Hidup Adalah Perjuangan

Hidup Adalah Perjuangan
Melamar Pekerjaan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu tanpa kegiatan apapun. Umi benar-benar terpukul dengan kejadian yang telah menimpa keluarga kami.


Syafira dan Syakilla pun enggan untuk melanjutkan pendidikannya. Mereka hanya diam dan diam saja di rumah kontrakan yang hanya satu kamar itu.


Izar menengok dompetnya, hanya ada tiga lembar uang seratus ribuan. Sedangkan ATM-nya kosong hanya tersisa uang lima puluh ribu rupiah sebagai saldo mengendap yang tidak bisa diambil. Ia tidak bisa berdiam diri semakin lama lagi sebab ia harus memenuhi kebutuhan Umi dan adik-adiknya.


Syukurlah, tempat tinggalnya sangat strategis. Hanya berjalan sekitar lima belas menit dari kontrakannya ada kawasan industri yang berderet banyak pabrik disana.


Izar beranjak dari tempat duduknya, membenahi sarung yang ia pakai dan mengambil jaket. Tak lupa ia menyelipkan dompet di saku jaketnya.


"Mas Izar mau kemana?" tanya Umi melihat putranya berbenah.


"Izar mau ke tempat fotocopyan, Mi. Mau bikin lamaran kerja," jawabnya kembali duduk memeluk Umi setelah melihat raut wajah Umi yang tak ingin ditinggal.


"Biar Umi saja yang kerja ya Mas, Mas Izar kuliah saja," jawabnya sambil menangis.


"Umiku sayang, jangan menangis lagi ya. Izar sedih lihat air mata Umi setiap hari," katanya sambil menempelkan bibirnya di pipi Umi.


"Mas," panggil Umi saat Izar kembali beranjak.


"Umi dirumah saja ya, Izar nggak lama kok,"


"Tapi Mas, biar Umi saja," katanya masih menatap tajam anak laki-lakinya.


"Umi carikan Ijasah Izar waktu SMK ya, Izar mau ke kamar mandi sebentar," katanya sambil masuk ruangan kecil di sudut kamar kontrakan itu.


Umi menghela nafas, ia pun menuruti anak laki-lakinya itu. Ia sendiri pun bingung. Usianya tak lagi muda jika ingin bekerja, Ijazahnya pun tak sempat ia ambil saat berbenah sebab waktu itu dalam keadaan bertengkar hebat dengan Abi.


Usai berpamitan Izar berjalan pelan sambil menggendong tas punggung yang berisi ijazah dan beberapa sertifikat penunjang untuk membuat lamaran pekerjaan. Sesampainya di fotocopyan, ia segera mencetak pas foto yang tersimpan di akun mahasiswa miliknya. Kemudian ia mengetik surat lamaran pekerjaan dan membuat curriculum vitae. Hatinya berdebar, sungguh ini kali pertama ia akan melamar pekerjaan. Sebelumnya, Umi dan Abi selalu melarang Izar untuk ikut teman-temannya bekerja di sela waktu kuliah. Maklumlah Izar sudah hidup serba berkecukupan sehingga jelas jika Umi dan Abi melarangnya untuk bekerja.


Namun takdir Allah memang tak ada yang tau. Jika sudah begini kejadiannya, sebagai anak laki-laki satu-satunya ia tak mungkin berdiam diri melihat Umi dan adik-adiknya dalam keadaan susah. Mungkin Umi bisa menyesuaikan keadaan namun berat untuk Fira dan Killa yang sudah terbiasa dengan hidup mewah dengan fasilitas yang serba ada.


Izar tak menyerah, tekatnya untuk mengembalikan senyum Umi dan adik-adiknya sudah bulat. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan apa saja demi mereka. Cita-citanya sebagai sarjana pun mulai detik ini juga ia lupakan. Harapannya hanya satu, membangun kembali keluarga yang bahagia meski sudah tidak utuh lagi.


Ia berjalan pulang setelah memasukan 5 amplop lamaran kerja. Rencananya ia akan mencari pekerjaan esok hari sembari menghubungi teman-temannya yang mungkin tau lowongan pekerjaan.

__ADS_1


Langkahnya lunglai saat melewati rumah mewah yang pernah ia tinggali. Nampak sepi di dalam sana, hanya ada mobil yang terparkir di halaman depan. Sepertinya laki-laki yang ia panggil Abi berada di dalam rumah itu mengingat mobilnya sedang terparkir dirumah.


"Astagfirullahalazim," katanya sambil menutup wajah dengan kedua tangan.


Nampak tangannya basah usai menutup wajahnya. Butiran air mata yang selama ini hampir tak pernah terjatuh, beberapa waktu ini mudah sekali menetes dari mata Izar.


Izar melanjutkan lagi perjalanannya. Tempatnya bukan di rumah mewah itu lagi. Ia harus melupakan semua tentang itu dan membangun kembali kebahagiaan baru bersama Umi dan kedua adjknya, meski tanpa Abi.


"Mas Izar," panggil seorang dari arah belakang.


"Mak Mar," kata Izar mendekati wanita paruh baya yang memanggilnya.


"Mas Izar apa kabar? Tinggal dimana sekarang?" tanyanya lagi.


Wanita yang dipanggilnya Mak Mar itulah yang membantu Umi membereskan rumah serta mengasuh Izar dan adik-adiknya sejak kecil.


"Alhamdulilah, baik. Izar sekarang tinggal di kontrakan gang 5" katanya menjelaskan tempat tinggalnya yang berjarak gang saja oleh rumahnya dulu.


"Yang sabar ya Mas, Umi dan adik-adik dikuatkan," katanya sambil mengsap punggung Izar.


"Mak Mar masih disini?" kata Izar sambil meninjuk rumah di samping tempatnya berdiri.


"Abi sehat, Mak,?" tanyanya lagi.


"Sehat Mas,"


"Yasudah, Izar pulang dulu ya sudah ditunggu Umi," katanya berpamitan.


"Hati-hati, Mas," kata Mak Mar sambil menatap punggung Izar yang berjalan menjauh darinya.


Hati Izar kembali sesak memikirkan Umi, Syafira dan Syakilla. Bagaimana caranya memenuhi kebutuhan mereka sedang dirinya tak punya pengalaman kerja apapun. Izar terlahir sebagai putra kesayangan kedua orang tuanya. Ia dibesarkan dengan segala fasilitas yang serba ada. Dan hari ini, jika semua yang pernah ia miliki sudah tidak lagi ada ia bingung bagaimana caranya tetap bertahan dalam keadaan yang demikian.


"Zar, ngelamun aja," kata seseorang yang melihat Izar duduk terdiam di bawah pohon.


"Eh Mas Huda," katanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Turut prihatin ya semoga kamu kuat," kata Huda, tetangga yang rumahnya hanya berjarak dua rumah dari tempat tinggalnya dulu.


'"Ah iya Mas,"


"Tinggal dimana kamu sekarang?"


"Dikontrakan gang 5 Mas," jawabnya tanpa ekspresi.


"Terus ngapain kamu disini?" tanya tetangganya itu heran.


"Mas Huda juga ngapain disini?" Ia kembali bertanya sebelum menjawab pertanyaan tetangga yang usianya lebih dewasa darinya.


"Habis jenguk si Amir, ketabrak motor dia," jelasnya pada Izar.


"Ya Allah, kok bisa Mas?"


"Nggak ngerti, baru kerja 2 hari malah sakit itu orang,"


"Terus Mas Huda cari orang buat gantikan Mas Amir?" tanya Izar.


"Iyalah, mana bisa aku kerja sendirian,"


"Izar mau Mas, kalo boleh."


"Yakin kamu mau kerja kasar begitu? Berat lo kalo buat orang yang belum pernah," katanya mengingat bagaimana kehidupan Izar kala itu.


"Dicoba dulu Mas, insyaallah kuat. Izar lagi butuh banget," jawabnya meyakinkan.


"Terus kuliahmu gimana?" tanya Huda.


"Yang penting buat Izar, bagaimana Umi dan adik-adik bisa tetap makan dan lanjut sekolah Mas,"


"Besok pagi jam 7.40 aku tunggu di depan gang 5 ya," kata Huda pada Izar.


"Bener Mas, terima kasih banyak," katanya nampak bahagia.

__ADS_1


Mereka pun berpisah. Mampukah Izar melakukan pekerjaan kasar yang dibilang oleh tetangganya tadi?


"Pasti kuat, demi mereka," batinnya yakin sambil membayangkan wajah Umi dan kedua adek perempuan kesayangannya.


__ADS_2