
Pagi ini Izar bersholawat sambil memainkan ponsel milik Syafira. Umi menatap putranya sambil menyiapkan bahan masakan bersama kedua putri cantiknya.
Sesaat, terdengar ponsel Izar berdering. Ia segera membukanya.
"Izar, minta nomer sopir yang dulu antar kita observasi sih," pinta Rudi, salah satu teman baiknya di kampus.
Ia segera membuka ponselnya, mencari nomer yang di maksud oleh temannya itu. Lama sekali ia menjelajah nomer-nomer yang tersimpan dalam ponselnya namun tak ia temukan.
"Maaf Rud, udah nggak ada. Nggak kesimpan lagi pas ganti hp kemaren," jawabnya setelah lama mencari.
"Bisa carikan nggak buat besok pagi, yang nggak mahal-mahal lah. Sekitar 300-an gitu," pintanya lagi.
"Tujuan kemana, kira-kira berapa hari?" Balasnya cepat.
"Cuma ke Jogja. Weekend aja, berangkat sabtu pagi mungkin pulang minggu siang atau sorean lah,"
"Tak sopirin aja gimana? Mumpung libur nih kerjanya," balas Izar setelah sesaat mempertimbangkan imbalan yang lumayan untuk menambah pemasukan mengingat dulu ia pun sering membawa mobil hingga luar kota berhari-hari saat libur kuliah.
"Ah, serius?" tanya Rudi terlihat kaget.
"Anak-anak biasanya kan yang pergi?" Izar memastikan yang akan berlibur adalah teman-teman yang sama dengan biasanya saat ia masih sering ikut.
"Iya sih, siapa lagi coba yang suka nekat pergi meskipun di kejar waktu kuliah kalo bukan kita-kita," jawabnya bercanda.
"Kalo boleh, aku siap nih."
"Boleh banget, udah lama kan kita nggak kumpul bareng, anak-anak pasti seneng," balas Rudi mendengar balasan Izar.
Selain ia rindu bersua dengan teman-temannya ia memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang tambahan saat libur kerja. Biasanya memang Izar yang menyiapkan sopir dan temannya yang mencarikan mobil saat mereka akan berlibur namun saat ini keadaan sudah berbeda, Izar bersyukur dengan keadaannya yang demikian mereka tak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka selalu menawarkan bantuan apapun yang Izar butuhkan meski hingga saat ini ia selalu menolak bantuan dari teman-temannya itu.
Izar menghentikan kegiatannya berbalas pesan. Ia segera mandi dan sarapan sebelum berangkat kerja. Tak banyak candaan pagi ini bersam Umi dan kedua adiknya.
Seperti biasa, Izar bekerja hingga sore hari. Pekerjaannya pun tak lebih ringan dari hari sebelumnya sebab kegiatan penerimaan peserta didik baru masih berlangsung hingga awal bulan depan.
"Mi, besok pagi Izar mau ke Jogja ya sama temen-temen yang biasanya," kat Izar meminta ijin pada Uminya setelah solat Isya berjamaah.
"Nginep Mas?" jawab Umi kembali bertanya.
"Iya Mi, pulangnya minggu sore," jelasnya pada Umi.
"Mas Izar mau jalan-jalan ya," celoteh Fira.
"Iya, boleh kan?" kata Izar pada adiknya.
"Boleh Mas, tiap hari sudah kerja kok sekali-sekali biar refresing," jawab Umi memberi kode pada putrinya yang terlihat berat membiarkan kakaknya pergi.
"Mas Izar punya uang?" tanya Syakilla.
"Sayang mau minta apa?" Izar balik bertanya.
"Nggak kok Mas, tanya aja," jawabnya sambil tersenyum.
Umi membuka dompetnya, mengambil pecahan lima puluh ribuan sebanyak 4 lembar yang sengaja di sisihkan untuk membayar kontrakan. Sebenarnya itupun masih kurang dan Umi tak tau bagaimana cara putranya mendapatkan tambahan sedangkan Izar sendiri melarang Uminya untuk bekerja.
__ADS_1
"Ini buat Izar, Mi?" tanyanya menerima uang dari Uminya.
"Iya, Mas Izar nggak punya uang kan? Semua gaji di berikan buat Umi," jawabnya sambil mengusap kepala putranya.
Izar menerimanya meski ia pun paham uang apa yang di berikan Umi padanya. Ia sengaja menerima uang tersebut agar Umi tidak curiga dengan kepergiannya yang tiba-tiba dengan alasan untuk refresing.
Hari yang di tunggu pun tiba, pagi baru saja menyapa namun Izar sudah bersiap untuk pergi.
Setelah berpamitan pada Umi dan kedua adiknya, Izar segera berjalan menuju tempat yang sudah di tentukan bersama teman-temannya.
Setelah bercanda tawa sejenak, Izar segera mengambil alih kemudi. Rudi berpindah posisi duduknya menjadi di samping Izar. Selama perjalanan mereka tak hentinya saling mengejek. Begitulah cara mereka bercanda tawa, meski sudah lama Izar tak bergabung bersama mereka namun keakraban masih tetap terasa, tak ada kecanggungan diantara Ketujuh temannya itu. Persahabatan itu benar-benar terjalin dengan indah. Ketika teman-temannya tak saling mempermasalahkan perbedaan di antara mereka.
"Akhirnya sampai juga," kata Rudi setelah berada di deretan parkiran menuju loket pantai.
Perjalanan hampir tiga jam cukup membuat Izar merasa lelah namun ia tak ingin melihatkan pada teman-temannya.
Usai Rudi membayar tiket dan parkir ia meminta Izar untuk ikut turun bersama mereka namun Izar menolak.
"Ayolah, udah sampai sini nggak mau turun? Santai aja mobilku nggak mungkin hilang," celoteh Indra, salah satu temannya.
"Udah kalian duluan aja, ntar aku nyusul," jawabnya benar-benar tak ingin ikut.
"Kalo capek nanti nyetirnya gantian deh," rayu Rudi namun tak merubah keputusannya.
Begitulah Izar, ketujuh temannya pun tak mampu membantah apa yang menjadi inginnya sebab memang sejak awal tujuannya bukan untuk berlibur namun hanya mengantar teman-temannya saja.
Disaat ketujuh temannya asyik bermain main di pantai, ia merebahkan tubuhnya di bagian belakang. Tak lama Izar sudah terlelap di dalam mobil.
Saat ia terbangun teman-temannya belum tiba di parkiran. Ia hanya membuka-buka ponselnya, menyaksikan status teman-temannya di media sosial masing-masing.
"Siap bos," jawabnya setelah ketujuh temannya kembali dan memaksanya ikut gabung bersama.
Perjalanan kembali di lakukan usai puas bermain-main di pantai. Selama perjalanan mereka kembali bercanda tawa, hingga tengah malam mereka baru sampai di Malioboro sebab begitu macet selama perjalanan.
Benar saja Izar ikut turun bermalam bersama teman-temannya. Mereka berkeliling tak jelas usai menyantap makan malam di warung tenda sekitar.
Lelah berkeliling, Izar memilih untuk merebahkan tubuhnya di dekat tempat teman-temannya bercanda tawa. Mereka membiarkan Izar beristirahat sedang mereka bernyanyi dan bersenda gurau hingga pagi menjelang.
Azan subuh berkumandang, Izar pun di bangunkan oleh teman-temannya. Mereka segera mencari masjid sebelum melanjutkan perjalanan menuju pantai yang sejalan dengan arah pulang.
Kembali Izar mengikuti kemana pinta teman-temannya itu. Tepat jam 4 sore akhirnya Izar sampai di rumah.
Umi dan kedua adiknya menyambut kedatangan Izar. Ia segera mandi dan merebahkan tubuhnya sambil menunggu waktu magrib tiba.
"Gimana Mas jalan-jalannya?" tanya Umi mendekati putranya di susul oleh kedua putrinya.
"Capek Mi,"
"Tapi kan seneng Mas," celoteh Syakilla.
"Alhamdulilah, seneng Dek," jawabnya sambil tersenyum.
Umi ikut tersenyum, namun ia justru bingung bagaimana cara membayar kontrakan sedangkan uangnya sudah di berikan pada putranya.
__ADS_1
"Mi ... Umi kenapa?" tanya Izar melihat Uminya melamun.
"Nggak papa Mas," jawabnya sambil tersenyum.
"Dek, ambilkan dompetnya Mas Izar," katanya sambil menyentuh tangan Syakilla.
Ia pun segera berdiri melaksanakan perintah sang kakak dan memberikan dompet tersebut pada Izar.
"Ini Mi uangnya kemaren," kata Abizar pada Uminya.
Umi pun terkejut melihat uang yang di berikan oleh putranya.
"La kok jadi banyak Mas, bukanya berkurang?" tanya Umi heran.
"Berarti dompetnya Izar bisa menggandakan uang Mi," jawabnya bercanda.
"Mas Izar ada-ada aja," celoteh Syafira.
"Mas, serius ah," kata Umi penasaran.
"Serius kok Mi," jawabnya sambil tersenyum.
"Muhammad Nadhif Abizar .... " panggil Umi lengkap sebagai pertanda Umi akan menegur.
Izar pun kembali tersenyum sambil mengacak rambut kedua adiknya bergantian.
"Izar kemarin di suruh nyariin sopir sama temen-temen," katanya memulai.
"Terus?" jawab Umi serius.
"Daripada pusing nyarikan mending Izar aja sekalian bisa ikut jalan-jalan, kan lumayan Mi, bisa buat bayar kontrakan bulan ini," jawabnya sambil tersenyum.
Umi tersentak, putranya itu tak benar-benar pergi bersenang-senang dengan temannya. Ia justru mencari tambahan uang yang sejak kemarin di pikirkannya bagaimana cara mendapatkan uang tersebut.
"Umi nggak usah baper, Izar seneng kok pergi sama temen-temen," jawabnya santai.
"Mana fotonya Mas, Killa mau lihat."
"Iya Fira juga mau lihat Mas."
"He he he .... " Izar tertawa membuat adiknya terheran.
"Mas kok malah ketawa sih,"
"Mas nggak foto, adik-adikku Sayang," jawabnya sambil memainkan tangan Uminya.
"Kenapa Mas?"
"Mas tinggal tidur di mobil, ngapain panas-panasan di Pantai nanti Mas Izar item, nggak ganteng lagi dong," jawabnya bercanda sambil tertawa membuat kedua adiknya menggelitiki sang kakak yang sedang tiduran.
Saat ketiga anaknya bercanda tawa, Umi justru meneteskan air mata mengingat jawaban putranya tadi.
"Pasti Izar capek banget makanya lebih memilih tidur daripada bersenang senang dengan temannya,"
__ADS_1
Sesaat Umi menghapus air matanya kemudian mencium lelaki kebanggannya itu.
"Terima kasih anakku sayang, untuk semua yang telah Izar berikan pada Umi dan adik-adik," katanya sambil menempelkan bibirnya di kening Abizar.