
Azan subuh samar-samar terdengar, alarm di ponsel Abizar membangunkan seisi rumah. mereka segera melaksanakan solat berjamaah seperti biasa kemudian di lanjutkan dengan kesibukan masing-masing.
"Mas Izar nanti nggak lembur lagi kan ya?" tanya Umi sambil menumis kangkung.
"Nggak tau Umi, emangnya kenapa Mi?" Izar balik bertanya pada Uminya.
"Nggak usah lembur Mas, Umi takut Mas Izar sakit kalo tiap hari kecapekan," pinta Umi pada putranya.
"Umi nggak usah baperan deh," katanya mendekati Umi sambil mencium pipinya.
"Eh ini anak di kasih tau Uminya juga," protes Umi saat Izar sudah masuk kamar mandi.
"Mas Izar ngapain, Killa mau mandi," teriaknya dari luar.
"Bentar," jawabnya kemudian tak lama ia keluar dari kamar mandi.
"Mi," kata Fira saat adik bungsunya sudah bersiap untuk mandi.
"Apa sayangku?" jawab Umi sambil mematikan kompor.
"Mi, Fira ada praktik bikin prakarya harus iuran Rp.60.000," katanya pada Umi.
"Harus bayar hari ini, Nak?" tanya Umi mendekati Syafira.
"Besok pagi terakhir," jawabnya sambil menatap Izar yang memijat kakinya sendiri.
Umi pun menatap putranya, malam tadi Izar memberikan hasil kerja beserta uang lemburan sebesar Rp. 150.000.
"Uangnya masih cukup kan, Mi?" tanya Izar pada Uminya.
Umi mengeluarkan uang dari saku gamisnya setelah di belanjakan pagi tadi, kemudian ia menghitung sisanya.
"Masih Rp. 136.000, Mas."
"Katanya Umi mau beli deterjen sama gula," tanya Izar pada Umi sedangkan Fira sudah mengambil sarapan sambil menunggu Killa selesai mandi.
"Nanti Mas, yang penting kan Umi masak dulu buat Mas dan adik-adik,"
"Kalo masih cukup, di bayar sekarang aja Mi," kata Izar sambil menempelkan kepalanya di pangkuan Umi.
"Mas Izar nanti nggak kebagian," kata Umi sambil mengusap kepala putranya itu.
"Izar kan mau kerja bukan mau main Mi, Insyaallah nanti ada rezekinya lagi," kata Izar kini sudah memainkan ponselnya.
"Makasih ya Mas," kata Fira memegang tangan sang kakak.
"Belajar yang rajin, biar bisa kuliah gratis," kata Izar pada sang adik.
"Bisa gitu Mas?" tanya Fira pada kakaknya.
"Bisa Dek, kamu nggak update sih," kata Izar menjulurkan lidahnya meledek.
"Umi, Mas Izar begitu," katanya pada Umi.
"Mas, adik biar makan dulu jangan diganggu."
"Mbak Fira makan lama banget, udah siang lo," kata Killa duduk di depan Uminya.
__ADS_1
"Tu Dek Killa sudah selesai, di habiskan dulu Mbak. Biar gantian sama adik nanti sarapannya."
Saat mereka bercanda tawa, terdengar pintu rumahnya di ketuk oleh seseorang.
Izar pun segera berdiri dan membuka pintu rumahnya, ia terkejut dengan tamu yang datang.
"Bu Anes, ada apa kesini?" tanya Izar kaget.
Mendengar ucapan Izar, Umi dan adik-adiknya pun kaget.
"A ... ada apa Bu?" tanya Umi terbata.
"Ini, saya mau ambil cincin berlian yang di surat kwitansi ini," katanya dengan suara keras.
Izar pun terkejut melihat harga cincin di kwitansi itu. Ia kemudian menatap sang ibu dengan tatapan tajam.
"Sebentar," kata Umi sambil membuka tasnya.
Umi pun memberikan sebuah cincin berlian sebagai hadiah dari sang suami kala itu saat Umi baru saja melahirkan Syakilla.
"Sudah ya Bu, saya sudah tidak membawa apa-apa milik suami anda lagi. Mohon untuk tidak mengganggu kami, permisi." kata Umi sambil berjalan masuk kerumah sedangkan Izar dan adik-adiknya masih mematung di depan rumah meski tamunya sudah hilang dari pandangan mereka.
"Mas, Adik ... masuk Nak," suara Umi lirih.
Mereka pun berjalan masuk dengan langkah lunglai, tak tega rasanya mereka menatap Umi.
"Izar janji, suatu saat Izar belikan yang seperti itu untuk Umi," kata Izar sambil memeluk Uminya.
"Umi nggak perlu itu, Nak. Harta paling berharga untuk Umi adalah kalian, bukan cincin berlian itu," jawab Umi tegar tanpa air mata.
Umi nampak kecewa walau telah di tutupi sedemikian rupa, sebenarnya mereka tak tega meninggalkan Umi dalam keadaan terluka begitu, namun apa daya tak ada pilihan lain.
"Masyaallah, Mbak itu mobilnya Abi kan?" Kata Killa saat tiba-tiba ada sebuah mobil lewat.
"Ah iya Dek," jawabnya terus menatap mobil yang semakin menjauh dari pandangan matanya.
"Gimana ya Mbak perasaan Abi, lihat kita jalan kaki begini," tanya Killa polos.
"Abi nggak punya perasaan Dek, kalo nggak gitu nggak mungkin Abi ninggalin kita begini," jawabnya kesal.
"Yasudah Mbak biarkan. Inget kata Umi nggak boleh ngomongin orang," Killa mengingatkan kakaknya.
"Iya, astagfirullahalazim," kata Syafira beristigfar.
Mereka berhenti di pertigaan yang memisahkan letak sekolahan. Sebelum melanjutkan perjalanan tak lupa Killa mencium tangan kakaknya, setelah itu mereka berjalan ke sekolah masing-masing.
Tepat di depan gerbang sekolah, Fira melihat Abi berada disana. Ayahnya itu terlihat sangat memanjakan Bella, putri dari istri barunya. Gadis manis itu akhirnya meneteskan air mata juga setelah sekian detik menahannya.
"Syafira yang kuat ya Nak," suara itu tiba-tiba mengagetkan lamunannya.
Beliaulah Ibu Aminah, wali kelas yang awalnya sempat bingung melihat pemandangan itu namun akhirnya beliau mendapat jawaban dari beberapa teman Bella setelah di introgasi oleh Bu Aminah.
"I ... iya Bu," jawabnya terbata.
"Yasudah yuk masuk bareng Ibu," kata beliau lembut melihat siswanya itu menutupi kesedihannya.
"Iya Bu, saya mau lewat pintu samping saja," kata Fira tak mau lewat di hadapan laki-laki yang di panggilnya Abi itu.
__ADS_1
Beliau membiarkan siswanya itu pergi, hatinya ikut perih melihat pemandangan seperti itu.
"Ya Allah Nak, semoga Allah kuatkan hatimu," kata Bu Aminah sambil menyeka air matanya.
Hari ini, di sekolah Fira sedang diadakan pertemuan orang tua untuk mengambil hasil Penilaian Tengah Semester atau (PTS) yang telah di lakukan beberapa hari yang lalu. Selain itu juga akan di umumkan siapa yang mendapat nilai tertinggi dan akan mendapat reword dari sekolah sebagai pemacu semangat siswa untuk belajar lebih giat lagi.
Sebenarnya Fira ingin mengatakan pada Umi tentang hal ini namun ia takut nanti justru melihat kehadiran Abi bersama keluarga barunya dan akan menyakiti hati Umi sehingga ia memilih untuk tidak mengatakannya.
Acara sudah di mulai. Di aula itu terlihat siswa duduk bersama orang tuanya. Sama persis seperti di tahun pelajaran sebelumnya. Fira menatap semua keceriaan teman-temannya bersama orang tua mereka, tak terkecuali Bella. Ia menguatkan hatinya. Air mata itu tak boleh menetes lagi, ia harus menjadi gadis yang tegar demi Umi dan kakak serta adiknya.
Acara yang di tunggu-tunggu pun di mulai, setelah acara pembukaan dan sambutan-sambutan kini tiba saatnya pengumuman juara dari kegiatan PTS di sekolah itu.
Hatinya sungguh berdebar, ia masih menyemogakan hal yang sama seperti semester lalu saat ia masih di temani oleh Abi dan Umi untuk naik panggung mengambil hadiah.
Pengumuman juara 3 sudah di sebutkan, kemudian pembawa acara memanggil juara 2 beserta orang tuanya untuk naik panggung. Hatinya semakin berdebar, semoga setelah ini namanya yang disebut.
"Dan ... juara pertama dalam kegiatan Penilaian Tengah Semester ini adalah ... Nadhifa Syafira," suara pembawa acara bergema di ruang aula sekolahnya.
Rasa syukur itu berkali-kali terucap dalam hatinya. Semua mata tertuju padanya. Ucapan selamat pun datang dari samping kanan, kiri, depan, belakang dimana Fira duduk.
"Mohon untuk ananda yang namanya saya sebut untuk segera menuju panggung bersama pendampingnya."
Hati Fira tersentak, ia melihat kedua juara yang lain berjalan maju bersama orang tuanya sedangkan Fira hanya sendiri tanpa di temani siapapun. Ia kembali menguatkan hatinya, kemudian maju seorang diri tanpa pendamping.
"Wali dari saudara Nadhifa?" tanya pembawa acara saat Fira sampai panggung hanya sendiri.
Fira pun tersenyum sambil menggelengkan kepala pada pembawa acara untuk memberi kode.
Pembawa acara pun paham kemudian melanjutkan acara penyerahan hadiah untuk siswa siswi berprestasi. Usai foto bersama mereka pun di arahkan untuk turun oleh panitia.
"Mohon untuk juara pertama bisa memberikan sepatah dua patah kata terlebih dahulu," pinta pembawa acara yang membuat Fira menghentikan langkahnya.
Fira pun memberi sambutan, dengan tegarnya gadis itu berbicara sangat lantang diatas panggung.
Setelah ucapan terimakasih kepada guru dan pihak sekolah, ia juga mengucapkan terimakasih untuk orang-orang yang di sayanginya meski mereka tidak hadir.
"Hadiah ini, Fira persembahkan untuk Umi yang dengan tulus menyayangi Fira hingga detik ini, selalu memberi motivasi Fira untuk menjadi wanita tegar dan tetap belajar dengan giat. Juga untuk kakak Fira yang sudah mengubur cita-citanya menjadi sarjana dan memilih berjuang agar Fira tetap bisa berada di sekolah ini sampai lulus nanti. Terimakasih Umi, terimakasih Mas Izar tanpa kalian, Fira bukan apa-apa, semoga Fira bisa mewujudkan cita-cita Mas yang tertunda itu." katanya di akhir kalimat yang di sambut tepukan meriah oleh semua tamu yang hadir di aula.
Bu Aminah, wali kelasnya dan beberapa guru lain pun meneteskan air mata mendengar ucapan Fira tersebut.
"Kalo boleh tau, Umi dan Kakaknya kemana?" tanya pembawa acara sebab tak melihat mereka yang disebut oleh Fira.
Kembali Fira memperlihatkan senyuman untuk menutupi kesedihannya sebelum menjawab pertanyaan dari pembawa acara.
"Umi di rumah, mohon doanya agar Umi Fira sehat selalu, kalau kakak sekarang sedang kerja," jawabnya sambil menatap pembawa acara.
Seolah mewakili pertanyaan para tamu, pembawa acara itu menanyakan tentang ayah Fira, yang sebenarnya ada di tempat yang sama namun tidak bersama putri kandungnya itu.
"Abi ada namun tidak bisa mendampingi Fira berdiri disini, semoga Abi sehat selalu," jawabnya dan sekian detik mata Fira menuju tempat duduk ayahnya bersama Istri dan anaknya.
Sang ayah pun tertunduk, ia malu pada putrinya yang begitu baik tetap mendoakannya meski ia telah melukai hatinya.
Setelah sambutan itu, Fira di persilahkan untuk kembali ketempat duduknya. Saat berjalan ia melihat Izar berdiri di depan pintu aula memperhatikan Fira dari kejauhan.
"Mas Izar," kata Fira langsung memeluk kakaknya itu.
"Mas bangga sama Syafira," jawabnya menyambut pelukan hangat adiknya itu.
__ADS_1
"Mas kok tau, Fira kan ..." katanya belum selesai namun di potong oleh Izar.
"Mas nggak sengaja baca surat pemberitahuan dari sekolah, daripada kebaca sama Umi jadi Mas simpan dan Mas janji akan datang, untuk kesayangan Mas ini," katanya kembali mencium kening Syafira.