
"Umiku darimana?" tanya Abizar melihat Umi masuk rumah sore ini.
"kerumah ibu kost Mas," jawab Umi menyusul putranya duduk di dekat pintu.
"Bayar kontrakan Mi?" tanyanya lagi.
"Iya Sayang,"
"Umi, Fira liburan mau ngapain ya?" katanya pada sang ibu.
"La Mbak Fira mau apa Sayang?" jawab Umi bingung dengan inginnya sang putri.
"Fira pengen jalan-jalan?" tanya Izar.
"Enggak Mas,"
"Terus pengen apa?"
"Nggak tau," jawab Fira membuat heran semua.
"Dih, ini anak nggak jelas banget," kata Izar pada adik perempuannya itu.
Azan magrib menghentikan perdebatan Fira dan Izar, usai solat dan mengaji mereka pun makan bersama.
"Killa, nggak enak ya Dek makannya kok nggak nafsu begitu?" tanya Umi melihat putri bungsunya membiarkan makanan di piringnya.
Ia hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara.
"Kenapa Sayang?" tanya Izar sambil mengecup kening adiknya.
"Ya Allah Mi, Killa demam," kata Izar merasakan panas di kening gadis mungil itu.
Umi segera meletakan sendoknya kemudian mendekati Syakilla. Berkali-kali Umi memegang kening dan leher putrinya yang memang terasa sangat panas.
"Adik pusing?" tanya Umi lembut.
Killa pun mengangguk di hadapan Uminya.
"Maem dulu ya, habis ini minum obat," kata Umi menyuapkan makanan untuk bungsunya itu.
Izar dan Fira terlihat panik melihat adiknya sakit. Semenjak hidup tanpa Abi, mereka memang terlihat sangat dekat dan saling menyayangi.
Hingga berganti hari, panas di tubuh Killa tak juga menurun. Semua cara sederhana sudah Umi lakukan, namun tidak terlalu berpengaruh.
"Di bawa ke dokter aja Mi," kata Izar pada Uminya.
"Umi nggak punya uang Mas,"
Izar terdiam, betul juga kata Uminya. Mereka memang tak punya cukup uang untuk membawa gadis cantik kesayangannya itu berobat.
Umi hanya memberikan obat turun panas yang ia beli di warung. Izar pun berangkat kerja meski hatinya tak tenang melihat adik bungsunya terlihat lemas tak berdaya.
Siang menjelang, saat istirahat Izar menelepon Syafira.
"Dek Killa keadaannya gimana?"
"Tambah panas Mas, sekarang malah menggigil," jawab Fira dari seberang.
"Umi mana?" tanya Izar panik.
Umi pun menjelaskan keadaan putrinya yang sedang sakit.
"Umi masih punya uang kan untuk naik gocar ke rumah sakit?" tanya Izar.
"Masih Mas, tapi untuk bayar rumah sakit kan udah nggak ada uang," katanya lagi.
"Sudah Umi siap-siap aja kerumah sakit, Nanti Izar nyusul,"
"Tapi Mas?"
"Biar Izar yang cari uangnya Mi," jawab Izar kemudian menutup teleponnya.
Sebenarnya Izar pun bingung, ia tak tau harus mencari uang dimana namun ia segera ijin dari tempat kerjanya.
Izar teringat oleh Rudi, teman baiknya di kampus. Tanpa berfikir panjang ia segera menelepon temannya itu.
Lama sekali tak ada jawaban dari Rudi, sudah berkali-kali ia mencoba namun tak di angkat juga.
"Ada apa Zar? Maaf lagi ada dosen," katanya lewat pesan singkat.
"Oh Maaf ganggu, aku nggak tau,"
"Iya ada apa, santai aja kali,"
"Aku mau minta tolong nih, ngerepotin kamu kalo bisa," katanya bimbang menjelaskan maksudnya.
"Iya ada apa? Bilang aja insyaallah kalau bisa aku pasti bantu,"
"Adikku sakit, bisa minjem uang dulu buat kerumah sakit?"
"Boleh, minta nomer rekeningnya aku transfer sekarang," balasnya cepat.
Sambil menaiki BRT menuju rumah sakit, Izar terus berbalas pesan dengan Rudi, syukurlah ia mau membantu Izar. Tak ada lagi yang bisa Izar gantungkan untuk di mintai tolong. Abinya tak mungkin, keluarga Abinya pun tambah tidak mungkin lagi.
Sesampainya di rumah sakit ia segera menuju ATM untuk mengambil uang yang di kirim oleh sahabatnya.
Izar terkejut dengan nominal yang dikirimkan oleh Rudi, meski Izar tak menyebutkan pasti nominal yang ia pinjam namun Rudi mengirimkan uang yang cukup banyak. Nominal yang sudah lama tak ia miliki selama ia berjuang sendiri menghidupi keluarganya.
"Rud, kok banyak banget sih sampai 3 juta-an begini," kata Izar sambil berjalan menuju IGD.
"Udah di pakai aja dulu, kalo kurang bisa WA aku lagi. Semoga Syakilla cepet di tangani dan cepet sembuh ya," balas sahabatnya itu.
Izar segera menemui Umi, benar saja adiknya itu belum bisa di tangani sebab terhalang administrasi.
Izar pun segera mengurus administrasi sedangkan Killa masih lemas dalam pelukan Uminya di ruang tunggu.
Tak lama seorang perawat menghampiri, Killa segera di bawa keruang perawatan. Umi sedikit lega melihat dokter sudah memeriksa putrinya.
"Mas Izar dapat uang darimana?" tanya Umi.
__ADS_1
"Udah Umi nggak usah fikirkan, yang penting Killa sembuh," jawabnya di hadapan Umi.
"Nggak minta Abi kan Mas," kata Syafira pada kakaknya.
"Nggak Dek, tenang aja ya ... Fira temani Umi, Mas mau kerja lagi soalnya Mas Feri nggak masuk jadi Mas Izar harus balik ke sekolah lagi,"
"Tapi Mas ...." kata Fira belum selesai bicara.
"Ini di pegang dulu sisa uangnya, kalo kurang di ATM Mas masih ada. Pinnya kaya punya kita dulu," kata Izar pada sang adik.
Dulu, Abi memang membuatkan ATM dengan pin yang sama untuk ketiga anaknya sehingga mereka masih hafal.
Izar kembali ke tempat kerjanya setelah melihat keadaan sang adik dan mengurus administrasi rumah sakit.
"Mas Izar dapat uang darimana ya Mbak?" kata Umi pada Syafira.
"Nggak tau Mi, Mas Izar kan baik sama teman-temannya insyaallah banyak yang bantuin Mas Izar," jawab Fira menenangkan Uminya.
Alhamdulilah, dalam keadaan sulit, Allah masih kirimkan orang-orang baik untuk membantu kesulitannya.
"Janji Allah memang benar Mi, Innallaha Ma'as Shobirin," kata Fira sambil menggenggam tangan Syakilla.
"Iya Sayang, terima kasih anak-anak Umi. Ketabahan kalian membuat Umi semakin sabar menjalani kehidupan ini," jawab Umi sambil menciumi dua gadisnya bergantian.
***
Tak terasa dua hari sudah Syakilla berada di rumah sakit, melihat putrinya terbaring di ruang perawatan hati Umi begitu tersayat terlebih jika mengingat putranya yang bingung memikirkan uang untuk biaya pengobatan.
"Umi kenapa menangis?" tanya Abizar di depan ruangan Syakilla.
"Umi kasihan sama Mas Izar,"
"Lo kenapa Mi? Izar baik-baik saja kok," jawabnya sambil menatap Umi.
"Mas dapat uang dari mana buat biaya berobat Syakilla?" tanya Umi masih penasaran.
Izar diam sejenak, ia menarik nafas panjang sebelum menceritakan pada Uminya.
"Izar pinjam sama Rudi Mi," jawabnya lembut.
"Pinjam berapa Mas?"
"Kemarin Rudi transfer 3 juta Mi," jawabnya jujur pada Umi.
"Ya Allah Mas, gimana nanti mengembalikannya?"
"Umi nggak usah bingung, biar Izar yang pikirkan. Yang penting Syakilla sembuh," jawab Abizar menenangkan.
Jauh di lubuk hatinya ia pun bingung bagaimana cara mengembalikan uang temannya itu. Gaji Izar sebulan saja tidak sampai sebanyak itu.
Umi hanya mampu terdiam mendengar ucapan putranya itu. Sungguh berbakti sekali anak lelakinya itu. Di saat anak seumurannya masih senang-senang dengan dunianya justru Izar sudah bekerja keras memikirkan kebutuhan keluarganya.
Tak ada yang tau kabar Syakilla sakit. Umi dan Fira sengaja tak pulang untuk menunggui si bungsu kesayangannya itu. Hanya sesekali Abizar pulang untuk mengambil pakaian dan kembali lagi ke rumah sakit. Meski hanya boleh 1 orang saja yang menunggu di ruang perawatan, mereka lebih memilih tidur di ruang tunggu rumah sakit agar lebih dekat dengan Umi.
"Zar, gimana keadaan Syakilla?" tanya Rudi lewat pesan whatsapp.
"Alhamdulilah, sudah lebih baik. Maaf ya Rud aku ngerepotin," katanya tak enak meminta bantuan temannya itu.
"Gak papa kok, fokus kuliah aja dulu. Pokoknya aku terima kasih banget sama kamu,"
"Iya iya, santai aja."
Izar segera bersiap setelah mandi dan berganti pakaian di rumah sakit ia segera berangkat menuju tempat kerjanya.
Lelah sudah pasti, lokasi sekolah dan rumah sakit yang cukup jauh pun memaksa Abizar untuk mengeluarkan ongkos BRT.
Izar segera kembali ke rumah sakit usai bekerja. Inginnya ia beristirahat saja di tumah namun hatinya tak tenang jika jauh dengan Umi dan adik-adiknya.
"Assalamualaikum," kata seorang setelah mendekati ruang perawatan Syakilla.
"Waalaikumsalam," jawab Umi dan kedua gadisnya bersamaan.
Syafira dan Syakilla terheran dengan siapa yang datang, mereka merasa tak mengenali tamunya itu.
"Umi, saya Rudi teman kuliahnya Abizar," katanya sambil mencium tangan Umi.
"Ya Allah Mas Rudi, maaf Umi sampai lupa. Lama sekali nggak ketemu," kata Umi mengusap punggung teman putranya itu.
"Abizar lagi solat, tunggu sebentar ya," kata Umi namun Izar justru sudah nampak di depan pintu.
"Rudi, kok sampai sini?" kata Izar kaget.
"Nggak boleh? Aku pulang nih," jawabnya bercanda membuat Umi dan adik-adik Abizar tertawa.
"Dek Killa inget nggak sama temennya Mas Izar ini," katanya pada Syakilla.
Gadis itu nampak sedang mengingat.
"Itu lo yang waktu itu jemput Dek Killa pas Mas Izar sakit perut," katanya mengingatkan.
"Oh iya, Killa inget," katanya sambil tersenyum.
"Nah, kalo yang ini Syafira. Kakaknya Killa, belum pernah ketemu kan?" Kata Izar yakin sebab berkali-kali Rudi main kerumahnya saat Syafira tidak di rumah.
"Fira kenal kok," jawabnya sambil tersenyum di hadapan Rudi.
"Kenal dimana?" tanya Abizar penasaran.
Rudi kembali tersenyum membuat Umi ikut penasaran.
"Rud," panggil Izar dengan wajah curiga.
Fira justru ikut tersenyum sambil menatap Abizar.
Ada apa dengan Rudi dan Syafira?
Sepulangnya Rudi dari rumah sakit membuat Abizar ingin segera mengintrogasi adiknya.
Darimana ia bisa mengenal Rudi sedangkan dulu Rudi selalu datang kerumah saat Syafira tidak berada di rumah.
__ADS_1
"Dek," panggil Izar saat gadis itu sedang menyaksikan televisi di ruang tunggu rumah sakit.
"Apa Mas?" jawabnya tak melirik sang kakak.
"Fira kenal sama teman Mas Izar dimana?" tanyanya lagi.
"Mas Rudi tadi?"
"Iyalah, siapa lagi," jawabnya mulai sewot.
"Oh."
"Kok cuma oh!"
"Harus gimana Masku sayang," kata Fira sambil tersenyum.
"Mas Izar bilang ke Umi lo."
"Ih mau bilang apa, orang Fira nggak ngapa-ngapain kok," jawabnya jutek.
"Jawab aja kenapa sih, dosa lo bikin orang penasaran."
"Mas Izar nyebelin deh pakai bawa-bawa dosa segala."
"Makanya bilang sekarang."
"Mas Rudi itu kemaren nganterin temennya lomba di gedung yang sama yang buat lomba Fira waktu itu," jelasnya sok cuek.
"Terus?"
"Apanya yang terus?"
"Kok bisa tiba-tiba kenalan?" tanyanya mengintrogasi.
"Mas Izar ini overprotektif banget sih," keluhnya.
"Bukan over tapi jaga-jaga. Fira lupa ada kejadian apa di sekolah kemaren? Anak cewek pada ikut tawuran cowok-cowok begitu."
"Ya kan Fira nggak ikutan," protesnya.
"Makanya Mas harus tau Fira berteman sama siapa?"
"Harus Mas?" tanyanya kini mendekat pada sang kakak sebab tak enak jika mengganggu penunggu pasien yang lain.
"Dulu Mas nggak terlalu pengen tau bagaimana Fira dan Killa karena ada Umi dan Abi yang menjaga kalian, tapi sekarang Mas yang bertanggung jawab bagaimana keseharian adik-adik Mas ini. Jangan sampai Syafira dan Syakilla berbuat di luar batas yang membuat Umi bersedih. Sudah cukup Abi saja yang menyakiti Umi, kita anak-anak jangan sampai kembali membuat hati Umi terluka," kata Izar dengan lembut pada adiknya itu.
Tak di sangka ucapan Abizar begitu menyentuh relung hati adiknya hingga Syafira tak kuasa menahan air matanya.
"Sayang, maafkan Mas Izar ya, Mas bukan bermaksud untuk marah sama Syafira. Mas cuma mau yang terbaik untuk adik-adik Mas ini," katanya lagi sambil menghapus air mata gadis cantik itu.
"Fira bukan sedih karena nasehat Mas Izar, Fira ingat saja bagaimana keluarga kita dulu begitu bahagia. Sedangkan sekarang? Mas Izar harus bekerja keras untuk kita, semua karena Abi," katanya dalam dekapan Abizar.
"Nggak papa Dek, Mas Izar ihklas kok. Untuk apa kita menyesali sesuatu yang sudah terjadi, lebih baik kita fokus untuk melanjutkan hidup yang baru," jawabnya lembut masih dengan mengusap kepala Syafira.
"Bismillah ya Mas, semoga Fira bisa membuat Umi dan Mas Izar bangga suatu saat nanti," jawabnya sambil menghapus air mata dan tersenyum menatap wajah sang kakak.
"Amin, jadi tadi gimana bisa kenal sama Rudi?" tanyanya kembali masih penasaran.
"Ah Mas Izar, kemaren itu waktu lomba Mas Rudi cari tempat duduk nah yang kosong cuma di deketnya Fira yaudah dia duduk di dekat Fira terus ngajakin ngobrol," jelasnya pada sang kakak.
"Udah gitu aja?"
"Mas Izar nggak percaya sama Fira?"
"Percaya kok," jawabnya cepat sebelum sang adik manyun dihadapannya.
Usai mendengar penjelasan Syafira, Abizar bermaksud akan menemui Umi karena akan berpamitan pulang dari rumah sakit namun baru saja Izar berdiri, Umi sudah berada di hadapannya.
"Loh, Mas Izar mau kemana?" tanya Umi heran.
"Eh Umi, baru Izar mau nyariin Umi," jawabnya kembali duduk menyusul Uminya.
"Killa sendiri Mi?" tanya Syafira
"Iya Mbak, tadi Umi habis ke kamar mandi lihat kalian disini,"
Syafira hanya mengangguk-anggukan kepala saja.
"Izar mau pamit pulang kok Mi," katanya pada Umi.
"Iya Nak pulang aja sama Syafira juga daripada tidur di rumah sakit dingin kan nggak bawa selimut juga," kata Umi khawatir dengan kesehatan putra-putrinya.
"Izar mau ikut Mas Doni kirim barang Mi, tadi Izar di WA katanya lagi cari teman buat kirim barang," jelas Izar pada Umi yang sudah tau pekerjaan tetangganya itu.
"Mas Izar kan besok pagi kerja?" kata Umi lembut.
"Nggak papa Mi, sebelum subuh udah pulang kok," jelasnya lagi.
"Mas apa nggak capek?" tanya Syafira.
"Nggak papa, lumayan buat tambah-tambah," kata Izar membuat hati Uminya sesak dengan ucapannya.
"Nah ... Umi baperan kan? Izar nggak papa Mi," katanya melihat mata Umi mulai berkaca-kaca.
Umi tersenyum kemudian mengusap pipi anak lelakinya itu.
"Hati-hati Nak, Umi meridhoi," kata Umi di sambut dengan kecupan di kening putranya itu.
"Izar pamit Mi, Dek ... assalamualaikum," katanya sambil mencium tangan Uminya.
Umi dan Syafira menatap punggung Abizar yang sudah berjalan menjauh dari pandangannya. Hati mereka masih terasa sesak. Satu-satunya lelaki muda itu berjuang untuk mereka.
"Kasian Mas Izar ya Mi, pasti capek banget," kata Fira pada Uminya.
"Iya Sayang, semoga lelahnya Mas Izar menjadi berkah untuk keluarga kita dan juga sebagai amal kebaikan Mas Izar," kata Umi pada Fira.
"Amin ... pasti Mas Izar cari uang tambahan buat biaya rumah sakit ya Mi," tebak Syafira.
"Iya Sayang, bantu doa untuk Mas Izar ya supaya tetap di beri kesehatan,"
__ADS_1
"Iya Mi," jawabnya sambil menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir dari matanya.
Kepergian Abi memang membuat Abizar dewasa sebelum usianya. Disaat sebagian teman-teman seusianya masih sibuk berleha-leha sambil menikmati kegiatan perkuliahannya , Abizar harus banting tulang menghidupi Umi dan adik-adiknya. Ia juga harus memutar otak bagaimana cara mendapatkan uang tambahan untuk melunasi hutangnya pada Rudi yang digunakan untuk biaya perawatan adik bungsunya sedangkan kirim barang seperti malam ini pun tak setiap hari ia bisa ikut sebab kali ini hanya menggantikan patner tetangganya yang sedang ada keperluan pribadi.