
"Assalamualaikum, Izar." Sapa Anis pada teman lamanya itu.
"Waalaikumsalam Nis, ada apa?" balasnya jelas.
"Udah pulang kah? maaf ini Umi yang minta untuk menanyakan, katanya Umi nggak bisa pulang, Syakilla nggak mau di tinggal dan hp Syafira mati jadi minta tolong aku buat nanyain subuh tadi pas lagi ganti kantong infus,"
"Oh. Iya! Nggak papa kok, aku sudah pulang. Gimana keadaan adikku? Kamu udah pulang ya?" kata Izar balik bertanya.
"Belum Zar, 10 menit lagi setelah jam pergantian sift aku baru pulang. Syakilla sudah membaik, hanya belum pulih saja karena nafsu makannya belum stabil. Mau bicara sama Syakilla atau Umi? Biar aku ke ruang rawat lagi,"
"Ah, jadi merepotkan Nis,"
"Nggak, wait wait! Aku jalan keruang rawat sekarang," balas Anis.
Izar hanya membaca saja. Sambil merebahkan tubuhnya di lantai yang terbalut tikar, ia menunggu Anis sampai ke ruang rawat dan menyambungkan teleponnya pada Umi. Tak lama, sebuah panggilan pun masuk di ponselnya. Izar berbicara singkat dengan Umi dan kedua adiknya. Setelah dirasa cukup, ia pun mengakhiri percakapannya. Setelah ucapan terima kasih yang di kirim lewat pesan singkat pada Anis, ia segera memejamkan mata. Masih ada waktu tiga puluh menit untuk beristirahat sebelum ia kembali bekerja pagi ini.
Mata Abizar terpejam, namun ia tak benar-benar tertidur. Fikirannya menerawang jauh. Apalagi kalau bukan soal uang yang menjadi beban fikirannya. Banyak orang bilang, hidup tak melulu soal uang tapi nyatanya kebahagiaan saja tidak cukup untuk membuat Umi dan adik-adiknya kenyang tanpa makanan. Uang masih menjadi persoalan dalam hidupnya.
"Ya Allah, bagaimana aku harus melalui semua ini sendiri?" batin Abizar.
Hatinya benar-benar kacau memikirkan semua yang terjadi dalam hidupnya, tentang Abi yang tak pernah tau bagaimana ia mencukupi kebutuhan Umi dan kedua adiknya, tentang hutangnya pada Doni, tentang biaya rumah sakit selanjutnya, semua itu membuat Abizar tak mampu memikirkannya seorang diri.
Ingin rasanya ia mengeluh, namun ia tak tau harus dengan siapa ia menumpahkan segala rasa yang ada di hatinya.
Alarm ponselnya membuyarkan lamunan Abizar pagi ini. Ia segera beranjak dari tempatnya berbaring untuk merebus mie instan sebelum berangkat kerja pagi ini. Badannya terasa tak karuan, namun ia harus tetap bekerja demi memenuhi kebutuhannya.
Seharian penuh ia bekerja di sekolah Syafira, tak ada jeda untuk istirahat sedikit pun sebab kegiatan pendaftaran begitu padat membuat kerjaan Abizar dan kawan kawannya semakin bertambah.
Seperti janjinya pada Syakilla, selesai bekerja ia segera menuju rumah sakit. Abizar duduk di halte depan sekolah untuk menunggu Bis Trans yang mengantarnya sampai rumah sakit.
Lagi-lagi Abizar melamun, ia kembali memikirkan bagaimana melunasi biaya rumah sakit sang adik. Ia tak lagi memiliki uang selain untuk kebutuhan sehari-hari.
"Mas Izar kok melamun?" kata seorang mengagetkan Abizar.
"Eh .. maaf Bu," jawabnya kaget melihat siapa yang ada di dekatnya.
Beliau adalah wali kelas Syafira yang sama-sama sedang menunggu kedatangan bis di halte depan sekolah.
"Ada apa Mas?"
"Nggak kok Bu, tumben aja kok lama," jawabnya sambil tersenyum.
"Oh ya, kok tumben Mas Izar naik Bis Trans biasanya kan jalan kaki?"
"Iya Bu ini mau ke rumah sakit." jawab Abizar jujur.
"Loh siapa yang sakit Mas?"
"Adik saya yang kecil Bu, adiknya Syafira,"
Mereka terus saja berbincang hingga Bis yang di tunggu oleh Abizar datang, mereka pun berpisah sebab tujuan rutenya tidak sama.
Sesampainya di rumah sakit, Abizar tidak langsung menuju ruang perawatan. Ia duduk-duduk di ruang tunggu sebentar sambil memijat sendiri lengannya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Loh Abizar kok nggak masuk?" tanya Anis sambil membawa box berisi kantong infus yang sudah kosong.
"Eh Anis, iya nih sebentar. Pegel banget baru selesai kerja," jawabnya pada temannya itu.
Anis hanya tersenyum. Ia tak tega melihat perjuangan temannya yang begitu payah demi keluarganya.
"Nis," Panggilnya melihat Anis terdiam.
"Ah, iya Zar. Ada apa?"
"Kapan adikku bisa pulang?"
"Aku belum tau sih, nanti yang memberi keputusan memulangkan pasien itu Dokter. Hanya saja melihat keadaan Syakilla udah membaik begitu mungkin dua hari kedepan sudah di perbolehkan pulang, insyaallah," jelas Anis panjang lebar.
"Syukurlah, Alhamdulilah,"
"Kok wajahnya begitu Zar?" tanya Anis melihat raut wajah Abizar berubah.
"Mmmb ....,"
"Ada apa? Cerita saja siapa tau aku bisa bantu, ya paling nggak kamu lebih lega setelah cerita," bujuk gadis cantik perawat rumah sakit itu.
"Ya alasan klasik lah Nis, aku cuma bingung aja belum ada pegangan uang sama sekali," jawabnya begitu saja.
Entahlah, mengapa Abizar begitu terbuka pada gadis itu padahal selama ini ia tak semudah itu menceritakan masalahnya pada orang lain.
"Maaf Zar, apa nggak coba bilang ke Abi dulu? Ya bagaimanapun kan beliau tetap orang tua kalian," kata Anis pada kawannya itu.
"Apa kamu berkenan jika aku membantu melunasi biaya perawatan Syakilla?"
"Tapi Nis?"
"Selama ini aku hidup sendiri, dari yang menumpang tinggal di rumah teman, berjualan keliling sambil kuliah, dan lain sebagainya aku sudah pernah melaluinya. Aku tau bagaimana menjadi kamu saat ini,"
"Tapi aku tak bisa janji kapan bisa mengembalikannya, untuk biaya kemarin saja hasil pinjaman dari teman kuliahku,"
"Nggak usah di fikirkan Zar, insyaallah masih cukup kalau hanya untuk makan dan kebutuhan sehari-hari,"
Izat terdiam, air matanya tiba-tiba menetes. Ia tak tau lagi harus bicara apa, hanya rasa syukur yang terucap di dalam hatinya sebab ia masih di kelilingi manusia manusia berhati malaikat diantara kesulitan yang Allah timpakan padanya.
"Udah Zar, sana temui adikmu biar nggak sedih terus. Beneran nggak usah mikirin itu dulu, kasian kalau Umi dan adik-adikmu tau kamu sedih begini," kata Anis mengakhiri perjumpaannya dengan kawannya itu.
Izar beranjak, ia menyeka sisa air matanya dengan tangan kemudian berjalan menuju ruang perawatan Syakilla usai berbincang dengan Anis. Nampak gadis cantik itu begitu girang melihat kehadiran sang kakak.
"Mas Izar, Killa kangen," katanya sambil memeluk erat sang kakak.
"Iya sayang, Mas juga kangen," jawabnya dengan menghujani kecupan di kening Syakilla.
"Umi juga kangen,"
"Fira juga!"
Izar hanya tersenyum mendengar ucapan rindu dari Umi dan kedua adiknya, padahal hanya 2 hari mereka tak berjumpa.
__ADS_1
"Mas pulang!" kata Syakilla merengek.
"Yakin udah sembuh?" goda Abizar.
"Udah,"
"Coba Mas lihat senyumnya,"
"Maaaaaaas!!!" teriak Syakilla manja, ia tau sang kakak sedang menggodanya.
"Makannya habis nggak tadi?" tanya Abizar pada gadis cantik itu.
Syakilla menggeleng sambil tersenyum, kemudian Umi mengeluhkan jika anak bungsunya itu memang tak mau makan.
"Sekarang nggak mau makan, kemarin juga, ya gimana mau cepet pulang!" kata Abizar masih membelai lembut rambut Syakilla dan Syafira bersamaan.
"Umi sama Mbak Fira ngadu sama Mas Izar!"
"Enggak!" jawab mereka kompak.
"Kok Mas Izar tau?"
"Bukan dari Umi atau Mbak Fira," jawab Abizar.
"Terus tau darimana?"
"Sayangnya Mas ini lupa ya, perawatnya Syakilla, suster Anis kan temannya Mas Izar," jawabnya sambil tersenyum.
Umi dan Syafira pun mengangguk-angguk. Ternyata Abizar begitu dekat dengan Anis.
"Mas kok deket banget sama Suster Anis?" tanya Syafira.
"Kenapa emangnya?"
"Mas suka?"
"Mmm ... Suka nggak ya?" jawabnya bercanda.
"Nggak boleh!" jawab Syakilla dan Syafira kompak.
"Loh kenapa Dek?" tanya Umi pada anak-anak gadisnya.
"Kalau Mas Izar punya pacar nanti Mas nggak sayang lagi sama kita,"
"Ya nggak begitu,"
"Pokoknya Mas Izar nggak boleh deket sama Suster Anis," kata Syakilla dengan nada tinggi.
Disaat yang bersamaan dokter bersama Anis sudah berada di pintu masuk untuk mengecek keadaan Syakilla. Umi dan anak-anaknya pun terkejut melihat ekspresi Anis yang berubah mungkin mendengar ucapan Syakilla.
"Dokter, suster ... Silahkan," kata Umi mempersilahkan mereka mendekati putrinya.
"Nis, maafkan adikku ya," bisik Abizar di telinga Anis.
__ADS_1