Hidup Adalah Perjuangan

Hidup Adalah Perjuangan
Ayam Balado Kesukaan Mas Izar


__ADS_3

Usai menerima penghargaan dari sekolah, Syafira segera pulang. Gadis cantik itu tak sabar ingin bertemu dengan Uminya.


"Mi, Fira punya hadiah untuk Umi," katanya penuh semangat.


"Hadiah apa sayang?" jawab Umi heran.


"Umi tutup mata dulu," katanya lagi membuat Umi penasaran.


"Nak, jangan bikin Umi penasaran gini ah." Umi mengeluh.


"Udah, Umi nurut saja," pinta putri kesayangannya itu.


Umi mengalah, ia segera memejamkan mata seperti pinta Syafira. Tak lama, kecupan mesra mendarat di pipi Umi sambil putrinya itu berkata,


"Fira sayang banget sama Umi," katanya masih menempelkan bibirnya di pipi Umi.


"Masyaallah, Nak. Umi fikir ada apa," kata Umi segera membuka mata.


Fira pun tertawa lagi membuat Uminya bingung. Setelah kebingungan yang pertama tentang kepulangan gadis manis itu sebelum waktunya kini Umi di buat bingung lagi dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajah manis putrinya itu.


"Umi nggak seneng ya di cium sama Fira?" tanyanya setelah melihat ekspresi datar Umi.


"Sayang sini," pinta Umi agar putrinya itu mendekat.


Fira segera memeluk Uminya.


"Umi sayang banget sama Fira," katanya sambil memeluk Fira.


Mereka terdiam untuk beberapa saat, kemudian Fira mengeluarkan bungkusan dari tasnya untuk Umi.


"Ini apa, Nak?" Umi terlihat bingung.


"Fira jadi juara PTS lagi, menjadi yang pertama mewakili 9 kelas di sekolah Fira," katanya kembali memeluk Umi.


"Subhanallah, anak Umi pinter sekali," kata Umi kembali menciumi gadis itu.


"Iya dong, siapa dulu Uminya."


"Tunggu deh, berarti tadi ada kumpulan wali murid. Fira kok nggak bicara sama Umi," kata Umi menebak.


Fira pun diam sesaat.


"Fir ..."


"Nadhifa Syafira, anak Umi yang cantik," panggilnya lagi setelah tadi ia tak menoleh saat di panggil Uminya.


"Eh, Iya Mi. Fira denger kok."


"Kenapa Fira nggak bilang kalo ada kumpulan wali murid," tanya Umi lembut.


"Lupa," jawabnya singkat.


"Coba lihat," Umi mengangkat wajah putrinya.


"Kok nggak cantik lagi ya anak Umi kalo bohong begini," kata Umi sambil geleng-geleng.


"Umi ..." keluhnya.


"Kenapa?" Umi masih menatap tajam wajah putrinya itu.


Fira segera meneluk Umi begitu erat, Umi pun membiarkan apa yang dilakukan putrinya itu.


"Fira nggak mau Umi lihat Abi sama keluarga barunya," jawab Fira sambil memeluk Umi.


"Fira lihat?" tanya Umi sambil mengusap rambut panjang putrinya itu.


"Lihat."


"Terus?" tanya Umi lagi.


"Apanya yang terus, Mi?"


"Abi lihat nggak Fira naik panggung ambil hadiahnya?"


"Lihat."


"Terus Abi diem aja, lihat putri cantiknya ini naik panggung sendirian? Pasti juara yang lain di temani orang tuanya kan?" tebak Umi sebab di kegiatan sebelum-sebelumnya pasti demikian.


Fira hanya tersenyum sambil menatap wajah Uminya yang terlihat menahan air mata.


"Eh, Umi nggak boleh nangis. Tadi Fira nggak nangis kok meskipun di panggung sendirian," kata Fira langsung mengusap air mata Uminya.


Umi langsung menciumi gadis cantik itu. Tak tega rasanya ia membayangkan apa yang terjadi tadi saat putrinya itu berjalan sendirian diantara teman-temannya yang di temani oleh kedua orang tua seperti tahun sebelumnya.


Tahun lalu, Fira juga menjadi juara pertama dan dengan suka cita Umi serta Abi menemani gadis cantik itu naik panggung untuk mengambil hadiah. Kala itu mendapatkan beberapa buku pengetahuan dan novel sebagai kenang-kenangan penyemangat belajar siswa.


"Kata Mas Izar, balas demdam terbaik adalah dengan menunjukkan pada meraka bahwa Fira bisa lebih baik dari apa yang mereka tau,"


"Masyaallah, anak kesayangan Umi," kata Umi terus memuji putrinya itu.


"Harusnya Fira bicara sama Umi."


"Nanti ada saatnya, Mi. Fira nggak mau Abi lihat air mata Umi," kata Fira.


"Ya Allah, anak Umi."


"Tu kan nangis lagi," kata Fira sambil menatap butiran air mata yang menetes dipipi Umi.


"Umi menangis bukan karena Abimu, Nak. Umi bahagia melihat gadis cantik Umi ini menjadi wanita kuat, menjadi putri cantik yang pintar dan tegar menghadapi kenyataan ini," jawabnya kembali dengan uraian air mata namun ada senyum disana.


"Fira kuat karena Umi, karena Mas Izar. Kenyataan hidup memang tidak bisa di pungkiri Mi, kita tidak bisa lari dari takdir ini kan Mi? Setiap malam Mas Izar selalu bangunin Fira terus peluk Fira sambil berbisik di telinga Fira, katanya kita harus berdamai dengan keadaan agar kita bisa menjemput kebahagiaan itu lagi." Fira menceritakan apa yang di katakan kakaknya pada Umi.


"Masyaallah, Mas Izar ... Mbak Fira," kata Umi kini sambil tersenyum.


"Dan hari ini Fira buktikan pada Abi dan Mas Izar kalau Fira mampu," jawabnya semangat.


"Tapi Fira harus inget ya Nak, Fira nggak boleh sombong. Tetep jadi putri yang lembut, rendah hati meskipun Fira menjadi juara pertama di antara teman-teman seangkatan Fira,"


"Iya Umiku sayang, tadi Mas Izar juga bicara begitu,"


"Tadi?" tanya Umi heran.


"Iya Mi, Mas Izar curang. Dia baca surat edaran di tas Fira dan tadi tiba-tiba dateng ke sekolah setelah Fira turun dari panggung."

__ADS_1


"Oh jadi itu yang bikin Fira bahagia, gara-gara Mas Izar tiba-tiba dateng?"


"Iya Mi, pokoknya Mas Izar tooop banget Mi," katanya memuji kakaknya.


"La kok nggak pulang bareng Fira?"


"Kerja lagi Mi, tadi katanya Mas Izar ijin sebentar buat Fira."


"Subhanallah ..." Umi tak hentinya mengucap syukur.


"Umi mau nggak bantuin Fira?"


"Bantuin apa, Nak?"


"Bikinkan Ayam balado kesukaan Mas Izar," kata Fira pada Umi.


"Tapi Nak, Uangnya nggak cukup buat beli bahan-bahannya." Umi terpaksa jujur setelah diam beberapa saat.


"Tenang aja Mi, selain dapet hadiah yang entah apa ini isinya. Tahun ini ada uangnya," kata Fira sambil mengeluarkan amplop dari tasnya.


"Alhamdulilah ..."


"Nah ini yang Fira bilang tadi, Fira punya hadiah untuk Umi," katanya sambil memberikan amplop kepada Uminya.


Kata syukur tak berhenti diucapkan Fira melihat senyum bahagia dari Umi.


"Terima kasih Ya Allah engkau hadirkan senyum bahagia itu lagi pada Umi" batin Fira sambil terus menatap Umi.


Sesaat berlalu, Umi segera bersiap ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan. Kali ini Umi di temani gadis cantiknya yang pulabg lebih awal dari biasanya. Mereka menuju pasar yang tak jauh dari kontrakannya dengan berjalan kaki.


Usai di rasa cukup mebeli beberapa kebutuhan dapur, Umi dan Syafira segera pulang kemudian di lanjutkan mengolah ayam kesukaan putra lelakinya itu.


Setelah Isya, Izar baru saja sampai di depan rumah. Umi menyambutnya dengan senyum manis di depan pintu.


"Alhamdulilah, anak Umi lemburnya nggak sampai larut malem lagi," katanya setelah Izar mencium tangannya.


"Iya Mi, hari ini Izar capek banget rasanya,"


"Yasudah segera mandi, solat isya, setelah itu makan terus Umi pijitin," kata Umi lembut sambil memegang pundak putra laki-lakinya itu.


"Wiiih enaknya, tapi Izar udah solat isya tadi," kata Izar langsung mencium pipi Uminya.


Baru sesaat ia masuk, matanya tertuju pada Syafira yang nampak sibuk dengan posisi membelakangi pintu.


"Lagi apa Dek," tanya Izar mendekati adknya.


"Fira dapet novel banyak, Mas" jawabnya sambil memperlihatkan tumpukan novel.


"Hadiah yang tadi?" tanya kakaknya itu.


"Iya Mas,"


"Mas Izar kenapa nggak bilang sama Umi tentang ini?" tanya Umi pura-pura marah.


"Ahaaa Umiku sayang, nggak perlu kesana," kata Izar sambil mengedipkan matanya.


"Anak-anaknya Umi, terima kasih banyak sayang, kalian sudah sangat menjaga hati Umi," Umi mencium kedua anaknya bergantian.


"Iya Mas, Dek Killa lagi ngerjakan tugas ke rumah temennya yang ada laptop," jelas Umi.


"Pulang jam berapa Mi, ini udah hampir jam 8 lo. Rumah temennya dimana?" tanya Izar khawatir.


"Paling sebentar lagi pulang, Umi sudah bilang nggak boleh malem-malem kok pulangnya."


"Assalamualaikum," ucap Killa di depan pintu.


"Waalaikumsalam, nah itu sudah pulang," jawab Umi segera beranjak dari tempat duduknya.


Umi membuka pintu kemudian merangkul putri bungsunya masuk.


"Kalo aja Dek Killa nggak langsung pulang ini, pasti di susul sama Mas Izar," kata Umi pada putrinya.


"Lo kenapa Mi? tadi kan Killa sudah ijin sama Umi," protesnya.


"Besok lagi jangan keluar malem-malem ya Dek, rawan." Izar menasehati adeknya.


"Iya Mas," jawabnya sambil duduk di dekat sang kakak.


"Umi katanya mau mijitin," kata Izar menagih.


"Ya mandi dulu, terus makan bareng Dek Killa habis itu baru Umi pijitin," jawab Uminya.


"Sekarang aja Mi,"


"Nanti kalo Umi pijit sekarang, Mas Izar langsung tidur. Makan dulu ya Mas,"


"Ya sekarang pundaknya dulu Mi sebentar, pegel banget ini." Izar kembali merayu Uminya.


Umi pun segera berjalan mendekati putranya itu. Kemudian memijat bagian yang di tunjukkan oleh Izar.


"Yang sini Mi," katanya lagi sambil nemegangi pundaknya.


Fira dan Killa menatap wajah kakaknya yang sedang di pijat oleh Umi, tak terasa mereka meneteskan air mata. Fira segera menghapus air matanya sesangkan Killa membiarkan butiran bening itu jatuh melewati pipi tirusnya.


"Dek Killa kenapa menangis?" tanya Izar saat melihat adiknya meneteskan air mata.


"Iya, anak Umi kok menangis?" tanya mereka heran.


Killa menggeleng, ia langsung menghapus air matanya dan menempelkan wajahnya di dada sang kakak.


"Sayangnya Mas kenapa?" tanya Izar lembut.


"Makasih ya Mas, untuk semua yang Mas lakukan untuk kita," katanya tak berani menatap wajah kakaknya.


"Maksud Killa gimana?"


"Killa masih inget, Mas Izar pengen foto di taman belakang kampus bareng Killa sama Mbak Fira pas wisuda nanti, tapi ternyata ..." katanya masih menggantung tapi Izar buru-buru menutup mulut Killa dengan tangannya.


"Sudah, lupakan itu semua. Kita mulai semuanya dari awal. Pengennya Umi sama Mas sekarang yang penting Dek Killa sama Mbak Fira bisa melanjutkan pendidikan sampai lulus kuliah nanti," kata Izar sambil mengusap rambut adiknya itu.


"Tapi Mas, Fira nggak mau merepotkan Mas Izar terus," kata Fira menatap sang kakak.


"Mas nggak repot, udah ah jangan sedih-sedih begitu, nanti nggak cantik lagi ya Mi," kata Izar sambil menoleh Umi yang masih memijat pundaknya.

__ADS_1


Umi hanya tersenyum, hatinya begitu tersayat mendengar ucapan putra-putrinya. Namun demi mereka, Umi menahan air matanya agar tak jatuh di hadapan anak-anaknya.


"Udah enakan belum Mas?" tanya Umi.


"Udah Mi, tapi nanti lagi ya. Punggung sama kakinya juga," kata Izar sambil tertawa di hadapan Uminya.


"Iya, sekarang mau makan apa mandi dulu?" tanya Umi, kini sudah duduk di samping Syakilla.


"Makan dulu Mi, kok laper ya sekarang?" katanya manja pada Umi.


"Dek Killa maem juga ya, Umi tadi beli deterjen dapet hadiah piring lo," kata Umi pada anaknya.


"Kalo nambah berarti nggak di suapin Umi dong," celoteh Syafira.


"Ya nggak gitu Nak, kalo minta di suapin Umi ya pasti mau kok,"


"Yeee ... pokoknya Umi terbaik deh," kata Syafira memuji Uminya.


"Umi masak apa?" tanya Syakilla.


"Mmm ... cuma sama sambel aja Nak, mau nggak," jawab Umi kini berubah ekspresi.


Killa dan Izar pun menangkap raut kesedihan disana.


"Mau kok Mi, nggak papa!" jawab Killa masih membantu Syafira membereskan buku-bukunya.


"Mas Izar mau?" tanya Umi.


"Mau Mi, apa aja yang dibikin Umi, Izar mau," jawabnya membuat hati Umi tersentuh.


Fira pun tertawa pada Umi membuat Killa dan Izar heran.


"Fira kenapa ketawa begitu?" tanya Izar heran.


"Coba tanya Umi," jawabnya masih tertawa.


"Mbak Fira kenapa Mi?" Syakilla menimpali.


"Yang ketawa Mbak Fira kok Umi yang di tanya, mana Umi tau," jawabnya ikut tertawa.


"Umi sama Fira aneh," celoteh Izar.


Umi berjalan mendekati anaknya dengan membawa dua piring berisi nasi dan ayam balado yang sengaja di buat Umi atas permintaan Syafira.


"Ini Mas sama Adik makan dulu," kata Umi memberikan dua piring bersamaan pada Izar dan Killa.


Mereka terkejut setelah piring ada di tangan masing-masing.


"Umi masak ayam balado kesukaan Mas Izar," kata Killa menatap Uminya.


"Umi ngerjain kita?" Izar menimpali membuat Umi dan Syafira kembali tertawa.


"La kan bener Umi bilang tadi, makan sama sambel," jawabnya masih tertawa.


Izar langsung meletakan piringnya kemudian diikuti oleh sang adik yang juga meletakan piring ditangannya. Mereka kemudian mendekati Uminya.


"Umi ... " teriak mereka sambil mencium pipi Uminya.


Lama sekali mereka mengusap-usap pipi Umi dengan hidungnya hingga Umi merasa kesakitan.


"Nak, Udah ... sakit ini," kata Umi berusaha menyingkirkan wajah kedua anaknya.


"Umi iseng banget sih ngerjain kita," kata Izar.


"Fira yang minta," jawab Umi membuat Syafira kaget.


"Firaaaaa ..." kata Izar melotot.


"Eh Umi, Fira emang minta bikinkan ayam balado untuk Mas Izar tapi Fira nggak minta Umi ngerjain kalian," jawab Fira membuat Umi tertawa lagi.


"He he he ... sudah ... sudah. Umi minta maaf ya, Umi cuma bercanda," katanya setelah ketiga anaknya saling berdebat.


"Umi ..." kata Syakilla menatap Uminya.


"Maaf sayang, Umi bercanda. Sudah di makan dulu sekarang," kata Umi pada kedua anaknya.


"Emangnya Umi punya uang?" tanya Izar sebab ia merasa hanya memberikan sedikit uang yang tak mungkin cukup untuk membeli bahan masakan itu.


"Enggak, Fira yang punya uang," jawab Umi.


"Kok Fira, tadi kan udah Fira kasih semuanya buat Umi, berarti ... " kata Fira kembali membuat penasaran Izar dan Killa.


"Ini Umi sama Fira kenapa sih bikin Izar penasaran,"


"Udah di makan dulu, udah lama kan Mas Izar nggak makan ayam balado masakan Umi," katanya dengan mengusap kepala putranya itu.


"Fira mau bicara atau Mas gelitikin sampai nangis kaya biasanya?" kata Izar bersiap mendekati adiknya itu.


"Iya iya Mas, ampun ... jangan ya," jawabnya segera memegang kedua tangan kakaknya itu.


Izar masih melotot tak bersuara.


"Jadi tadi Fira dapet hadiahnya buku sama uang, terus Fira minta Umi bikinkan makanan kesukaan Mas kesayangan Fira ini," jawabnya sambil senyum-senyum.


"Oh begitu," jawab Izar kembali mendekat pada Fira namun ditahan oleh adiknya itu.


"Mas mau peluk,"


"Fira nggak percaya," katanya takut.


"Enggak. Beneran Mas mau peluk Fira," kata Izar masih memaksa menarik adiknya agar berada dalam pelukannya.


Fira pun luluh juga kemudian mendekati kakaknya.


Setelah Fira berada dalam pelukan, Izar segera menggelitiki adjknya hingga ia teriak-teriak.


"Umi ... Umi ... Mas Izar udah," katanya sambil menahan geli.


"Mas sudah, kasian adiknya. Makan dulu ini udah di siapkan Umi kok." Umi berusaha menarik Izar.


"Terima kasih sayang. Fira tetep rajin belajar ya, Dek Killa juga harus rajin belajar biar seperti Mbak Fira," kata Izar setelah puas menggoda sang adik.


"Siap bos," jawab Fira dan Killa bersamaan membuat Umi kembali tersenyum melihat keceriaan anak-anaknya kembali terpancar.

__ADS_1


__ADS_2