Hidup Adalah Perjuangan

Hidup Adalah Perjuangan
Juara Olimpiade


__ADS_3

Hati Syafira berdebar, ia tengah menantikan hasil seleksi lomba olimpiade matematika di sekolahnya. Kalau saja ia tak menang lomba kali ini bagaimana cara membayar uang bulanan sekolahnya yang cukup mahal itu, sedang sang kakak pun gajinya sudah di gunakan untuk kebutuhan sehari-hari yang cukup banyak meskipun Izar selalu berkata padanya,


"Fira nggak usah khawatir soal biaya sekolah, biar Mas yang pikirkan."


Izar selalu menenangkan Umi dan adik-adiknya sedangkan mereka juga tak tega melimpahkan semua beban keluarga di pundak kakak laki-lakinya itu.


"Fira kenapa melamun Nak?" tanya salah satu guru melihat Fira sangat cemas.


"Fira takut nggak lolos Bu," jawabnya pada sang guru.


"Kalo Ibu sih yakin Fira bisa ikut lomba itu."


Tak lama Fira pun melihat guru lain menempel kertas di papan pengumuman.


"Itu Pak Suryo pasti menempel pengumuman lomba, yuk kita lihat," kata guru Fira kemudian mereka berjalan mendekati papan pengumuman tersebut.


"Alhamdulilah Nak, kamu lolos. Berarti besok pagi Fira berangkat lomba," kata guru matematika Fira.


"Iya Bu, alhamdulilah ... terimakasih atas doa dan bimbingannya Bu," jawab Fira sambil mencium tangan gurunya itu.


"Fira pasti menang,"


"Amin ... insyaallah Bu, mohon doa restunya," kata Fira menatap gurunya itu.


"Pasti Nak,"


Setelah Fira bertemu dengan guru sesuai yang diinstruksikan dalam surat pengumuman tersebut, ia mencari-cari kakaknya yang bekerja di sekolahan. Sang kakak tak terlihat di sudut manapun.


"Mas, lihat Mas Izar?" tanya Fira pada salah seorang cleaning service teman kerja kakaknya.


"Di belakang, lagi istirahat dia," jawabnya sambil menyapu halaman sekolah.


Setelah mengucapkan terimakasih pada teman kerja kakaknya itu, Fira segera berjalan ke arah belakang di ruangan kecil yang digunakan untuk para tenaga kebersihan itu.


Sesampainya di depan pintu, terlihat dua orang sedang istirahat sambil menikmati makan siang.


"Izar lagi tidur tu Mbak Fira," kata seorang melihat kedatangan Fira ditempat itu.


Ia teringat sang kakak hari ini ikut puasa sunah seperti Umi dan kedua adiknya.


"Mau dibangunkan?" tanya temannya yang lain.


"Nggak lah Mas, biarkan istirahat saja tolong nanti sampaikan kalo Fira udah pulang," pesan Fira pada kedua kenaga kebersihan di hadapannya.


Memang semenjak sang kakak bekerja di sekolahannya ia lebih akrab dengan semua cleaning service dibandingkan dulu sebelum ada Izar.


"Lo kok belum waktunya pulang udah pulang sih, Mbak Fira sakit?"


"Enggak Mas. Nggak papa kok, Fira pamit ya Mas," katanya meninggalkan kedua teman kakaknya yang sedang makan itu.


Usai menyapa teman kakaknya itu ia segera pulang, hatinya berdebar ingin rasanya ia segera memeluk Uminya. Fira terus berjalan cepat agar segera sampai rumah kontrakannya.


"Umi," katanya berteriak sambil membuka pintu.


"Masyaallah, anak Umi masuk rumah kok teriak-teriak sih bukanya ucap salam," protes Umi masih memegang sapu.


"Assalamualaikum, Umiku sayang."


"Waalaikumsalam. Ada apa Nak kok sepertinya bahagia sekali," tebak Umi melihat senyuman putrinya.


"Mi, Fira lolos seleksi. Besok pagi jadi ikut lomba," katanya bersemangat.


"Alhamdulilah Ya Allah ... anak Umi memang hebat,"


"Iya dong siapa dulu Uminya," jawabnya terus dengan senyuman manis.


"Yasudah sekarang ganti baju dulu setelah itu baru istirahat," pinta Umi dengan lembut.


"Umi udah masak?" tanyanya tiba-tiba mengagetkan Umi.


"Belum, Fira nggak jadi puasa ya? Mau Umi bikinkan mie instan atau apa sayang?" kata Umi berubah panik.


"Umi, Fira kan cuma nanya. Insyaallah Fira masih puasa kok Mi," jawabnya sambil memeluk erat Uminya.


"Umi fikir Fira nggak jadi puasa,"


"Insyaallah puasa Mi."


Ditempat yang berbeda, Izar baru saja di bangunkan oleh temannya sebab jam istirahat sudah selesai kemudian mereka menceritakan pada Izar jika Fira tadi mencarinya dan sekarang sudah pulang. Izar pun terdiam, ia bingung mengapa sang adik tiba-tiba pulang sebelum jam sekolah selasai. Ia justru berfikir yang tidak-tidak tentang sang adik.


"Atau mungkin harus bayar sesuatu tapi Fira nggak cerita?" Batin Izar gelisah.


Siang itu dilalui Izar dengan hati yang tak nyaman. Hingga sore pun tiba dan ia segera pulang setelah membereskan alat-alat kebersihan.


Izar semakin mempercepat langkah kakinya saat sampai di depan gang kontrakannya, ia segera mengetuk pintu sambil mengucap salam setelah sampai di depan rumah.

__ADS_1


"Fira mana Mi," tanya Izar setelah mencium tangan Uminya.


"Lagi mandi, tumben pulang-pulang nyariin Fira," kata Umi kembali menyiapkan menu buka puasa setelah menyambut putranya pulang kerja.


"Mas Izar nggak nyariin Killa ya," kata adik bungsunya yang sedang membaca buku.


"Mas kan udah lihat Dek," jawabnya kini duduk di samping sang adik.


"Kenapa nyariin mbak Fira?"


"Kenapa ya," jawab Izar menggoda sang adik.


"Umi ... Mas Izar nih nyebelin,"


"Nggak lo Mi, Dek Killa laper Mi," kata Izar terus menggoda adiknya.


Umi hanya tersenyum melihat kedua anaknya saling bercanda tawa, sesekali mereka memanggil-manggil Uminya.


"Mas Izar kenapa nyariin Fira," katanya setelah keluar dari kamar mandi.


"Katanya Dio tadi Fira nyariin Mas?"


"Iya Mas, tapi Mas Izar lagi tidur. Ya Fira pulang aja,"


"Kenapa Fira pulang sebelum waktunya? Apa gara-gara belum bayar uang bulanan ya," tanya Izar khawatir.


"Nggak kok Mas," jawabnya sambil membantu Umi menggoreng telur.


"Terus kenapa Dek?"


"Kenapa jal Mas?" kata Fira sambil tersenyum di depan Uminya.


"Kenapa?"


"Mmm ..."


"Fira, jangan bikin Mas penasaran sayang," kata Umi lembut.


"Jadi begini Mas Izar-ku sayang," katanya mendekat pada sang kakak.


"Fira tu lolos seleksi lomba Matematika, jadi Fira disuruh pulang soalnya besok pagi berangkat lomba,"


"Subhanallah, pinter sekali sayangnya Mas. Maaf ya Mas tadi udah mikir yang aneh-aneh," kata Izar sambil mengusap kepala adiknya.


"Doakan Fira ya Mas, semoga Fira bisa buat Umi dan Mas Izar bahagia,"


Fira dan Killa sungguh bersyukur karena memiliki Umi dan kakak yang begitu menyayangi mereka. Baginya Izar kini tak sekedar seorang kakak namun juga sebagai ayah yang menjaga dan memenuhi semua kebutuhannya dengan penuh keihklasan.


Azan magrib berkumandang, mereka pun buka bersama dengan menu yang tak istimewa namun terasa begitu nikmat.


Malam itu Fira begitu di manja oleh Umi, Izar serta adik bungsunya Syakilla. Semua begitu antusias mendengar Syafira akan mengikuti lomba tingkat Nasional.


Pagi yang ditunggu pun datang, sebuah kecupan mesra mendarat dikening Syafira saat Izar bersiap untuk berangkat kerja. Seperti biasanya Izar datang satu jam lebih awal sebelum jam masuk sekolah dan pulang satu jam setelah jam akhir pembelajaran. Begitulah hari-hari yang dilalui Izar demi Umi dan kedua adiknya.


"Semangat ya sayang, Mas Izar bangga sama Fira," katanya sambil berjalan keluar rumah.


"Iya Mas," katanya mengikuti Izar sambil menggenggam tangan Izar.


Fira berangkat sekolah seperti biasa. Ia langsung menuju kelas untuk meminta doa pada teman-temannya, setelah itu ia menemui guru pendampingnya. Setelah siap ia segera pintu gerbang, disana mobil yang mengantarnya berangkat sudah siap di depan gerbang sekolah. Sebelum berangkat Fira sempat menoleh ke segala tempat di sekolahnya itu namun ia tak menemukan kakaknya.


"Fira cari apa Nak?" tanya wali kelas yang mengantarnya lomba.


"Mas Izar, Bu."


"Sudah pamit kan tadi dirumah? Ibu tadi lihat Mas Izar keluar sambil bawa ember," jelas gurunya itu menenangkan Fira.


"Yasudah Bu berangkat saja," kata Fira menahan kecewa di hatinya.


Fira dan kedua gurunya berjalan menuju mobil yang akan mengantarnya.


Setelah masuk mobil, Fira melihat sang kakak sedang membersihkan selokan agak jauh dari gerbang sekolahnya.


"Pak nanti di depan pohon mangga itu berhenti sebentar ya," kata Fira pada driver yang mengantarnya lomba.


"Fira mau apa?" tanya gurunya.


"Sebentar kok Bu," jawabnya kini sudah membuka pintu mobil setelah sampai di tempat yang ditunjuk Fira.


Terlihat Izar sedang sibuk di dalam selokan yang tak berair di depan area sekolah. Ia membersihkan sampah dan rumput-rumput yang tumbuh di sekitar selokan.


Saat Fira mendekati sang kakak, kedua gurunya hanya menatap dari dalam mobil.


"Mas, Fira mau berangkat," katanya memanggil sang kakak.


"Oh iya Dek, hati-hati." Izar menatap adiknya yang jongkok di hadapannya sambil tersenyum dengan kedua guru yang sedang memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Salim dulu," katanya sambil mengulurkan tangan.


"Udah sana berangkat, tangan Mas kotor," kata Izar tak meraih tangan adeknya.


"Mas, salim dulu," kata Fira memaksa.


"Dek tangannya Mas kotor habis bersihin sampah tu, nanti jilbab Fira kotor gimana?" kata Izar sambil menunjuk ember di dalam selokan yang berisi sampah plastik dan daun-daunan.


Fira segera menarik tangan Izar kemudian mengambil tissue di saku bajunya untuk membersihkan tangan sang kakak setelah itu ia menempelkan di hidung dan bibirnya untuk beberapa saat.


"Doakan Fira ya Mas," katanya masih mencium tangan sang kakak.


"Mas selalu berdoa yang terbaik untuk Fira, semangat ya sayang," katanya sambil mengusap pipi adeknya dengan punggung tangannya yang sesaat lalu dicium oleh adiknya.


Sungguh pemandangan yang sukses membuat dua guru dalam mobil itu berurai air mata menyaksikan adik kakak yang begitu luar biasa menjalani kehidupan.


Syafira benar-benar berjuang memenangkan lomba matematika. Setiap detik bayangan Umi dan kakaknya selalu terbayangkan dalam benaknya. Tekatnya untuk membahagiakan mereka sudah bulat. Doa selalu di panjatkan dalam sujudnya, usaha dilakukan sudah semaksimal mungkin.


Waktu yang ditunggu pun tiba, dimana saat pengumuman lomba itu. Hati Syafira berdebar. Kedua gurunya sudah menenangkan tapi itu tidak terlalu membuatnya tenang. Dilihatnya foto Umi, kakak dan adiknya yang ia ambil beberapa lalu di ponselnya. Merekalah alasan Fira untuk tetap semangat.


Setelah pengumuman lomba, mereka segera pulang. Kedua gurunya begitu bangga dengan semangat Fira yan luar biasa. Fira memang kebanggaan untuk sekolahnya.


Sesampainya di sekolah, Fira segera turun dari mobil disusul kedua gurunya yang berjalan beriringan. Terlihat Izar sedang menyapu halaman. Keringatnya menetes hingga membasahi bajunya. Cuaca siang ini memang begitu panas. Syafira berjalan cepat mendekati sang kakak.


"Mas Izar," panggilnya sambil memegang punggung kakaknya.


"Fira sudah pulang, Sayang." Izar segera berbalik badan sambil meletakan sapu.


Fira segera mencium tangan sang kakak. Kedua gurunya berdiri di dekat mereka. Salah satu guru membawa tas jinjing besar entah apa isinya Izar tak tau.


"Gimana tadi Dek?" tanya Izar sambil mengusap keringat di keningnya.


Izar berjalan di bawah pohon yang teduh diikuti Fira sedangkan kedua gurunya sedari tadi sudah berada di tempat yang teduh.


"Maaf ya Mas, Fira nggak menang," katanya masih menggenggam tangan kakaknya.


"Nggak papa, Mas udah bangga sama Fira," jawabnya sambil tersenyum.


"Mas nggak kecewa?" tanya Fira sambil tersenyum.


"Nggak lah, menang atau kalah sekalipun Fira tetep adik kebanggan Mas Izar,"


"Kan Fira jadi nggak bisa bantu Mas buat bayar sekolah," katanya menatap sang kakak.


"Tugas Fira kan sekolah, bukan mikir biaya sekolah. Biar Mas yang urus itu. Fira belajar aja yang rajin. Insyaallah udah ada rezeki sendiri untuk orang yang mencari ilmu," kata Izar menenangkan adiknya, padahal ia sendiri bingung bagaimana cara mencari tambahan uang untuk biaya sekolah kedua adiknya yang cukup mahal untuk ukuran seorang cleaning service seperti dirinya.


Kedua gurunya berkaca-kaca mendengar percakapan kakak beradik itu. Sungguh mereka adalah contoh yang luar biasa untuk dirinya dan semua orang.


Fira tersenyum sambil menatap kedua gurunya, sang guru pun menyambut senyuman Fira. Izar terlihat bingung dengan senyuman sang adik yang berjalan mendekati gurunya. Ia meraih tas yang dibawa oleh guru pendampingnya kemudian berjalan kembali mendekati Izar.


"Apa itu Dek?" tanya Izar heran.


"Coba tebak Mas?" katanya sambil tersenyum.


"Adek, kerjaan Mas masih banyak lo," kata Izar.


"Nggak papa Mas di tinggal dulu sebentar," kata guru Fira mendekati Izar dan adiknya.


Izar hanya tersenyum di hadapan gurunya sedangkan Fira membuka tasnya kemudian mengeluarkan amplop dan Piala di hadapan kakaknya.


"Fira, kamu ngerjain Mas ya," kata Izar melihat tulisan Juara 1 pada piala ditangan sang adik.


"He he he ... Maaf ya Mas, Ini semua untuk Mas, Umi dan adik," katanya menunjukan amplop dan piala kemudian memasukan kembali dalam tas jinjing.


"Selamat ya Sayang. Mas bangga sama Fira, katanya tak sengaja mencium kepala Syafira yang tertutup jilbab berwarna putih.


"Kami juga bangga sama adiknya Mas Izar," kata guru Fira.


"Terima kasih, Bu." Fira dan Izar berucap bersamaan.


Disaat yang bersamaan teman-teman Fira menghampiri.


"Bu Ina, gimana tadi lombanya Fira?" tanya temannya antusias sebab Fira masih berada dalam pelukan kakaknya.


"Alhamdulilah, juara 1 Nak," jawab sang guru.


"Yeeeeeee," kata mereka bersamaan.


Sungguh suasana yang begitu membahagiakan untuk Fira di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.


"Paling cuma kebetulan," kata Bela melihat teman-temannya bersorak. Ia tak tau jika ada kedua guru di sana.


"Bella, nggak boleh bicara begitu," kata gurunya kesal sebab beliau tau bagaimana cerita antara Bella dan Fira.


"Maaf Bu cuma bercanda," katanya sambil mencium tangan kedua gurunya kemudian beranjak pergi menjauhi mereka.

__ADS_1


"Biarkan saja Bu," kata Fira meminta gurunya untuk tidak menegur Bella.


"Subhanallah, mulia sekali hatimu Nak," kata sang guru mengusap kepala Fira sebelum meninggalkannya bersama teman-teman sekelas Fira dibawah pohon dekat ruang kelas itu.


__ADS_2