Hidup Adalah Perjuangan

Hidup Adalah Perjuangan
Kopi Penawar Rasa Sakit


__ADS_3

Abizar benar-benar memohon restu kepada Umi agar di ijinkan mengambil pekerjaan sampingan selama ramadhan. Dengan berat hati sang ibu pun mengizinkan setelah keduanya berdebat hingga berurai air mata.


"Jangan di paksa ya Nak, kalo memang nggak kuat udah nggak papa jangan di lanjutkan," kata Umi usai menghapus air matanya.


"Iya Umiku sayang," jawabnya dengan senyuman penuh keyakinan.


Restu sudah di dapat, surat lamaran pekerjaan pun sudah di titipkan oleh adik teman kerja yang memberikan info lowongan pekerjaan.


Tiga hari berlalu, sore itu saat Izar bersiap untuk pulang dari sekolahan ia mendapat pesan singkat untuk datang mengikuti sesi wawancara di pabrik.


Sebelum pulang, Ia pun segera ijin pada teman kerjanya untuk tidak masuk esok hari.


Sepanjang perjalanan pulang Izar membayangkan apakah mungkin ia mampu menjalaninya. Ia terus bertanya dalam hati, hari ini saja badannya terasa sangat lelah bekerja sejak pagi dalam keadaan berpuasa. Wajah kedua adiknya kembali terbayang dalam fikirannya, seketika semangat Izar memuncak. Rasa lelah di tubuhnya tak lagi di hiraukan demi kebahagiaan Umi dan kedua adiknya.


Sesampainya dirumah, ia segera mandi dan membatalkan puasa setelah azan magrib berkumandang. Usai berjamaah ia segera makan bersama Umi dan kedua adiknya dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah di masjid yang lumayan jauh dari rumahnya. Kegiatan Izar terasa begitu padat setiap harinya.


Hari berganti, Izar benar-benar menjalani dua pekerjaan dalam satu harinya. Selama ramadhan ini hanya bisa di hitung jari ia bersama-sama oleh keluarganya.


"Tak apalah, yang penting semua bisa terpenuhi," batin Izar sambil menyantap sahur di pabrik dini hari.


Waktu terus berganti, Izar benar-benar berjuang untuk keluarganya. Pagi hingga pagi lagi waktunya di gunakan untuk bekerja. Waktu tidurnya sudah tidak teratur lagi. Lagi-lagi demi ketiga wanita yang begitu sangat ia cintai, Umi dan kedua adiknya.


Siang itu Izar kembali melihat laki-laki menjemput putrinya di sekolah tempat Izar mencari nafkah. Dialah laki-laki yang sudah merubah hidupnya seperti sekarang ini, seorang yang di panggilnya Abi sedang tertawa bahagia dengan putri tirinya sedangkan ketiga anak kandungnya sama sekali tak ia hiraukan.


"Astagfirullah," batin Izar segera mengalihkan pandangannya.


Izar kembali melanjutkan pekerjaannya, hari raya Idul Fitri sudah di depan mata, semangat kerja Izar tak luntur sedikit pun, meski lelah begitu terasa dalam tubuhnya, ia begitu ihklas melakukannya.


Syafira pun menatap haru sang kakak yang sedang bekerja dari depan kelasnya di lantai dua. Ia sudah jarang sekali bersua dengan sang kakak. Izar hanya singgah dirumah kontrakannya untuk tidur sejenak menunggu waktu berbuka dan kembali bekerja setelah isya. Begitu seterusnya hingga hari ini sudah berlalu.


"Semoga lelahmu menjadi berkah Mas," gumam Syafira sambil menatap punggung kakaknya.


Hari terus berganti, waktu yang di nanti sudah tiba saatnya. Gema takbir berkumandang dari segala penjuru. Izar sudah libur dari tempat kerjanya. Umi, Syafira dan Syakilla nampak begitu bahagia melihat Izar sejak pagi berada di rumah.


"Terimakasih banyak Mas, untuk perjuangan Mas Izar selama ini demi Umi dan adik-adik," kata Umi mengusap kepala anak lelakinya.


"Izar akan melakukan apapun untuk kebahagiaan keluarga kita Mi," jawabnya mengecup tangan Umi.


"Umi hanya punya kalian Nak, Umi sudah nggak punya siapa-siapa lagi disini."


"Kita selalu disini Mi, untuk Umi," jawab Syafira dengan memeluk Uminya.


Gema takbir pagi ini terdengar begitu indah, Izar tersenyum bangga melihat ketiga wanita kesayangannya mengenakan pakaian baru dari hasil kerja kerasnya selama ini. Rasa lelah yang masih terasa di tubuhnya seketika lenyap melihat senyum bahagia dari mereka.


Umi tak hentinya mengecup kening putra kebanggaannga itu. Allah benar-benar menjadikan putra lelaki yang begitu ia manjakan selama ini sebagai obat bagi semua rasa sakit yang ia rasakan, termasuk kedua putri cantik yang menemani hari-harinya.


Meski hari raya tahun ini mereka merayakan dengan begitu sederhana dan tanpa kehadiran Abi.


"Terimakasih Mas Izar, kita tidak benar-benar kehilangan sosok Abi karena Mas sudah menggantikannya untuk kita," kata Syafira dan Syakilla bersamaan sambil mengecup kedua pipinya.


Umi tersenyum meski hatinya sungguh pilu menyaksikan putra kesayangannya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


"Somoga suatu saat Abi kalian melihat betapa sholih-sholihahnya anak-anak ini," batin Umi sambil menatap ketiga anaknya saling berpelukan usai melaksanakan solat idul fitri pagi ini.


***


"Mas Izar, maafin Killa ya suka nyusahin Mas," katanya sambil mencium tangan kakak laki-lakinya.


"Lebarannya udah lewat masih minta maaf terus, Dek. Mas sudah maafkan kok," jawabnya lembut sambil membelai rambut panjang adik bungsunya.


"Killa nggak tau gimana kalo nggak ada Mas Izar,"


"Sudah ya, jangan sampai Umi denger. Nanti sedih," katanya sedikit berbisik.


Killa mengangguk sambil menyandarkan kepalanya di pangkuan sang kakak. Gadis mungil itu memang begitu manja pada Izar.


"Killa manja banget sama Mas Izar," celoteh Fira yang sedari tadi duduk di depan rumah.


"Fira juga boleh manja sama Mas, sini." Izar meraih tangan sang adik agar berada dalam pelukannya juga.


"Mas Izar besok kerja di pabrik lagi?" tanya Fira saat sudah mengambil posisi di pangkuan Izar berdampingan dengan adik bungsunya.


"Nggak Dek, udah selesai kontraknya. Cuma satu bulan saja kok," jawab Izar dengan tersenyum.


Umi berjalan mendekati ketiga anaknya. Beliau duduk tepat di dekat Izar.


"Ini cantiknya Umi kok pada manja sekali sama Mas Izar,"


"Kangen Mi, sebulan nggak pernah deket sama Mas," kata Fira.


"Iya, Mas Izar kan jarang di rumah," Killa menimpali.


"Maafkan Mas ya sayang, nggak bisa selalu ada buat kalian seperti janji Mas dulu," katanya sembari mengusap kening kedua adiknya bersamaan.


"Mas kan kerja juga buat kita Fek." Umi menasehati kedua putrinya.


"Iya Mi," jawab keduanya kompak.


"Mas Izar besok pagi sudah kerja ya Nang?" tanya Umi menatap putranya.


"Iya Umi."


"Lo Mas, kan masuknya sekolah masih lusa," protes Fira.


"Iya kan Fira yang sekolah, besok pagi sekolahnya di bersihin dulu sambil siapkan tempat buat ambil raport," jelas Izar pada Fira.


"Dek Killa ambil raportnya jam berapa sayang?" tanya Umi pada putri bungsunya.


"Siang Mi jam 10," jawabnya tak beranjak dari pangkuan sang kakak.


"Berarti Umi bisa ambil raportnya mbak Fira dulu," kata Umi di sambut teriakan kedua anaknya.


"Jangan," celoteh Fira dan Izar bersamaan.


"Kok jangan, Umi kan juga pengen tau gimana putri Umi kalo di sekolah."


"Nanti biar Izar yang ceritakan ya Mi, Umi ke sekolah Dek Killa aja biar Izar yang ambil raportnya Fira. Kan Izar juga di sekolah Fira sejak pagi."


"Kalian takut Umi ketemu Abi ya Nak," tanya Umi.


"Umi kangen sama Abi?" tanya Fira balik.


"Kok jadi bahas kangen sih ini anak Umi."


"Fira nggak mau Umi ketemu Abi, nanti Umi sedih," pinta Fira.


"Biasa aja Mbak, Umi tu sering ketemu Abi di warung belanjaan lagi nganterin istrinya belanja," jawab Umi dihadapan ketiga anaknya.


"Terus Umi gimana?" tanya Izar dengan ekspresi kaget.


"Gimana apanya, ya nggak gimana-gimana lah Mas," jelas Umi sambil terus tersenyum.


"Pasti Umi sedih kan?" tanya Killa.


"Nggak Sayang. Umi sudah ihklas, mungkin jodoh Umi sama Abi cuma sampai sini aja," jawab Umi meski dalam hatinya terasa sesak di dada.


"Berarti Fira mau punya Abi baru dong Mi," celotehnya menggoda Umi.


"Huus, ngaco ah." Protes Uminya


Malam itu canda tawa terasa renyah sekali terdengar dari rumah sederhana di sudut gang yang masih sepi sebab penghuni yang lain masih banyak yang berlibur di kampung halamannya.

__ADS_1


Pagi pun menyapa, suara alarm ponsel Izar berbunyi bersamaan dengam suara azan di masjid yang terdengar samar-samar dari rumahnya. Seperti biasa mereka segera bangun dan melaksanakan solat subuh.


"Pagi-pagi hpnya Mas Izar bunyi terus, Mas punya pacar ya?" celoteh Safira sambil melipat mukena.


"Wah iya kayaknya, tolong ambilkan hpnya ya Dek Killa," kata Izar sebab Killa berada di dekat meja.


Killa segera beranjak untuk mengambilkan ponsel milik kakaknya kemudian memberikannya pada Izar.


"Mas Izar kalo deket sama cewek hati-hati lo Mas, jangan di buat mainan anak orang. Jangan sampai di sakiti hatinya," Umi menasehati sambil mengolah bahan masakan.


"Siap Umiku sayang."


"Calon menantu Umi orang mana?" kata Umi terus menggoda.


"Ah Umi, Fira cuma bercandaan tadi. Ini lo dari grup kelasnya Syakilla," kata Izar sambil memberikan ponsel pada adik bungsunya.


"Kirain Umi mau punya anak perempuan lagi."


"Iya besok Mi kalo sudah waktunya."


"Mas Izar jangan menikah dulu, nanti Fira nggak enak kalo mau manja-manjaan sama Mas Izar."


"Lagian Mbak Fira kan sudah besar, nggak boleh manja," kata Umi.


Fira hanya tersenyum mendengar nasehat Uminya.


"Mi, ambil rapotnya pagi nggak jadi siang," kata Killa setelah membaca informasi grup kelasnya.


"Oh yasudah nanti Umi siap-siap setelah masak," kata Umi menoleh putrinya.


"Mas Izar nanti mau ambil raport pagi apa siang?" tanya Fira.


"Nanti lihat situasi dan kondisi," jawabnya.


"Bukannya ada pertemuam di aula dulu Mbak biasanya?" Umi kembali bertanya.


"Iya Mi,"


"Berarti Mbak Fira nanti di aula sendirian dong,"


"Nggak papa Mi, Fira nggak takut kok banyak orang soalnya," jawab Fira sambil tertawa.


Gadis itu menguatkan dirinya sendiri. Sejujurnya ia juga ingin seperti teman-temannya yang lain. Mereka di temani oleh kedua orang tuanya sedangkan Fira, ia tak tega Umi datang ke sekolah namun Izar juga sibuk dengan pekerjaannya.


Izar berangkat satu jam sebelum Umi dan kedua adiknya berangkat, sesampainya di sekolahan laki-laki itu langsung sibuk mempersiapkan aula untuk pertemuan hari ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu ada apresiasi untuk peringkat tiga besar di masing-masing tingkatan kelas. Syafira masih menyemogakan hal yang sama agar menjadi juara bertahan seperti tahun lalu.


Waktu yang di tunggu pun tiba. Izar ikut sibuk bersamaan dengan wali murid yang mulai berdatangan. Saat melihat mobil ayahnya ia sengaja meninggalkan pintu masuk dan meminta temannya untuk menggantikannya membersihkan sampah di dekat situ. Sungguh tak ada kekuatan untuk Izar menyaksikan seorang yang di panggilnya Abi bersama keluarga barunya. Tubuh Izar memang kuat namun hatinya sangat lemah bahkan ia tak setegar adiknya Syafira jika berhubungan dengan sang ayah.


Sambutan-sambutan mulai terdengar dari aula, Izar pun terus membantu menyiapkan snack makanan sedangkan teman yang lainnya bertugas untuk membagikan di aula.


Usai menyiapkan snack, ia kembali mengambil sapu dan membersihkan halaman sekolah. Cuaca panas begitu menyengat namun tidak menjadi alasan untuk Izar tidak membereskan pekerjaannya.


Sedang Syafira di dalam aula berjuang menahan semua rasa yang ada melihat keharmonisan ratusan teman-teman bersama keluarganya sedang ia hanya duduk sendiri tanpa pendamping.


Sepertinya doa Fira benar-benar terkabul, ia masih di percaya menjadi juara pertahan untuk semester ini. Rasa syukur tak henti ia panjatkan dalam hatinya. Dengan semangat ia berjalan menuju panggung meski lagi-lagi ia tak di temani oleh orang tuanya.


"Pendampingnya Mbak Fira?" tanya pembawa acara yang membuat ratusan pasang mata mencari-cari seorang yang mungkin menyusul gadis itu keatas panggung.


Fira menggeleng namun sambil tersenyum. Kali ini wali kelasnya langsung berdiri, berjalan menuju panggung menghampiri siswa berprestasi itu.


Setelah memberi selamat, sang guru segera meminta salah seorang guru lain untuk memanggilkan Izar, sembari menunggu beliau memberi ucapan selamat serta membangkitkan semangat siswa siswinya yang lain agar mengikuti jejak prestasi Syafira.


"Izar, di suruh ke aula," kata temannya yang sama-sama petugas kebersihan.


"Ada apa?"


"Nggak tau, kesana aja," jawabnya sambil meminta sapu yang di pegang oleh Izar.


Secepat mungkin Izar berjalan menuju aula, ia tak tau mengapa di panggil ke tempat itu. Semakin mendekat ia melihat Syafira di atas panggung bersama dua teman beserta walinya. Sepertinya ia tau maksudnya di panggil kesana, namun ia malu untuk berada di atas panggung dengan menggunakan seragam petugas kebersihan khas sekolah itu.


Melihat kedatangan Izar, wali kelas Syafira segera memanggil.


"Kakaknya Mbak Fira, mohon untuk ke atas panggung," pinta sang guru membuat berpasang mata tertuju pada Izar.


Laki-laki itu berjalan pelan melewati beberapa wali murid di aula itu. Sesampainya di atas panggung, Fira segera meraih tangan sang kakak untuk menciumnya, sebuah kecupan mendarat di kening Fira bersamaan dengan Fira bersalaman dengan kakaknya itu.


Mereka sungguh takjub menyaksikan pemandangan di atas panggung. Lelaki muda berseragam tenaga kebersihan itu mampu membuat ratusan orang itu bertanya-tanya dalam hati.


Usai memberikan piala pada masing masing juara, mereka pun berfoto bersama kemudian meminta Fira untuk memberikan sambutan.


Fira terdiam sejenak, menatap sang kakak yang terlihat canggung di atas panggung. Ia pun meraih tangan kakaknya itu dalam genggaman.


Ucapan terimakasih pada Allah dan guru-gurunya telah di sampaikan, berlanjut dengan kata cinta untuk Umi dan kakaknya tak lupa ia selipkan doa untuk mereka.


"Banyak desas desus yang sering Fira dengar namun tak pernah sedikitpun ada rasa malu di hati Fira meskipun kakak Fira bekerja di sekolah ini, mungkin Bapak Ibu khususnya teman-teman semua sudah tidak asing dengan seragam yang di pakai oleh Mas Izar ini, dan Fira bangga karena Fira saat ini ada di sini tidak lepas dari perjuangannya. Terima kasih banyak Mas," katanya sembari mencium tangan kakaknya lagi.


Tepuk tangan mulai terdengar ramai di aula. Rasa haru berkecamuk dalam hati semua yang hadir di aula, tak sedikit yang sampai menumpahkan air matanya. Nampak raut wajah tanpa ekspresi di antara hadirin semua. Dialah ayah dari kakak beradik di atas panggung. Ia yang di panggilnya Abi tengah menyaksikan prestasi putri cantiknya serta sosok laki-laki sedang memikul amanah berat yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.


Fira turun dari panggung di ikuti sang kakak di belakangnya. Rekan-rekan kerja Izar begitu bangga menyaksikan keberhasilan Fira, gadis itu sungguh membanggakan. Beberapa teman yang sempat membicarakan Fira karena profesi kakaknya pun nampak menyesal mendengar ucapan Syafira tadi.


Bersamaan selesainya pembagian hadiah, acarapun sudah di tutup. Semua siswa dan walinya di minta agar menuju ruang kelasnya masing-masing untuk menerima raport. Fira pun masih berjalan pelan dengan menggenggam tangan kakaknya. Beberapa guru masih memberikan selamat padanya.


Nampak Bella dan kedua orang tuanya berjalan kearah mereka. Terlihat ayah dan ibunya beradu argumen. Sesaat, Bella berjalan lebih cepat bersama sang ibu sedangkan ayahnya berjalan melambat dibelakang.


"Fira," teriak Umi di depan pintu aula.


"Loh, Umi ... Killa," gumam Fira kaget begitupun dengan Izar.


Umi segera menghampiri putrinya yang memegang piala.


"Sudah Umi duga Fira jadi juara," katanya sembari memeluk cium gadis cantiknya itu.


"Dek Killa dapet juara juga?" tanya Izar melihat Syakilla menenteng piala.


"Iya ini Mas, tadi Dek Killa lomba baca puisi. Kemaren nggak bilang sama kita," kata Umi masih tersenyum bangga.


Kini Killa sudah berada dalam pelukan Izar sedang Fira masih memeluk Uminya, seakan tak peduli dengan puluhan pasang mata yang menatap mereka, kebahagiaan itu benar-benar terpancar dari wajah Izar beserta Umi dan adik-adiknya.


Sang ayah yang sedari tadi tak sengaja menyaksikan dari kejauhan hatinya tersentuh. Mereka bangkit meski telah tersakiti. Ada rasa ingin menyapa namun ia malu. Sesaat berlalu, ia pun mendekati Fira beserta keluarga yang masih berdiri di dekat aula.


"Fira... Killa," panggilnya membuat semua terkejut.


"A... Abi," kata Fira terbata.


"Selamat ya Nak," katanya mengulurkan tangan.


Fira tak segera menyambut, pandangannya menerawang jauh. Ada rasa kebencian di sudut hatinya namun di sisi yang lain ia merindukan sosok di hadapannya.


Umi segera menyenggol lengan putri cantiknya itu memberi kode untuk menyambut uluran tangan Abinya.


"Terima kasih Bi," jawabnya sambil mencium tangan di susul oleh Izar dan Killa yang juga mencium tangan Abinya setelah di kode pula oleh Umi.


"Dek Killa juga juara?" katanya pelan yang di sambut senyuman putri bungsunya itu.


Umi tersenyum bangga meski ada getaran hebat di hatinya. Laki-laki yang begitu sangat ia cintai, laki-laki yang ia hormati sejak puluhan tahun lalu mengucap janji setia padanya namun ia pula yang kini menghancurkan hatinya.


"Pamit sama Abi, Nak. Takutnya sudah di tunggu ambil raportnya," kata Umi entah ditujukan pada anaknya yang mana.


Pastinya Umi ingin segera pergi dari hadapan laki-laki itu.


Di temani oleh Syakilla, Fira duduk di teras kelasnya bersama beberapa teman lainnya menunggu orang tua yang sedang mengambil raport di kelas. Hatinya berdebar, ada Abi dan istri barunya disana. Ia takut hati Umi terluka namun Umi selalu memaksa bahkan kehadirannya di sekolah Fira hari ini tanpa di duga olehnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu bolehin Umi kesini Dek?" kata Fira pada sang adik yang sejak pagi bersama Umi.


"Killa sudah melarang Mbak, tapi Umi maksa," jawabnya tak mau di salahkan.


"Semoga Umi nggak sedih lagi setelah ini."


"Iya Mbak," Killa menanggapi ucapan kakaknya.


Hati kedua gadis itu benar-benar tak tenang, laki-laki yang di panggilnya Abi sedang menemani wanita lain di dalam sana. Sedang Umi hanya sendiri, tadi Izar sempat menawarkan diri untuk menemani namun Umi menolak.


Di tempat yang berbeda kedua gadis itu menatap Izar yang sedang merapikan aula, nampak ia dan beberapa kawannya terlihat melipat kursi kemudian mengangkatnya menuju gudang yang terletak di belakang aula.


Miris hatinya menatap sang kakak bekerja keras sedang ia hanya duduk-duduk di teras kelas.


"Kasian Mas Izar ya Mbak," celoteh Killa yang sudah berkaca-kaca melihat sang kakak mengangkat tiga sampai empat tumpukan kursi lipat sekaligus dihadapannya.


"Iya, Dek. Andai kita bisa meringankan beban Mas Izar,"


"Abi pasti lihat kan Mbak."


"Entahlah mengapa Abi tak terketuk hatinya melihat Mas Izar bekerja begitu," jawabnya penuh kemarahan.


Umi dan kedua putrinya meninggalkan sekolah setelah mengambil hasil belajar milik Syafira, sampai di rumah Umi banyak diam. Sudah bisa di tebak apa yang terjadi pada Umi.


"Mi, Fira kan sudah bilang Umi nggak usah ke sekolah Fira," katanya sambil memeluk Uminya.


"Umi nggak papa Nak," jawabnya meraih pelukan putri cantiknya itu.


"Umi nggak usah bohong, Umi sedih kan lihat Abi. Tadi Killa udah minta Umi nggak usah ke sekolah Mbak Fira," Killa ikut menghakimi Uminya.


"Nggak papa Sayang, Umi baik-baik aja," jawabnya sambil tersenyum.


Ketika mulut mampu berucap dusta namun hati tak mampu berbohong, raut wajahnya begitu nampak ada luka di lubuk hatinya yang terdalam.


Izar pulang seperti biasanya, saat senja mulai terlihat. Umi tersenyum palsu di hadapan anak lelakinya.


Tak banyak yang berubah, mereka melakukan kegiatan seperti biasanya. Mandi, solat magrib berjamaah, makan malam di lanjut jamaah isya.


Usai merapikan mukena dan melipat sajadah, seperti biasa Umi mengajak putra putrinya duduk bersama. Kali ini mereka memilih teras rumah untuk bersantai mengingat kedua gadis cantiknya memasuki libur sekolah sehingga mengganti kewajiban belajar di malam hari seperti biasanya dengan waktu bebas semaunya mereka.


"Udaranya enak ya Mi, semilir," kata Izar menikmati angin malam di luar rumah.


"Iya Mas, di dalam gerah banget," jawab Uminya.


"Ciee ... yang baru jadi juara, Mas Izar tambah semangat kerja jadinya," celoteh Izar sambil mengusap jilbab kedua adiknya.


"Mas apa nggak capek angkat-angkat kursi kaya tadi siang, kan berat," tanya Killa menatap mata sang kakak.


"Capeknya hilang lihat kalian bawa piala ke rumah," kata Izar sambil tersenyum.


"Mbak Fira yang sering jadi juara, Killa kan cuma sesekali. Itupun mungkin kebetulan," celoteh Killa memuji kakaknya.


"Eh nggak begitu, kalian juara di hatinya Umi," kata Umi memberi semangat putri bungsunya.


"Fira beneran nanya, Mas pasti capek banget kan hari ini," kata Fira melihat kegiatan di sekolahnya membuat sang kakak menjadi super sibuk.


"Iya sih di pbanding kemarin," jawabnya masih mengumbar senyum.


"Masuk aja yuk, Umi pijitin. Nih bahunya merah-merah begini," kata Umi sambil menarik sedikit kerah baju putranya.


"Nanti aja Mi, masih sore disini dulu," jawab anak lelakinya itu.


Umi hanya tersenyum, bangga melihat putranya begitu bertanggung jawab sebagai satu-satunya lelaki dalam keluarga.


Killa berjalan mendekati sang kakak, seperti biasanya ia bergelayut manja pada Izar, sang kakak berkali-kali memeluk cium si bungsu bersamaan dengan Fira yang begitu manja pada Uminya.


"Fira, Mas Izar minta tolong Sayang," katanya saat sang adik sedang menciumi pipi Uminya.


"Ada apa Mas?"


"Tolong bikinkan kopi, Dek," pintanya pada sang adik.


Sesaat, Fira langsung beranjak dari tempat duduknya memasuki rumah membuatkan segelas kopi untuk sang kakak.


"Semenjak kerja masuk malam ramadhan kemaren, Mas Izar jadi ketagihan kopi," kata Umi pada putranya.


"Iya kok Mi. Enak sih," jawabnya menatap sang ibu.


"Mirip banget sama Abi," kata Umi tak sengaja menyamakan dengan mantan suaminya itu.


Izar tersentak, namun buru-buru ia berceloteh.


"Ya gimana Mi, Izar anaknya Umi sama Abi kan?" jawabnya sambil bercanda.


"Yaiyalah, Mas Izar anaknya Abi sama Umi," jawabnya sambil menarik hidung putranya itu.


"Ada apa ini, kok bahas-bahas Abi," kata Fira sambil memberikan segelas kopi panas pada kakaknya.


"Mas mu ini lo Mbak, mirip banget sama Abi. Suka minum kopi," kata Umi yang di sambut raut wajah tak senang oleh Fira.


"Yaiyalah, anaknya. Eh enggak deh, kita kan anaknya Umi," protes Syafira.


"Ya anaknya Abi juga Mbak."


"Fira hampir tak ingat," celotehnya mengagetkan semua.


Dari ketiga putra putri Umi, memang hanya Fira yang selalu dingin menanggapi obrolan soal Abinya, maklum saja ia yang paling sering menyaksikan kasih sayang lekaki itu pada anak sambungnya.


"Sudahlah Nak, tadi siang baru aja cium tangannya Abi kan. Bagaimanapun beliau orang tua kalian."


"Ih itukan Umi yang maksain," protes Fira.


"Gimana maksa, Umi kan cuma nyenggol tangannya Fira. Umi diam kan nggak bicara apa-apa?" tanyanya menggoda.


"Mata Umi yang berbicara," jawabnya sewot.


"Wiiiih... bener Dek Killa tadi, Mbak Fira memang paling cerdas. Sampai dia tau kalau mata bisa bicara, Mas sama Adik taunya mata untuk melihat kan?" kata Umi yang di sambut tawa oleh Abizar dan Syakilla.


Fira pun manyun kemudian melepaskan pelukannya Uminya.


"Umi kok bisa sih setegar itu, Umi sedih kan sebenarnya?" celoteh Killa.


"Umi kelihatan bohong ya Dek?" kata Umi membenarkan.


"Berarti Umi masih cinta sama Abi?" tanya Izar sambil menikmati kopi buatan adiknya.


"Kopinya pahit nggak Mas kalau nggak di kasih gula?" tanya Umi tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


"Umi curang, nggak di jawab," Fira masih menghakimi Uminya.


"Mas Izar jawab dulu, nanti gantian Umi yang jawab."


"Ya pahit lah Mi, makanya di kasih gula. Tapi kebanyakan ini Dek gulanya," kata Izar menjawab pertanyaan Umi sekaligus mengomentari adiknya.


"Enak Mas?" Umi kembali bertanya.


"Ya enak, tapi kurang mantep jadinya."


"Nah, anak-anak kesayangan Umi. Begitulah hidup, tak selalu manis seperti gula ada kalanya juga pahit seperti kopi. Maka dari itu keduanya di kombinasikan agar terasa nikmat di jalani. Semua harus di sikapi sewajarnya. Mencintai sewajarnya, membenci pun sewajarnya. Sebab apa? Semua ini hanya titipan dari Allah. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Contohnya kopinya Mas Izar tadi, meskipun gula penawar rasa pahit toh rasanya tidak seenak jika komposisinya pas kan? Inti dari jawaban Umi tadi, sepahit apapun hidup kita ya harus tetap dijalani. Memaafkan menjadi gula penawar kepedihan hati yang kita rasakan saat ini. Cara terbaik untuk mengurangi rasa sakit di hati adalah berdamai dengan keadaan. Dengan begitu kita akan lebih ringan menjalani hidup ini, paham Nak?" tanya Umi sambil mengusap kepala putra putrinya.


Syafira dan Syakilla tersenyum, sedang Izar menatap tajam mata wanita kesayangannya itu.

__ADS_1


"Terimakasih untuk ilmu yang luar biasa ini, Mi." katanya sambil mencium tangan Uminya.


Begitulah Umi yang selalu mengesampingkan semua rasa di hatinya. Meski tak ingin mengingat mantan suaminya namun beliau selalu mengingatkan putra putrinya tentang sosok laki-laki yang mereka sebut Abi. Seburuk apapun beliau tetap orang tua mereka.


__ADS_2