Hidup Adalah Perjuangan

Hidup Adalah Perjuangan
Tawaran Kerja Baru


__ADS_3

hari ini terasa ada yang berbeda dengan Abizar, malam kian larut namun Izar tak juga bisa memejamkan mata, meski tubuhnya terasa sangat lelah namun fikirannya menerawang jauh. Dua hari lagi proyek pembangunan tempatnya bekerja sudah selesai, itu artinya ia harus mencari pekerjaan lain untuk tetap memenuhi kebutuhan Umi dan adik-adiknya.


Izar mengambil ponselnya, memutar lantunan sholawat dari grup hadroh Ahbabul Mustofa. Hatinya sedikit tenang, sesekali ia ikut melantunkan sholawat. Di lihatnya wajah Umi dan kedua adiknya yang sedang terlelap. Ia benar-benar tak tega melihat wajah teduh Uminya yang sedang tertidur. Tak terasa air matanya mengalir.


"Ya Allah, berikan kekuatan untuk hambamu ini agar bisa membahagiakan Umi dan adik-adik. Ijinkan hamba berbakti pada Umi," batin Izar sambil menyeka air matanya.


Ia kembali menengok jam dinding, baru pukul 00.30, Izar pun berjalan mengambil air wudhu. Ia menggelar sajadah tepat di samping Umi tidur, sebab memang tempat tinggalnya hanya satu ruangan itu saja.


Ia sangat khusuk melaksanakan solat sunnah malam 2 rakaat, sesekali terdengar isakan saat ia mengadukan semua keluh kesahnya pada sang khaliq.


Setelah itu ia kembali melipat sajadah kemudian kembali merebahkan tubuhnya di samping Umi. Sebelum terlelap ia kembali memandang wajah Uminya.


"Izar, kenapa lihatin Umi begitu?" kata Umi tiba-tiba terbangun mengagetkan putranya itu.


"Umi, nggak papa kok Mi,"jawabnya sambil tersenyum.


Umi pun menggeser kepala putranya itu agar bersandar di pundaknya. Berkali-kali Umi mencium kening putra kesayangannya itu.


"Semoga Allah jadikan lelahnya Mas Izar sebagai pahala kebaikan," kata Umi kembali mencium kening putranya yang sudah terlelap.


Pagi pun menyapa, azan subuh samar-samar terdengar. Alarm dari ponsel Izar membangunkan seisi rumah. Seperti biasa, usai solat subuh berjamaah Umi segera memasak di bantu oleh putri bungsunya Syakilla, sedangkan Syafira nampak sedang membaca Al-qur'an.


"Mas Izar mau di pijit lagi nggak?" tanya Umi sambil mengupas bawang merah.


"Enggak Umi, udah enakan kok badannya," jawab Izar masih sibuk dengan ponselnya.


"Mi, Mas Izar main hp terus tu," kata Fira setelah selesai membaca al-qur'an.


Peraturan yang di terapkan Umi pada anak-anaknya sejak dulu adalah tidak boleh memainkan ponselnya di pagi hari, lebih baik waktunya di gunakan untuk mengaji atau persiapan berangkat sekolah. Kata Umi kala itu.


"Biar Dek. Mas Izar kan seharian udah kerja, nggak ada waktu buat Mas sendiri," kata Umi lembut.


"Berarti cuma Mas Izar yang boleh dong," celoteh Syakilla.


"Dek Killa sama Mbak Fira kan pulang sekolah juga bisa, kalo Mas Izar pulang kerja sudah capek kan,"


"Iya, iya Mi." jawab Fira.


"Nak, Umi nggak beda-bedain anak Umi lo ya, kalian semua kesayangan Umi," kata Umi setelah ia sadar sedari tadi membela putranya.


"Umi baperan deh," kata Izar menatap Uminya.


"Ya karena Umi takut, anak-anak Umi merasa tersaingi satu sama lain,"


"Enggak lah Mi, kita saling menyayangi kok Mi," kata Fira sambil bergelayut manja di punggung kakaknya.


"Apaan sih Dek, mandi sana," kata Izar sambil menyingkirkan kepala adiknya.

__ADS_1


"Umi, pacarnya Mas Izar cantik," kata Fira setelah melihat foto wanita yang sedang berbalas pesan dengan Izar.


"Enggak deh Mi, Fira apaan sih," kata Izar melotot.


"Iya Mi, itu lagi chattingan," jawab Fira sambil berlari ke kamar mandi.


"Wah Umi mau punya anak perempuan lagi ya?" kata Umi bercanda.


"Nggak, Umiku sayang. Izar tu lagi chattingan sama Mbak-Mbak HRD Mi," jelas anak laki-laki itu.


"Mas Izar mau pindah kerja?" tanya Umi sambil mengambilkan makanan untuk Syakilla.


"Kan proyeknya besok pagi terakhir Mi, jadi Izar cari-cari kerjaan lagi,"


"Ya Allah, Mas Izar nggak pengen istirahat dulu Nak?" tanya Umi mendekati.


"Nanti pada puasa terus ya kalo Izar istirahat di rumah," katanya sambil tertawa.


"Mas." Umi mendekati putranya itu.


"Umi mulai deh, jangan ada air mata di antara kita, Mi." Izar menggoda Uminya agar tidak bersedih.


"Mas ini selalu bikin Umi bahagia," katanya sambil mengecup kening putranya itu.


Sesaat Izar nampak fokus dengan ponselnya, Umi pun bergeser mendekati Syakilla yang sedang sarapan, sesekali beliau menyuapkan makanan untuk putri bungsunya itu.


"Gak papa, Dek."


"Yakin gak papa Mas?" tanya Umi menimpali.


"Mas bingung Fir, ini lamaran kerja Mas di terima," katanya pada sang adjk.


"Ya Alhamdulilah dong Mas, masalahnya dimana?"


"Masalahnya, Mas kemaren masukin lamaran sebagai tenaga kebersihan terus ini infonya di tempatkan di sekolahnya Fira," kata Izar menunjukan email dari ponselnya pada Umi dan Fira.


Mereka semua saling berpandangan dengan pemikiran masing-masing. Izar menghargai keputusan adkknya itu, ia sangat menjaga hati Syafira kalau-kalau adiknya itu malu karena sang kakak bekerja sebagai tenaga kebersihan di sekolahnya. Namun disisi lain Izar juga sangat butuh pekerjaan itu demi memenuhi kebutuhan Umi dan adik-adiknya.


Fira terdiam cukup lama, membuat Umi dan Izar menyimpulkan sendiri jawabannya.


"Udah Dek, nggak usah di pikirin. Insyaallah Mas dapet kerjaan lain kok," kata Izar sambil mengusap kepala Fira.


"Mas Izar nggak marah sama Fira,?" tanya Fira sambil menunduk.


"Enggak Sayang, udah ya sana sarapan terus berangkat nanti telat lo." Izar terus mengusap kepala adiknya itu.


Umi hanya terdiam, tak tau apa yang harus di katakan. Memang tak mudah ada di posisi Fira namun menurut Umi pekerjaan itu jauh lebih ringan daripada saat ini Izar bekerja di proyek yang jelas pekerjaannya sangat berat. Melihat putranya selalu mengeluh sakit setiap kali pulang kerja membuat hati Umi tersayat. Namun tak banyak pula yang bisa ia lakukan untuk meringankan beban Izar mengingat putranya itu pun tak mengijinkan dirinya bekerja.

__ADS_1


Usai sarapan, kedua gadis cantik itu berangkat sekolah. Umi kembali masuk rumah usai mengantar putrinya sampai depan pintu. Terlihat Izar sedang menikmati sarapan meski hanya dengan sambel dan tempe goreng saja.


"Seharusnya Mas Izar nggak menghalangi Umi untuk menasehati Fira tadi," kata Umi mengingatkan putranya yang tadi mencegah Umi berbicara.


"Nggak perlu, Mi."


"Tapi Mas?" kata Umi.


"Biarkan Fira pada zona nyamannya dulu, Izar tau berat untuk Fira berada di sekolahnya saat ini," jelas Izar sambil memberikan piring pada Umi.


"Kenapa nggak di habiskan Mas, nggak enak ya lauknya," tanya Umi sambil menatap putranya.


"Suapin, kaya Fira sama Killa tadi," jawabnya sambil tersenyum.


"Anak Umi yang satu ini, bener-bener ya," katanya sambil menyendokan makanan untuk Izar.


"Jadi enak kalo di suapin Umi, biar Umi ada kerjaan," kata Izar sambil terus mengunyah makanan.


"Ditelen dulu, jangan makan sambil bicara, Sayang," jawab Umi merayu.


Izar mengunyah cepat lalu menelan makanan yang ada di mulutnya kemudian ia langsung mencium pipi Uminya.


Umi pun tersenyum melihat tingkah putranya yang begitu manja. Namun sesaat kemudian Umi kembali teringat pada sikap Fira pagi tadi.


"Harusnya Fira nggak perlu malu, Mas Izar kan kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bukan untuk senang-senang sendiri," kata Umi berubah ekspresi.


"Kasian Fira Mi, dia sudah tertekan dengan banyak hal di sekolahnya."


"Maksud Mas?" tanya Umi kembali dengan menyuapi anak laki-lakinya itu.


"Melihat Abi setiap pagi mengantar anaknya yang satu kelas dengan Fira, melihat dia menggunakan barang-barang yang seharusnya jadi milik Fira, mendengar bully-an dari teman-teman yang tidak suka dengan Fira, itu sudah cukup menyakitkan untuk dia, Mi."


"Mas Izar tau darimana?" tanya Umi penasaran.


"Fira memang nggak pernah cerita sama Izar, tapi Izar yakin itu terjadi. Karena tidak semua orang baik sama kita kan Mi," katanya pada Umi.


"Ya Allah," kata Umi tak lagi bisa berkata-kata.


"Sudahlah Mi, nanti pasti ada rezeki untuk hamba-NYA yang benar-benar berusaha, begitu kan kata Umi?" Izar menirukan nasihat Uminya.


"Kalau begitu ijinkan Umi juga berusaha menjemput rejeki itu, Nak," pinta Umi.


"Umi cukup berdoa untuk Izar, merawat dan memanjakan anak-anak Umi setiap hari seperti ini, Umi sudah berkorban waktu, jiwa dan raga Umi untuk Izar selama 20 tahun ini, biarkan Izar membalasnya sebagai bakti Izar pada Umi," katanya sambil bersandar di pundak Umi.


"Sayang, semoga Allah mudahkan jalanmu, Nak. Umi meridhoi," katanya terharu.


Tak hentinya Umi menciumi putra kesayangannya itu.

__ADS_1


"Sungguh besar Nikmat-MU Ya Robb ... kau pisahkan diri ini pada orang yang kuanggap sebagai tulang rusuk selama ini, namun engkau gantikan kecewa itu dengan kebahagiaan yang tak terhingga dengan melembutkan hati putra-putri hamba. Engkau soleh-sholehahkan mereka sebagai obat dari segala kecewa di hati ini," batin Umi sambil mencium kepala Izar yang di sandarkan pada pundaknya.


__ADS_2