
Izar tertidur pulas setelah di pijat oleh Uminya. Tak lama kedua adiknya pun menyusul Izar tidur di sampingnya. Sungguh hati Umi tak kuasa melihat putra putrinya hanya tidur beralaskan tikar seperti itu. Namun harus bagaimana lagi, ia sama sekali tak bisa melakukan apapun untuk mereka. Lama sekali Umi Aisyah melamun di dekat ketiga anaknya hingga ia pun merebahkan tubuhnya di samping si bungsu Syakilla.
Terdengar alarm dari ponsel Izar berdering, samar-samar Umi mendengar azan subuh dari masjid yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya.
"Syafira, Syakilla bangun Nak sudah subuh," kata Umi membangunkan kedua putrinya.
Mereka segera bangun sambil mengusap matanya.
"Mas Izar bangun solat subuh," Fira membangunkan sang kakak.
"Hmmm," jawab Izar hanya membalikan badan.
"Mas bangun udah subuh," kata Killa pada kakaknya.
"Mas, sayangnya Umi bangun dulu yuk solat subuh," kata Umi sambil mengusap kepala putranya.
"Umi, perasaan baru tidur kok sudah subuh sih," jawabnya sambil membuka mata.
"Bangun dulu yuk Mas, nanti tidur lagi," kata Umi lembut.
Izar pun berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu setelah Umi dan kedua adiknya selesai wudhu. Setelah itu mereka solat berjamaah.
Usai solat, Umi segera membuka plastik yang berisi belanjaan sore kemaren. Dengan cekatan Umi mulai meracik bumbu-bumbu.
"Dek, Mas pijitin sih," kata Izar setelah tidur tengkurap usai melipat sarung.
"Mas Izar capek banget ya?" tanya Umi yang memasak tak jauh dari tempat Izar berbaring.
"Iya Mi,"
"Terus nanti mau kerja Mas?" tanya Syafira sambil menata jadwal pelajaran.
"Ya kerja lah," jawab Izar sambil menunggu kedua adiknya yang masih sibuk dengan bukunya.
"Fira sama Killa itu Mas di pijit dulu ya, kan masih pagi sekolahnya masih nanti," kata Umi sambil mengupas bawang.
"Iya Mi," jawab mereka sambil mendekati Izar.
Baru beberapa saat kedua adiknya memijat punggung dan kakinya terlihat Izar sudah tidur sangat nyenyak.
"Kasian ya Mbak, pasti Mas capek banget," kata Killa sambil memijat kaki kakaknya.
"Iya kasian Mas Izar," jawab Syafira dengan terus memijat punggung kakaknya.
"Makanya Mbak Fira, Dek Killa belajar yang serius ya. Mas Izar sampai berhenti kuliah demi Umi dan kalian lo," pesan Umi sambil menggoreng perkedel tahu.
"Iya Umi, insyaallah."
"Yasudah sana kalian siap-siap, Umi sudah selesai masak biar Umi yang lanjutkan," kata Umi mendekati anak-anaknya.
Syafira segera mengambil handuk sedangkan Syakilla mengambil piring untuk sarapan, mereka memang bergantian untuk melakukan aktivitas sebab keadaan memang memaksa mereka seperti itu.
Setelah semua bersiap, Umi pun mengantar kedua putrinya sampai depan pintu rumah dan melihat keduanya berjalan menuju sekolah sampai tak terlihat lagi dari pandangan, Kemudian Umi kembali masuk mendekati putranya. Jam dinding baru menunjuk pukul 06.30. Rasanya tak tega ia membangunkan putranya yang mengeluh sangat kelelahan itu.
"Mas," panggil Umi lembut pada putranya.
"Iya Mi,"
"Sudah setengah tujuh Nak, bangun yuk sarapan," kata Umi sambil mengusap rambut putranya itu.
Izar membuka mata, senyumnya langsung terlihat saat ia melihat Umi berada di sampingnya.
__ADS_1
"Izar sayang banget sama Umi," katanya dengan mencium tangan Uminya.
"Umi juga sayang banget sama Mas Izar,"
"Umi masak apa?" tanya Izar setelah beberapa saat diam dalam dekapan Uminya.
"Tumis tempe sama perkedel tahu," jawab Umi masih menatap wajah putranya itu.
"Mmmm... Izar jadi laper Mi, Makan sama Umi juga yuk," kata Izar sambil bangun.
"Iya Mas Izar dulu, nanti gantian Umi," jawabnya sebab piringnya hanya satu.
"Barengan Mi,"
"Iya, iya Mas, udah duduk aja biar Umi yang siapkan,"
Mereka pun makan bersama, usai makan Izar segera bersiap untuk berangkat kerja.
Setelah semua anaknya pergi beraktivitas, Umi hanya diam di rumah sendirian. Hal itu justru kembali membuat Umi teringat tentang kejadian menyakitkan yang menimpa keluarganya.
"Ya Allah," batin Umi sambil terisak.
Lama sekali berdiam dalam tangisan, Umi pun segera bangun, ia kemudian merendam pakaian dan mencucinya. Usai mencuci pakaian, Umi melanjutkan kegiatannya menyapu satu ruangan tempat tinggalnya itu.
Hanya itu saja yang bisa Umi lakukan. Tak ada kegiatan lain, membuat ia kembali mengingat kesedihannya saat anak-anaknya tak berada dirumah.
Tak terasa sore pun menjelang, kedua putrinya sudah sampai di rumah. Mereka benar-benar membawa keceriaan untuk Umi. Di balik semua musibah yang di hadapinya, Syafira dan Syakilla benar-benar menjadi kekuatan untuk Umi.
"Umi, umUmi... " kata Syafira manja.
"Ada apa sayangnya Umi?"
"Terus apa katanya?" tanya Umi penasaran.
"Mas Izar bilang nanti pulangnya malem, di suruh lembur katanya," jelas Fira pada Umi.
"Ya Allah kasian Mas Izar," gumam Umi sambil membelai rambut kedua putrinya.
"Mas Izar kerja apa, Mi?" tanya Syakilla.
"Kerja di proyek Dek," jawab Umi.
"Terus kerjanya ngapain, Mi?" tanya mereka yang ternyata tak mengerti.
"Lagi bikin rumah Nak, kerjaannya ya angkat semen, angkat batu bata, pasir Ya pokoknya begitulah,"
"Loh, gitu to Mi," kata Syafira kaget mendengar penjelasan Umi.
"Iya Nak, Syafira sama Syakilla kok kaget begitu Nak?" tanya Umi mrlihat ekspresi putrinya.
"Mas Izar kan nggak pernah kerja begitu Mi, pantesan kok kemaren minta di pijit terus," kata Syafira.
"Iya tadi pagi juga tangannya Mas Izar merah-merah pas Killa pijitin," timpal adiknya.
"Semua itu Mas lakukan buat kita, Mbak Fira sama Dek Killa nurut ya sama Umi sama Mas Izar," kata Umi menasehati.
"Iya Umi," jawab mereka sambil mengangguk.
"Sudah yuk solat, makan terus kalian belajar," kata Umi sambil beranjak bangun untuk mengambil air wudhu.
Kedua putrinya itu menuruti apa yang di ucapkan oleh Uminya tanpa membantah sedikitpun
__ADS_1
Jam dinding sudah menunjuk pukul 21.30 wib. Syafira dan Syakilla nampak masih belajar, sedang Umi gelisah menunggu putranya pulang.
"Kalian tidur dulu ya, Umi mau nungguin Mas Izar pulang," kata Umi setelah kedua putrinya membereskan buku-buku pelajaran.
"Fira mau nunggu Mas Izar juga,"
"Killa juga, Mi."
"Eh nggak, kalian tidur aja. Nanti dimarahi Mas Izar kalo kalian belum tidur,"
"Iya iya, Umiku sayang,"
Tepat pukul 23.00 wib Izar membuka pintu rumahnya, terlihat Umi segera bangun.
"Umi, kok belum tidur sih," kata Izar sambil mencium tangan Uminya.
"Mas Izar kok malem banget pulangnya?" tanya Umi.
"Iya Mi, tapi lumayan kok dua kali lipat," jawab Izar sambil mengeluarkan uang dari sakunya sebesar seratus lima puluh ribu.
"Tapi kan Mas pasti capek banget," kata Umi.
"Nggak papa Mi, Izar udah puas main kemana-mana, nongkrong nggak jelas sama temen-temen," katanya sambil tersenyum.
Umi menyambut senyum putranya yang terlihat lelah itu. Ia tak tau lagi apa yang harus di katakan oleh putra kesayangannya itu.
"Izar mau mandi dulu Mi, belum solat isya juga," katanya dengan meraih handuk di dekatnya.
Usai mandi dan solat, Izar segera mengambil piring. Namun ia terkejut saat ada cicak berada di sayur yang mungkin sengaja di sisakan oleh Umi.
"Kenapa Mas Izar?" tanya Umi mendekati anaknya.
"Astagfirullahalazim, udah di tutup kok masih kemasukan cicak begini," kata Umi menatap sayur yang masih sedikit itu.
"Udah Mi, nggak papa."
"Ya Allah, Mas Izar makan sama apa coba Nak? Tadi sore yang jual sayur nggak lewat sih," kata Umi di belakang Izar.
"Ini bawang merah kan Mi?" tanyanya sambil memegang bawang.
"Iya Nang,"
"Di bikin bawang goreng aja Mi," kata putranya itu.
Umi segera mengupas bawang, kemudian mengiris dan menggoreng irisan bawang itu.
"Ya Allah Nak, udah kerja sampai malam begini cuma makan pakai bawang goreng aja," kata Umi melihat putranya makan dengan lahap hanya dengan nasi dan bawang goreng saja.
"Nggak papa Umiku sayang," jawabnya tanpa melihat Umi dan terus menikmati makan malam itu.
Usai makan ia langsung merebahkan tubuhnya di dekat kedua adik yang sudah lebih dulu tertidur. Umi segera mendekati putranya itu, kemudian akan memijat namun ia tidak mau.
"Balurin balsem aja Mi, ndak usah di pijit,"
"Kenapa Nang?" tanya Umi sambil mencari balsem di meja.
"Nggak papa Mi, habis ini Umi tidur ya udah malem banget,"
Mendengar ucapan putranya sungguh hati Umi tersentuh.
"Semoga lelahmu menjadi berkah, Nak." kata Umi sambil mencium kening putranya.
__ADS_1