak ke rumah sakit? Kebetulan aku sift malam ini, nanti ba'da isya' aku berangkat."
"Wah kebetulan sekali, titip Syakilla ya. Aku masih ada kerjaan lain nanti malam jadi belum bisa kesana."
"Oh begitu, tetap semangat ya," katanya mengakhiri obrolan sore ini.
Tak lupa mereka bertukar nomor telepon sebelum Abizar pulang.
Hatinya sedikit lega setelah bertemu dan berbagi cerita dengan teman lamanya itu.
Ketika malam tiba, Umi di buat bingung oleh putri bungsunya yang sedang di rawat. Gadis itu menangis sebab ingin bertemu dengan Abizar.
Umi dan Syafira pun sudah kehilangan cara untuk merayu gadis cantik itu.
"Loh, cantik kok menangis?" tanya seorang dokter yang akan memeriksa keadaan Syakilla.
"Iya ini Dok, kangen sama kakaknya," jawab Umi sambil tersenyum.
Perawat yang berdiri sejajar dengan dokter pun tersenyum sambil menggenggam tangan Syakilla.
"Sayang, kangen Mas Izar ya?" tanyanya lembut.
Umi dan kedua putrinya terkejut mendengar sang perawat menyebut nama Abizar.
"Loh suster kok tau?" tanya Umi bingung.
Ia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Umi.
"Iya Bu, saya Anis. Temannya Abizar waktu SMP, tadi sore saya nggak sengaja ketemu Abizar saat pulang kerja," jelas perawat itu pada Umi.
Seketika Umi tersentak. Hatinya bergetar mendengar nama itu, nama yang sebetulnya cantik namun membuat hati Umi teriris berih.
Ya, nama itu hampir mirip dengan nama wanita yang merebut laki-laki kebanggannya. Sosok lelaki hebat dalam hidupnya yang tega meninggalkannya bersama anak-anak demi wanita bernama sama dengan perawat yang memperkenalkan diri itu.
"Bu, Maaf. Anis salah bicara kah?" katanya pelan terlihat begitu bingung.
"Oh, nggak Nak. Silahkan Dok, di periksa keadaan Syakilla," kata Umi masih mengumbar senyuman.
__ADS_1
Sejenak Dokter dan perawat itu berbincang sambil memeriksa Syakilla, sedang Umi masih mematung di samping tempat tidur Syakilla.
"Umi inget mamanya Bella, kan?" tebak Syafira.
"Maaf Nak." jawabnya sambil menatap gadis cantiknya.
Syafira diam, ia tau tak mudah menjadi Umi. Hatinya pasti hancur teringat oleh lelaki yang menghianatinya. Berkali-kali Umi memang mengatakan ikhlas pada anak-anaknya. Namun, ia tau masih ada cinta di hati Umi untuk seorang yang mereka panggil Abi.
"Bukannya Umi yang meminta kita untuk mengikhlaskan Abi?" bisik Syafira.
"Maaf Sayang, Umi hanya terbawa suasana saja. Bagaimanapun Abi kan ayah kalian, Umi tak pernah lupa tentang itu," jawabnya tersenyum namun matanya berkaca-kaca.
Syakilla yang melihat Umi dan kakaknya berbisik pun penasaran.
"Dek Syakilla nggak boleh sedih lagi ya, kalo rajin makan dan minum obat di tambah nggak banyak fikiran pasti cepet pulang," kata Dokter pada gadis cantik itu.
"Iya Dok," jawabnya pelan.
"Itu dengarkan Sayang. Nggak nangis lagi ya?" kata Umi.
Gadis itu hanya membalas dengan senyuman.
"Mas Izar baik-baik saja kok, insyaallah," kata Anis membuat Syakilla justru menangis lagi.
Sang Dokter pun iba, namun ia meninggalkan perawatnya bersama keluarga pasien sebab ia ada pekerjaan lain.
"Adik, udah ya jangan nangis lagi. Nanti kalo hpnya Mbak udah penuh batrainya, pasti di telponkan Mas Izar," Syafira menenangkan.
"Suster telponkan Mas Izar ya, udah Sayang jangan menangis," kata Anis sambil meraih ponsel di saku bajunya.
Mereka memang tak saling kenal. Namun, profesinya menjadikan ia segera akrab dengan keluarga teman kecilnya itu.
"Assalamualaikum, Nis. Ada apa?" Suara Abizar terdengar dari seberang karena di laudspeaker.
"Waalaikumsalam," jawabnya langsung memberikan ponselnya pada Syakilla.
"M-Mas" kata Syakilla sambil terisak.
"Loh, Sayang. Syakilla kenapa menangis Dek?"
"Killa kangen Mas Izar. Mas dimana?" katanya masih terisak.
Umi berusaha menenangkan namun tampaknya tak begitu berpengaruh.
"Dek, dengarkan Mas Izar. Nggak boleh nangis ya Sayang. Besok kalo Mas pulang kerja kesana," jawabnya lembut.
"Mas dimana kok berisik," kata Umi tiba-tiba ikut bertanya.
"Izar di jalan Mi, lagi kirim barang,"
"Ya Allah anakku," gumam Umi pelan.
"Gara-gara Syakilla sakit kan, Mas Izar jadi kerja terus? Killa mau pulang sekarang," katanya mengagetkan.
"Dengarkan Mas Izar. Mas, Umi dan Mbak Fira sayang Killa, Adek nggak boleh bicara begitu, Mas akan lakukan apa saja yang penting Killa sehat lagi," katanya terdengar berisik sebab ia berada di dalam mobil yang sedang melaju kencang.
Killa mulai menghapus air matanya namun Umi justru ikut terisak.
"Mas pakai jaket kan? angin malam nanti bikin Mas masuk angin."
"Iya Mi, Izar pakai jaket kok. Sudah ya, batrenya mau habis ini Mi. Killa sayang nggak sedih ya? Salam buat Mbak Anis," katanya langsung menutup teleponnya.
Killa pun memberikan ponsel pada perawat.
Tak lama Anis berpamitan pada Syakilla dan keluarganya.
"Umi ...," panggil Syakilla.
"Iya Sayangku,"
"Umi tadi sedih keinget Abi ya?" tanya Syakilla di hadapan Umi dan Kakaknya.
Umi hanya diam menatap kedua putri cantiknya bergantian. Beliau kini sudah tidak pandai lagi menyembunyikan perasaan di hadapan anak-anaknya.
"Mi, lupakan Abi. Jika Umi ingin menikah lagi, insyaallah Syafira tidak melarang. Umi berhak bahagia seperti Abi. Syafira sudah tak ingin kenal Abi lagi," kata Syafira lembut.
Saat kata tak mampu lagi terucap, hanya senyuman yang mampu di persembahkan untuk ucapan putrinya.
"Bagaimanapun Abi pernah mengukir bahagia di hati Umi dan kalian, Umi hanya tak ingin kalian membenci Abi. Kelak jika masanya tiba, bagaimanapun ceritanya di masa lalu, Abi yang akan menjadi wali saat kalian menikah nanti," jelas Umi lembut pada putrinya.
"Tapi Mi?"
"Sudah Nak. Andai Allah berkehendak Umi menikah lagi, seberapa inginnya Umi menolak pun tetap tidak mampu menghalangi kuasa Allah, hanya saja untuk saat ini semoga Allah meridhoi keinginan Umi untuk fokus menjaga dan merawat anak-anak Umi dulu."
"Tapi Umi nggak boleh sedih lagi!"
"Iya, Umi minta maaf ya Nak, Umi hanya larut dalam suasana saja tadi." jawabnya kini mengumbar senyum.
Kedua gadis itu terdiam dalam genggaman tangan Umi. Tak ada suara tangisan Syakilla terdengar lagi. Gadis cantik itu sudah cukup lega setelah mendengar suara kakak laki-lakinya.
"Mi, Syakilla pulang saja ya, kasian Mas Izar harus kerja siang malam begini." keluhnya sambil memandang foto Abizar yang di jadikan wallpaper di hp Syafira.
"Iya Nak, insyaallah Killa cepet sembuh ya biar cepet pulang," kata Umi kemudian di aminkan oleh kedua putrinya.
Malam itu berlalu dengan kesedihan. Mereka memang saling diam tapi di fikiran masing-masing terbayang laki-laki muda yang sedang berjuang menembus dinginnya malam demi keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Ya Allah, lindungilah Mas Izar. Semoga engkau sehatkan tubuhnya, mudahkanlah langkahnya untuk mencari rizky yang halal untuk kami. Limpahkanlah ketenangan hati untuk keluarga kecil kami," ucap Syafira lirih dalam doa tahajudnya.